I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Akhirnya Wisuda Juga


__ADS_3

Kabar bahagia dari Kay dan Alya membuat keluarga besar mereka berbahagia.


Ditambah lagi Abby yang berencana akan segera melamar sang kekasih di sambut antusias oleh mereka.


"Kapan rencana lo mau melamar Bella, bang?" tanya Kay.


"Setelah gue wisuda, dek."


Abby menoleh ke arah Alya yang duduk di sebelah adiknya.


"Kita wisuda barengan, Al. Apa semuanya udah lo persiapkan?"


"Semua udah gue urus, bang. Alya tinggal wisuda aja." Kay yang menjawab.


Abby menatap adiknya takjub. Ia pun tersenyum bahagia.


"Gue seneng liat lo kayak gini, dek. Lo sangat-sangat bertanggung jawab sebagai seorang suami." Abby menepuk-nepuk pelan punggung adiknya.


"Haruslah, bang. Lo juga pasti bersikap sama kayak gue kalo udah jadi seorang suami nanti." kata Kay.


Abby mengangguk setuju.


"Mudah-mudahan nanti waktu wisuda kamu gak mual-mual ya, beib. Bisa berantakan nanti dandanan kamu kalo kamu muntah-muntah terus." Kay mengelus-elus perut rata istrinya.


"Gaklah, bib. Aku yakin, aku gak akan mual-mual nanti."


"Apa perlu aku bilangin Arkan biar gak nongol di depan kamu?"


"Gak usah, bib. Gak enak sama Arkan."


"Emang kenapa sama Arkan?" tanya Abby tak mengerti.


"Alya mual kalo liat Arkan, bang." jawan Kay.


"Serius, Al?" tanya Abby tak percaya.


Dan ia pun terbahak melihat Alya mengangguk.


"Gue bisa ngebayangin gimana bengepnya muka Arkan kalo lo larang dia deketin Alya, dek. Arkan kan gak bisa jauh dari Alya." sahut Abby geli.


"Bodo amat. Emang dia siapanya Alya?" celutuk Kay.


"Jujur ya, bang. Gue seneng banget waktu tau Alya gak mau dideketin Arkan. Itu berarti anak gue satu pemikiran sama gue kalo seorang Arkan itu harus dijauhi sama emaknya."


Abby tertawa seraya menggeleng geli. "Cemburu lo telat, dek." sahutnya.


Kay mengangkat bahunya, seolah tak peduli. Alya tersenyum melihat kecemburuan tak beralasan suaminya.


Sebenarnya bukan mau Alya untuk menjauhi Arkan, hanya saja bila melihat wajah tampan cowok itu Alya tiba-tiba merasa eneg, berasa mau muntah. Resiko ibu hamil, bawaannya aneh-aneh.


Pagi itu Alya dan Kay sudah bersiap-siap untuk pergi ke acara wisudanya Alya. Ayah dan ibu pun tak kalah antusiasnya. Sejak pagi kedua calon akung dan uti itu sudah rapi.


Kay tersenyum memandang wajah cantik istrinya.


Di hari wisudanya, Alya mengenakan kebaya berwarna merah maroon dan kain batik yang senada dengan kemeja yang di pakai Kay.


"Kamu cantik banget, beib. Aku jadi pengen...hishh." Kay meringis sakit ketika Alya mencubit gemas, perutnya.


"Jangan nakal, ya. Aku gak mau dandananku berantakan. Aku males kalo harus dandan lagi." sungut Alya pelan, takut terdengar oleh ayah dan ibunya.


"Alya, sini ibu tambah bedak kamu. Masih kurang..."


"Gak ah, bu. Aku berasa udah mirip badut. Bedaknya ketebelan. Mukaku jadi kaku gak bisa digerakin saking tebelnya." Alya memenyat-menyot mukanya seolah sedang senam wajah.


Alya memang gak suka dandan, sehingga ia terus menolak ibu yang hendak mendandaninya. Jadi, ibu hanya memakaikan bedak dan sedikit blush on juga lipstik tipis dibibirnya.


"Teman-temanmu pasti pada dandan yang cantik, Al. Masak kamu cuma pake bedak ama lipstik doang. Gak cetar dong?" Alma kesal melihat anak semata wayangnya yang dari dulu tidak suka berdandan seperti layaknya seorang wanita.


"Gaklah, bu. Abby sama Arkan pasti gak cantik." ceplos Alya, santai.


"Mereka itu cowok, Al. Kamu bikin ibu kesel aja." sungut ibu sambil menepuk keras tangan Alya.

__ADS_1


Alya terkekeh geli.


"Jangan-jangan nanti calon anak kita cowok, beib. Habis kamu gak suka dandan." celutuk Kay.


Gantian Kay yang ditepuk Alma, keras.


"Istri kamu itu emang dari dulu gak suka dandan. Pake bedak aja jarang, apalagi lipstik dan alat make up lain."


"Bagus dong, bu. Jadi duit buat beli make up-nya bisa buat beli yang lain." seloroh ayah.


"Setuju!" sahut Alya cepat.


Kay tertawa geli, sedangkan ibu merengut kesal.


"Udah, yuk berangkat. Nanti kesiangan." ajak ayah.


Sesampai di tempat tujuan,


"Alya!!!"


Elsa, Rani dan Bella menghambur memeluk Alya yang berjalan ke arah mereka dengan digandeng suami tercintanya.


"Gimana kabarnya debay, Al? Sehat?" Rani mengelus perut rata Alya.


"Alhamdulillah, Ran. Sehat wal afiat."


"Udah berapa bulan, Al?" tanya Bella.


"Masuk dua bulan."


"Dedek cepet keluar ya, tante Elsa udah gak sabaran pengen ngajak kamu main." Elsa berjongkok di depan perut Alya.


"Baru juga segede gini, Sa. Masih lama nunggunya." kata Rani sambil menunjukkan genggaman tangannya.


Elsa terlihat lesu.


"Gak pa-pa. Yang sehat ya debay, tante akan tunggu kamu sampai lahir." Elsa mencium perut Alya.


"Geli gue, Sa." Alya bergidik, geli.


"Lebay lo, Sa. Awas kalo lo jadi tante girang liat anak gue nanti." Kay melotot menatap Elsa.


"Paan sih lo, Kay. Merinding gue denger kata-kata lo." Elsa bergidik, ngeri.


"Kenapa, Yank? Kay ngapain kamu?" tanya Egi yang tau-tau sudah sudah ada didekat mereka. Matanya melotot tajam ke Kay.


"Diih...gue gak ngapa-ngapain. Jangan asal tuduh lo." Kay balas melotot.


"Udah, bib. Demen banget kamu ngerjain Egi. Kita masuk aja, yuk." Alya menarik tangan Kay, mengajaknya masuk ke dalam aula.


"Dek!"


"Abang!"


Senyum Alya mengembang, melihat Sandy datang dengan membawa buket bunga ditangannya.


Sandy memeluk dan mengecup pucuk kepala Alya dengan lembut.


"Selamat ya atas kelulusan dan kehamilanmu, dek." ucap Sandy, tulus. Diusapnya lembut perut Alya.


"Makasih, bang."


Wajah Alya terus merona bahagia sejak kedatangan Sandy, membuat Kay cemburu.


"Gue kira sudah aman, ternyata masih ada yang belum aman. Hufh!" Kay mengusap wajahnya, pasrah.


Egi tersenyum geli. Dia tau apa yang tengah sahabatnya itu pikirkan.


"Ujian cinta lo belum berakhir, bro." bisik Egi dengan senyum usil di bibir tipisnya.


Mata elang milik Kay tajam menatap Egi, seolah ingin merobek mulutnya.

__ADS_1


Egi pun menelan ludah, kecut.


Acara wisuda berjalan lancar. Arkan tidak berani terlalu dekat dengan Alya, takut Alya muntah ditengah-tengah acara.


Tapi waktu sesi foto, Arkan malah di peluk Alya erat, begitu juga Abby. Dan setelah itu, Alya pun muntah-muntah hingga terasa pahit.๐Ÿคญ


Ketika foto bersama pun Alya nampak sangat bahagia. Apalagi saat Sandy merangkulnya, wajahnya nampak sumringah.


Berbanding terbalik dengan Kay. Jangan ditanya gimana tampang Kay saat itu.


Yang pasti Arkan, sebagai fotografer dadakan saat itu, terbahak-bahak tak kuasa menahan tawanya.


"Kamu kok cemberut sih, Bib. Kan jelek hasil fotonya?" Alya kesal melihat hasil fotonya bersama Kay, Abby, Egi dan Sandy. Dimana yang lain terlihat tersenyum dengan wajah sumringah, Kay malah cemberut seperti menahan kesal.


"Ar, foto ulang." perintah Alya sambil memberikan kameranya pada Arkan.


"Ayuk, Bang, Gi, By. Kita foto ulang." tangan Alya menarik Sandy, Egi dan Abby.


"Oke, Siap? Satu...dua...ti...ga."


Cekrek.


Arkan melihat hasil jepretannya. Dan lagi-lagi ia tertawa geli.


Di foto terlihat Alya menggandeng lengan Sandy dengan wajah menatap kesal ke arah Kay yang masih cemberut.


"Posisinya ganti, Al. Lo foto berdua aja sama Kay."


Sandy, Egi dan Abby pun menyingkir, meninggalkan pasangan suami istri itu.


"Bang Sandy udah gue singkirin, sekarang lo senyum yang mekar. Oke?" Arkan berbisik ditelinga Kay.


Sang suami tampan pun mengacungkan jempolnya.


"Gandeng laki lo yang mesra, Al."


Alya pun langsung memeluk mesra suaminya.


"Ganti posisi. Kay lo cium kening bini lo." perintah Arkan lagi.


"Gak sekalian cium bibirnya, bro?" usul Kay.


"Biar lo ama om Sandy sadar kalo Alya itu punya gue." umpatnya dalam hati.


"Boleh. Kalo perlu lo pose cara bikin anak sama Alya langsung, biar gue yang foto... Aduh!" Arkan mengaduh ketika Abby menjitak kepalanya keras.


"Jangan marah ke gue, By. Marahin tuh adek lo yang cemburuan." gerutu Arkan sambil mengusap-usap kepalanya yang benjol.


Abby tertawa geli. Begitupun dengan yang lain, menertawakan Kay yang hanya nyengir sambil mengusap kepalanya, malu.


Alya geleng-geleng kepala.


Alya : "Bener-bener nih laki gue!"๐Ÿคฆโ€โ™€


author : "Sabar, Al. Susah nyari laki yang limited edition kayak laki lo."๐Ÿ˜…


Kay : "Ngatain gue lo, thor?! Gue sleding, gepeng lo!"๐Ÿ˜ก


author : "Jangan marah, masbro. Ntar gak ganteng lagi."๐Ÿ˜๐Ÿ™


Kay : "Bodo amat!"๐Ÿ˜’


Alya : ๐Ÿคฎ๐Ÿคฎ๐Ÿคฎ


Kay : "Kok muntah, beib? Arkan kan gak ada di sini?"๐Ÿ˜ฑ


Alya : "Aku muntah liat kamu yang cemburuan."๐Ÿคข


Kay : ๐Ÿ˜ฒ๐Ÿ˜ฒ๐Ÿ˜ฒ


author auto sumringah๐Ÿคฉ : "Arkan!!! Lo punya temen sekarang!!!"

__ADS_1


Kay๐Ÿ˜ก๐Ÿ˜ ๐Ÿ˜  : "author!!! Gue sambel lo ya?!!"


author : ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿƒโ€โ™€๐Ÿƒโ€โ™€๐Ÿƒโ€โ™€๐Ÿƒโ€โ™€๐Ÿƒโ€โ™€๐Ÿƒโ€โ™€*


__ADS_2