
🎵 Terpisah ruang dan waktu
******* jantungku
menjelma hujan dalam sendu
ku sapa bayangmu
Pertemuan penanda kemesraan jiwa
jarak hanya sekedar kata
kita saling mencinta
Selamanya tak akan hilang
cinta ini bersemayam
dihatiku dihatimu
inilah janjiku
Tak ada siang tak ada malam
tak pudar walau petir menyambar
karna bagiku mencintaimu
tak berbatas waktu🎶
* Lagu Rindu - Iqbal Taufik *
Suara Kay mengalun merdu saat menyanyikan lagu tersebut, membuai para tamu undangan yang hadir ditempat itu.
Kay bernyanyi atas inisiatifnya sendiri. Meski bernyanyi dari atas panggung pelaminan, tapi Kay bisa melakukannya dengan baik.
Lagu berakhir. Tepuk tangan dan sorak sorai pun menggema diruangan itu.
"Lagu ini saya persembahkan untuk istri tercinta saya, Alya Mawarni. I love you, beib. Forever and ever." Kay memeluk mesra Alya dan mencium keningnya lembut.
Alya menangis terharu. Tangannya memeluk erat tubuh suaminya.
"Dan sekali lagi saya akan bernyanyi bersama istri saya. Siap, beib?" Kay menatap lembut istrinya.
Alya mengangguk mantap.
Kay memberi instruksi pada para pemain band dengan tangannya.
🎵
this moment life has begun
from this moment you are the one
right beside you is where I belong
from this moment on
From this moment I have been blessed
I live only for your happiness
and for your love I'd give my last breath
from this moment on
I give my hand to you with all my heart
can't wait to live my life with you
can't wait to start
you and I will never be apart
my dreams came true because of you
From this moment as long as I live
I will love you I promise you this
there is nothing I wouldn't give
from this moment on
__ADS_1
Your the reason I belive in love
and you're the answer to my prayers
from up above
all we need is just the two of us
my dreams came true because of you
From this moment as long as I live
I will love you I promise you this
there is nothing I wouldn't give
from this moment on
I will love you as long as I live
from this moment on🎶
Di akhir lagu, Kay memeluk pinggang istrinya dan mencium keningnya lagi.
Aplaus makin heboh di iringi sorak sorai yang nyaring, membuat Alya tertunduk malu.
"Aku gak sabar lagi menunggu acara ini berakhir, beib." bisik Kay pelan ditelinga Alya ketika kembali duduk di kursi pelaminan.
Wajah Alya terasa memanas, dan pipinya pun bersemu merah.
Tiga jam kemudian, Alya terkulai lemas ditempat tidurnya. Sengaja tadi ia meninggalkan Kay masuk kekamarnya lebih dulu.
Alya merasa capek karena semalam dia kurang tidur dan harus bangun pagi-pagi.
Kay masuk ke dalam kamar pengantin mereka dan mendapati istrinya tengah tertidur pulas. Kay membelai wajah Alya dengan senyum bahagia terukir dibibirnya.
"Akhirnya kita bisa bersama, beib. Aku bahagia bisa jadi suami kamu. Semoga cinta kita kekal sampai kita menutup mata ya, beib?" Kay mengecup kening, mata, hidung, pipi, dan berakhir di bibir mungil yang selalu jadi candunya.
Kay merebahkan tubuhnya, berbaring menghadap Alya. Kay membelai lembut rambut istrinya dan akhirnya ikut tertidur pulas.
Alya merasakan tubuhnya berat seakan ada sesuatu yang menindihnya.
"Bib!" panggil Alya pelan.
"Berat!" Alya menunjuk kaki dan tangan Kay yang memeluk tubuh mungilnya seperti meluk guling. Kay cepat-cepat mengangkat kaki dan tangannya.
"Maaf, beib. Gak bisa napas ya?" tanyanya merasa bersalah.
Alya menggeleng.
"Aku mau bangun, udah ashar." kata Alya.
Kay menarik Alya hingga jatuh memeluk Kay yang masih terbaring.
"Sun dulu." Kay memonyongkan bibirnya.
Alya menggeleng.
"Tadi kan udah." katanya.
"Kapan?" Kay mengernyit, bingung.
"Tadi...waktu aku tidur." Alya senyam-senyum menggoda suaminya.
Kay ikut tersenyum.
"Berarti...tadi kamu pura-pura tidur ya?" Kay tersenyum simpul.
"Siapa bilang? Aku tuh tidur beneran. Tapi kamunya ganggu aku terus."
"Kenapa kamu gak bangun, padahal udah aku gangguin?" Kay menyentil pelan hidung Alya.
"Aku ngantuk banget, bib. Semalem aku tidurnya malem banget dan sebelum subuh udah bangun lagi. Capek aku nih!"
"Kalo capek tidur aja lagi." Kay membaringkan Alya disebelahnya dan memeluk erat tubuh istrinya.
"Udah ashar, bib. Solat dulu." Alya mengingatkan Kay akan kewajiban mereka sebagai seorang muslim.
"Kamu udah mandi, beib?" tanya Kay ketika Alya bangun dari tempat tidur. Alya nyengir, lalu menggeleng.
Kay menyeringai licik.
"Mandi bareng ya?" pintanya dengan wajah memelas.
__ADS_1
Alya meringis, malu. Wajahnya memerah seketika.
"Malu ya?" Kay tersenyum menggoda.
"Masih nanya lagi. Udah ah, aku mandi duluan. Habis itu baru kamu ya, bib?"
Kay pura-pura merajuk.
"Mandi'in." pintanya dengan nada manja.
"Ishh, bocah tengil, dasar!"
Alya ngeloyor masuk ke kamar mandi tanpa memperdulikan Kay yang cemberut.
"Ikut, beib."
Sepuluh menit menit kemudian,
Tok tok tok
"Beib!" panggil Kay sambil mengetuk pintu kamar mandi dengan pelan.
Pintu kamar mandi terbuka. Alya keluar dengan sudah berganti pakaian dan handuk yang membungkus rambutnya.
"Buruan mandi, bib. Kita solat. Ntar waktu Ashar keburu habis."
Kay pun segera masuk ke dalam kamar mandi. Dan lima menit kemudian, Kay keluar dengan bertelanjang dada dan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Alya yang baru hendak memakaikan mukenanya langsung tertunduk, dan buru-buru memakai mukenanya tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Cepetan, bib. Kita solat bareng. Kamu kan imam aku sekarang." kata Alya tanpa memandang wajah suaminya.
Kay tersenyum mengangguk.
Setelah mengenakan baju koko dan sarung yang sudah Alya siapkan tadi untuknya, mereka pun solat berjemaah.
Selesai solat dan berdo'a, Alya mencium tangan suaminya dan Kay pun mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Alhamdulillah. Kini aku udah sah jadi imam kamu, beib." Kay memeluk Alya, mesra.
"Makasih ya, bib, kamu udah pilih aku jadi istri kamu. Bimbing aku, dan tegur aku jika aku salah. Aku akan lakukan yang terbaik tugasku sebagai istri kamu."
"Sama-sama, beib. Kita akan saling mengingatkan. Aku janji akan selalu menjaga dan mencintai kamu seumur hidupku. Mari kita jalani dan nikmati bersama-sama pernikahan ini. Semoga berkah untuk kita berdua."
"Aamiin!"
Setelah melipat sajadah dan mukenanya, Alya dan Kay keluar dari dalam kamar.
Suasana rumah yang masih ramai karena sebagian saudara Alya masih ada yang belum pulang, termasuk Egi dan Abby.
Mereka berdua terlihat membantu beres-beres, membersihkan sampah-sampah bekas pesta tadi.
"Kalian belum pulang?" tanya Kay saat melihat sosok dua orang yang paling dekat dengannya.
"Ishh. Ngusir lo?" sungut Abby, pura-pura tersinggung.
Kay nyengir.
"Sensi banget sih, bang. Lagi dapet ya?" goda Kay.
Abby melengos.
"Mentang-mentang udah buka puasa sombong dia, bang." Egi menepuk bahu Abby.
Kay mesam mesem.
Abby mengernyit.
"Kayaknya belum deh, Gi. Liat tuh, dahinya berkerut."
"Masak sih, bang?" Egi menatap Kay lekat.
"Iya ya, bang. Bener, dahi Kay berkerut."
Kay menatap Abby dan Egi bergantian dengan kening berkerut.
Hahahahahahaaa.
Tawa Abby dan Egi pecah melihat Kay yang kebingungan.
"Beneran lo belum juga buka puasa, Kay?" tawa Egi terus membahana karna Kay cemberut.
"Kata Alya ntar malem aja."
__ADS_1
Hahahahahahahaaaa.