
"Bu, Alya berangkat!"
"Kita juga, makcik!"
"Loh...Egi sama Kay mau kemana?" tanya ibu heran melihat dua remaja itu sudah bersiap- siap pergi juga.
"Mau ikut ke kampusnya Alya, makcik. Sekalian melihat-lihat suasana kampus. Kali aja setelah lulus nanti pengen nerusin kuliah di sana juga." jawab Egi. Bu Alma mengangguk mengerti.
"Ya sudah! Kalian hati-hati ya?"
"Iya, makcik. Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam!"
Berempat, mereka berangkat ke kampus Alya dan Abby. Hampir tiga puluh menit mereka tiba di tempat yang dituju.
"Keren juga kampus kalian ya, bang. Banyak cewek cakepnya lagi." Egi menatap takjub mahasiswi-mahasiswi yang berseliweran didekatnya.
"Jelaslah banyak cewek cakepnya. Gue juga cakep kan?" Alya mengerling sok genit, bikin Egi bergidik.
"Cakebo! Kalo sampe ada cowok yang bilang lo cakep pasti dia liatnya dari ujung kulon. Aduhh!" Egi mengaduh ketika Kay dengan gaya cool-nya menjitak keras jidatnya.
Abby ngakak.
"Lo cari mati, Gi. Bodyguard Alya ada di sini. Berani lo?" sembur Abby, geli.
"Sukurin!" ejek Alya sambil cekikikan.
Egi merengut, sebel. "Dasar bucin!" gerutunya, keki.
Kay melengos cuek.
"Wah, ada mantan sahabat nih!"
Entah dari mana munculnya si nenek lampir, Wulan, datang dengan temannya.
__ADS_1
Alya menghela napas panjang. "Mau apa lagi nenek lampir satu ini?"
"Eh Bel, lo tau gak kalo Alya, mantan sahabat gue ini pernah gue tikung. Arkan itu pacarnya yang dulu gue rebut dari dia." dengan bangga Wulan bercerita betapa hebat ulahnya yang sangat 'rendahan' itu.
"Ckk...jadi pelakor kok bangga. Lo murahan tau gak?!" sergah Egi kesal melihat sepupunya dipermalukan cewek 'sakit' itu.
"Biarin gue murahan yang penting cewek dada rata ini sakit hati kan sama gue?" ejek Wulan, pedas.
Alya memijit kepalanya yang tiba-tiba puyeng. Lalu ia pun tertawa ngakak. Wulan menatapnya sambil tersenyum sinis.
"Tuh kan Bel, Alya kumat gilanya." ejek Wulan lagi. Alya terus tertawa sambil memegang perutnya yang geli akibat terus tertawa.
"Emang lo gak tau malu ya, Lan." sahut Alya disela-sela tawanya.
Mata lentik Wulan melotot nyaris keluar mendengar ucapan Alya.
"Asal lo tau, tikungan lo itu tikungan patah yang gampang dilurusinnya. Buktinya, Arkan balik lagi ke gue, setelah 'punya' lo diobrak- abrik sama dia." kata Alya, santai.
"Tapi Arkan itu 'bekas' gue, dan lo balik dengan 'bekas' gue!" sanggah Wulan, keras.
"Heh, cewek muka tembok! Dimana-mana yang 'bekas' tuh cewek, bukan cowok. Dan lo 'bekas' dari berapa sekian cowok, hah?!!" bentak Kay kesal.
Wulan menatap Kay dengan penuh amarah.
"Lo siapa sih ikut campur urusan gue?" tanya Wulan kesal.
"Dia adik gue. Dan Alya pacarnya. Jadi, Arkan bukan siapa-siapanya Alya lagi." Abby mulai ikut bersuara.
Wulan menatap kesal pada Alya n friends. Lalu ia pun berlalu sambil mengamit tangan Bella, yang tadi datang bersamanya.
"Yuk Bel, kita pergi dari sini..."
"Kamu jangan ikut dia, sayang. Kalo kamu gak mau ditikung dan pacarmu di ambil, seperti dia menikung Alya dengan merebut Arkan dari Alya." Abby menarik tangan Bella yang digandeng Wulan.
Bella tersenyum manis pada Abby, membuat semua yang ada disitu menatap mereka bingung, termasuk Wulan.
__ADS_1
"Aku percaya kamu gak bakalan jatuh dalam perangkap cewek 'sakit' macam Wulan, sayang." Bella memeluk lengan Abby dengan manja.
Abby mengangguk dan tersenyum manis.
"Kamu juga jangan temenan lagi sama dia ya, sayang? Aku gak mau kamu ketularan jahat kayak dia." Abby membelai lembut Bella, pacarnya. Bella pun mengangguk, iya.
"Bella, sejak kapan lo pacaran sama Abby?"tanya Wulan curiga.
"Sejak gue masuk ke kampus ini." jawab Bella kalem.
"Kok lo gak bilang ke gue?"
"Ngapain gue bilang ke lo, ntar lo rebut lagi. Lo kan pelakor sejati." singgung Bella. Abby tersenyum sambil mengecup lembut pucuk kepala kekasihnya.
"Good job, kakak ipar!" Kay bertoast kompak dengan Bella.
Wulan merengut, masam. Bisa-bisanya Bella, sahabatnya ternyata berpihak pada Alya, makhluk yang sangat ia benci.
"Gue heran sama lo, Lan. Kenapa lo segitu bencinya sama gue, padahal gue jelas-jelas jauh dibawah lo. Baik dari fisik, materi, apalagi otak, gue jelas bukan tandingan lo." Alya pusing memikirkan kebencian Wulan yang ditunjukkan padanya.
"Gue benci lo karna lo banyak temen, Al. Cowok-cowok di sekolah, semuanya deket ama lo. Padahal lo gak secantik dan seseksi gue, tapi kenapa mereka lebih deket ama lo ketimbang gue. Apalagi Arkan...gue udah naksir dia sejak kami sekelas di SMP. Lo dengan gampangnya rebut Arkan dari gue atas nama persahabatan. Makanya gue ngancurin lo atas nama persahabatan juga. Biar lo ngerasain gimana sakitnya ditikung oleh sahabat lo sendiri." Wulan menatap Alya, sinis.
Alya tersentak.
"Jadi...lo gak tulus temenan sama gue, Lan?" tanya Alya kaget mengetahui maksud Wulan berteman dengannya selama ini.
"Cihh...kalo gak karna gue mau balas dendam ama lo, gue gak akan sudi temenan ama lo." desis Wulan, tajam.
Alya menghela napas panjang.
"Dan untungnya buat gue atas balas dendam lo, gue bisa temukan kebahagiaan gue yang lain." Alya memeluk lengan Kay, mesra.
"Makasih ya, Lan! Berkat lo ambil Arkan dari gue, akhirnya gue bisa ketemu adik manis ini. Yang jauh lebih baik dari Arkan." ujar Alya, jujur, membuat idung Kay kembang kempis saking bangganya mendengar pujian Alya padanya.
Wulan mendengus kesal. Karena tindakannya yang ingin mempermalukan Alya tidak berhasil, ia pun pergi dari tempat itu dengan tampang cemberut.
__ADS_1
Alya, Kay, Egi, Abby dan Bella tertawa terbahak, mengiringi langkah kesal Wulan.
"Ternyata kamu memang sudah bisa melupakanku, Al. Tapi kuharap kamu masih mau berteman denganku. Seperti dulu!"