
Tak terasa sudah masuk lima bulan usia kandungan Alya. Sejak kehamilannya, Kay baru dua kali menemani Alya periksa kandungan.
Karena tugas negara yang diembannya, kini tugas menemani Alya periksa dilakukan oleh Egi dan Abby.
Awalnya dokter kandungan yang menangani Alya heran melihat Alya selalu datang dengan pria yang berbeda.
Tapi dengan lugas Alya menjelaskan semuanya biar orang lain tidak salah paham dengannya.
"By, tolong beliin gue es krim dong. Gue lagi pengen makan es krim." pinta Alya ketika mereka keluar dari ruang periksa.
"Nanti ya, sambil jalan." kata Abby.
Alya mengangguk setuju.
"Al, sekarang udah nampak bener ya calon anak lo. Udah nyaris sempurna." Abby takjub melihat foto hasil USG tadi.
Alya mengangguk dan tersenyum.
"Apa jenis kelaminnya udah ketahuan, Al?"
"Belum kelihatan, By. Mungkin baby belum mau nunjukin ke kita."
Abby manggut-manggut, mengerti.
"Ini bisa jadi pengalaman kalo gue udah nikah nanti dan bini gue hamil. Gue akan jadi suami siaga."
"Laki gue juga siaga kali, By. Buktinya dia nyuruh lo sama Egi nemenin gue." timpal Alya, cepat.
Abby mengangguk.
"Iya, Al. Adek gue orang yang bertanggung jawab. Kalo dia di sini pasti gak bakalan tuh dokter ganteng bisa pegang-pegang perut lo."
"Kalo gak dipegang gimana periksanya, dodol." Alya menepuk lengan Abby, gemas.
Abby terkekeh seraya mengangguk.
"Al, dua bulan lagi gue menikah. Jadi, besok yang nemenin lo periksa dedek, Egi. Gak pa-pa, ya?" Abby nampak gak enak hati ngomongnya dengan Alya.
"Gak pa-pa, By. Lo pasti sibuk ngurusin pernikahan lo. Kalaupun Egi juga sibuk dengan kuliahnya, gue bisa kok pergi sendiri."
"Jangan, Al. Perut lo akan semakin besar, nanti lo capek gimana? Kalo ada apa-apa sama lo dan baby, gue harus gimana ngomong sama Kay nanti?" kata Abby cemas.
Abby bingung memikirkan siapa yang akan menemani Alya kalau dia dan Egi sibuk.
Dia tidak mau adik ipar dan ponakan yang di dalam kandungannya mengalami masalah.
"Kan ada ibu, By."
"Makcik gak bisa bawa mobil, Al. Masak kalian harus naik angkot?"
"Gak pa-pa lah, sekali-sekali." sahut Alya santai.
"Makin capek nanti lo nya." sanggah Abby, cepat.
Alya diam.
Alya maklum dengan kecemasan Abby terhadapnya. Abby pasti tidak ingin mengecewakan adiknya yang sudah menitipkan Alya padanya.
"Eh iya, Al..." Abby menatap Alya lekat.
"Kita minta tolong om Sandy aja. Gimana?"
"Hah!" Alya diam sesaat. Lalu,
"Gak usah, By. Gue gak mau ngerepotin bang Sandy. Dia juga pasti sibuk dengan kerjaannya." tolak Alya.
"Kita tanya dulu om Sandy mau apa gak. Kalo dia gak mau, ya udah. Kita cari solusi lain. Atau...kita minta tolong Arkan?"
Mmpfh!
Alya menutup mulutnya. Perasaan enegnya muncul ketika Abby menyebut nama Arkan.
"Mual, Al?"
Alya mengangguk, pelan.
Abby tertawa.
"Kayaknya baby benar-benar nurut sama ayahnya. Buktinya, baru denger nama Arkan aja lo udah mual, Al." ujar Abby.
"Benar-benar anaknya ayah nih!" Abby mengelus- elus perut Alya sambil terus tertawa geli.
__ADS_1
Alya ikutan tertawa.
"Alya!!"
Panggilan itu membuat Alya dan Abby refleks menoleh.
"Hadi."
"Kamu hamil, Al? Kapan kamu menikah? Kok gak bilang-bilang..."
"Apa kabar, Di? Udah lama ya kita gak ketemu." senyum manis Alya tersungging di bibir tipisnya.
"Baik. Ini suami kamu, Al?" mata Hadi menatap Abby dari atas sampai kebawah, membuat Abby merasa risih.
"Kenalin dulu, By, ini Hadi. Teman gue waktu di SMP. Dan Hadi, ini Abby, kakak iparku."
"Abby."
"Hadi."
Abby dan Hadi salaman dan berkenalan.
"Kamu pergi dengan kakak iparmu, Al, memangnya suami kamu kemana?" tanya Hadi, heran.
"Suamiku sedang tugas di Nunukan."
"Suami kamu tentara?"
Alya mengangguk.
"Di Yonif ***?"
"Iya. Kenal ya?"
"Kebetulan aku juga di Yonif yang sama . Aku baru pindah kemarin."
"Kamu tentara juga, Di?"
Pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan sebenarnya, karna dari penampilan serta tubuh atletis Hadi sudah terlihat kalo dia memang seorang prajurit.
Hadi mengangguk.
"Kay Arbitama."
"Lettu Kay?"
"Kamu kenal dengan suamiku, Di?"
Hadi diam. Matanya menatap Alya, tajam, membuat wanita itu bergidik, ngeri.
"Bukankah Lettu Kay seumuran denganku, Al?"
"Hah?!" Alya melongo tak mengerti. Dia menoleh pada Abby yang dari tadi diam saja.
"Dulu kamu bilang gak mau pacaran sama cowok yang usianya di bawah kamu, tapi sekarang malah suami kamu lebih muda dari kamu." Hadi memandang sendu penuh kecewa pada Alya.
"Maksudnya apa coba, By?" tanya Alya, bingung.
Abby mengendikkan bahunya, "Mana gue tau?" sahutnya ikutan bingung.
"Jangan berlagak lupa, Al. Dulu kamu menolak aku dengan alasan aku lebih muda dari kamu. Apa kamu ingat itu?"
Alya menepuk jidatnya pelan.
"Waktu itu kamu masih kelas tujuh, Di. Belum saatnya untuk pacaran. Lagipula aku sudah menganggapmu sebagai adikku, gak lebih."
Alya ingat betul bagaimana kedekatannya dengan Hadi Ismanto yang sudah dianggapnya adik. Karena Yendi, abang Hadi dan juga sahabat Alya, sudah seperti saudara bagi Alya.
"Tapi kamu kan tau, Al, kalo aku tuh suka banget sama kamu." Hadi masih nampak kesal.
"Jangan dibahas lagi, Di. Itu hanya masa lalu. Sekarang aku tanya kamu ke sini mau ngapain? Apa mau marah-marah sama aku?" Alya mengibaskan tangannya dengan mata menatap Hadi, tajam.
"Belum move on juga nih anak." gerutu Alya dalam hati.
Alya melirik kesal ke arah Abby yang dari tadi menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.
Dari cara Hadi menatap Alya, Abby tau kalau cowok itu adalah seseorang yang pernah ada di hati Alya, meskipun Alya hanya menganggapnya sebagai adik.
"Bang!"
Seorang gadis cantik datang dan langsung memeluk lengan Hadi, mesra.
__ADS_1
"Al, kenalin ini Indah. Indah, ini Alya dan kakak iparnya." Hadi mengenalkan gadis itu pada Alya dan Abby.
Alya dan Abby mengangguk dan tersenyum ramah pada Indah.
"Alya ini...temen bang Yendi?" tanya Indah. Matanya menatap perut Alya yang membuncit.
Alya mengangguk.
"Aku lihat foto kamu di kamar bang Hadi, juga...didompetnya." ujar Indah, pelan.
"Indah ini istri kamu, Di?" tanya Alya.
"Baru calon." jawab Hadi santai, tapi membuat dada Indah terasa sesak.
"Ditunggu undangannya ya?" Alya memegang tangan Indah dengan senyum tulus.
Indah mengangguk, juga tersenyum.
"Kamu udah berapa lama nikah, Al?" tanya Hadi lagi.
"Hampir satu tahun."
"Ini anak pertama kalian?"
"Iya."
Hadi diam sesaat, seperti tengah berpikir.
"Kamu ke rumah sakit untuk periksa kandungan?"
Alya mengangguk.
"Lettu Kay masih lama bertugas. Kalo dia pulang nanti pasti anak kalian sudah lahir."
Alya mengangguk, lesu. Pertanyaan Hadi mengingatkan Alya pada suaminya.
"Aku kangen kamu, bib!!" jerit batinnya.
"Aku tau kamu kuat, Al. Dari dulu kamu kan wonder women." ujar Hadi, membuat Alya tertawa.
"Tawamu masih seperti dulu, Al. Manis. Dan bikin aku sulit melupakanmu."
Abby menyikut pelan lengan Alya hingga ia menoleh. Abby memberinya kode, mengajaknya pulang.
"Maaf, Di. Kami pulang duluan, Abby mau ke rumah calon istrinya." Alya pamit pada Hadi.
"Ooh, udah mau nikah?" tanya Hadi.
Abby mengangguk.
"Selamat ya!"
"Terima kasih."
Kemudian Alya dan Abby pun pulang sambil melambaikan tangan pada Hadi dan Indah.
"Itu bukan suaminya Alya, bang?" tanya Indah setelah Alya pergi.
"Bukan. Itu kakak iparnya. Suami Alya sedang bertugas di perbatasan."
"Suami Alya tentara juga?"
"Iya. Kami dulu sama-sama di Akmil."
Indah mengangguk mengerti. Lalu,
"Bang!"
Hadi menoleh.
"Apa Alya mantan pacar abang?" tanya Indah,
Hadi menggeleng. "Bukan." jawabnya singkat. Membuat Indah tersenyum lega.
"Tapi dia cinta pertamaku!" ucapnya jujur.
"Apa masih ada nama Alya dihatimu, bang?"
Indah menatap lekat wajah tampan didepannya. Sosok Hadi yang susah payah ia raih cintanya. Sosok yang dingin dan kaku, yang ternyata juga pernah merasakan cinta yang tak dibalas.
"Kini kau sudah menemukan pelabuhan hatimu, Al. Hati yang tak pernah memilihku sebagai tempat bersandarmu. Semoga kamu bahagia, Alya."
__ADS_1