
Kay sudah siap dengan ranselnya. Hari ini Kay diizinkan pulang lebih dulu oleh atasannya.
Awalnya Kay bingung dengan usulan komandannya, tapi setelah mendengar alasan yang komandannya berikan, Kay pun menyambut usulan itu dengan penuh semangat.
"Habib pulang, beib. Kita akan bersama lagi sekarang, bersama anak kita."
Senyum Kay terus mengembang selama di dalam pesawat.
Kay tidak sadar kalau senyumnya membuat para pramugari yang melihat kearahnya kegeeran.
Kay memang naik pesawat komersil karena dia tidak pulang bersama timnya.
"Duuh, gantengnya?" bisik salah satu pramugari pada temannya yang mengangguk setuju.
"Kayaknya cowok itu tentara ya?"
"Iya. Keren ya?"
"Uwuu...jadi pengen punya laki yang kayak gitu!!!"
"Mimpi lo!"
Cekikikan antara dua pramugari itu membuat pramugari senior menegur mereka.
"Ekhem!"
Dua pramugari pun refleks menoleh, dan langsung cengar-cengir ketika sang senior tengah menatap tajam ke arah mereka.
"Maaf, pak. Apa anda mau sesuatu? Makanan atau minum?"
Senyum Kay yang berkembang seketika kuncup saat melihat orang yang membuyarkan lamunannya. Wajah datarnya pun muncul.
"Gak! Makasih!" ujar Kay dengan tatapan dingin terlihat dari mata elangnya.
"Kok aku jadi menggigil ya? Perasaan tadi waktu dia senyum hangat banget."
Pramugari cantik itu menggigil gemetar. Ia pun mundur teratur, kembali ketempatnya.
"Gimana, Nin? Apa dia terpesona melihat kecantikan lo?" tanya pramugari yang bernama Emma pada Nindy, pramugari yang tadi menghampiri Kay.
"Terpesona apaan, noleh aja enggak. Malah gue menggigil tau gak?" Nindy bergidik.
"Kok bisa?" Emma menatap temannya, bingung.
Nindy mengendikkan bahunya.
)Gak tau lo siapa Kay Arbitama?😏 Si freezer kaku yang hanya cair dan hangat kalo sudah didepan istrinya, Alya Mawarni.😂)
Kay melangkah gagah memasuki halaman rumah mertuanya. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya, dan melihat anaknya.
Kay sengaja tidak memberi tau orang rumah akan kepulangannya. Kay ingin memberi surprise untuk mereka.
"Assalamualaikum. Beib, Habib pulang, sayang!" suara riang Kay menggema di seluruh rumah.
"Assalamualaikum. Anybody home?"
Kay heran.
Tidak ada yang menjawab salamnya. Rumah pun dalam keadaan sepi. Kay mengambil ponselnya di saku celana lorengnya.
Tut tut tut
Nada sambung berbunyi.
Tut tut tut tuuuuuutttt
"Hah?!!" Kay menatap ponselnya.
"Kamu kemana, beib?" gumamnya. Hatinya tak tenang, tiba-tiba gelisah.
Kay pun menelpon lagi. Kali ini Abby yang dihubunginya.
Tut tut tut
Telepon tersambung.
"Halo, assalamualaikum. Dek?"
"Wa'alaikumsalam. Bang, abang tau Alya dan keluarganya ada dimana?" tanya Kay.
"Lo masih diperbatasan, dek?"
"Gue baru aja sampai di rumah, bang. Tapi di rumah gak ada siapa-siapa."
"Lo udah pulang, dek?"
"Ehm. Alya sekarang dimana, bang? Apa di rumah mama?" tanya Kay lagi karena dari tadi Abby tidak menjawab pertanyaannya.
Tidak ada jawaban. Abby seolah membisu.
__ADS_1
"Bang?" panggil Kay.
"Kami semua sekarang ada di rumah sakit ***. Lo nyusul sekarang!"
"Siapa yang sakit, bang?" Kay merasakan kegelisahan yang teramat sangat. Hatinya berdebar cemas.
"Cepat kesini. Lo di tunggu sekarang."
Telepon di putus sepihak.
"Bang?" panggil Kay.
"Abang!!"
"Ya Allah, siapa yang sakit? Tolong lindungi orang-orang yang hamba cintai ya Allah."
Kay mengusap wajahnya, kasar.
Sedetik kemudian dia berlari keluar halaman, mencari taksi.
Dan setengah jam kemudian,
"Bang?!"
Setengah berlari Kay menghampiri Abby yang menunggunya di pelataran rumah sakit.
"Dek!" Abby langsung memeluk erat adik tersayangnya.
"Siapa yang sakit, bang?" tanya Kay tak sabar.
Abby diam. Lidahnya mendadak kelu.
"Bang? Please?!" wajah Kay memelas, penuh harap.
"Alya koma, dek." jawab Abby, nyaris tidak terdengar oleh Kay.
"Apa, bang?!! Alya koma?!!" ulang Kay, seakan tuli.
Abby mengangguk pelan.
Kay terduduk.
"Mungkin ini alasan komandan menyuruhku pulang lebih dulu. Kamu koma, beib?!"
Kay meremas rambutnya kasar. Hatinya hancur mendengar kenyataan yang ada, namun Kay berusaha tegar.
"Anak lo sehat, dek. Dia lahir sempurna dan ganteng. Mukanya persis lo." kata Abby sambil tersenyum sejenak ketika mengenang wajah tampan keponakan mungilnya.
Kay ikut tersenyum membayangkan wajah anaknya.
"Dan Alya?"
"Setelah melahirkan, Alya tidak sadarkan diri. Ternyata Alya mengidap penyakit yang ia sembunyikan dari kita, dek. Dan itu yang menyebabkan Alya tidak sadarkan diri dan koma sampai sekarang."
"Alya sakit, bang? Sakit apa?" Kay terkejut mendengar cetita Abby.
"Pembengkakan di otak."
"Hah!!!"
"Alya pintar menyembunyikan sakitnya, dek. Selama ini kami sama sekali tidak menyadari kalau dia sedang sakit. Alya gak pernah mengeluh apapun. Dia juga gak pernah cerita soal penyakitnya pada siapapun. Mungkin Alya gak mau membuat orang repot karena penyakitnya."
Kay diam menunduk.
"Kamu kenapa gak bilang sama aku, beib? Aku kan suami kamu yang pasti rela kamu buat repot." batin Kay mengeluh, sakit.
"Gue mau ketemu Alya, bang." pinta Kay.
Abby mengajak Kay keruang tempat Alya dirawat.
Kay melangkah lebar, membuat Abby sedikit kesulitan mengikuti langkahnya.
"Adek!"
"Kay!"
Kay melihat orang tuanya, mertuanya, Egi dan Elsa, juga Arkan dan Rani, serta Bella yang kini sudah menjadi kakak iparnya, sudah ada di sana.
Karin memeluk anak bungsunya dengan berurai airmata. Kay menoleh ke ibu mertuanya, kemudian memeluknya, erat.
"Bagaimana keadaan Alya, Yah?" tanya Kay pada ayah mertuanya yang nampak lesu.
"Pasti ayah capek karena harus menemani ibu menunggu Alya di rumah sakit." pikir Kay.
"Alya mengalami pembengkakan diotaknya akibat luka yang dia alami dulu. Dia juga mengalami pendarahan waktu melahirkan. Tapi kamu gak usah risau Kay, Alya sudah ada yang menanganinya dengan baik. Kita hanya menunggu Alya sadar." Ramdani mencoba membuat menantunya tidak panik.
"Kamu jangan mikir macam-macam, dek. Lebih baik kamu lihat anakmu dulu sana. Ikut mama dan ibu mertuamu." Bian menepuk pelan bahu anaknya.
"Iya, pa."
__ADS_1
Kay menurut saja waktu tangannya digandeng mama dan ibu mertuanya untuk melihat anaknya.
"Ma, Bu, kenapa kita gak lihat Alya dulu?" tanya Kay.
Rindu yang teramat sangat membuatnya ingin segera bertemu istri tercintanya. Apalagi sekarang kondisi istrinya sedang koma.
Harapan Kay, setelah mendengar suaranya Alya akan bangun dari komanya.
"Dokter masih memeriksa istrimu, dek. Sabar. Kita lihat dedek dulu. Apa kamu gak mau melihat wajah anakmu?"
"Mau, ma. Tapi aku mau Alya tau kalo aku sudah pulang, ma? Aku mau Alya tersenyum menyambut kepulanganku." Kay terisak.
Kalau sudah seperti itu, aura prajurit Kay seolah hilang. Di depan mama dan ibu mertuanya Kay menangis sesenggukan.
"Yang kuat, Kay. Jangan terlihat lemah di depan dedek."
Alma mengusap airmata di wajah tampan menantunya.
Kay pun berdiri tegap.
"Ya, aku harus kuat di depan istri dan anakku. Karena akulah jiwa dan raga mereka. Dan begitu juga sebaliknya, mereka berdua jiwa dan ragaku."
Alma masuk ke dalam untuk mengambil cucunya yang akan bertemu dengan ayahnya untuk pertama kali setelah kelahirannya.
Karin terus mengusap-usap lembut punggung anak bungsunya, seolah ingin membuatnya tenang. Kay duduk dengan gelisah.
Alma keluar dengan bayi dalam gendongannya. Kay langsung berdiri menyambut anak yang sudah lama dinantikannya. Alma membantu Kay menggendong bayinya.
"Halo gantengnya ayah. Ini ayah, dedek. Ayah sudah pulang untuk dedek dan emak." Kay mencium lembut pipi cubby anaknya.
"Kemarin yang azanin dedek siapa? Om Abby, Om Arkan, atau Om Egi? Atau Opa Sandy?" Kay mengajak anaknya bicara.
"Kamu yang azankan anakmu, dek." sahut Karin membuat Kay mengernyitkan dahinya.
"Kan kamu dan Alya pernah merekam suara kamu lagi azan sebelum kamu berangkat tugas. Ingat gak?" Alma mengingatkan Kay.
*f**lashback on*
"Beib, nanti yang azanin dedek suruh bang Abby aja ya. Pokoknya dia harus nemenin kamu lahiran nanti."
"Ish, masak Abby harus nemenin aku lahiran, bib. Gak boleh loh orang lain masuk ke ruang bersalin selain suami sendiri."
"Maksud aku, biar bang Abby bisa azanin anak kita nanti, beib, bukan nemenin kamu mau lahiran." sanggah Kay.
Alya mengangguk mengerti.
"Tapi, bib...Aku maunya kamu yang azanin dedek, biar dia lahir suara kamu yang pertama kali dia dengar. Jadi kalo kamu pulang dia bisa ngenalin kamu nanti." kata Alya membuat Kay tersenyum senang mendengarnya.
"Tapi gimana caranya, beib?"
Mereka berdua pun berpikir keras.
"Gimana kalo kita rekam aja suara kamu, bib di ponsel aku. Jadi, begitu dedek lahir rekaman azannya bisa langsung diputar." usul Alya.
Kay mengangguk setuju.
"Usul kamu bagus, beib. Dapet ide darimana?" Kay mengacak lembut rambut istrinya.
"Aku ingat pernah baca cerita di noveltoon. Ceritanya bagus banget, aku jadi terinspirasi merekam suara kamu juga dari cerita itu."
Kay tersenyum.
"Pinter kamu, beib. Ada hikmahnya juga kamu baca novel. Gak sia-sia." puji Kay.
"Iya." Alya tertawa, lucu.
flashback off
Kay mengangguk. Ia ingat semuanya dan itu membuatnya sedih.
"Gantengnya ayah, kamu pasti hapal suara ayah dari rekaman azan ayah ya? Merdukan suara ayah, dek?" Kay kembali mencium pipi anaknya, gemas.
Alma dan Karin tersenyum penuh haru melihat interaksi ayah dan anak itu.
"Seandainya keadaannya tidak seperti ini, pasti kehidupan mereka akan lebih bahagia."
Tanpa terasa airmata sudah menetes di pipi kedua nenek yang masih terlihat cantik itu.
"Kita lihat emak yuk, ganteng. Siapa tau dengan kehadiran kita emak langsung bangun." Kay bicara dengan anaknya. Bayi yang masih merah itu masih tertidur lelap.
Kay membawa bayinya kembali keruangan Alya. Mama dan ibu mertuanya mengikutinya dari belakang.
"Dokternya masih di dalam?" tanya Kay sambil menunjuk kamar Alya dirawat.
"Sudah keluar. Masuklah." Bian membuka pintu agar Kay bisa masuk ke dalam kamar sambil menggendong bayinya.
"Bismillahirrahmanirrohiim!"
"Assalamualaikum, beib."
__ADS_1