
Kay melangkah malas, mengikuti teman- temannya yang berjalan santai didepannya.
Hari ini Kay, Ryan dan tiga temannya jalan- jalan ke mall untuk merayakan ultah Ryan.
"Jangan manyun gitu, bro. Gimana mau ngecengin cewek kalo muka ganteng lo ketekuk gitu. Ntar gak ada yang naksir loh." ledek Ryan melihat Kay yang terus merengut sejak mereka berangkat tadi.
Tiga temannya yang lain tersenyum geli melihatnya.
"Bodo amat! Kalo aja hari ini bukan ultah lo, ogah gue ikut kalian." sungut Kay kesal.
"Jangan gitu, bro. Kita kan mau makan-makan, sekalian cuci mata. Lihat noh, banyak cewek cakep." Joe coba membujuk Kay.
Tapi, emang dasar Kay gak suka, tetep aja dia manyun.
"Kita makannya di sana, yuk!" ajak Ryan sambil menunjuk salah satu restoran siap saji yang ada di mall tersebut.
Tangan Ryan menarik kuat Kay yang masih berjalan malas.
"Haishh!"
Terpaksa Kay ikut masuk ke dalam restoran itu.
"Lo mau pesen apa, bro?" tanya Ryan pada Kay.
"Terserah!"
"Semangat dong , bro. Kali aja nemu yang cocok di sini." Hadi menepuk bahu Kay.
"Gue gak cari apapun di sini." sahut Kay ketus.
"Sstt! Liat noh...ada cewek nganggur." celutuk Edo yang duduk di sebelah Kay.
"Mana?"
"Tuh!" Edo menunjuk dengan dagunya.
Tanpa komando semua melirik ke arah yang ditunjuk Edo, kecuali Kay.
"Liat dulu, bro, siapa tau naksir."Edo memutar kepala Kay ke arah yang dimaksud.
"Udah gue bilang gue..." Kay terdiam saat melihat cewek yang teman-temannya maksud. Matanya sontak terbelalak, bulat.
"Alya?!"
"Yah...ternyata ada bodyguardnya." sahut Hadi lemas ketika seorang cowok duduk di depan gadis itu.
"Arkan?"
Kay menatap nanar pasangan itu. "Kenapa mereka ada disini?"
Kay beranjak dari duduknya.
"Kalian ngapain disini?"
"Kay!" seru Alya dan Arkan, kompak kaget melihat Kay tiba-tiba ada di dekat mereka.
"Kok kaget gitu? Kalian gak lagi selingkuh kan dari om gue?" tuduh Kay dengan tatapan matanya yang tajam menatap dua orang yang ada didepannya.
"Jangan asal tuduh. Ini gak seperti yang lo pikir. Kami ke sini..."
"Jangan ngeles. Kalian berani selingkuh sampai jauh ke Bogor. Udah sering kayak gini?" dengus Kay, kesal.
Emosinya tak tertahankan melihat Arkan dan Alya berduaan. Kay merasa di khianati. Rasa rindunya seakan menguap entah kemana.
Brakk!
Alya menggebrak meja, kesal, lalu berdiri menghadap Kay.
"Kalo gak tau apa-apa jangan asal tuduh. Tuduhan lo gak beralasan tau gak!" bentak Alya, emosi.
"Mau alasan apa lagi? Lo kira gue buta?!" bentak Kay, balik.
Plakk!
Tamparan keras Alya mampir tepat di pipi Kay, yang terperangah, kaget mendapat serangan tak terduga dari Alya.
Alya langsung pergi meninggalkan Arkan dan Kay.
__ADS_1
"Al!" panggil Arkan. Tapi Alya tak menggubris panggilan itu.
Sedangkan Kay menatap Alya penuh amarah sambil memegang pipinya yang terasa panas, sepanas hatinya yang penuh cemburu.
"Kejar Alya, Kay. Kami di sini tidak seperti apa yang lo tuduhkan tadi." Arkan mencoba menjelaskan.
Kay menatapnya sinis.
"Ada apa, Yank? Alya mana?" seorang gadis cantik datang menghampiri Arkan.
Kay mengernyitkan dahinya, melihat ke arah gadis itu. "Yank? Apa ini pacarnya Arkan?"
"Pergi! Gara-gara ada yang cemburu buta!" sahut Arkan, menyindir Kay.
"Waduh! Mampus dah gue." Kay menggaruk pelan pelipisnya.
"Cemburu? Maksudnya?" gadis itu menatap Arkan dan Kay bergantian, bingung.
"Kay kenalin ini cewek gue, Rani. Gue dan Alya ke Bogor nemenin Rani pulang sekalian liburan." jelas Arkan.
Lalu Arkan pun bercerita tentang niatnya ke Bogor untuk berkenalan dengan orangtua Rani dan meminta restu untuk hubungan mereka.
Kay mengangguk paham. Ia telah salah sangka.
"Buruan kejar Alya. Kalo dia sampai nyasar, bisa mati gue dibunuh bang Sandy." Arkan mendorong Kay.
Tanpa hitungan detik Kay pun lari mengejar Alya yang telah kabur entah kemana.
Hampir seluruh mall yang lumayan besar itu Kay mencari Alya dibantu keempat temannya, juga Arkan dan pacarnya.
"Gimana, bro? Ketemu gak?"
"Belum."
"Kita juga belum."
"Sama."
Kay menutup panggilan diponselnya, malas.
"Kamu kemana, beib? Maafin aku gak percaya sama kamu." Kay mengacak kesal rambutnya.
"Suara itu..."
Kay menoleh. Senyumnya merekah, menambah tampan wajahnya.
Tak jauh ditempatnya berdiri, Alya terlihat sedang membujuk seorang bocah laki-laki yang sedang menangis.
"Beib!"
Alya menoleh, tapi langsung melengos lagi.
"Yuk dek kita cari bunda."
Alya menggenggam tangan bocah itu dan membawanya pergi menuju tempat operator mall.
Kay mengikuti mereka dari belakang. Ia senyum-senyum sendiri melihat Alya yang asik bersenda gurau dengan bocah tiga tahun itu, sehingga tidak menyadari beberapa mahasiswi tengah menatapnya kagum.
"Sstt. Tuh cowok ganteng banget, guys. Ada yang punya gak ya?"
"Duuh, machonya?!"
"Keren, guys!"
"Jadi pengen dimimpiin dia nih?!"
"Ajak kenalan, yuk!"
Alya menoleh saat mendengar kasak-kusuk dan melihat Kay tengah tersenyum menatapnya.
Alya melengos lagi.
"Cih! Mau pamer kalo dia udah jadi idola di sini." cibir Alya dalam hati.
"Cowok! Boleh kenalan gak?" seorang mahasiswi cantik dengan pedenya mendekati Kay yang berdiri sendirian.
Kay diam, tak menggubrisnya.
__ADS_1
"Hei! Sombong amat."
Kay tetap cuek.
"Heh! Sok ganteng lo..."
"Beib! Kita beli es krim yuk!"
Kay melangkah ke arah Alya. Ia menggendong bocah laki-laki itu dan tangannya yang satu lagi menggenggam erat tangan Alya.
"Sayang, mau beli es krim gak?" Kay mengecup pipi cubby bocah ganteng itu. Bocah itu mengangguk cepat.
"Mau, Yah!" jawab bocah itu, girang.
Kay dan Alya tertawa mendengar bocah itu memanggil Kay. Tapi, raut kecewa muncul di wajah para mahasiswi yang tadi mengagumi Kay.
"Yaaah, guys...udah punya buntut."
"Patah hati barengan nih kita."
"Waduh, ada bininya, guys."
"Ah, cantikkan juga gue dari bininya."
"Masih bisa nikung gak ya?"
"Astaghfirullah! Segitu kuatnya pesona Kay sampai-sampai cewek-cewek itu rela jadi pelakor?"
Alya geli sendiri mendengarnya.
Kay mencium lembut tangan Alya yang digenggamnya saat melewati para mahasiswi itu, membuat mereka menatap Alya, iri.
"Wah, romantisnya."
"Suami idaman."
"Mau dong jadi yang kedua."
Hahahahhaaaa!
Kay dan Alya tak mampu lagi menahan tawa dan mereka pun ngakak setelah berjalan agak jauh dari mahasiswi- mahasiswi alay itu.
Tiba-tiba Alya diam dan menghempaskan tangan Kay yang menggenggam tangannya.
"Ngapain lo di sini? Belum puas lo menghina gue?" sentak Alya, marah.
"Aku mau minta maaf, beib. Aku udah salah nuduh kamu yang bukan-bukan." ucap Kay, dengan wajah memelas.
"Makanya...kalo gak tau apa-apa tuh tanya dulu, jangan asal tuduh nanti jadi fitnah." sungut Alya kesal.
"Iya, beib. Maaf!"
"Bobby!"
"Bunda!"
Kay dan Alya sama-sama menoleh.
Seorang wanita cantik, berhijab, sedang berjalan cepat menghampiri mereka.
"Kamu ini ya, bunda cari kemana-mana..."
Bobby, nama bocah laki-laki itu langsung berlari ke arah bundanya setelah diturunkan Kay dari gendongannya.
"Bobby tadi liat mainan, bunda, eh taunya bunda ilang. Bobby keliling cari bunda tapi gak ketemu. Untung aja kakak cantik ini mau nemenin Bobby cari bunda. Dan Ayah ini mau beliin Bobby es krim. Ya kan, Yah?" mata Bobby berbinar menatap Alya dan Kay yang mengangguk, tersenyum.
"Maaf ya Bobby udah ngerepotin kalian? Terima kasih udah mau menolong Bobby." ucap wanita itu tulus.
"Gak pa-pa, mbak. Kami senang melakukannya."
"Kalo begitu, kami pergi dulu. Sekali lagi terima kasih ya?" pamit wanita itu.
Kay dan Alya tersenyum, mengangguk.
"Jalan-jalan, yuk!" ajak Kay setelah agak lama mereka saling diam.
Alya menoleh. Lalu berjalan menjauhi Kay.
__ADS_1
"Beib!" Kay meraih cepat tangan Alya dan langsung memeluk gadis itu, erat.
"Aku kangen kamu, beib!" bisik Kay, sendu.