I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Menyibak tabir kelabu


__ADS_3

Alya menatap lekat sosok tampan dihadapannya yang tengah asik menikmati makanannya.


"Kamu gak makan, dek? Apa kenyang hanya dengan melihat abang?" tanya Sandy tiba-tiba, membuyarkan lamunan Alya.


Alya nyengir.


"Tadi udah makan di kantin, bang." katanya beralasan.


Sandy mengangguk.


"Sama Kay?"


"Hah?!" Alya melongo.


Sandy terkekeh.


"Jangan kaget gitu, abang cuma tanya." Sandy mengacak pelan kepala Alya.


"Nuduh juga gak pa-pa. Aku tadi emang makan di kantin bareng Kay, Egi dan Abby." sahut Alya, tenang.


Sandy tersenyum geli.


"Kamu kenapa ngegemesin gini sih, dek." Sandy mencubit pipi Alya, gemas.


"Ishh! Sakit, abang!" Alya menepis tangan Sandy, pelan.


"Maaf! Maaf!" Sandy mengusap lembut pipi Alya yang tadi dicubitnya.


Alya diam. Dan perlahan ia mencuri pandang pada Sandy yang kembali menikmati makanannya.


Alya pun menarik napas pelan, dan menghembuskannya dengan cepat.


"Mikirin apa sih, dek? Ada yang mau disampaikan ke abang?" tanya Sandy seolah mengerti kegelisahan Alya.


"Apa bang Sandy tau tentang aku dan Kay?" Alya menatap Sandy, lekat.


"Abang kalo mau marah, marah sama aku aja. Ini gak ada hubungannya dengan yang lain." Alya mulai ancang-ancangnya.


Sandy mengernyit, tak mengerti.


"Aku mau jujur sama abang."


"I waited for it!"


Sandy menatap Alya tenang.

__ADS_1


Berbanding terbalik, Alya garuk-garuk kepalanya bingung, seakan kutu-kutu dirambutnya lagi demo besar-besaran.


"Bang..."


"Bismillahirrahmanirrohiim!"


🤪autor bingung guys!😋


Satu!


Dua!


Tiga!


"Maaf!"


deg!


deg!


deg!


"Maaf kalo aku udah bohong sama abang. Tapi aku gak bisa menyimpannya lebih lama lagi. Aku gak bisa mencintai abang. Maaf!"


Sandy masih diam.


"Bala dua belas, nih. Kalo abang marah aku masih bisa menerimanya. Tapi kalo diam gini...hadeehh!"


Alya garuk-garuk lagi, bingung.


"Apa gak ada sedikitpun rasa cintamu untuk abang selama ini, dek?" tanya Sandy lirih.


"Sudah dua tahun kita dekat, dan sebentar lagi kita akan menikah...apakah tidak ada secuil pun tumbuh rasa cinta dihatimu untuk abang?" tanya Sandy sekali lagi sambil menatap nanar Alya.


"Maaf, bang! Aku sudah berusaha membuka hati untuk abang tapi...maaf. Aku gak bisa bohong lagi. Aku masih terus memikirkannya." Alya menunduk, tak sanggup menentang mata Sandy yang seakan tajam menusuk jantungnya, menatapnya kecewa.


"Apakah abang sejahat itu dek sama kalian?"


Alya mendongak, mengernyit tak mengerti.


"Apa abang jahat sudah memisahkan kamu dengan Kay?" lagi-lagi Sandy bertanya dengan nada lirih.


Gubrak! Alya seakan oleng, tapi ia berusaha tenang.


"Maaf, bang!"

__ADS_1


"Kalo kamu merasa bersalah, sebaiknya kamu lupakan Kay."


"Apa?" Alya melotot tajam.


"Kalo kamu merasa benar, jangan minta maaf!"


"Hah?!"


"Dasar gadis kecil yang sok dewasa!" Sandy mencubit pipi Alya, gemas.


Ada sakit, kesal, marah tapi juga geli melihat wajah Alya yang sangat menggemaskan.


"Sakit, abang!" sungut Alya sambil mengusap pipinya yang memerah.


"Lebih sakit mana sama hati abang yang kamu campakkan?" sindir Sandy.


"Jangan bilang maaf!" sergah Sandy, sebelum Alya membuka mulutnya.


Alya pun diam menunduk.


"Abanglah yang harus minta maaf sama kalian berdua. Kalau saja abang bisa menyadari perubahan sikap Kay sejak awal, semua ini gak akan terjadi. Kalian gak akan berpisah seperti ini." Sandy menyesali kebodohannya yang lambat mengartikan semuanya.


"Kay yang seorang cowok dingin dan cuek tiba-tiba berubah jadi kepo dan cerewet ternyata karena berusaha mempertahankan miliknya yang akan di ambil oleh orang lain."


"Kenapa abang pahamnya baru sekarang? Abang udah menyakiti kamu dan Kay, dek?" Sandy memukul-mukul kepalanya, kesal.


"Abang! Tolong jangan begini?" pinta Alya, sedih. Alya meraih tangan Sandy dan menggenggamnya.


Untung saja suasana di tempat itu sepi, sehingga tidak ada yang melihat keterpurukan Sandy.


"Kamu tau dek, Kay sudah terlalu sering mengalah buat abang. Sejak kecil, mainan Kay selalu abang rebut. Bahkan perhatian kak Karin juga cenderung lebih ke abang daripada Kay, tapi Kay gak pernah mengeluh ataupun iri pada abang. Kay malah marah kalau abang tidak diperhatikan. Kay dan Abby selalu membuat abang bahagia. Dan sekarang...abang merasa berdosa telah mengambil kamu dari Kay."


Alya memandang sendu sosok tampan dihadapannya yang terpaku sedih.


"Abang akan menyatukan kalian kembali, dek. Abang janji. Abang akan bicarakan ini sama bang Bian dan bang Dani."


Alya menggeleng cepat.


"Mungkin om Bian akan mengerti, bang. Tapi ayah..." Alya menggeleng pelan.


Sandy mengacak lembut rambut Alya.


"Gak ada orangtua yang mau melihat anaknya sedih, dek. Percayalah, bang Dani pasti mau yang terbaik buat adek." hibur Sandy.


Alya tersenyum kecut.

__ADS_1


"Kamu gak kenal ayah, bang. Harga diri dan janji bagi ayah lebih penting daripada kebahagiaanku."


__ADS_2