I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Galau


__ADS_3

Sepi hatiku galau jiwaku


saat kau katakan


putus dengan aku


Katakan saja


jangan kau sembunyikan


bila diriku tak lagi dihati


Kenanglah aku


pernah singgah dihatimu


meski sekedar mengukir hatimu


Sepi hatiku galau jiwaku


saat kau katakan putus dengan aku


Sepi hariku tanpa dirimu


menemani aku...galau


Jangan katakan kisahmu saat ini


karena bisa sakiti hatiku


Kenanglah aku pernah menjaga hatimu


meski hanya kau dan aku yang tau


Sepi hatiku galau jiwaku


saat kau katakan putus dengan aku


sepi hariku tanpa dirimu


menemani aku...galau


Kay bersandar malas di kursi tamu, dimana keluarga besar papanya kumpul dalam rangka pertemuan dengan keluarga calon tunangan adik papanya, om Sandy.


Kay menatap Alya yang nampak cantik dengan gaun berwarna coklat susu yang serasi dengan kulit putihnya.


Alya juga tengah menatap Kay. Pandangan mereka pun bertemu. Binar-binar rindu terpancar dari pandangan mata keduanya.


"Ssttt! Kay?!"


Egi menyikut lengan Kay agak keras sehingga cowok itu hampir terlonjak kaget.


"Paan sih?!" gerutu Kay kesal.


Matanya menangkap Alya tengah terkikik geli kearahnya.

__ADS_1


Kay pun nyengir, malu.


"Liatin aja sepuas lo bro, soalnya bentar lagi do'i udah jadi milik orang...Aduh!" Egi yang niatnya menggoda Kay pun mengaduh ketika Elsa mencubit pinggangnya, gemas.


"Mampus lo!" umpat Kay, pelan.


Egi meringis.


"Maaf tante, Alya mau ke toilet bentar, boleh?" tanya Alya pada mamanya Kay.


"Boleh dong nak Alya! Dek, tunjukin nak Alya dimana toiletnya."


"Iya, ma!" jawab Kay cepat.


"Yuk beib...eh Al, aku anterin."


Alya mengikuti Kay yang berjalan lebih dulu, didepannya.


"Loh...Ngil, ini mau kemana?" tanya Alya heran ketika Kay menuju ke halaman belakang.


"Udah! Kamu ikut aku aja!"


Bukannya menjawab Kay malah menarik tangan Alya dan membawanya duduk di sebuah taman kecil yang dikelilingi banyak tanaman yang sengaja dibentuk menyerupai pagar.


"Aku kangen kamu, beib!" bisik Kay.


Dipeluknya erat tubuh gadis mungilnya yang sangat dirindukannya.


Alya terisak. Tangisnya pun pecah.


"Maafkan aku, Ngil!"


Ini namanya takdir, Ngil. Kita gak bisa mengelak takdir."


"Seandainya aku bisa merubah takdir, beib...aku ingin selamanya sama kamu, seumur hidupku, beib! Aku kangen kamu!"


Kay menatap Alya, dalam.


Alya pun balas menatap Kay, sendu.


"Aku juga, Ngil! Aku sedih liat kamu kucel begini. Udah berapa taon lo gak mandi, hah?" Alya mengetuk pelan kening Kay, membuat cowok itu nyengir malu.


"Aku kucel gini, semuanya gara-gara kamu putusin aku, beib. Jadi aku putusin semua yang berhubungan denganku. Mandi, cuci muka, sikat gigi..."


"Idihhh! Pantesan bau jigong!" cibir Alya sambil menutup hidungnya, pura-pura jijik.


Kay menangkup kedua pipi Alya dan mengecup cepat bibir gadis itu.


Alya terkesiap, tak menyangka akan mendapat serangan mendadak dari Kay.


Sesaat Alya terpaku. Dan,


"Mmfh!"


Alya menggumam tak jelas ketika, lagi-lagi, Kay ******* bibirnya tanpa permisi.

__ADS_1


Perlahan namun pasti, ciuman Kay yang cepat, mendadak, dan ganas, berubah lembut namun menuntut. Membuat Alya tak kuasa menolaknya, karna ia pun tak ingin menolaknya.


Alya juga rindu Kay. Rindu dengan canda, tawa, perhatian dan cinta cowok tampan itu.


Apalagi ciumannya, yang selalu membuat Alya terasa terbang saat mengecapnya.


Dengan berani Alya membalas ciuman Kay.


Pelukan makin erat. Ciuman makin dalam dan hangat. Menyatukan hati yang memang sejak awal tak ingin ada kata 'berpisah'.


Saat Alya merasa lidah Kay memaksa ingin masuk ke sela ciuman mereka, gadis itu pun makin pasrah dengan membuka mulutnya, memberi akses jalan masuk untuk menjelajahi setiap sudut rongga dimulutnya.


Dan itu memberikan reaksi yang aneh pada tubuh Alya. Gairahnya semakin dalam, panas, dan lagi-lagi...pasrah.


Ciuman Kay berpindah ke leher gadis itu. Dan kembali lidahnya bermain di sana.


Alya menggeliat geli ketika lidah Kay menjilat bagian belakang telinganya dan menggigit pelan daun telinganya.


Alya kembali mendesah.


"Aufh! Hmfh!"


Tangan nakal Kay meremas lembut dua bukit kembar milik Alya. Dan ia pun seperti hilang akal.


"Ahh...Ngil..."


Kay kembali ******* bibir Alya, sebelum gadis itu memprotes tindakan tangan jahilnya.


"Maaf!" bisik Kay, lembut ditelinga Alya setelah melepas ciumannya dari bibir gadis itu, memeluk kembali tubuh mungilnya dengan erat, seolah tak rela melepas gadisnya pada orang lain.


"Aku harus kembali ke dalam, mereka pasti sudah menungguku."


Alya melepaskan pelukannya dan bergegas bangkit dari duduknya.


"Beib!" Kay menarik tangan Alya, membuat gadis itu mengurungkan langkahnya.


"Aku cinta kamu, Alya. Selamanya aku cinta kamu."


"Jangan seperti itu, Ngil."


Alya memeluk Kay lagi. Airmatanya jatuh mendengar ucapan cowok itu.


"Lupakan aku, Ngil. Kamu pantas mendapatkan gadis yang lebih baik dari aku. Jangan biarkan kamu jatuh terlalu dalam. Aku ingin Kay yang dulu, yang selalu optimis dan percaya diri. Jangan tutup dirimu! Buka hatimu. Biarkan gadis lain mengisi hatimu yang kosong."


"Aku gak mau, beib!"


"Jangan paksa aku membencimu, Ngil!"


Tatapan tajam Alya membuat Kay tertunduk, diam. Ancamannya mampu membuat seorang Kay membisu.


"Baiklah, beib. Aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan." ucapnya pasrah.


Alya tersenyum lembut.


"Terimakasih, Ngil. Meski sebenarnya hatiku sakit, tapi ini demi masa depanmu. Jangan sampai kamu mengalami kesakitan seperti yang aku alami sekarang."

__ADS_1


Alya berlalu, meninggalkan Kay yang masih terdiam ditempatnya duduk.


"Akan ku coba membuka hatiku, beib. Meskipun aku tak yakin apa aku sanggup melupakanmu."


__ADS_2