I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Dejavu


__ADS_3

"Kamu?"


"A...bang?"


"Ibu guru cantik!!!" teriakan kegirangan Wira membuat Kay dan gadis itu menoleh.


Dan senyum manis terukir di bibir gadis itu ketika melihat Wira yang langsung berlari kearahnya dan memeluknya erat.


Kay menatap bingung putranya, dan lemes seketika saat melihat mama, papa, abang dan kakak iparnya, juga kedua mertuanya tersenyum senang melihat keakraban Wira dengan gadis itu.


"Jangan-jangan???"


"Dek, ini Luna. Gadis yang mau mama kenalin sama kamu."


"Tuh kan?!"


Kay menepuk jidatnya.


"Luna, ini Kay anak mama, ayahnya Wira." Karin memperkenalkan keduanya.


Luna tersenyum, canggung. Begitu juga Kay.


Keduanya berjabat tangan dengan tangan gemetar, namun berpura-pura bersikap tenang.


"Kay."


"Luna."


Abby menyenggol adiknya, pelan dan berbisik, "Rileks aja. Jangan gemetaran, kayak abg aja lo!" ledek Abby.


Kay melotot tajam ke arah abang durjananya yang terlihat sangat menikmati penderitaannya saat ini.


Yang dipelototin malah cengar-cengir dibelakang bininya.


"Dasar suami manja!" sungut Kay, kesal.


"Ibu Ani mana, Luna?" tanya Karin.


"Ibu sebentar lagi datang, Ma. Tadi nganter salah satu adikku ke rumah sakit dulu, cek up." jawab Luna dengan nada sopan.


"Udah manggil mama lagi." Kay agak shock dikit. (shock motor, Kay? atau shock imut?)😋


"Adiknya sakit apa?"


"Kemarin sempat patah tangannya gara-gara jatuh waktu main."


"Terpesona sih terpesona, tapi biasa aja kali natapnya, dek. Ntar dia takut lo pelototin kayak gitu." Abby terus-terusan menggoda Kay.


"Ishh! Berisik lo!" umpat Kay, pelan.


Abby cekikikan girang melihat Kay salah tingkah.


Kay pov


"Kenapa dunia ini jadi sempit banget ya? Ternyata gadis yang gue tolong kemarin itu yang mau dijodohkan mama sama gue. Dan dia juga guru yang selalu Wira ceritakan ke gue. Bener-bener di luar nalar gue."


Aku tak habis pikir dengan semua yang nampak seperti kebetulan yang sudah dirancang dengan baik.


"Jangan-jangan ini semua rencana mama?" pikiran jelek pun terlintas diotakku.


"Gimana, dek? Kamu setuju gak dengan perjodohan ini?" tanya mama.

__ADS_1


Aku pun garuk-garuk kepala, bingung.


"Jangan banyak pikir lagi, dek. Umurmu sudah matang untuk berkeluarga lagi, biar kamu dan Wira ada yang urus." kata papa.


Wira memelukku dengan erat. "Yah, aku mau ibu guru cantik jadi bunda aku, dan emak tetap ada di hati aku." bisik Wira.


Aku menarik napas panjang.


"Emak selamanya akan selalu ada di hati kita, dek."


Kay mengusap pucuk kepala anaknya.


"Apa kita tidak mendengar pendapat Luna dulu, ma, pa? Mungkin ada yang mau dia sampaikan?"


Kay berharap gadis itu akan menolaknya.


"Aku...aku...terserah ibu saja." kata Luna, gugup. Ia langsung menunduk ketika bertemu pandang denganku.


Ibu Ani, yang ternyata ibu panti tempat Luna dibesarkan tersenyum sambil mengelus rambut panjang Luna.


"Ibu ingin kamu ada yang menjaganya, Luna. Ibu gak mau kejadian kemarin terjadi lagi sama kamu. Dan ibu harap nak Kay bisa melindungimu dari teror yang selalu menghantuimu."


"Apa mereka sering mengganggu Luna, Bu? Memangnya kejadian kemarin sudah yang ke berapa kali?"


Aku penasaran tentang Luna, gadis mungil yang ku tolong beberapa hari yang lalu.


"Dalam bulan ini saja sudah tiga kali Luna diganggu para preman itu, nak. Kemarin yang paling parah, Luna sampai masuk rumah sakit. Dan untungnya ada orang yang nolongin dia kemarin." ungkap Bu Ani.


"Kamu sudah lapor polisi, belum?" tanyaku pada Luna.


Gadis itu menggeleng pelan.


"Kan sudah aku bilang kemarin, lapor ke Polisi. Ini sudah tindak kriminal. Kalo mereka ganggu kamu lagi gimana?"


"Maaf, bang. Aku..."


Aku menatap kesal gadis mungil yang tertunduk, takut menentang mataku.


"Istrinya mantan kamu itu gila tau gak?!" tak sadar aku membentak gadis itu.


"Dek!!!"


Bentakan papa membuatku terlonjak kaget.


"Astaghfirullah. Ngapain juga aku ngomel-ngomelin dia?"


Aku menunduk, menyembunyikan wajah maluku.


"Maaf, Bu Ani. Maaf Luna." ucapku menyesal.


"Gak pa-pa, nak Kay. Yang kamu bilang tadi memang benar, dan kami pernah melaporkannya pada polisi. Tapi sayangnya orang-orang itu bisa lolos karena backing mereka orang berkuasa."


"Maksudnya, bu?" ku tatap bu Ani, lekat.


"Yang menyuruh para preman itu anak seorang anggota dewan di kota S. Makanya mereka selalu lolos dari hukuman."


Aku mengangguk mengerti.


"Dek, kok kamu tau masalah yang terjadi sama Luna? Apa kamu..."


"Abang yang tolong aku kemarin, Ma. Abang juga yang bawa aku ke rumah sakit." ujar Luna, jujur.

__ADS_1


"Jadi...kalian sudah bertemu, kemarin?" tanya mama, surprise. Begitu juga dengan yang lain.


Aku dan Luna mengangguk berbarengan.


"Ma, sebaiknya kita selesaikan dulu masalah Luna. Takutnya kalo ini dibiarkan terus, teror itu akan terus mengganggunya." kataku, kemudian.


Semua yang ada diruangan itu setuju dengan usulku. Dan hatiku pun sedikit lega.


Setidaknya aku bisa mengalihkan perhatian mereka untuk menjodohkanku dengan Luna, meski itu tak berlangsung lama.


Mungkin!


"Dek, kok kayaknya gue dejavu deh." bang Abby dengan wajah seriusnya menatapku.


Saat ini kami sudah pulang ke rumah mertuaku, dan kami berdua sedang duduk santai di teras belakang.


"Kejadian ini juga pernah dialami dulu sama Alya dan Rani." ungkap Abby membuatku terperangah kaget.


"Beneran, bang?" tanyaku, sangsi.


"Kapan?" tanyaku lagi ketika melihat bang Abby mengangguk.


"Waktu lo pergi, dek. Arkan juga pernah dikeroyok, gara-gara Wulan yang belum bisa move on."


back to author


Kay menganga sampai gak sadar mangapnya udah kayak kudanil, mendengar cerita Abby.


Dia tidak menyangka kalo kejadian yang terjadi sama Luna pernah juga dialami istrinya, Alya.


"Kok ada ya orang kayak gitu? Saraf otaknya udah kusut kali sampe berani ngelakuin hal itu." gumam Kay, tak habis pikir.


"Itulah kalo nafsu udah ngalahin hati nurani. Ditambah orangtua yang selalu menunjukkan kasih sayangnya dengan uang, jadi anaknya berbuat gila dibela terus meskipun harus menyakiti orang lain." kata Abby yang diangguki oleh Kay.


"Kita beruntung ya bang punya orang tua yang bertanggung jawab seperti mama dan papa." ujar Kay.


"Ya iyalah, dek. Kita sukses juga berkat didikan dan do'a dari mama dan papa. Dan lo juga harus bersikap begitu sama Wira, dek. Jadikan dia seorang lelaki yang betanggung jawab, soleh, dan sukses bagi orangtua, agama serta negaranya."


"Pasti dong, bang. Semua orangtua pasti ingin anaknya seperti itu. Lo juga pasti maunya kayak gitu juga kan kalo punya anak nanti?"


Abby mengangguk.


"Sekarang apa rencana lo untuk membantu Luna?" tanya Abby.


"Gue akan cari informasi tentang mantan si Luna, juga istri mantannya yang sekarang."


"Emang lo gak sibuk, dek?"


"Ya, kalo lagi free, bang." sahut Kay.


"Sekalian pedekate ya, dek?" goda Abby.


Kay mendelik seram.


Abby cengengesan.


"Sambil menyelam minum air, dek." godanya lagi.


"Kembung dong gue. Sa ae lu, Sabeni!" sungut Kay, kesal.


Abby pun ngakak, membahana. (dikira ngakaknya pake toa kali ah.😂)

__ADS_1


__ADS_2