I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Memory


__ADS_3

Alya termenung mengenang kebersamaannya dengan Kay. Kisah cinta mereka yang indah namun terbilang singkat akibat perjanjian masa lalu yang kini hanya jadi kenangan.


flashback on


"Beib, janji ya kita selamanya akan terus bersama?" Kay bersandar manja pada Alya yang sedang duduk sambil membaca novel.


Saat itu mereka tengah berduaan di bangku taman disebuah pantai yang ada di kota P.


Angin semilir yang berhembus menambah syahdu suasana saat itu.


"Kita gak tau kedepannya gimana nanti, Ngil. Kita cuma bisa berdo'a semoga kita bisa kayak gini terus selamanya."


"Tapi aku gak mau kita kayak gini selamanya, beib."


"Loh?" Alya menoleh, menatap Kay, bingung.


Kay menegakkan tubuhnya, duduk menghadap Alya. Digenggamnya lembut tangan gadis itu.


"Aku mau hubungan kita nanti sampai kita menikah, punya anak dan saling mencinta sampai tua." ungkap Kay. Dikecupnya lembut tangan yang ada digenggamannya.


Diperlakukan mesra seperti itu bukannya terharu Alya malah terkekeh.


"Kamu...gak ketinggian mengkhayalnya, Ngil. Ntar jatuh, sakit loh." godanya.


"Aku serius, beib!" wajah datar Kay menatap Alya kesal.


"Emang kamu gak mau ya nikah sama aku, beib?" Kay mulai merajuk.


"Deeeuhh! Bongilku ngambek. Jelek!" iseng Alya menoel gemas dagu Kay yang tambah manyun.


Alya terbahak.


"Jangan ngambek dong, Ngil. Aku mau kok nikah sama kamu..."


"Beneran?"


Alya mendengus, pelan.


"Sabar, Al. Inilah resikonya pacaran ama bocah. Gampang ngambek. Mana maunya yang aneh-aneh lagi."


"Ngil, menikah itu bukan perkara gampang. Kita berdua masih muda. Masih banyak cita-cita yang belum kita capai."

__ADS_1


Kay diam mematung, berusaha mencerna maksud dari perkataan kekasihnya.


"Kamu baru mau lulus SMU, Ngil. Kamu harus kuliah, lalu kerja. Setelah itu baru kita bisa memikirkan masa depan kita." Alya berusaha memberi Kay pengertian.


"Hadehh nih bocah, kapan dewasanya sih?!" Alya mendesah dalam hati.


"Beib!" Kay menarik Alya, menaruh kepala gadis itu di dada bidangnya, memeluknya mesra sambil membelai rambut dan menciumi aroma wangi rambut kekasihnya.


"Aku akan berusaha keras untuk masa depan kita. Demi kamu, beib. Demi cinta kita." Kay mengecup lembut pucuk kepala Alya.


Alya tersenyum manis balas memeluk Kay, erat.


"Makasih, Ngil. Aku gak nyangka segitu cintanya kamu sama aku." batin Alya.


Di rumah Alya,


"Apa gak ada jalan lain, Yah? Masak zaman udah now gini masih main jodoh-jodohin anak sih? Ibu gak setuju ya?!" Bu Alma menatap kesal wajah suaminya.


Sejak Alya lahir, ayah langsung berniat menepati janji ayahnya dengan sahabatnya. Yaitu, menjodohkan Alya dengan anak sahabat kakek yang saat itu berumur lima tahun.


"Ayah harus menepati janji kakek, Bu. Janji adalah janji. Dan janji harus ditepati." ucap ayah mantap.


"Tapi kan Alya gak kenal dengan cowok itu, Yah. Lagi pula...Alya sepertinya udah punya pacar."


Ibu cepat-cepat menggeleng. "Bukan. Arkan dan Alya cuma temenan, kayaknya..."


"Ayah gak peduli siapa pacar Alya, Bu. Yang penting Alya harus menikah dengan jodoh yang dipilihkan kakek." Ayah memotong perkataan ibu.


"Kasihan Alya, Yah. Apa gak bisa perjodohan ini dibatalkan saja. Lagi pula yang dulu dijodohkan itu kan ayah." ibu terus berusaha membujuk ayah.


"Mana bisa, bu. Masak ayah harus menikah dengan Bian? Kan gak mungkin!" ayah mendelik sewot.


"Makanya...itu berarti perjodohannya batal karena anak kakek dan temannya itu sama-sama cowok."


"Ya bisalah, bu. Adiknya Bian kan cowok jadi bisa dijodohkan sama Alya dan perjanjian bisa ditepati."


"Tapi kan Alya cucu Yah, bukan anak kakek." ibu tetap kekeuh ingin membatalkan perjodohan yang bukan pada tempatnya.


"Tapi Alya juga darah daging kakek. Jadi dia yang harus menepati janji kakek." ayah juga tetap keras kepala.


"Gak bisa gitu, dong. Ibu gak mau ya liat Alya sedih gara-gara perjodohan ini. Yang harusnya menikah dengan anak teman kakek itu ayah, jadi ayah aja yang menikah dengannya."

__ADS_1


"Ibu!!!" bentak ayah marah membuat ibu terperanjat, bangun dari duduknya.


"Setuju atau gak pokoknya Alya harus menikah dengan anak teman kakek. Titik!!!"


Ibu melengos pergi, meninggalkan ayah sendirian di ruang tengah.


"Dasar turunan datuk maringgih. Masih aja nikah pake dipaksa." sungut ibu, geram.


****


Alya melotot tak percaya mendengar ucapan ayah. Matanya melirik ke arah ibu yang merengut masam.


"Alya dengarkan ayah. Ini janji kakek dan ayah ingin menepati janji itu."


"Udahlah, Yah. Jangan paksa Alya untuk menerimanya. Biarkan Alya dengan pilihan hatinya." bujuk ibu.


"Ayah tidak butuh persetujuan Alya. Ayah hanya mau Alya tau tentang perjodohan ini dan harus mau ikut perkataan ayah." sahut ayah, keras.


"Ayah kok maksa sih!" ibu menatap ayah dengan wajah kesal.


"Dasar ayah keras kepala." sungut ibu dalam hati.


Melihat ayah dan ibunya berselisih paham Alya hanya bisa menghela napas berat.


Jujur, Alya sangat menolak perjodohan yang diatur ayahnya karena Alya sudah memiliki Kay dihatinya. Tapi , Alya juga tidak sanggup menolak permintaan ayah. Alya tidak berani membangkang perintah ayahnya meski sebenarnya dia seorang gadis yang sangat pembangkang.


"Baiklah, Yah. Alya akan ikut apa kata ayah." akhirnya dengan berat hati Alya terpaksa menurut.


"Al..."


"Gak pa-pa, Bu. Alya baik-baik aja." Alya berusaha bersikap tenang.


Ibu menatapnya sedih. Anak gadisnya harus tunduk dan mengalah demi kemauan keras sang ayah. Ya, demi ayah yang ingin menepati janji yang di buat kakek dulu, Alya rela mengorbankan cintanya.


"Maafkan aku, Ngil. Ini demi janji kakek."


flashback off


"Aku harus hadapi semuanya sendiri. Aku gak mau Kay ikut terpuruk bersamaku. Aku harus melupakan Kay."


Entah kenapa akhir-akhir ini Alya sering terlihat menarik napas panjang, seolah berat menghadapi kehidupan yang dirasakannya begitu pahit.

__ADS_1


"Bismillahirrohmanirrahiim!"


Awal yang begitu berat yang harus dijalani Alya dengan lapang dada.


__ADS_2