
Arkan menggumam, kesal. Dari tadi tak henti-hentinya ia mengoceh gak jelas membuat Abby yang duduk disebelahnya mengernyit bingung melihatnya.
"Lo kenapa, Kan? Dari tadi gue liat lo grasak- grusuk kayak cacing kepanasan." tegur Abby.
Arkan tak menjawab. Tangannya sibuk mencoret-coret buku tulisnya yang sudah koyak, nyaris hancur.
"Kan?"
Arkan masih membisu.
"Arkan...?"
Tetep kekeh Arkan mingkem.
Pletakk!
"Aduhh!" Arkan mengaduh kesakitan.
"Alhamdulillah. Ternyata lo masih idup." Abby terkekeh melihat Arkan manyun setelah kepalanya ditimpuk Abby pakai buku akuntan yang lumayan tebal.
"Lo nyumpahin gue, By?" Arkan mendelik, sewot.
"Ngapain nyumpahin lo, ntar juga mati sendiri." sahut Abby cuek.
"Sialan lo!" umpat Arkan kesal sambil menyentil keras jidat Abby yang hanya bisa meringis sakit.
"Lo kenapa sih, Kan? Kayaknya gelisah bener." Abby bertanya lagi. Dia penasaran dengan sikap ajaib Arkan hari ini.
Arkan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, seolah ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya saat ini.
Abby diam menunggu Arkan bercerita.
"Wulan masih suka ganggu hidup gue, By?"
Abby menatap lekat sahabatnya yang kembali terpaku dengan lamunannya.
"Dia terus mengusik hidup gue. Bikin gue gak tenang."
"Emang dia ngapain lo?"
Arkan mendengus kesal, mengingat Wulan yang tidak jera dengan kesalahannya yang lalu.
"Dia mengancam cewek yang lagi deket ama gue." jawab Arkan pelan.
"Siapa?"
"Rani!"
"Motifnya apa? Cemburu?"
"Mana gue tau?" dengus Arkan lagi-lagi kesal.
"Ngapain juga dia harus cemburu, gue ama dia kan udah end." sahutnya ketus.
"Kali aja Wulan masih cinta dan pengen balikan ama lo, Kan."
"Idihh, amit-amit!" Arkan bergidik, jijik.
"Mending gue pacarin bu Ati daripada harus balikan ama cewek 'sakit' kayak Wulan." sungut Arkan.
Abby terkikik geli mendengar ucapan Arkan tentang bu Ati, dosen gendut nan bawel dan juga genit kalo sama Mahasiswa ganteng sekelas Arkan. (Bisa-bisanya Arkan mikirnya ke bu Ati.ðŸ¤)
"Dari mana lo tau Wulan mengancam Rani? Apa Rani yang kasih tau?" tanya Abby penuh selidik.
"Gue nguping waktu liat Wulan cegat Rani di parkiran kampus."
"Apa katanya?"
"Katanya Rani harus menjauhi gue kalo gak Wulan akan menyuruh anak buahnya mengacak-acak wajah cantik Rani." cerita Arkan dengan wajah merah padam menahan amarah ketika teringat kejadian diparkiran saat pulang dari kampus.
"Beneran sakit jiwa tuh cewek." Abby menggelengkan kepalanya membayangkan betapa terobsesinya Wulan pada Arkan.
"Bukan hanya Rani yang di ancam Wulan, By. Beberapa teman kita juga pernah diancamnya, bahkan sudah dilukainya." adu Arkan lagi.
"Siapa?"
"Sita. Kakinya patah akibat ditabrak orang tak dikenal."
"Serius, Kan?"Abby terbelalak kaget.
__ADS_1
Arkan mengangguk.
"Sampai hari ini pelaku penabrakan belum ditangkap karena tidak ada saksi saat kejadian." ungkap Arkan.
"Terus...lo tau dari mana kalau Wulan pelakunya?" Abby makin penasaran.
"Sita pernah cerita ke gue kalo Wulan mengancamnya agar tidak dekat-dekat apalagi akrab dengan gue. Dan Sita bilang dia gak mau temenan lagi ama gue, takut di ancam Wulan lagi."
Abby geleng-geleng kepala lagi.
"Ini sih psikopat namanya, Kan. Dia benar-benar terobsesi sama lo."
"Dasar cewek gila! Belum jera juga dia. Gue gak tau gimana reaksi Alya kalo dia denger masalah ini? Lo tau sendiri kan By gimana bencinya Alya sama Wulan. Apalagi kalo tau Wulan bersikap jahat, gue angkat tangan kalo Alya ngamuk."
Abby mengangguk, paham. Dia tau Alya punya dendam kesumat pada Wulan.
"Sebaiknya jangan sampai Alya tau masalah ini, Kan. Kita selesaikan semuanya tanpa sepengetahuan Alya." usul Abby.
Arkan mengangguk setuju.
****
Sore itu setelah jam kuliahnya berakhir, Rani pulang dengan berjalan kaki menuju kekosannya yang tak begitu jauh dari kampus.
Rani yang biasa pulang sendiri tidak takut meski keadaan jalanan sedang sepi.
Tiba-tiba,
"Heh, gadis udik!"
Wulan mencegat Rani lagi ditikungan sepi tak jauh dari kampus.
Rani menatap Wulan, tenang.
"Ada apalagi, Lan?" tanya Rani.
Wulan yang datang bersama empat preman bayaran tersenyum sinis, mengejeknya.
"Gue mau ngancurin muka sok cantik lo karna lo udah berani ngeremehin ancaman gue untuk menjauhi Arkan." cerca Wulan, sadis.
Rani menyipitkan matanya, bingung.
"Jadi lo nantangin gue? Lo kira lo lebih cantik dari gue, hah!!" bentak Wulan marah.
"Loh?" Rani mengernyit, bingung. "Kok jadi gak nyambung gini ya si Wulan?"
"Jangan sok imut lo!" bentak Wulan melihat Rani yang melongo bingung. "Lo mau anak buah gue perkosa lo?"
"Eh?" Rani melotot tajam ke
arah Wulan.
"Mau lo apa sih, Lan? Kan udah gue bilang gue dan Arkan gak ada hubungan apa-apa. Saat ini kami hanya sedang mengurus calon anggota baru yang akan ikut Mapala."
"Denger ya cewek ceking. Lo tuh gak pantes berdampingan sama Arkan. Dia tuh pantesnya ama gue, yang cantik dan seksi gini." cerca Wulan seraya menghina. Sembari bicara, badannya meliuk memutar bak model papan penggilesan.ðŸ¤
"Heh, cewek freak!!!"
Suara nyaring, cempreng bak kaleng rombeng membentak Wulan cs.
"Alya!"
Wulan tersenyum licik.
"Kebetulan banget lo ada di sini, Al. Jadi, sekalian aja lo juga gue kasih pelajaran."
Alya nyengir melihat Wulan yang seolah meremehkannya.
"Kenapa lo masih aja banyak tingkah sih, Lan? Gak jera lo dengan kejadian kemarin?" ejek Alya.
Wulan mengepalkan tangannya, menahan amarah mendengar ucapan Alya yang mengingatkannya pada apa yang dirasakannya dulu sangat menusuk hatinya, sakit.
"Justru itu yang bikin gue semakin benci sama lo, Al. Makanya gue pengen ngehancurin lo."
"Tapi Rani gak ada hubungan dengan dendam lo sama gue."
"Jelas ada. Dia udah berani deketin Arkan. Sama kayak lo. Dia nantangin gue." Wulan menunjuk-nunjuk wajah Rani yang sedari tadi diam melihat perdebatan Wulan dan Alya.
"Haishh! Belum move on ternyata." Alya menepuk jidatnya, geli dengan kekonyolan Wulan.
__ADS_1
"Apa lo bilang?!" emosi Wulan meningkat.
"Lo...bucin!!!"
"Heh, denger ya mantan sahabat yang udah gue tikung. Kali ini lo gak bakalan selamet."
"Aii makk, ngeri kali!" Alya pura-pura bergidik, ketakutan.
"Dasar, Mak lampir buluk. Lo kira gue takut?! Huhh! No way ya?!" tantang Alya membuat Wulan menggeram. Amarahnya memuncak.
"Liat tuh Ran, pengikut dajjal udah ngeluarin tanduknya." Alya pura-pura berbisik pada Rani, padahal ngomongnya keras banget.
Rani terkekeh geli dan mengangguk.
"He-eh, Al. Itu pengikut dajjal jelmaan kambing bandot betina."
Hahahahaaaaa.
Tawa menggema dari mulut Alya dan Rani. Keduanya tertawa sambil memegang perutnya karena geli.
"Brengsek! Lo semua...hajar kedua curut busuk ini. Lakukan semau kalian. Mau lo bunuh kek, mau lo perkosa kek, bebas!" dengan tangan melambai bak seorang bos mafia Wulan memerintahkan anak buahnya untuk menyingkirkan Alya dan Rani yang dianggapnya penghalang untuknya mendekati Arkan lagi.
Alya dan Rani sudah siap dengan kuda-kudanya. Bak dua jagoan cantik, keduanya saling memunggungi siap mengantisipasi serangan dari kubu lawan yang hendak mengeroyok mereka.
"Hehh, banci kaleng!!!"
Suara menggelegar, menggema mengagetkan semuanya.
"Arkan!"
"Abby!"
Dengan gagah Arkan dan Abby melangkah tenang, mendekati tempat pertarungan yang dirasa tidak seimbang.
"Lo...cewek freak! Ternyata lo masih gak nyerah juga ya?" umpat Arkan, kesal.
"Kan, aku gak ngapa-ngapain mereka kok. Aku cuma gak mau mereka kegenitan deketin kamu." Wulan hendak meraih tangan Arkan, mencoba menjelaskan maksud hatinya.
"Gak kebalik lo? Bukannya lo yang kegenitan ama gue?" cibir Arkan. Ditepisnya tangan Wulan yang hendak menyentuhnya.
"Wajarlah, Kan. Aku kan pacar kamu." Wulan belum menyerah.
"Dasar muka badak!" lagi-lagi Arkan mengumpat kesal.
"Harusnya dulu gue gak tergoda dengan mulut berbisa lo. Harusnya dari dulu lo udah gue hempas lo biar lo gak ganggu hidup gue terus. Nyesel gue pernah deket ama cewek gila kayak lo."
"Arkan!!!" teriak Wulan keras.
"Aku lakukan ini biar kita bersama terus, selamanya."
"Dasar cewek gila! Sakit jiwa!"
"Ar?!"
Arkan menoleh pada Alya yang memanggilnya.
"Gue rasa kali ini kita harus bilang sama bokap dan nyokap Wulan deh biar memeriksakan kejiwaannya. Wulan udah nakutin banget." ujar Alya tanpa memperdulikan bola mata Wulan yang nyaris keluar karena melototinya.
"Gue setuju!" timpal Abby yang diakurin Rani.
"Apa lo setuju setuju. Gue gak gila ya?" sergah Wulan, keras.
"Ya lo gak gila. Hanya sakit jiwa!!!" semprot Arkan.
Abby dan Alya terkekeh, menertawakan Wulan yang tampak makin tak bisa menguasai emosinya.
"Sebaiknya lo bawa cecunguk bayaran lo pulang, kalo lo gak mau gue anter ke rumah sakit jiwa." perintah Arkan pada Wulan.
Wulan tertawa.
"Jangan anggap gue remeh, Kan. Kali ini anak buah gue udah gue pilih yang terbaik dari yang terbaik. Jadi, kali ini gue jamin lo semua masuk rumah sakit. Atau, malah...lolos masuk kuburan." tatapan tajam dan seringai jahat terukir di wajah cantik Wulan.
"Wuihh! Atutt!!"
"Ngeri abis!!"
"He-eh. Apalagi liat tanduk dan taringnya udah keluar, serem banget!!"
Hahahahahaaa!
__ADS_1
Tawa kembali menggema. Kali ini Alya dan Rani ditemani Arkan dan Abby. Mereka berempat tampak kompak.