
Kumandang adzan subuh telah terdengar dengan jelas, membuat Bela bangun dari tidurnya dan sesaat melirik kesampingnya.
Dia melirik sang mama, ya sejak kepulangan Ratih ke rumah ini Bela tidur dengannya karena Ratih menggap Bela adalah putrinya.
Allah.... huakbar.........
Belapun menjalankan kewajibannya, sedangkan sang suami Angga telah lebih dulu menyelesaikan sholat.
Kini dia berdiri di depan pintu kamar mamanya, ia terdiam menyaksikan bidadarinya sedang bertemu dengan sang pencipta.
Aku memang tidak salah pilih, terima kasih ya Allah engkau memberikan Bela untukku, untuk menjalani kembali hidup yang penuh bahagia dan kehangatan ini.
" Sayang kamu udah selesai sholatnya " ujar Angga berbisik-bisik karena takut sang mama terbangun.
" Mas kamu ngapain kesini ? ".
" Kangen kamu " ujar Angga dengan gerak mulutnya tanpa suara, serta merentangkan tangannya yang ingin memeluk Bela.
Bela hanya bisa melihat Angga dengan sikap manjanya.
Belapun merapikan sajadahnya, dan berjalan menghampiri Angga di depan pintu kamar sembari memberikan pelukan.
Ya Allah terima kasih kau telah memberikan hamba suami terbaik dalam hidup hamba, engkau juga telah mengubah rasa benci menjadi cinta pada hamba.
Cukup lama Angga memeluk Bela tanpa henti, serta menempel bibirnya pada dahi Ara dengan penuh kenyamanan.
" Udah mas, nanti mama bangun " ucapku melepaskan pelukan.
" Tapi mas masih kangen, mas ga tau sampai kapan kita harus bohong gini ke mama, tapi kita ga bisa juga maksa mama buat nerima semua ini karena kondisi mama masih butuh pemulihan " ungkap Angga diselipi rasa sedih.
Melihat Angga yang merasa sedih membuat Bela kembali memeluknya.
" Udah mas jangan sedih, Bela yakin kita pasti bisa ngelewatin ini sama-sama dan Bela yakin mama pasti sembuh dan bisa terima Bela dan hubungan kita ".
" Makasih sayang " ujar Angga sembari mengecup lembut penuh kasih sayang dahi Bela
......................................
Pagi menyapa dengan penuh kehangatan dengan sinar mentarinya, kicauan burung menambah suasana pagi menjadi semakin ceria.
Saat itu Bela dan keluarga kecilnya sedang menikah sarapan pagi, mereka adalah keluarga yang cukup bahagia namun tak benar-benar bahagia.
Kenangan masa lalu masih menghantui diri dan kehidupan mereka.
" Masakannya gimana ma enak ga ? " tanyaku pada mama penasaran.
__ADS_1
" Enak sayang, enak banget malahan benarkah Angga ".
" Tentunya ma ".
Senyum bahagia terukir dibibir mereka masing-masing, namun tidak dengan hati dan apa yang mereka pikirkan.
Aku semakin yakin jika dia bukan putriku, tapi kenapa dia sangat baik padaku dan perempuan kemaren adalah Adelia ya aku sudah ingat semuanya.
" Kalo begitu Angga pamit ma, be maksud mas Nadia jangan lupa jaga mama dengan baik nad " perintah Angga.
" Siap mas ".
Aku harus cari tau hubungan mereka, tapi dari apa yang telah terjadi dan sedikit aku ketahui mereka pasti sepasang suami istri.
Beberapa hari ini kehidupan Bela bersama Angga dan sang mama baik-baik saja, rumah mereka menjadi bahagia dan penuh tawa.
Sampai pada akhirnya seseorang kembali mencoba untuk mendapatkan keinginannya, dengan cara yang salah dan tidak memperdulikan setiap tindakannya.
Titttt........ tiittt.......... (klakson mobil tanpa henti)
" Bapak denger ga saya dari tadi klakson loh, liat bapak cuma diam bukain gerbangnya " teriak Adelia di depan gerbang rumah Angga.
" Maaf non Adel, bapak tidak bisa membuka gerbangnya untuk non Adel ". ujar satpam.
" Maaf non saya tidak bisa, ini perintah dari den Angga " jelas satpam.
" Apa ? perintah Angga " kesal Adelia.
Pasti perempuan kampungan itu yang udah ngadu ke Angga, liat saja kamu tidak akan menang melawanku ingat itu (kesal Adelia lalu pergi dengan wajah masam).
Bela yang berada didekat taman samping rumahnya mendengar suara ribut pun menghampiri ke depan.
" Pak ada apa ? tadi Bela dengar ada ribut-ribut disini ".
" Itu non, non Adelia datang lagi kesini tapi saya tidak mengizinkannya masuk karena perintah dari den Angga non ".
" Terima kasih sudah menjaga Bela dan Mama pak ".
" Ini sudah jadi tugas bapak non ".
Ternyata Adelia tidak mudah berhenti begitu saja, aku rasa memang Adelia sangat mencintai Angga.
Tapi cara yang ia lakukan itu salah, dan kenapa juga hatinya selalu bersikeras untuk mendapatkan Angga kembali.
Dia bisa mendapatkan yang lebih dari mas Angga, dia seorang dokter tentu akan banyak orang dan laki-laki yang mencintainya kenapa harus mas Angga.
__ADS_1
" Nad, Nadia kamu dimana nak " teriak Ratih dari dalam rumah.
" Iya ma, aku diluar tunggu sebentar ".
" Kamu darimana ? ".
" Ga, aku cuma ke depan sebentar ma ".
" Nad, mama mau jalan-jalan kamu temanin mama ya, mama bosen di rumah terus ".
" Tapi ma, mamakan belum sembuh nanti mas Angga marah kalo mama pergi dari rumah, kita istirahat di rumah aja ya ma " bujuk Bela.
" Ga mama udah sembuh sayang, pokoknya mama mau jalan-jalan kalo kamu ga mau yaudah mama pergi sendiri aja ".
" J-jangan ma yaudah kita pergi, tapi kita harus minta izin sama mas Angga dulu ya ma ".
" Ga usah nad, kita pergi sekarang lagian pasti Angga lagi sibuk dinas ga mungkin balas chat atau telpon kamu ".
Bela berpikir bahwa yang dikatakan mamanya benar juga, tapi dia juga tidak ingin mengambil resiko pergi dengan sang mama tanpa memberitahu Angga.
Di mobil yang dikendarainya, Adelia masih dipenuhi rasa kesal, benci dan dendam pada Bela.
Kenapa bisa-bisanya Angga lebih memilih perempuan kampungan itu, dia hanya seorang guru dan tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku.
Lihat saja aku tidak akan pernah menyerah sebelum keinginanku tercapai, jika tak bisa memiliki Angga maka dia juga harus hancur dan merasakan apa yang aku rasakan.
Tempat yang ingin dituju Ratih adalah Mall dia bilang ingin berbelanja pakaian, karena dia tidak ingin memakai pakaian lama miliknya.
" Sayang ini bagus ga ? " ujar Ratih meminta pendapat Bela dengan pakaian yang ia coba.
" Bagus ma, ambil itu saja ".
" Baiklah mama ambil yang ini, tapi mama masih mau yang lain, ohh iya mama pakai uang kamu dulu ya sayang nanti kamu minta ke Angga lagi ".
" Iya ma boleh ".
Sekarang apa yang harus aku lakukan, aku takut jika Adelia semakin nekat dan terus memberikan ancaman padaku, apalagi ini menyangkut keselamatan mama.
Aku tidak ingin menyakiti Mama dan Angga lagi, mereka sudah berat menanggung luka dan kehilangan selama ini.
Tapi Adelia juga tidak tinggal diam, aku juga sudah mencoba untuk Angga menerima Adelia kembali, meski aku yang harus pergi.
Entahlah aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, aku hanya bisa berserah diri dan memohon pertolongan pada Allah.
" Bela.............. " teriak seseorang pada Bela.
__ADS_1