
Suasana perkampungan dengan hamparan sawah yang menenangkan mata telah terlihat.
Begitu juga dengan perasaan dihati Bela, ia sudah tidak sabar ingin bertemu ayah dan ibunya serta saudara dan keponakannya.
Angga melirik sang istri yang duduk disampingnya, ia tersenyum melihat wajah gembira dari sang istri.
Semoga kalian selalu bahagia, mama hanya bisa mendoakan kalian sayang (batin Ratih yang duduk dibelakang, sambil menatap putra dan menantunya.
" Mas, ma makasih banyak karena sudah mau memaafkan kesalahan ayah di masa lalu dan juga kesalahan Bela ".
" Sudahlah sayang jangan pikirkan itu lagi, sekarang kita lupakan kesalahan di masa lalu itu dan mari menatap kedepan membuat hal yang baru.
Dan tak lupa dengan cucu mama yang pastinya lucu, dan itu akan membuat mama semakin bahagia sayang " ujar Ratih sembari mengeluh bahu Bela.
Aku beruntung memilikimu Bela, kau benar-benar bidadari dihidupku, Aku berjanji akan menjaga dan menyayangimu.
Rumah Bela
" Pak, ibu sangat rindu pada Bela akhir-akhir ini perasaan ibu selalu mengkhawatirkannya pak " ujar Ibu.
" Iya bu, bapak juga rindu dengan Bela tapi untuk sekarang kita tidak bisa pergi menemuinya, sudah kita berdoa saja agar dia baik-baik saja disana ".
Setelah menghabiskan kopinya di teras rumah, mereka masuk kembali ke dalam rumah.
Sebelum mereka masuk ke dalam rumah, terdengar dengan jelas suara seseorang dari halaman rumah mereka.
Ya itu suara yang mereka sangat kenal dengan pemilik suara itu.
" Ayah, Ibu Bela pulang " teriak Bela pada ayah dan ibunya.
" Bela, benarkah itu kamu nak ibu juga sangat rindu denganmu nak " sahut sang ibu.
Merekapun berpelukan dan tak terelakan air mata yang jatuh ditengah pelukan pertemuan mereka.
Bela juga memeluk sang ayah dengan penuh rindu, dan akhirnya rindu itu terbalaskan dengan pertemuan mereka.
Setelah beberapa menit puas berpelukan dan melepaskan rindu mereka kembali menatap siapa orang yang ada didekat mereka.
" Ayah, ibu ini mamanya mas Angga mama kandungnya ".
Seketika itu kedua orang tua Bela terkejut, dan terlihat wajah ketakutan serta wajah yang dipenuhi dengan penyesalan mendalam.
Ratih yang mengerti dengan perasaan dan pikiran besannya tersebut hanya tersenyum dan berkata.
" Sudahlah pak, ibuk saya sudah mengikhlaskan semua yang terjadi di masa lalu, lebih baik kita saling memaafkan dan menjadi besan yang baik untuk mereka.
Dan tidak lupa buk, kita akan menjadi Oma dan bapak akan menjadi opa " ujar Ratih yang merangkul ibu Bela.
" Menjadi Oma ? ".
" Opa ? ".
" Bel, kamu sedang hamil nak ".
" Iya buk " sahut Bela dengan anggukan serta senyuman bahagia.
" Ibu sangat senang nak " sang Ibu kembali memeluk Bela.
" Kalau begitu mari kita masuk nak, Angga, nyonya " ujar Ibu Bela.
" Tidak perlu memanggilku dengan sebutan nyonya buk, Panggil saja Ratih atau kalau tidak Oma Ratih dan Oma ? " ujar Ratih yang tidak mengetahui nama dari Ibu Bela.
" Oma Adira ".
__ADS_1
" Ya Oma Adira ".
Saat ini perbincangan hangat menyelimuti perasaan mereka, walaupun masih ada hati yang penuh ketakutan dan rasa bersalah yang begitu mendalam.
Namun mereka berusaha untuk mengikhlaskan semuanya, dan menatap kebahagiaan untuk masa depan mereka bersama.
Kebahagiaan semakin terasa, hingga luka, benci serta dendam dimasa lalu tergantikan olehnya.
Ya kehamilan Bela salah satu anugrah bagi mereka semua.
17:00
" Assalamualaikum kakek, nenek Zea datang " salam Zea.
Ya Zea adalah keponakan dari Bela, putri dari Ayu kakak kandung Bela.
Seperti suara Zea
Bela pun langsung ke depan dan membukakan pintu.
" Waalaikumussalam Zea, ayang rindu banget sama Zea " ucap Bela yang langsung memeluk sang keponakan.
" Kamu pulang dek, kakak ikut senang " ujar Ayu yang ikut memeluk Bela dan Zea.
" Ini siapa lagi kak, jangan bilang ini keponakan kedua Bela ".
" Iya, ayang itu adik Zea namanya Zeno ayang ".
" Zeno " sahut Bela dengan senyuman dan mencium bayi dalam gendongan sang kakak.
" Kamu kapan datangnya dek ? ".
" Tadi siang kak, kak boleh Bela yang gendong Zano ya kak ".
" Iya kak, Bela tau kok kan pas Zea juga hati-hati gendongnya ".
Saat masuk ke dalam rumah, Angga menghampiri mereka.
" Hai cantik, pasti kamu Zeakan masih inget sama om " sapa Angga.
" Zea ga ingat, tapi bunda pernah kasih tau Zea kalo om itu omnya Zea ".
" Ohh jadi gitu, Yaudahkan udah tau ni boleh ga om minta peluk sama kamu ".
" B-bunda boleh ? " dengan wajah menggemaskannya.
" Boleh sayang " sahut Ayu dengan senyuman pada putrinya.
Zea pun memeluk Angga.
" Ehhh cucu nenek udah dateng ni, udah ketemu ayang sama omnya juga ".
Saat itu Ayu berkenalan dengan mama Angga.
" Ayu tan ".
" Ratih, mamanya Angga ".
" Kebetulan masakannya udah siap semua jadi kita makan sama-sama dulu yuk " ajak Ibu.
" Nenek, sayur wortelnya adakan nek " ujar Zea pada sang nenek.
" Sayur wortelnya ya, ada kok sayur wortel enak buatan nenek untuk cucu nenek yang paling disayang ".
__ADS_1
" Makasih nenek "
Merekapun makan bersama, sungguh kebersamaan saat ini membuat senyuman Bela begitu bahagia.
Seakan beban dan kejadian masa lalu yang rumit, serta membuat ia ketakutan akhirnya tergantikan dengan kebahagiaan.
Terkadang hidup memang menyakitkan, tapi yakinlah tidak ada yang tau bagaimana kedepannya berpikir akan tetap buruk pasti ada.
Tapi perlu diingat hal baik dan hal yang membahagiakan juga dapat terjadi kedepannya.
Di Kamar Bela
" Mas Bela mau bilang makasih banyak buat kebaikan dan keikhlasan mas, buat semua hal dan masalah dimasa lalu mas " ucap Bela sembari menggenggam tangan sang suami.
" Kamu ga perlu minta maaf lagi, mas maunya sekarang kita fokus kedepan dan hidup bahagia apalagi sebentar lagi kita kedatangan tamu ini tamunya unchhhh unchhhh " sahut Angga sembari mengelus gemas perut Bela.
Bela hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat kebahagiaan dari suaminya, Bela pun memeluk Angga dan pelukannya pun juga dibalas oleh Angga.
" Tidak perlu menatap saya dengan ketakutan, saya benar-benar sudah memaafkan semuanya sekarang saya hanya ingin bahagia dan menunggu kehadiran cucu saya " ucap Ratih saat duduk ditaman belakang bersama ibu Bela.
" Saya mohon maaf atas semua kejadian kelam dimasa lalu nyonya " ujar Ibu Bela dengan wajah memohon.
" Sudahlah lupakan saja, dan ingat jangan panggil saya nyonya ".
......**********************......
Setelah seminggu menghabiskan waktu bersama dengan penuh bahagia tibalah saatnya Bela harus berpisah dengan keluarganya, karena ia harus kembali ke Kota.
" Mas, Bela boleh ya tinggal disini dulu " rengek Bela.
" Tidak bisa sayang kita harus kembali ke kota, mas tidak bisa untuk libur lebih lama lagi kamu juga tidak bisa tinggal disini sayang " jelas Angga.
" T-tapi mas........... " Bela kembali merengek dan memasang wajah kesalnya.
" Kita balik sekarang ya, besok biar ayah sama ibu yang ke kota mereka juga boleh tinggal di rumah kita.
Kamu harus jaga kandungan kamu sayang, mas ga mau kamu sama anak kita sampai kenapa-kenapa, sayang " jelas Angga sembari memberikan kecupan manis dipucuk kepala Bela.
" Uhhh yasudah, tapi ayah sama ibu boleh datangkan ke rumah kita di kota ".
" Tentu boleh sayang dengan senang hati, jika perlu biar mas suruh orang buat jemput ayah sama ibu " bujuk Angga agar membuat Bela tenang.
" Kalo gitu Bela mau ".
Berangkat
" Udah jangan nangis, nanti cucu Oma ikutan nangis juga " ujar Ibu.
" Ehhmm Ibu....... Bela sayang banget sama ibu " Bela memeluk sang ibu dengan erat begitu juga dengan sang ayah.
" Kamu jaga diri baik-baik " ujar singkat sang ayah dan memeluk putri bungsunya dengan penuh kasih sayang.
" Ayah, ibu Angga pamit " pamit Angga sembari bersalaman dengan mertuanya.
" Baik nak, jaga Bela dan cucu ibu ".
" Siap Bu, itu sudah tanggung jawab Angga ".
" Saya juga ingin pamit ibu, bapak tenang saja saya dan Angga akan menjaga Bela dan cucu kita baik-baik " ujar Ratih cipika-cipiki dengan Ibu Angga, lalu bersalaman dengan ayah Bela.
" Bela pamit, ayah........ ibu......... ".
Merekapun berangkat, kembali ke kota
__ADS_1