Ikatan Seorang Putri Dan Seorang Pangeran

Ikatan Seorang Putri Dan Seorang Pangeran
Episode 14


__ADS_3

"Benar"



"Ah kalau begitu silahkan yang mulia" ucap Sang penjaga



"Baiklah" balas Kimiko



Kimiko pun mulai mengetuk pintu ruang kerja Yoshiaki



Tok..tok..tok



Yoshiaki heran karena larut malam begini ada yang mendatanginya.



Tanpa basa-basi Yoshiaki pun akhirnya memperbolehkan seseorang yang mengetuk pintu untuk masuk.



"Masuklah" ucap Yoshiaki



Pintu pun kemudian perlahan terbuka dan memperlihatkan sosok wanita berperut buncit.



"Kimiko?!" Kaget Yoshiaki



"Hai Yoshiaki" balas Kimiko



Yoshiaki langsung berdiri dari kursi kerjanya kemudian langsung menghampiri Kimiko.



"Apa yang kau lakukan disini larut malam begini? Kenapa kau belum tidur?" Tanya Yoshiaki



"Aku mengkhawatirkanmu, kau belum kembali kekamar. Aku tau kau pasti sibuk tapi Yoshiaki istirahat juga tak kalah pentingnya" balas Kimiko



"Seharusnya kau tetap didalam kamar saja, diluar sangat dingin sekali. Apalagi sekarang kau sedang mengandung, kau tidak boleh keluar seperti ini" ucap Yoshiaki



"Aku baik-baik saja, tenanglah" ucap Kimiko



"Hah baiklah" balas Yoshiaki kemudian mencium kening Kimiko dengan lembut dan penuh cinta💕



"Ah ngomong-ngomong apa pekerjaanmu masih banyak?" Tanya Kimiko



"Tidak banyak, hanya tinggal sedikit saja" balas Yoshiaki



"Kalau begitu cepat selesaikan aku akan menunggumu disini"



"M-menungguku? Tidak, kau harus secepatnya kembali kekamar"



"Aku menolak, lagipula aku akan merasa sangat kesepian jika tanpamu Yoshiaki" ucap Kimiko



"Hahh kau ini keras kepala sekali, apa nantinya anak ini juga akan keras kepala sepertimu?"



"Mungkin saja, karena dia adalah anakku" balas Kimiko



"Anak kita" ucap Yoshiaki membenarkan kalimat Kimiko



Yoshiaki pun akhirnya menuntun Kimiko ke Sebuh Sofa yang sudah disediakan diruang kerjanya.



"Apa tidak apa-apa kau menungguku disini? Akan lebih baik jika kau menungguku dikamar" ucap Yoshiaki



"Aku justru akan lebih senang berada disini"



"Kenapa?"



"Karena aku bisa lebih bebas memandang wajahmu" goda Kimiko



Yoshiaki sedikit tersipu mendengar ucapan Kimiko.



"Kau menggodaku ya?" Tanya Yoshiaki tidak bisa menyembunyikan senyumanya.



"Memangnya kenapa? Menggodamu itu adalah hal yang menyenangkan. Wajahmu jadi terlihat lucu saat tersipu seperti ini" balas Kimiko



"Apa benar wajahku seperti itu?"



"Kau tau, bahkan panda saja kalah imutnya denganmu" balas Kimiko



"Sudah cukup kau menggodaku, jangan sampai nantinya aku menjadi kepiting rebus karena godaanmu" balas Yoshiaki



"Benarkah, aku menantikannya" balas Kimiko



"Dasar, kau sangat senang sekali ya menggoda suamimu" ucap Yoshiaki sambil tersenyum



"Jika tidak menggodamu, lalu aku harus menggoda siapa lagi? Laki-laki lain?" Goda kembali Kimiko.



Yoshiaki sedikit kesal gara-gara Kimiko menyebut laki-laki lain.



Kemudian sebagai pembalasanya Yoshiaki langsung mencium bibir Kimiko



Cup💕



Kimiko sedikit kaget saat Yoshiaki tiba-tiba menciumnya seperti ini.



Yoshiaki perlahan melepaskan ciumanya..



Dapat dia lihat jika Kimiko tengah merona..



"Ini sebagai pembalasan dariku" bisik Yoshiaki



"C-curang, kau curang" kesal Kimiko masih merona.



"Tidak ada yang namanya curang, ini sudah adil" balas Yoshiaki



"L-lihat saja aku pasti akan membalasnya" ucap asal Kimiko



"Hooh kalau begitu lakukanlah, tapi jangan harap aku akan diam saja. Aku juga akan membalasnya lebih dari ini" bisik Yoshiaki



Kimiko sudah merona, wajahnya semerah buah tomat.



"K-kau tidak akan bisa m-melakukanya, k-kau lihat aku sedang mengandung" elak Kimiko



"Apa aku mengatakan akan melakukanya ketika kau masih mengandung? Mungkin saja aku akan melakukanya setelah anak ini lahir. Lagipula aku ini suamimu dan kau adalah istriku, aku berhak melakukan apapun padamu" balas Yoshiaki



Kimiko sedikit mendorong dada Yoshiaki untuk menjauhkan wajah Yoshiaki dari wajahnya yang sangat dekat.



"S-sudah cukup, k-kembalilah bekerja s-sebelum larut malam"



"Ahahaha baiklah sayang" ucap Yoshiaki kemudian mencium kening Kimiko kemudian beranjak menuju kearah meja kerjanya.



Yoshiaki kembali duduk dikursi kerjanya kemudian kembali mengerjakan dokumen-dokumenya.



Sambil bekerja, Kimiko juga mengajaknya bicara...



"Yoshiaki..." panggil Kimiko



"Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?" Tanya Yoshiaki masih fokus dengan pekerjaanya.



"Ahh tidak, aku hanya ingin mengatakan j-jika" ucap Kimiko masih sangat malu-malu



"Jika apa?"



"J-jika kita harus segera memutuskan siapa nama bayi ini" balas Kimiko



Yoshiaki menghentikan pekerjaannya sebentar,



"Nama ya, benar juga kita belum memutuskan siapa namanya"



"B-benar"



"Tapi kita juga masih belum tau, dia akan terlahir sebagai laki-laki atau perempuan" ucap Yoshiaki



"Tapi akan lebih baik jika kita menyiapkan namanya, kita siapkan 2 nama sekaligus. Diantara nama laki-laki dan perempuan, agar saat bayi ini lahir. Dia sudah langsung memiliki namanya" ucap Kimiko



Yoshiaki sedikit berpikir apa nama yang tepat nantinya untuk calon anaknya ini.



"Bagaimana jika Yumiko Von Miyazaki untuk anak perempuan dan Prian Von Miyazaki untuk nama laki-laki" usul Yoshiaki


__ADS_1


"Itu bagus sekali Yoshiaki, aku setuju denganmu. Jadi nantinya anak ini akan terlahir entah sebagai Yumiko atau Prian. Aku tidak sabar menantikannya" ucap Kimiko sambil mengelus perut buncitnya.



"Putri Yumiko Von Miyazaki atau Pangeran Prian Von Miyazaki?" gumam Yoshiaki



"Tetaplah sehat disana sayang, Mama dan Papa tidak sabar ingin bertemu denganmu" gumam Kimiko sambil mengelus perutnya kembali



Yoshiaki hanya bisa tersenyum bahagia melihat sisi keibuan Kimiko yang sudah mulai muncul.



♢    ♢     ♢



Beberapa Hari kemudian..



Ruang Kerja Yoshiaki



Yoshiaki saat ini sedang bekerja dibantu oleh penasihatnya.



"Akan lebih baik jika aku sendiri langsung datang kedaerah ini agar masalah ini terselesaikan. Kemudian untuk harga panen disekitar daerah ini apakah bisa jika kita naikkan?"



"Tentu saja bisa yang mulia" balas sang penasihat



"Kemudian-"



BRRRRAAAAAKKKKKK!!!



Pintu Ruang Kerja Yoshiaki dibuka paksa oleh 2 orang prajurit.



"Ada apa?!" Ucap Yoshiaki



Para prajurit itu langsung membungkuk hormat pada Yoshiaki.



"Keadaan darurat yang mulia!!" Seru mereka berdua



"Bisakah kalian lebih sopan saat membuka pintu ruang kerja Baginda Raja" seru penasihat



"Sudah biarkan saja, aku tidak terlalu mempermasalahkanya. Yang lebih penting keadaan darurat apa maksud kalian?" Tanya Yoshiaki dengan wajah seriusnya tapi masih tenang.



"B-baginda Raja.."



Salah satu Prajurit memberikan sebuah surat kepada Yoshiaki.



Yoshiaki menerima surat itu kemudian mulai membacanya.



Mata Yoshiaki yang tadinya tenang kini sedikit membelakkan matanya saat mengetahui isi dari pesan tersebut.



"Begitu ya" gumam Yoshiaki..



Yoshiaki meremas kertas tersebut karena emosinya kembali muncul.



"Bagaimana keputusan anda Baginda Raja?" Tanya salah satu prajurit



"Kalau sudah begini, kita tidak bisa mundur lagi." Ucap Yoshiaki



"A-apa pesan tersebut Baginda Raja?" Tanya sang penasihat



"Kerajaan Yamamoto menyatakan perang kepada kerajaan Miyamoto" jawab Yoshiaki



"A-apa?!" Kaget sang penasihat



"Cepat siapkan semua pasukan untuk bersiap dalam Perang, Siapkan semua yang dibutuhkan saat perang nantinya. Panggil semua kesatria untuk segera menghadap padaku segera!" Seru Yoshiaki



"Baik!" Seru Kedua prajurit tersebut



"Kita akan melakukan rapat dadakan, siapkan sekarang juga!" Seru Yoshiaki



"Baik!" Seru sang penasihat



Kedua prajurit itu dan penasihat kemudian pergi untuk melaksanakan perintah Yoshiaki.



"Kenapa di saat seperti ini.." ucap Yoshiaki mulai tidak bisa menahan emosinya.



Kemudian tanpa sadar dia melirik kearah foto kecil Kimiko yang tergeletak dipinggir meja kerjanya.




Yoshiaki langsung mendudukan dirinya dikursi kerjanya dengan kasar, dia memegang keningnya.



Benar-benar sangat frustasi..



Beberapa menit kemudian setelah dirinya mulai tenang, akhirnya dia beranjak dari ruang kerjanya menuju keruang rapat.


Dia harus mendiskusikan tentang perang ini pada para menteri dan lainya.



Kemudian ditempat lain



"P-perang?!" Kaget Sophia



Kimiko sangat terkejut saat mendengar kabar jika Kerajaan Miyamoto sebentar lagi akan berperang.



"Benar yang mulia" balas Rei



"R-rei jangan bercanda" ucap Kimiko mulai berkeringat dingin



"Mana mungkin saya berani membohongi anda yang mulia" balas Rei



"Dari mana kau tau jika akan terjadi perang?" Tanya Kimiko



"Saat saya sedang berjalan menuju kemari, saya tidak sengaja mendengarnya dari prajurit" balas Rei



"T-tidak itu pasti tidak mungkin terjadi bukan? Pasti mereka sedang bercanda. M-mana mungkin p-perang terjadi" ucap Kimiko mulai cemas



Kimiko tiba-tiba menjadi lemas, tanpa sadar dia langsung terduduk lemas dilantai.



Brrukk!



"Y-yang mulia!" panik Rei



Rei langsung menghampiri Kimiko kemudian mencoba untuk menenangkan Kimiko.



"Y-yang mulia apa anda baik-baik saja?!" Tanya Rei penuh dengan kekhawatiran



"..."



Kimiko tidak menjawab, dia justru tiba-tiba melamun dengan air mata yang tiba-tiba keluar.



"Y-yang mulia!" Seru Rei mencoba untuk menyadarkan Kimiko.



Rei mulai cemas dengan keadaan Kimiko.



Rei kemudian tersadar jika saat ini pandangan Kimiko benar-benar kosong.


Dia pasti sangat terpukul saat mendengar kabar perang ini.



"Yang mulia sadarlah!" Seru Rei



"Yang mulia!" Seru kembali Rei



Akhirnya usaha Rei tidak sia-sia, Kimiko akhirnya kembali ke alam sadarnya.


Dia akhirnya tersadar dari lamunanya.



Tapi dia masih belum mengatakan satu katapun..



"Yang mulia.." panggil Rei mulai khawatir



Kimiko kemudian menghapus dengan kasar air matanya yang membasahi pipinya.



Kemudian dia langsung berdiri dan tiba-tiba berlari keluar ruangan.



Rei kaget karena tiba-tiba Kimiko berlari keluar..



"Yang mulia!" Seru Rei



Rei kemudian langsung ikut berlari untuk mengejar Kimiko...


__ADS_1


"Yang mulia!" Seru Rei



Kimiko bukanya berhenti dia justru menambah kecepatannya, walaupun larinya masih bisa dibilang lambat karena perutnya yang buncit membuatnya susah berlari.



"Y-yang mulia Ratu?.." ucap salah satu prajurit yang kaget melihat Kimiko yang berlari-lari seperti itu.



Setelah beberapa langkah akhirnya Rei dapat mencapai Kimiko.



Dia langsung menarik tangan Kimiko, Kimiko sendiri kemudian memberhentikan langkahnya tapi dengan raut wajah sedih dan air mata yang kembali mengalir.



"Y-yang mulia, saya mohon jangan berlari seperti itu lagi. Yang mulia anda saat ini sedang mengandung! Tolong lebih memperhatikan keselamatan anda dan bayi anda. Anda tidak boleh berlari dalam keadaan seperti ini yang nantinya akan membahayakan bayi anda sendiri!" Seru Rei



Kimko kemudian kembali terduduk lemas dilantai..



"Y-yang mulia.." ucap Rei mulai khawatir



"Apa yang harus kulakukan, kenapa harus ada perang. Kenapa.." ucap parau Kimiko



"Yang mulia saya mohon tenangkanlah diri anda" ucap Rei kemudian memeluk Kimiko untuk menenangkannya.



"Aku tidak mau, aku benar-benar tidak menginginkan ini. Kenapa selalu saja ada perang, kenapa dunia ini tidak bisa hidup damai tanpa perang? Waktu melahirkanku sudah hampir dekat tapi kanapa jadi begini... hiks..hiks..hiks"



Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa membuat Kimiko kembali tenang.



Setelah Kimiko mulai tenang, Rei pun membawa kembali Kimiko ke kamarnya.



Mata Kimiko sedikit bengkak akibat menangis tadi..



Kimiko merasa sangat kelelahan karena tenaganya terkuras tadi.


Rei membantu Kimiko membaringkan tubuh Kimiko dikasurnya.



Kemudian tanpa waktu lama, akhirnya Kimiko tertidur.


Matanya terlihat sangat bengkak..



Terdapat bekas air mata dipipinya..


Rei sangat tidak tega melihat keadaan Kimiko yang seperti ini tapi dia tidak bisa melakukan apapun untuk Kimiko.



2 Jam kemudian,



Rei masih setia menemani Kimiko, dia juga terus mengelus rambut Kimiko dengan lembut.



"Yang mulia Kimiko adalah seseorang yang penuh dengan keceriaan. Sikapnya yang masih seperti kekanak-kanakan tapi setiap kali dia serius maka tidak akan ada yang bisa membantahnya sekalipun itu Baginda Raja. Yang mulia Ratu Kimiko benar-benar istimewa. Tapi ini adalah pertama kalinya yang mulia Ratu terlihat begitu rapuh." Gumam Rei



"Rei..?" Ucap seseorang



Rei yang mendengar ada yang memanggilnya kemudian melirik kemana arah suara memanggilnya itu.



"B-baginda Raja?!" Kaget Rei



Rei pun langsung berdiri saat melihat kedatangan Yoshiaki



"Kau masih disini?" Tanya Yoshiaki



"I-iya maafkan saya Baginda" balas Rei



"Tidak apa-apa" balas Yoshiaki



"A-ano Baginda, bolehkah saya bertanya?" Tanya Rei



"Apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Yoshiaki



"B-baginda, apa benar sebentar lagi akan terjadi perang?" Tanya Rei sedikit ketakutan



"Kau tau dari mana?" Tanya Yoshiaki



"M-maaf saya telah lancang yang mulia, saya tidak sengaja mendengarnya dari seorang prajurit"  balas Rei



"Itu benar, sebentar lagi kerajaan kita akan berperang. Apa Kimiko sudah tau ini?" Tanya Yoshiaki



"Y-yang mulia Kimiko telah mengetahuinya.." balas Rei sedikit merasa takut



"Bagaimana reaksinya saat mendengar tantang perang ini?" Tanya Yoshiaki



"I-itu yang mulia Kimiko sangat terkejut mendengarnya, beliau begitu sangat terpukul saat mendengar perang ini. Beliau sangat sedih, bahkan sampai menangis. Beliau juga tadi sempat berlari untuk menemui baginda. Tapi saya berhasil mengejarnya dan menenangkan yang mulia Ratu" balas Rei



"Dia sampai menangis?! Dan berlari untuk menemuiku?" Kaget Yoshiaki tidak percaya



Dia membelakkan matanya sat mendengar jawaban dari rei.



"Benar yang mulia" balas Rei



Yoshiaki mengepalkan tanganya kuat-kuat menahan emosinya yang kembali bergejolak.



"Y-yang mulia..?"



"Tidak apa-apa kau pergilah" balas Yoshiaki



"Baik yang mulia, saya permisi" balas Rei



Rei kemudian beranjak pergi dari ruangan dah meninggalkan Yoshiaki bersama dengan Kimiko.



Yoshiaki kemudian berjalan menghampiri Kimiko.



Terlihat Kimiko saat ini sedang tertidur pulas.



Yoshiaki begitu sangat mencintai Kimiko, dia bahkan merasa sesak saat mendengar cerita Rei tadi.



Rasanya sangat menyakitkan melihat Kimiko seperti ini.



Mata Kimiko sedikit bengkak akibat menangis, raut wajahnya tampak jelas jika dia sedang sangat sedih.



Yoshiaki menggenggam salah satu tangan Kimiko, kemudian menciumnya.



"Maafkan aku" ucap Yoshiaki



♢      ♢      ♢



Pagi harinya



Kimiko terbangun dari tidurnya, matanya terasa begitu lengket akibat tangisanya kemarin malam.



Kimiko melirik ke arah sebelah, dia sedikit terkejut saat mendapati Yoshiaki sedang tertidur pulas disampingnya dengan posisi menghadap ke Kimiko dan satu tangannya yang merangkul Kimiko.



"Yoshiaki..." ucap Kimiko pelan



Kimiko masih sangat sedih saat mendengar kabar jika akan terjadi perang.



"Apa kau akan berperang..?" Gumam Kimiko sambil terus memperhatikan Yoshiaki.



Kimiko masih belum siap jika Yoshiaki pergi jauh darinya, apalagi jika ini akan pergi berperang dan menyangkut nyawanya.



Kimiko menyingkirkan beberapa helai rambut Yoshiaki yang menutupi wajah Yoshiaki.



Yoshiaki terbangun saat Kimiko menyingkirkan rambutnya yang menutupi wajahnya.



"Kimiko..?" Ucap Yoshiaki saat terbangun dati tidurnya.



Kimiko sedikit kaget saat Yoshiaki tiba-tiba bangun dari tidurnya.



"Maaf, apa aku membangunkanmu?" Tanya Kimiko



"Tidak apa-apa lagipula memang sudah waktunya untuk bangun" balas Yoshiaki



Kimiko terus memandang Yoshiaki, raut wajah Yoshiaki begitu lembut walaupun dia baru saja bangun.



"Ada apa sayang?" Tanya Yoshiaki saat menyadari jika istrinya ini terus menatapnya.



"Yoshiaki.." panggil Kimiko



__ADS_1


__ADS_2