Ikatan Seorang Putri Dan Seorang Pangeran

Ikatan Seorang Putri Dan Seorang Pangeran
Episode 24


__ADS_3

Prian terus berlari hingga dia sudah memasuki wilayah hutan cukup dalam



Selang kemudian Prian akhirnya berhenti, dia kehilangan jejak seseorang tersebut.



“Sial aku kehilangan jejaknya” Ucap Prian



Prian pun mulai melihat sekitar dan baru tersadar jika saat ini dia sudah cukup jauh memasuki wilayah hutan.



“Bukan hanya kehilangan jejak orang itu, sekarang aku juga tersesat dihutan. Bagaimana ini..?” Gumam prian



Orang yang tadi dikejar oleh Prian kini sedang bersembunyi dibalik semak-semak sambil menatap Prian dengan senyuman sinisnya.



“Akhirnya tikus kecil masuk ke jebakan kucing” gumam orang itu



Prian sangat bingung dalam situasi seperti ini,dia bingung apa yang harus dilakukanya sekarang.


Dia tidak tahu arah jalan menuju pulang



Prian berbalik kemudian berlari dari arah lawanan dia tadi datang, prian terus berlari berharap dia menemukan jalan pulang.


Tapi semua jalan di hutan itu tidak terlihat sma sekali, dia sudah berlari cukup jauh tapi dia masih belum menemukan jalan keluar.



“Aku benar-benar tersesat sekarang, apa yang harus ku lakukan? Jika aku tidak segera kembali mama akan menjadi khawatir” Ucap Prian



Prian pun akhirnya menghentikan langkah kakinya, dia sudah menyerah dan sangat lelah.



“Bagaimana ini, apa yang harus ku lakukan. Aku harus pulang” ucap prian



Wajahnya menjadi pucat, dia benar-benar bingung apa yang harus dilakukanya dalam situasi seperti ini.



Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara daun daun kering yang terpijak cukup keras.



“siapa itu?!” Seru Prian



Prian pun reflek membalikkan badanya dan melihat siapa yang ada dibelakangnya.



“k-kau..”



“Hai anak kecil, bagaimana keadaanmu?Apa kau sedang tersesat. Kasihan sekali” Ucap orang itu



Ternyata orang itu adalah orang yang tadi sempat Prian kejar yang membuatnya tersesat juga.



“K-kau!Siapa kau sebenarnya!Kenapa kau mengawasiku hah!!” seru Prian



“Hey tenanglah bocah kecil, jika kau terus berteriak begitu maka binatang buas dihutan ini akan bangun dan menerkammu” Ucap orang itu



Mendengar ucapannya, keringat dingin Prian mulai keluar



“Katakan padaku!Apa tujuanmu menguntitku?” Tanya Prian dengan posisi waspadanya



“Tujuan ya, apa sepenting itukah sampai perlu ku jawab?” ledek orang itu



“Cepat Katakan!” seru Prian



“Kau ini tidak sabaran sekali, mirip siapa kau ini ibumu atau ayahmu?yah tidak penting juga aku mengetahuinya” Balas orang itu



“Apa yang kau inginkan?!” seru Prian



“tidak ada” balas orang itu



“Apa maksudmu?!” seru Prian



Bukanya menjawab orang itu justru mengeluarkan sebuah pedang,


Prian yang melihatnya menjadi sangat kaget



“A-apa yang ingin kau lakukan?!” Tanya Prian



Orang itu kemudian menatap tajam dan dingin pada Prian kemudian langsung tersenyum sinis sekali.


“Melenyapkanmu” Ucap orang itu



Prian membelakkan matanya saat mendengar ucapan orang itu



“M-melenyapkanku?!” kaget Prian



Orang itu kemudian langsung berlari menuju arah Prian dengan posisi siap menebas Prian, Prian yang melihatnya pun tidak berdaya karena musuh didepanya membawa senjata sedangkan dia tidak.



“Jangan!!” Teriak Prian



Craangg!



Tepat sebelum pedang itu menebasnya, tiba-tiba ada pedang lain yang menepisnya.


__ADS_1


!!!


Prian terkejut dengan siapa yang baru saja datang dan menyelamatnyanya..



“Pangeran Zen?!” kaget Prian dan orang itu



Zen kini tengah melawan orang yang barusan ingin membunuh Prian



Kemampuan berpedang Zen lebih kuat sehingga musuh tidak dapat melawanya lebih lama lagi, dan pada akhirnya musuh tumbang dengan pedang tajam zen berada tepat dilehernya.



“p-pangeran Zen” kaget orang itu



“Katakan Siapa kau sebenarnya?” Tanya Zen dengan tatapan sadisnya



“M-maafkan saya pangeran, saya hanyalah seorang prajurit biasa yang mendapat sebuah perintah” Ucap Orang itu



“perintah?Dari siapa?!” Tanya Zen dengan nada dinginya



“Nona…”



“Nona..?”



“benar yang mulia”



“Perintah apa yang dia katakana padamu?!”



“M-maaf yang mulia hamba tidak bisa mengatakanya” balas orang itu



Prian pun semakin emosi kemudian mengangkat pedangnya lebih dekat dengan leher orang itu.



“Jika kau tidak mengatakanya,maka nyawamu yang akan melayang” balas Zen



“Baik!Baik! akan saya katakana!P-perintah yang diberikan pada saya adalah perintah untuk balas dendam pada Prian” jawab orang itu



“Balas dendam?”



“benar yang mulia”



“prian..” Panggil Zen



“y-ya yang mulia?” balas Prian



“Prian apa kau terlbat masalah dengan keluarga..”




“……”



“Apa kau bisa berdiri?!” Tanya Zen pada orang itu



“b-bisa yang mulia” balasnya



“Kalau begitu, kau ikut denganku ke kastil. Jika kau berani mencoba untuk kabur maka aku tak akan segan-segan melayangkan nyawamu” balas Zen dengan dingin



“B-baik yang mulia, ampuni hamba”



“Cepat maju” ucap Zen



“Prian ayo kita pulang, ibumu benar-benar sangat mencemaskanmu”



“m-mama?!” Kaget Prian



“Hm” balas Zen



Mereka kemudian terus berjalan sampai keluar wilayah hutan, ternyata di sana ada banyak sekali prajurit yang menunggu. Ada apun Kimiko yang berada disana, dia terlihat sangat cemas sekali”



“prian!” seru Kimiko saat melihat putranya kembali dengan selamat, dia pun langsung menghampiri anaknya dan memeluknya dengan erat.



“M-mama?” kaget Prian



“Syukurlah kamu selamat sayang” ucap Kimiko sambil mencium rambut Prian



Para penjaga kemudian menangkap orang itu dan langsung membawanya ke kastil kerajaan



Zen menghampiri Prian dan Kimiko



Kimiko yang menyadari kedatangan Zen kemudian langsung mengucapkan terimakasih pada Zen



“Zen terimakasih banyak, jika kau tidak datang maka entah apa yang akan terjadi pada Prian. Aku benar-benar takut sekali jika terjadi sesuatu padanya” UcapZen



“Pangeran Zen terimakasih banyak kau telah menolongku, jika tidak mungkin saat ini aku sudah mati terkena tebasan pedang tadi” ucap Prian


__ADS_1


“Tidak apa-apa, dan juga kau harus sangat berhati-hati pada orang lain. Kau terlalu gegabah dan terpancing oleh emosimu sendiri. Cobalah untuk mengendalikan emosimu dan juga dirimu sendiri” Balas Zen



“Baik, sekali lagi aku ucapkan banyak terimakasih” balas Prian



“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ada orang yang ingin mencelakaimu?, apa kau mempunyai sebuah kesalahan pada mereka?” Tanya Kimiko yang masih sangat cemas pada anaknya walaupun kini anaknya tengah dalam dekapanya.


“Mama sebenarnya-“


“Aku akan menjelaskan padamu nanti, untuk sekarang tenangkan dirimu dan biarkan Prian istirahat sebentar. Dia pasti masih merasa syok dengan kejadian ini” Potong Zen



“Baiklah, kalau begitu aku akan membawanya pulang” Ucap Kimiko



“Aku akan ikut denganmu untuk mengawalmu agar kau kembali dengan selamat” Balas Zen



“Tidak perlu repot-repot, kau sudah menyelamatkan anakku saja aku sudah merasa sangat senang” balas Kimiko



“Tidak, aku akan tetap ikut dengamu”



“Tapi kau pasti merasa sangat lelah, lagi pula sudah saatnya kau kembali ke istana bukan?” Ucap Kimiko



“Keputusanku sudah bulat, aku akan mengantar kalian kembali. Jangan membantah ini perintah”



Mendengar nada bicaranya yang begitu, mau tidak mau Kimiko pun akhirnya menurutinya



“Baiklah” Balas Kimiko



Kimiko, Prian dan Zen kini tengah berjalan kembali ke rumah



“Zen apa tidak apa kau ikut dengan kami begini? Kau sudah sangat lama sekali keluar istana”



“tidak apa-apa jarang-jarang aku bisa keluar hingga selarut ini”



“Aku takut jika kau mendapat masalah gara-gara aku” ucap Kimiko



“Hm?Apa yang kau katakan ?Ini adalah keinginanku sendiri. Tidak ada sangkut pautnya denganmu” balas Zen



“Tapi-“



“Sudah ku bilang tidak apa-apa, hey ayolah aku sangat bosan dengan topic pembicaraan begini” balas Zen



“Zen!Aku sedang serius”



“Aku juga” balas Zen



Kimiko pun sedikit kesal kemudian akhirnnya memilih diam sepnajnag perjalanan



“Gawat, sepertinya ibumu marah ya Prian” ucap Zen



“Aku tidak marah” balas Kimiko



“Hey aku tidak sedang bicara denganmu” balas zen



Ucapan Zen barusan justru membuat Kimiko tambah kesal dan lebih mempercepat langkahnya



“kau memperparahnya pangeran Zen” Ucap Prian



“Tambah gawat nih” balas Zen



Prian dan Zen menyusul Kimiko yang sudah pergi cukup jauh.



“Baiklah aku minta maaf” Ucap Zen



Kimiko mengabaikan Zen dan mempercepat langkahnya.



‘perempuan memang sangat mengerikan saat sedang marah’ batin Zen



“Mama sudahlah maafkan pangeran Zen” ucap Prian



“Mama tidak marah” balas Kimiko



“Lalu kenapa kau mengacuhkanku?” Tanya Zen



“….”



“Tuhkan diabaikan lagi” ucap Zen





》NEXT CHAPTER《



Eits! sebelum scroll ke chapter selanjutnya


Jangan lupa tinggalkan Komentar dan beri Like agar author semangat melanjutkan ceritanya 😉

__ADS_1




__ADS_2