
Kimiko pun mencuci wajahnya agar dirinya tidak terlihat barusaja menangis di hadapan putranya.
Setelah mencuci wajahnya, kimiko pun keluar dan menemui anaknya.
“Mama? Mama baik-baik saja?” Tanya Prian sembari menghampiri ibunya
“Mama baik-baik saja sayang, mata mama sudah tidak sakit lagi”
“begitu ya”
“Ah prian, bisa bantu mama tidak?”
“bantu apa?”
“Menata hasil panen”
“baiklah”
Kimiko dan Prian pun menata hasil panen yang tadi di bawa.
Sembari menatanya, prian pun juga banyak sekali bercerita pada mamanya tentang apa yang dia lakukan hari ini bersama teman-temanya. Dan Kimiko pun menanggapinya dengan senyum.
tak lama kemudian akhirnya mereka menyelesaikan tugasnya. Semua panen sudah tertata dengan sempurna.
“Tak terasa sudah sore” ucap Kimiko
“Mama aku ingin minum susu hangat” ucap Prian
“Baiklah mama akan buatkan”
Kimiko pun menuju ke dapur untuk membuatkan susu hangat anaknya.
Drap!
Drapp!
BRAKKK!!
Tiba-tiba pintu depan rumah terbuka dengan keras
Kimiko dan Prian sempat terkejut karena mendengarnya.
Prian buru-buru melihat siapa yang baru saja membanting pintu dengan cukup keras itu.
“eh? N-nenek?”
“Ah Prian! Dimana mamamu?!” Tanya nenek
“A-ada di dapur”
“hah baiklah!”
Nenek pun langsung saja berlari melewati Prian dan segera menuju kea rah Kimiko
“Nenek kenapa?” Heran Prian
Prian pun kemudian mengikuti neneknya
“Kimiko!Kimiko!” Panggil sang nenek
Kimiko yang mendengar teriakan sang nenek juga kaget dan segera menoleh ke arah suara
“N-nenek?! A-ada apa?” Tanya Kimiko
__ADS_1
“Gawat!”
“G-gawat apa?” Tanya Kimiko
“Kimiko, ini benar-benar gawat sebenarnya-!”
Nenek menghentikan ucapanya tatakala menyadari Prian berada didekatnya dan mungkin dia akan mendengar kabar yang seharusnya tidak dia dengar.
“A-ah prian hari sudah sore, bisakah kau gantikan mamamu untuk menyiram bunga? Nenek ada perlu khusus dengan mamamu”
“Ah baik nenek”
Prian pun pergi untuk menyiram tanaman di depan rumah sesuai yang diperintahkan neneknya.
“Kau ikut aku kemari” ucap nenek kemudian langsung menyeret Kimiko ke kamar
Brak!
Nenek menutup pintu kamar dengan sedikit kencang.
“nenek sebenarnya ada apa? Apa yang gawat?” Tanya Kimiko
“Sebenarnya saat aku berada di istana, aku tak sengaja mendengar obrolan para prajurit. Ku dengar jika Pangeran Zen menghilang saat melakukan pemantauan di sekitar sungi mata air. Apa kau tahu? Ternyata Pangeran Zen sudah menghilang 3 hari yang lalu?! Dan kita baru mendengar kabarnya sekarang! Sampai kini pun pangeran Zen masih belum di ketahui keberadaanya di mana”
Kimiko membelakkan matanya saat mendengar kabar ini, dia kaget dan khawatir pada Zen.
“N-nenek apa kau-“
“T-tapi mana mungkin, zen dia-“
“Aku tahu, saat ini sedang ada pencarian pangeran Zen secara diam-diam. Ini dilakukan supaya tidak terjadi kekacuan dan kepanikan karena menghilangnya pangeran Zen.”
“B-bagaimana bisa Zen menghilang?, Kenapa dia bisa-“
“Tenanglah Kimiko, pangeran Zen pasti baik-baik saja” ucap sang nenek mencoba menenangkan
“K-kenapa bisa menghilang, apa ada yang menyerangnya? A-atau ada yang ingin mencelakainya lalu-“
“Kimiko! Sudah ku bilang tenanglah, percayalah Pangeran Zen akan baik-baik saja. Dia juga tidak mudah terkalahkan”
Kimiko mengepalkan tanganya kuat-kuat, dia sangat khawatir pada Zen
‘Zen sebenarnya ada di mana kau? Cepatlah pulang dengan selamat’ batin Kimiko
“……”
“Kimiko?”
“A-ah maafkan aku, aku baik-baik saja. Aku tau Zen pasti baik-baik saja, aku percaya padanyya. K-kalau begitu aku harus kembali ke dapur untuk membuatkan Susu untuk Prian. Dia pasti akan marah jika aku tidak segera membuatkanya” ucap Kimiko kemudian langsung pergi menuju dapur.
Nenek sangat khawatir dengan Kimiko, Pangeran Zen adalah teman sekaligus sahabat Kimiko.
“Apa seharusnya tadi aku tidak mengatakanya ya..?” gumam nenek
Kimiko kembali ke dapurnya, pikiranya saat ini kacau sekali.
__ADS_1
“Ada apa ini, kenapa jadi seperti ini”
Kimiko mengepalkan tanganya cukup kuat, terlihat matanya kini tergenang oleh air matanya.
“Kenapa jadi begini hiks..hiks..hiks”
Hati kimiko terasa hancur saat ini, dia benar-benar hancur.
Belum masalah suaminya, kini teman dekatnya juga dalam masalah.
“Apa yang harus ku lakukan hiks hiks”
Kimiko ingin menangis dengan keras, hatinya benar-benar hancur. Tapi dia mencoba mati-matian untuk menahanya.
Karena dia tahu, jika dia menangis pasti putranya akan panik dan ikut sedih karenanya.
Kimiko mengepalkan tanganya lebih kuat agar bisa menahan dirinya untuk tidak menangis.
“tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan ini semua. Jika aku terus sedih seperti ini tidak akan membantu apapun justru akan memperparah”
Kimiko langsung saja menghapus air matanya dengan kasar, sehingga terlihat pipinya sedikit memerah.
Kimiko mengambil sebuah gelas dan membuatkan susu untuk Prian.
“Apapun yang terjadi tidak akan aku biarkan”
Setelah selesai membuatkan Prian susu, Kimiko mencuci wajahnya agar Pian tidak curiga jika dia baru saja menangis.
Kimiko segera menuju ke arah Prian, saat ini Prian tengah menyiram tanaman sesuai yang di minta neneknya tadi.
“Prian..” Panggil Kimiko
“Mama?”
“Ini susumu, minumlah”
“Letakkan saja di meja dulu ma, aku masih belum selesai menyiram semuanya”
“Tapi susunya jika di biarkan akan mendingin, minumlah biar mama yang melanutkan menyiram tanamanya”
“Eh? Tidak apa-apa? Bukankah nenek yang memintaku untuk menyiramnya”
“tidak apa-apa”
“Hu’um baik mama”
Prian menghentikan aktivitas menyiramnya kemudian mengambil gelas susunya dan meminumnya.
Dan Kimiko menggantikan Prian menyiram tanaman.
“Mama..” panggil Prian
“Hm?Ada apa?” Tanya Kimiko tanpa menolehkan wajahnya karena focus pada tanamanya
“I-itu, t-tadi apa yang nenek bicarakan pada mama?” Tanya Prian
》NEXT CHAPTER《
Eits! sebelum scroll ke chapter selanjutnya
Jangan lupa tinggalkan Komentar dan beri Like agar author semangat melanjutkan ceritanya 😉
__ADS_1