
"Kakak kau akan kembali dengan selamat bukan?" Ucap Yuki
"Tentu saja, kau tau betul siapa kakakmu ini. Kakak adalah seorang Raja, dan seorang Raja tidak akan mudah dikalahkan. Apalagi sebentar lagi kakak akan menjadi seorang ayah dan kau menjadi seorang paman. Mana mungkin kakak akan mati, kakak akan pergi bertempur untuk melindungimu dan semuanya. Dan selagi aku pergi, maka kau yang akan menjadi raja sementara" balas Yoshiaki
"Raja? Aku tidak pantas mendapat gelar itu" balas Yuki
"Siapa yang mengatakan kau tidak pantas mendapatkanya?" Tanya Yoshiaki
"Tidak ada, hanya saja kau kan sudah menjadi Raja. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu. Walaupun aku ini adikmu" balas Yuki
"Hahh baiklah, tapi bisa kuminta tolong padamu?"
"Minta tolong apa?"
"Tolong jaga istana dan lindungi mama dan juga Kimiko" balas Yoshiaki
"Hm, tentu saja. Aku akan menjaga istana ini dan melindungi mama serta kak Kimiko selagi kau pergi" balas Yuki
"Terimakasih"
"Tapi kakak harus janji, kau harus lulang dengan selamat" ucap Yuki
"Hm, kakak janji" balas Yoshiaki
"Baiklah kakak harus pergi, sampai jumpa" ucap Yoshiaki
"Sampai jumpa lagi kak" balas Yuki
Yoshiaki pun berpamitan kepada Ibunya dan Kimiko.
Kemudian dia mulai menaiki kudanya, dan memulai perjalananya.
Didampingi oleh beberapa Ksatria kuat Miyamoto.
Para pasukan mengikuti Yoshiaki dari belakang.
Kini dia dan pasukanya mulai melangkah keluar dari wilayah Miyamoto.
Perang sebentar lagi dimulai, pertumpahan darah akan segera terjadi.
Tapi dia terus saja mengkhawatirkan Kimiko ketimbang kalah ataupun menang nantinya.
Dia takut terjadi sesuatu pada Kimiko saat dia tidak ada di Istana untuk mengawasinya.
Apalagi sekarang Kimiko tengah mengandung anak pertamanya, inilah perasaan yang selalu membuatnya gelisah.
Dia begitu sangat tidak ingin meninggalkan Kimiko dengan kondisinya yang seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, Perang tiba-tiba saja akan terjadi dan tepat disaar Kimiko tengah mebgandung penerusnya.
"Kimiko tunggulah, setelah perang ini berakhir aku akan segera pulang dan bertemu dengan kalian. Tunggulah aku" gumam Yoshiaki
Perjalanan terus dilakukan, hingga matahari sudah mulai berada dipuncaknya.
"Baiklah kita istirahat disini sebentar" ucap Yoshiaki
"Baik!"
Mereka sudah berjalan cukup jauh dan sepertinya sudah 4 jam mereka melakukan perjalanan tanpa istirahat. Maka dari itu dia membiarkan para prajuritnya untuk beristirahat selagi perang belum dimulai.
Beberapa tenda tengah dibangun sebagai tempat istirahat.
Tenda khusus Raja pun telah dibangun..
Selagi para Prajurit istirahat, Yoshiaki dan beberapa ksatira menyusun sebuah rencana dan siasat yang nantinya akan digunakan dalam perang.
Mereka akan beristirahat paling tidak selama semalaman..
Perang besar akan terjadi, dan para Prajurit butuh istirahat yang cukup agar bisa memenangkan perang nantinya.
Setelah acara diskusi selesai, Yoshiaki kemudian pergi ke tendanya.
Karena hari sudah semakin malam, maka penjagaan tempat istirahat mereka dijaga ketat dan bergilir.
Terutama Tenda Raja yang hampir di jaga oleh 8 prajurit disemua sisi tenda.
Yoshiaki berada ditenda miliknya, dia masih belum tidur.
Tapi melainkan sedang menulis sesuatu..
"Baru tadi pagi aku pergi meninggalkannya, sekarang aku menjadi sangat merindukanya. Gelak tawanya,senyumanya,tingkah bodohnya,dan semua yang ada pada dirinya. Dan juga ditambah seorang anak yang akan lahir dan menambah kebahagiaan kami. Kami akan menjadi seorang ayah dan ibu dari penerus Kerajaan Miyamoto. Akankah dia Pangeran ataupun seorang Putri, aku pasti akan mencintai dan melindunginya." Gumam Yoshiaki sambil membayangkan kembali waktu yang telah berlalu bersama dengan Kimiko.
♢ ♢ ♢
Pagi harinya mereka melanjutkan perjalanan mereka, Hanya tinggal menghitung beberapa jam saja mereka akan sampai di medan tempur.
Tapi sebelum sampai dimedan tempur, mereka menyiapkan sebuah tempat sebagai tempat istirahat mereka.
Mereka terus berjalan tanpa henti agar secepatnya sampai di medan tempur.
Para prajurit telah siap menghadapi perang ini dan berjuang mati-matian demi tanah airnya.
Beberapa jam kemudian..
"Baiklah, berhenti kalian semua" Seru Yoshiaki
Para Prajurit dan semuanya berhenti saat mebdengar perintah Yoshiaki.
"Ada apa yang mulia?" Tanya seorang ksatria
"Tidak ada, aku hanya berpikir jika tempat ini cukup bagus sebagai tempat istirahat. Letaknya tidak terlalu dekat maupun terlalu jauh dari medan tempur. Kita akan mendirikan tenda disini untuk tempat istirahat kita. Laksanakan!" Seru Yoshiaki
"Baik!"
Para prajurit mulai membangun tenda-tenda..
Ada tenda khusus tempat istirahat,kemudian tenda medis. Kemudian tenda perlengkapan dan lainya.
Yoshiaki saat ini tengah mengawasi keadaan sekitar, dia mungkin saja tidak perlu melakukanya karena sudah ada prajurit yang nantinya tetap akan mengawasi tempat itu ataupun dia memerintahkan prajurit untuk mengawasi tempat ini.
"Udara disini masih cukup segar, tapi aku tidak tau nantinya akan seperti apa saat perang terjadi"
"Yang mulia!" Seru sang ksatria
"Ada apa?" Tanya Yoshiaki
"Tidak bukan apa-apa, tapi kenapa yang mulia berdiri disini?" Tanya Sang Ksatria
"Aku sedang mengawasi daerah ini" ucap Yoshiaki
"Kenapa? Bukankah akan lebih baik jika anda memerintahkan prajurit untuk mengawasi tempat ini? Anda seharusnya beristirahat dan menyiapkan kekuatan untuk perang nantinya" balas sang ksatria
"Aku sudah terlalu banyak beristirahat, kenapa kau tidak istirahat?" Tanya Yoshiaki
Sang ksatria itu kemudian langsung menunduk pada Yoshiaki.
"Maaf yang mulia, tapi mana mungkin saya beristirahat jika baginda saja tidak. Saya adalah seorang ksatria pelindung raja, jadi sudah menjadi tugas saya untuk mengawal anda agar tetap baik-baik saja" seru sang ksatria
Akhirnya hari yang ditunggu telah datang..
Kini ke-dua kerajaan berkumpul disatu tempat.
Kerajaan Yamamoto telah siap dengan ratusan hingga ribuan Prajurit dan juga Kerajaan Miyamoto yang telah siap dengan ribuan pasukanya.
__ADS_1
"KALIAN JANGAN GENTAR! KITA BERJUANG DAN MATI DEMI TANAH AIR KITA! JANGAN TAKUT! KUATKAN HATI KALIAN, KALIAN RELA MENGORBANKAN NYAWA KALIAN DEMI TANAH AIR!! HIDUP MIYAMOTO!!" Seru Yoshiaki
"HIDUP!" Seru semua pasukan..
"MAJU!!" Seru Yoshiaki
Mendengar aba-aba Yoshiaki, mereka pun langsung maju berperang.
Kerajaan Yamamoto juga ikut maju untuk berperang.
"KITA MATI DEMI TANAH AIR! JANGAN TAKUT DAN JANGAN GENTAR!"
Pagi,siang, hingga malam mereka lewati dengan pertumpahan darah..
Tempat itu seakan seperti lautan api yang akan menenggelamkan mereka..
Banyak prajurit yang telah gugur dimedan perang..
Hari-hari berlalu dengan perang dan terus perang..
Tanpa lelah dan tanpa gentar mereka maju melawan musuh demi melindungi tanah air mereka..
♢ ♢ ♢
KERAJAAN MIYAMOTO
! ! ! ! ! !
Malam sudah datang, kini semua orang tengah tertidur dan terjaga dimalam hari.
Kerajaan Miyamoto tetap menjaga keamanan mereka demi melindungi keluarga utama kerajaan terutama Ratu Kimiko
! ! ! !
"Hosh..hosh..hosh.."
Ditengah malam seperti ini, tiba-tiba Kimiko bangun dari tidurnya..
"Hosh..hosh..hosh.."
Dia terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah..
"S-sepertinya aku mimpi buruk lagi" ucap Kimiko
Tidak seperti biasa, belakangan ini Kimiko sering mendapat mimpi buruk dan membuatnya ketakutan ketika terbangun dari mimpinya.
Beberapa keringat keluar dari tubuh Kimiko, nafas Kimiko masih belum stabil.
Dia masih merasa syok dengan mimpi yang baru saja dia alami.
Dan seperti biasa, dia kembali ketakutan jika dia tidur kembali dan mendapatkan mimpi buruk itu lagi.
"Kenapa aku selalu bermimpi ini setiap malam? Aku benar-benar lelah" ucapnya dengan sendu..
Tapi dia mencoba melawan rasa takutnya, dia mulai membaringkan tubuhnya kembali untuk kembali tidur sampai esok hari.
Tapi baru membaringkan tubuhnya dan baru akan memejamkan matanya, tiba-tiba..
"Argghh.. k-kenapa perutku s-sakit sekali?!"
Tiba-tiba sebuah rasa sakit menyerang Kimiko, rasa sakitnya berasal dari perutnya yang mungkin tidak lain ada pada bayinya.
"I-ini b-benar-benar m-menyakitkan" ucap Kimiko dengan gemetar..
Kimiko benar-benar merasa sangat kesakitan, tubuhnya terasa kaku..
"T-tolong a-aku.." ucapnya dengan parau..
Tapi sepertinya ucapanya tidak didengar oleh siapapun bahkan prajurit penjaga kamarnya sekalipun..
Sophai terus memegang perutnya dan juga meremas spreinya sambil mencoba untuk menahan rasa sakitnya..
"I-ini b-benar-benar lebih m-menyakitkan dari yang k-kuduga" gumamnya sambil menahan rasa sakitnya..
Entah kenapa tiba-tiba air matanya hampir keluar karena merasakan rasa sakit yang luar biasa itu.
Matanya berair dan membasahi wajahnya..
"Hiks..hiks.. ini sangat sakit" ucapnya sambil terus memegang perutnya
Kimiko bingung bagaimana caranya meminta tolong pada orang yang berada diluar kamarnya.
Mulutnya terasa kaku sehingga dia tidak bisa berteriak seperti biasanya.
Mulutnya seakan terkunci oleh sesuatu, dia hanya bisa merengek kesakitan menunggu orang diluar sadar akan kondisinya ini.
Tapi sampai kapan mereka akan sadar, apakah Kimiko harus menunggu hingga mereka sadar dengab rasa sakit yang menyerangnya ini?
"K-kalau saja ada J-Yoshiaki a-aku pasti- arggh"
Rasa sakit semakin menjadi-jadi dan semakin pula Kimiko menjadi tidak kuat dengan rasa sakitnya..
"!!!!"
Tiba-tiba Kimiko merasakan sesuatu yang basah di area bawahnya.
Sepertinya ada air yang keluar dari tubuhnya..
Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi dan Kimiko semakin merasa kesakitan dan hampir pingsan akibat rasa sakit yang dialami ini.
Rasa sakitnya jauh lebih menyakitkan dari yang dia duga..
Sekuat tenaga, Kimiko mencoba membangunkan tubuhnya.
Dia mencoba meraih sebuah minuman dimejanya, tanganya gemetar akibat rasa sakitnya ini..
Dia terus mencoba meraih minuman itu, kemudian dengan usaha mati-matian akhirnya dia berhasil memegangnya.
Kemudian dengan sekuat tenaga dia melempar minuman itu ke tanah..
KLOONNTANG!!!
Suara itu menggelegar sampai keluar, kemudian sesegera mungkin para Prajurit penjaga langsung masuk untuk melihat keadaan..
"Ada apa yang mulia Ratu?!" Seru salah satu prajurit
"T-tolong aku.." ucap Kimiko dengan parau..
Kedua prjurit itu kemudian langsung mendekati Kimiko, dapat terliht wajah syok mereka saat melihat Kimiko begitu kesakitan..
"Y-yang mulia anda kenapa?" Tanya Prajurit
"Sakit hiks..hiks...ini benar-benar menyakitkan" ucap Kimiko sambil menahan rasa sakitnya..
Para prajurit itu menjadi panik seketika,
"A-apa yang harus kita lakukan?!" Tanya prajurit 1 yang sudah sangat panik.
"K-kita panggil Yang mulia Ratu Makoto!" Seru prajurit 2
"B-baiklah, kau jaga Ratu Kimiko aku akan memanggil Yang mulia Ratu Makoto" ucap prajurit 1
__ADS_1
"Baiklah, tapi kau juga harus segera memanggil tabib istana!" Seru prajurit 2
"Baiklah" seru Prajurit 1
Prajurit 1 langsung berlari keluar untuk memanggil Ratu Makoto dan Tabib istana..
"Y-yang mulia saya mohon bertahanlah" ucap prajurit 2 yang sudah bingung karena dia panik dan tidak tau apa yang harus dia lakukan..
Beberapa menit kemudian..
Braaakkkk!!!
"Kimiko!!!" Seru Ratu Makoto
Langsung saja Ratu Makoto menghampiri Kimiko, dan terlihat jelas jika saat ini Kimiko tengah menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Kimiko kau kenapa?!" Tanya Ratu Makoto yangs sudah berada disampingnya.
"M-mama ini b-benar-benar sakit hiks..hiks."
"Apa yang kau tunggu! Cepat panggil tabib istana" seru Ratu Makoto pada prajurit 2
"P-prajurit 1 sedang memanggil tabib yang mulia!" Seru prajurit ke dua..
Makoto kemudian kembali mengalihkan wajahnya pada Kimiko.
Terlihat keringat peluh yang membasahi wajah Kimiko..
Dia benar-benar sedang kesakitan..
Kemudian tak lama akhirnya tabib yang dipanggil akhirnya datang..
"Yang mulia maaf atas keterlambatan saya" seru sang tabib
"Lupakan itu! Cepat kau periksa Kimiko" seru Makoto
"Baik!" Balas sang tabib
Tabib itu kemudian memposisikan dirinya tepat disamping Kimiko.
Dia mulai memeriksa Kimiko..
"Ada apa? Kenapa Kimiko merasakan sakit seperti ini?" Tanya Makoto yang sudah menjadi sangat panik
"Tenanglah yang mulia, ini hanyalah rasa sakit menjelang proses melahirkan"
"P-proses melahirkan?"
"Benar yang mulia, air ketuban Ratu Kimiko telah pecah dan keluar. Kita hanya harus menunggu hingga bukaan ini sempurna dan sampai Yang mulia Kimiko melahirkan." Balas sang tabib
"J-jadi ini, S-Kimiko akan melahirkan?!" Tanya Makoto
"Benar yang mulia, tali kita harus bersabar sebentar lagi. Saya akan membuatkan ramuan untuk meredakan rasa sakitnya" ucap sang tabib
"Baiklah" balas Makoto..
Tabib tersebut kemudian langsung meracik ramuanya itu..
Sedangkan Makoto masih setia menemani Kimiko yang tengah merasakaj rasa sakitnya.
"Kimiko bertahanlah" ucapnya dengan parau
"Hahhhh...hahh.. hahh.. a-aku b-baik-baik saja. A-aku akan s-segera bertemu hosh..hosh a-anakku" ucap Kimiko disela rasa sakitnya yang mulai menjadi-jadi
Kimiko menggenggam tangan Makoto dengan kuat untuk menahan rasa sakitnya.
Ratu Makoto sendiri seperti ikut merasakan rasa sakit yang dialami oleh Kimiko.
Dia ingin menangis melihat Kimiko dalam keadaan seperti ini..
"Kumohon bertahanlah" ucapnya..
Kimiko tidak membalas ucapan Makoto, dia masih menahan rasa sakitnya.
Benar-benar sakit yang tak pernah dia rasakan selama ini.
1 jam kemudian..
1 jam telah Kimiko lewati dengan rasa sakit yang menyerangnya..
Tubuhnya terasa dirobek sesuatu..
Rasanya benar-benar tidak tahan, tapi rasa sakitnya menjadi lebih berkurang setelah mendapat obat dari tabib tadi.
Ternyata obat tadi tidak bisa meredakan keseluruhan rasa sakitnya hanya bisa meredakan sedikit rasa sakitnya.
Tapi walalupun begitu, Kimiko terus menahannya walaupun dia juga hampir menyerah..
"Yang mulia Ratu Makoto, bukaan Ratu Kimiko sudah terbuka sempurna. Saya akan memulai proses persalinanya" ucap sang tabib..
"Hahh..hahh..hahh.. b-baiklah"
Nafas Makoto juga ikut kacau..
"Baiklah Ratu Kimiko, ikuti aba-aba dari saya" ucap tabib tersebut..
"Sekarang yang mulia ambil nafas sebanyak mungkin" ucap sang tabib
Mendengar aba-aba dari tabib itu, Kimiko kemudian menarik nafasnya kuat-kuat untuk mengambil nafas sebanyak mungkin..
"Sekarang yang mulia hembuskan perlahan-lahan dan kembali ambil nafas anda sebanyak mungkin"
Kimiko kembali mengambil nafas sebanyak mungkin dan menghembuskannya dengan perlahan..
"Sekarang yang mulia ambil kembali nafas anda dan kemudian hembuskan sambil mencoba mendorong bayi anda keluar"
Kimiko menarik nafas sebanyak yang dia mampu kemudian dia menghembuskanya sambil mengejan untuk mendorong bayinya keluar..
"Yang begitu yang mulia, terus lakukan seperti itu!" Seru sang tabib
"Arrrggghhhh!!"
Kimiko terus mengejan dan mendorong bayinya keluar..
Rasanya semakin sakit jika dia terus-terusan begini.
Tapi ini adalah garis penentuan antara hidup dan matinya.
Dia tidak akan membiarkan anaknya celaka walaupun ia sendiri harus merasakan rasa sakit ini
"Aarrgghh"
Kimiko terus dan terus mengejan untuk mendorong bayinya keluar..
》NEXT CHAPTER《
Eits! sebelum scroll ke chapter selanjutnya
Jangan lupa tinggalkan Komentar dan beri Like agar author semangat melanjutkan ceritanya 😉
__ADS_1