
“I-itu, t-tadi apa yang nenek bicarakan pada mama?” Tanya Prian
“Bukan apa-apa”
“Benarkah? Atau mama menyembunyikan sesuatu dari Prian? Prian tidak pernah menyembunyikan apapun dari mama”
“Prian ada kalanya kau tidak boleh mengetahui urusan dewasa, kau masih kecil. Kau mengerti hm?”
Prian sedikit lesu mendengar ucapan ibunya, sebenarnya dia sudah sangat penasaran sekali. Karena baru pertama kalinya neneknya terlihat begitu tergesa-gesa dan panik seperti itu.
“Hm iya Prian mengerti” balasnya dengan nada lemas
“Kau marah?”
“Tidak, apa yang dikatakan mama juga benar”
“Maafkan mama ya sayang”
“tidak apa-apa”
“K-kau baik-baik saja?”
“Iya”
Kimiko menghela nafasnya, dia menghentikan aktivitas menyiramnya kemudian pergi menuju arah putranya.
“Prian..” panggil Kimiko
Kimiko berjongkok menyamakan tingginya dengan anaknya
“Hm?” Prian menatap wajah ibunya
Kimiko tersenyum kemudian memeluk Prian dengan erat.
“M-mama aku tidak bisa bernafas” Ucap Prian
Kimiko begitu erat memeluk anaknya hingga anaknya kesulitan bernapas
“Ah maafkan mama sayang”
Kimiko melepaskan pelukanya
“mama kenapa?”
“Mama baik-baik saja, kau tahu wajahmu itu sangat imut sekali mama jadi ingin memelukmu lebih erat lagi”
“memangnya kenapa, wajahku memang imut dari lahir”
__ADS_1
“kau percaya diri sekali ya”
“tentu saja, mama saja cantik kenapa aku tidak imut, tentu saja sangat imut”
“Kau tahu sudah lama mama menahan untuk tidak mencubitmu, kau menggemaskan sekali”
“jangan!”
Prian langsung menghindari ibunya
“heh kenapa?”
“tidak mau! Jika pipiku di cubit maka wajahku bisa sebesar gajah”
Tak mampu menahan tawa mendegar ucapan polos dari anaknya, kimiko pun akhirnya tertawa
“hahaha, kau benar-benar sangat menggemaskan”
Kimiko berdiri kemudian menuju ke arah Prian, tapi Prian sendiri justru menghindar dan malah berlari memasuki rumah.
“Kemarilah sayang biarkan mama mencubitmu”
“tidak! Jangan !” prian terus berlari dan Kimiko mengejarnya
“Kau tidak akan bisa lolos dari mama”
“mana mungkin”
Prian terus belari menghindari Kimiko, dan Kimiko dengan senang mengejar Prian.
Tak terasa hari pun mulai gelap
Kimiko sedang memasak di dapur untuk menyiapkan makan malam di bantu oleh nenek.
“Hey Kimiko kau baik-baik saja bukan?” Tanya nenek yang masih khawatir dengan kondisi kimiko
“hm? Aku baik-baik saja” balas Kimiko dengan senyuman
“S-syukurlah, tapi apa kau-“
“- nenek bisa tolong siapkan piring di meja” potong Kimiko
__ADS_1
“Baiklah” nenek pun hanya bisa menuruti Kimiko untuk saat ini, ia tahu betul jika Kimiko sedang tidak ingin membicarakan masalah ini saat ini.
Kimiko terus fokus pada masakanya, sebenarnya dia juga terus kepikiran masalah tadi. Dia masih khawatir dan terus memikirkan bagaimana keadaan Zen.
Walaupun masalah dengan suaminya sendiri belum selesai, tapi untuk saat ini keselamatan zen lebih utama.
“Aku tidak bisa diam saja” gumam Kimiko
Setelah menyiapkan makanan, kimiko pun menuju kamar Prian untuk memanggil Prian.
“Prian..” panggil Kimiko
“Hm? Ada apa mama?”
“Ada apa maksudmu? Ini sudah saatnya makan malam, ayo. Nenek sudah menunggu” ucap Kimiko
“Baik mama”
Prian pun mengikuti Ibunya sampai di ruang makan.
Mereka kemudian duduk di tempat masing-masing dan mulai memakan makanan mereka.
Di Tempat Zen
Zen mulai membuka matanya perlahan-lahan, akhirnya dia bangun dari pingsanya.
“Ukh kepalaku pusing sekali” zen memegang kepalanya
Zen melihat sekitar, ada 5 prajuritnya yang juga sepertinya pingsan.
“dimana ini?” gumam Zen
Zen masih merasakan sakit di kepalanya, matanya sedikit kabur melihat sekitar.
Zen menghampiri salah satu prajurit, dia mengggoyahkan tubuh salah satu prajuritnya.
“Hey apa kau baik-baik saja?” Tanya Zen
Prajurit itu pun mulai membuka matanya perlahan-lahan.
“L-lho pangeran Zen?” sang Prajurit itupun bangun dan mulai mendapatkan kesadaranya kembali.
“Ini dimana yang mulia?” ucap Prajurit itu
》NEXT CHAPTER《
Eits! sebelum scroll ke chapter selanjutnya
Jangan lupa tinggalkan Komentar dan beri Like agar author semangat melanjutkan ceritanya 😉
__ADS_1