
“Kita bahas ini nanti saja, tunjukan jalan dimana mata air itu berada” ucap Zen
“B-baik yang mulia”
Beberapa warga pun memberi petunjuk arah mat air tersebut, mereka mengantar zen sampai pertengahan jalan
“Maaf yang mulia, kami hanya bisa mengantar sampai sini saja. Kami harus segera membantu para tabib untuk menyembuhkan para warga yang terkena penyakit tersebut”
“Tidak apa-apa terimakasih telah memberikan arah jalanya, pergilah bantu para tabib untuk menyembuhkan mereka” balas Zen
“Baik yang mulia”
Zen pun melanjutkan langkahnya menuju ke arah mata air tersebut, sedangkan warga tadi pergi untuk membantu para tabib.
Tak butuh waktu lama akhirnya zen pun sampai di sungai tersebut.
Dia sedikit kaget melihat banyak tanaman yang berada di sekitar sungai itu mati dan layu.
Tapi yang membuatnya lebih kaget adalah air yang ada di sungai itu.
Air itu tampak sangat jernih seperti air bersih yang tidak ungkin ada racun didalamnya. Air itubenar-benar jernih sekali.
“di luar dugaanku, ternyata air itu terlihat sangat jernih sekali” balas Zen
“Mohon untuk yang mulia agar tidak mendekati sungai itu lebih jauh lagi, akan sangat berbahaya bagi yang mulia sendiri”
“Aku tau, aku hanya akan mengamatinya dari sini” balas Zen
‘ini benar-benar di luar perkiraanku, tempat ini terlihat sangat mengerikan sekali. Lalu sebenarnya apa penyebab ini semua, apakah ada yang mencampurkan air sungai ini dengan racun?’ batin Zen
Kemudian tiba-tiba
Bommm
Munculnya sebuah bom asap dari arah belakang mereka.
“Ada apa ini?!” Tanya Zen
Mereka kesulitan untuk melihat gara-gara asap tersebut.
“Asap apa ini?!” seru Zen
Salah seorang pengawal mencoba untuk lebih dekat dengan Zen untuk melindungi Zen.
“Saya tidak tau yang mulia tapi-“ Sebelum berhasil menyelesaikan ucapanya, tiba-tiba prajurit itu jatuh pingsan.
“Hey apa yang terjadi padamu?!” seru Zen
Zen kesulitan bernafas di dalam asap itu
Kemudian Zen merasakan rasa pusing yang hebat, kepalanya seperti terguncang sesuatu, penglihatanya semakin buruk.
‘S-sial jangan-jangan asap ini’
Bahkan dia mulai kehilangan kesadaranya dan pada akhirnya
Bruuukkk
Zen jatuh pingsan karena terlalu banyak menghirup asap tersebut.
Kerajaan Fujimoto
Kimiko saat ini sedang menyiram tanaman bunga miliknya, dia sangat teliti dalam merawat tanaman.
Hampir setiap pagi tak pernah dia lewatkan untuk menyiram tanaman miliknya itu.
“Kuncupnya sudah mulai tumbuh, sebentar lagi pasti akan menjadi bunga yang sangat indah. Aku tidak sabar untuk melihatnya. Tumbuhlah dengan baik hingga kuncup ini menjadi mekar dan berubah jadi bunga yang sangat indah” Ucap Kimiko
“Mama!”
__ADS_1
Mendengar suara putranya, dia pun menghentikan aktivitasnya.
“Ada apa sayang?” Tanya Kimiko
“Nenek dimana nenek? Saat aku bangun nenek sudah tidak ada” Panik Prian
“Tenanglah sayang, nenekmu saat ini tengah pergi ke kastil.” Balas Kimiko
“Kenapa?”
“Nenek harus membantu tabib istana untuk meracik sebuah obat”
“Kenapa? Seharusnya dia bisa melakukanya sendiri bukan?”
“Prian ramuan yang di racik ini bukanlah ramuan biasa, hanya nenekmu yang dapat membuatnya. Kau tau jika salah sedikit saja maka ramuan itu tidak akan sempurna justru akan menjadi ramuan yang berbahaya”
“Memangnya ramuan apa itu sampai hanya nenek saja yang bisa menciptakanya?” Tanya Prian
“Mama tidak tahu, kau bisa Tanya padanya saat nenek pulang”
“Kapan nenek pulang?”
“mungkin nanti siang”
“Lama sekali”
“Mau bagaimana lagi, ini tugas yang penting dan meracik ramuan itu tidak mudah butuh konsentrasi yang tinggi dan waktu yang lama juga” balas Kimiko
“Huft, aku jadi penasaran ramuan apa yang dibuat nenek”
“Sudahlah pendam dulu rasa penasaranmu, cepat mandi dan segera sarapan” balas Kimiko
“baik” balas Prian
Prian pun kembali memasuki rumah dan membersihkan tubuhnya.
Beberapa saat kemudian,
Prian sudah selesai membersihkan tubuhnya kini dia sedang sarapan ditemani oleh ibunya.
“Mama..” panggil Prian
“ya?” Tanya Kimiko
“Kapan nenek pergi?Kenapa tiak memberitahukanku dulu. Biasanya juga kemana pun nenek pergi, pasti dia akan memberitahukanku” Balas Prian
“Nenekmu pergi pagi-pagi buta, saat itu kau sedang tidur. Nenek mu tidak ingin membangunkanmu jadi dia pergi tanpa memberitahukanmu”
“Hahhh, ini pertama kalinya nenek pergi tanpa memberitahukanku”
“Sudahlah, lagipula ini hanya sekali dia tidak memberitahukanmu”
“Tapi walau begitu aku-“
“Prian habiskan makananmu segera, jangan terlalu banyak bicara saat makan itu tidak baik” Potong Kimiko
“Baiklah” balas Prian
Prian pun melanjutkan kegiatan makannya, dia mencoba untuk segera mungkin menghabiskan makananya.
“Prian mama sudah mengatakanya berkali-kali makanlah dengan tenang tidak perlu terburu-buru” ucap Kimiko
“Tidak apa-apa mama” Ucap Prian disela-sela kunyahanya
“Hahh jangan bicara saat kau sdang mengunyah” Balas Kimiko
Prian hanya membalasnya dengan anggukan dan kembali melahap makananya.
__ADS_1
5 menit kemudian, Prian pun telah selesai sarapan
“Terimakasih makananya” ucap Prian setelah menghabiskan makananya
“mama aku haus” Ucap Prian
“Baiklah mama akan ambilkan minum untukmu”
Kimiko pun mengambil gelas yang ada disampingnya kemudian memasukan air minumnya.
“Ini” Ucap Kimiko kemudian menyondorkan gelasnya kearah Prian
Tapi saat Kimiko menyondorkan gelasnya, tak sengaja sikutnya menabrak pinggir meja hingga pada akhirnya..
PYARRRR
Gelas yang di tangan Kimiko terlepas dan jatuh ke lantai hingga pecah
“Mama!” Kaget Prian
“Ah maafkan mama sayang, mama tidak sengaja menjatuhkanya” balas Kimiko
Kimiko pun kemudian mengambil kepingan gelas itu
‘ini aneh sekali, hanya karena gelas pecah entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak. Jantungku juga tiba-tiba berdegup dengan kencang tidak seperti biasanya’ batin Kimiko
“Prian jangan pergi dari tempatmu atau kau akan terkena pecahan ini, biar mama bersihkan dahulu”
“A-ah iya baik mama” balas Prian yang masih kaget dengan pecahnya gelas tersebut
Kimiko mengambil kepingan-kepingan kaca tersebut, kemudian
“Akh!”
“M-mama?!” kaget Prian
Saat dia mengambil pecahan gelas itu, tak sengaja tanganya terluka dan mengakibatkan darah keluar dari jarinya.
“Mama tangan mama berdarah” kaget Prian
“Ah tidak apa-apa ini hanya luka kecil, jangan khawatir. Tetaplah duduk tenang disana, mama akan segera membersihkanya”
“Tapi tangan mama berdarah”
“Tidak masalah, lagipula ini hanya luka kecil. Tidak perlu khawatir sebentar lagi juga akan sembuh” Balas Kimiko
“Benarkah?” Tanya Prian
“Tentu saja, jadi duduklah dengan tenang ya”
“Hum” balas Prian
Kimiko pun melanjutkan membersihkan potongan gelas tersebut, kemudian dia membuangnya.
Kimiko membersihkan lantai itu agar kepingan yang tidak bisa terambil bisa cepat disingkirkan, dia tidak mau jika sampai Prian terluka karena kecerobohanya.
“Baiklah kau bisa turun sekarang, hati-hati lantainya masih sedikit basah dan licin” ucap Kimiko
“iya” balas Prian
“Apa mama baik-baik saja?” Tanya Prian
》NEXT CHAPTER《
Eits! sebelum scroll ke chapter selanjutnya
Jangan lupa tinggalkan Komentar dan beri Like agar author semangat melanjutkan ceritanya 😉
__ADS_1