Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
21. Tidur


__ADS_3

Islam berlari menghampiri Ali yang kini menopang pingganya yang terasa ngilu setelah berlari menaiki anakan tangga. Pernah tidak naik tangga sambil lari, nah sekarang mereka berdua, Islam dan Ali harus berlari menaiki anakan tangga sebanyak 99. Apakah itu tidak melelahkan? Tentu saja itu sangat melelahkan!


"Gila lo ninggalin gue," ujar Islam sambil berusaha mengatur nafasnya membuat dadanya kembang kempis dengan mulut yang terbuka tak beraturan.


"Udah lah, mereka semua juga nggak tau kalau gue yang lempar, lagian gue juga nggak sengaja," bela Ali yang sesekali mendongak ke atas untuk mencari udara.


"Gila lo," ujar Islam.


"Kenapa kita semua? Seperti sudah dikejar-kejar anjing," ujar Sarifuddin yang telah tiba di samping Islam dan Ali.


"Bukan dikejar anjing tapi ngelempar anjing."


"Hust!" tegur Islam yang dengan cepat menyikut perut Ali.


Ali menoleh menatap Islam dengan mimik wajahnya yang meminta kejelasan. Sarifuddin hanya terdiam menatap dua pria di hadapannya yang kini saling bersahutan tanpa ada suara.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Islam menoleh menatap Abah Habib yang melangkah masuk ke dalam masjid bersama dengan Akbar, Akbir, Firdaus dan Syuaib disambut oleh jawaban salam dari para santri.


Ali menutup mulutnya saat mengetahui dahi Syuaib menjadi benjol dan memerah setelah terkena sepatunya. Ali akui jika sepatu itu memanglah keras dan berat.


Abah Habib yang berniat melangkah menuju saf paling depan tertahan ketika ia melihat Islam yang kini sedang menatapnya. Abah Habib tersenyum lalu melangkah mendekati Islam membuat semua pandangan tertuju pada Islam.


"Alhamdulillah, Abah sangat bahagia Islam ada di dalam masjid," ujar Abah Habib.


Islam menghela nafas malas, tak ada niat baginya untuk menanggapi ujaran Abah Habib, baginya itu tak penting. Islam menoleh menatap Akbar yang terus menatapnya membuat perasaan Islam tak nyaman dan alhasil membuat Islam mengangguk untuk menanggapi ujaran Abah Habib.


"Ayo! Kita sholat di saf depan!" ajaknya dengan raut wajah gembira sambil merentangkan tangannya bersiap untuk menggapai tangan Islam.


"Nggak usah! Gue nggak tertarik," tolak Islam lalu melangkah menghampiri Abirama dan Kristian yang berada di pojokan.


Abah Habib menghela nafas, ia mengerakkan kepalanya ke kanan disaat Akbar menyentuh bahunya lalu berbisik, "Ayo kita sholat!"


Suara lantunan ayat suci Alquran terdengar begitu merdu, suara merdu itu berasal dari pria berpeci hitam, berparas tampan dengan kumis tipis dan penampilan yang begitu sangat rapih dan juga bersih. Dia adalah Rahman, putra dari Firdaus yang juga menjadi pendidik di pesantren ini. Berkat wajahnya yang lumayan tampan itu menjadikannya sebagai salah satu ustad yang paling digemari oleh para santriwati.


Rahman merupakan pria idaman para wanita. Dia adalah pria yang taat beribadah, baik dengan sikapnya yang lemah lembut. Yang lebih menakjubkannya lagi pria tampan ini telah menamatkan hapalan 30 juz Al-qur'an.


Sholat berjalan begitu khusyu dikala suara merdu dari Rahman yang menghayutkan para mukmin.


Sholat berakhir diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Firdaus. Setelah berakhir semua bergegas bangkit dari tempatnya.

__ADS_1


Rahman merangkak menghampiri Abah Habib dan meraih tangan kanan Abah Habib lalu mengecupnya. Abah Habib tersenyum sambil mengusap punggung Rahman.


"Putra antum benar-benar sangat soleh, apalagi setelah ia kuliah di Arab Saudi," ujar Abah Habib pada Firdaus yang dikecup punggung tangannya oleh Rahman.


"Terimakasih Pak Haji kiyai, ana juga sangat bahagia apalagi sekarang ana bisa berkumpul lagi bersama putra ana dan beberapa hari lagi akan memasuki bulan suci ramadhan." Firdaus tersenyum sambil menepuk dengan penuh kehangatan punggung Rahman yang hanya terlihat tersenyum sambil tertunduk, pujian itu membuatnya merasa malu.


"Bagaimana kuliah di Arab Saudi?" tanya Akbar.


"Baik, Alhamdulillah," jawabnya.


"Sungguh beruntung akhi punya anak yang sholeh seperti Rahman, kalau ana punya anak seperti Rahman mungkin ana akan sangat bersyukur sekali," ujar Akbar.


"Afwan, bukanya akhw alam Akbar punya anak? Oh iya kalau tidak salah namanya Islam kan?" tanya Rahman kebingungan membuat Akbar sedikit terkejut dengan ujaran Rahman.


Abah Habib menoleh menatap Rahman setelah menatap ke arah Akbar yang terlihat tak nyaman.


Rahman menoleh menatap Akbar dan Abah Habib secara bergantian, ia tak mengerti mengapa mereka berdua hanya terdiam.


"Em Rahman!" panggil Firdaus.


"Iya, Abah?"


"Tidak usah ditanyakan!" bisik Firdaus.


"Ehem, Eh Nak Rahman!" panggil Abah Habib membuat Rahman dan Firdaus menoleh.


"Iya pak haji kiyai?"


Abah Habib menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Sebenarnya Islam, cucu Abah ada di sini," ujar Abah Habib sambil tersenyum.


"Benarkah?" tanya Rahman bahagia.


Abah Habib mengangguk perlahan.


"Lalu dimana dia?" tanya Rahman.


"Dia-"


"Pak Haji Kiyai!" panggil Syuaib yang berlari menghampiri Abah Habib, Akbar, Firdaus dan Rahman yang dengan cepat menoleh.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Akbar.


"Itu....itu!" Tunjuknya ke arah belakang.


"Ada apa?" tanya Abah Habib yang merasa sangat kebingungan.


"Islam!" ujar Syuaib membuat Abah Habib terbelalak kaget lalu dengan cepat bangkit dari lantai.


"Ada apa? Apa yang terjadi dengan Islam?" tanya Abah Habib dengan raut wajah khawatir.


...*****...


Abah Habib berlari dengan susah payah untuk mencapai kerumunan dimana ada banyak santri yang berkumpul. Kini yang menghantui pikiran Abah Habib adalah apakah Islam jatuh sakit setelah semalam tidak diberi makan malam. Yah sebenarnya ia telah menyuruh Syuaib untuk memanggil Islam dan ketiga sahabatnya itu makan malam tapi Akbar melarang hal tersebut dan berkata kalau ini adalah hukuman baginya karena tidak ikut sholat isya di masjid.


"Beri jalan!" pinta Akbar yang ikut membelah kerumunan.


Para santri memberi jalan membiarkan Abah Habib, Akbar, Syiuaib, Fidaus dan Rahman membelah kerumuman.


Langkah Abah Habib terhenti dengan kedua mata terbelalak menatap Islam, Kristian, Abirama dan Ali yang terlihat berbaring di atas sejadah yang sengaja mereka jadikan alas agar tak kedunginan saat kulit mereka bersentuhan dengan lantai. Bukan hanya Abah Habib yang terkejut tapi semuanya termasuk Akbar yang rahangnya terlihat menegang dengan sorot mata tajam.


Mereka tidur!


Sekali lagi tidur!!!


Para santri saling berbisik sambil menatap empat pria yang berpakiain preman ini yang masih tertidur, bahkan Ali yang tertidur dengan mulut menganga ke atas itu terlihat begitu sangat menakutkan.


"Astagfirullah Ya Allah," ujar Abah Habib yang kemudian menggeleng.


"Syuaib!"


"Iya pak Haji," jawabnya cepat.


"Kenapa tidak antum bangunkan mereka dan membiarkan para santri melihat Islam tertidur di lantai seperi ini?"


"Afwan, Pak Haji tapi ana sudah mencoba membangunkannya dari tadi tapi mereka tidak mau bangun juga," jelasnya.


Akbar mendecapkan bibirnya dengan kesal lalu ia melangkah pergi setelah merasa malu pada Firdaus dan Rahman. Putranya sangat jauh berbeda daripada putra dari Firdaus.


"Syuaib!"


"Iya pak haji?"

__ADS_1


"Ambilkan air!"


"Air? Untuk apa pak Haji?"


__ADS_2