Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
82. Menolong Siapa?


__ADS_3

Umma Nur dan Khadijah terdiam di gerbang pondok menanti Islam. Yah mereka sedang menanti Islam yang memang setiap harinya selalu ikut ke pasar.


"Mungkin kita duluan saja Umma, biarkan akhi Islam menyusul."


"Tunggu, nah itu Islam!


Khadijah menoleh menatap Islam yang kini tersenyum menatap Umma Nur dan hari ini tanpa menatap Khadijah.


"Assalamualaikum, Umma," ujarnya sambil menatap ke arah Umma Nur lalu ia melangkah pergi tanpa mengatakan apa-apa pada Khadijah.


Khadijah terdiam dengan wajah datar. Biasanya Islam selalu menyapanya dan pagi ini juga tidak terjadi. Sama seperti kemarin.


Selama perjalanan tak ada kata-kata yang diujarkan oleh Islam bahkan Umma Nur pun sesekali menoleh menatap Islam dan Khadijah secara bergantian. Baru kali ini suasana perjalanan pasar sangat sunyi.


Pasar


Islam diam berdiri agak jauh dari Khadijah yang terlihat sedari tadi sibuk membeli beberapa bahan masak untuk buka puasa nanti.


Sejujurnya Islam tak ingin seperti ini. Bibirnya seakan tak tahan untuk harus berbicara dan bahkan untuk menyapa Khadijah tapi itu tidak mungkin.


Islam sadar jika ia sudah jauh dari sebuah harapan untuk bersama Khadijah. Apa lagi yang ia harapkan pada Khadijah? Tidak ada.


"Islam!!!"


Kedua mata Islam membulat menatap kaget pada Katrin yang kini sudah berdiri di hadapannya.


"Lo ngapain di sini?"


"Belanja."


"Sama siapa?"


"Sendiri. Oh iya kok lo nggak ngasih tau gue sih kalau lo itu ada di pasar."


"Yah emang buat apaan ngasih tau lo," jawab Islam dengan nada malas.


"Terus lo ngapain diam di sini?"


"Gue lagi-"


"Eh Khadijah!"


Katrin menghampiri Khadijah membuat Islam terdiam beberapa saat. Mereka saling kenal? Islam mendecapkan bibirnya.


Dasar bodoh kamu Islam!

__ADS_1


Mereka kan memang telah berteman sejak kecil, jadi wajar saja mereka saling mengenal. Katrin menarik pergelangan tangan Khadijah dan membawanya di hadapan Islam.


"Islam! Ini Khadijah, sahabat gue."


Islam mengangguk sambil tersenyum.


"Khadijah, ini Islam dan sekarang jadi sahabat gue dan katanya dia mau buka hati dia buat gue. Gue nggak tau kenapa nih orang tiba-tiba berubah padahal dia itu benci banget sama gue."


"Tapi gue yakin, sih. Mungkin dia lagi sakit hati makanya dia coba buka hati ke gue," jelasnya.


Khadijah dan Islam hanya bisa terdiam kaku membuat Katrin mengernyit heran.


"Islam, ayo kenalan!"


"Afwan Katrin tapi sebenarnya kami-"


"Gue Islam," potong Islam yang menjulurkan tangannya ke arah Khadijah yang berniat untuk memberitahu Katrin jika mereka saling kenal.


Khadijah menatap bingung pada Islam yang memperkenalkan namanya.


"Nama lo siapa?"


Khadijah diam dengan kedua matanya menatap sedih pada sikap Islam. Khadijah tertunduk, ia baru ingat jika Islam sudah mengatakan untuk melupakan sosok Islam dan menganggap mereka tidak saling kenal.


"Nggak mau salaman?"


Katrin tertawa lalu memukul tangan Islam.


"Islam, Khadijah itu nggak bisa disentuh sama yang bukan mahromnya."


"Oh, sorry. Gue nggak tau," ujarnya berbohong padahal ia tahu semua tentang Khadijah.


Islam kini melangkah beriringan dengan kedua gadis berhijab ini yang membedakan hanya ada yang memakai cadar dan satu tidak memiliki cadar.


Islam menatap ke arah kiri dan kanan yakni Khadijah dan Katrin yang jalan bersama. Tinggi mereka hampir sama hanya saja yang membedakan mereka adalah cara jalan mereka.


Khadijah terlihat damai saat berjalan, dia terlihat anggun sementara Katrin terlihat lepas begitu saja. Tangannya menunjuk ke segala arah menatap setiap dagangan yang dijual para pedagang tanpa pernah berhenti bicara.


Kedua mata Islam membulat menatap sebuah gerobak yang akan melintas di depan Katrin dan Khadijah yang melaju cepat karena didorong dengan terlalu terburu-buru oleh salah satu pedangan.


Islam menatap Katrin dan Khadijah secara bergantian. Belanjaan yang ada di tangan kirinya tak mungkin ia lepas untuk menolong keduanya.


Islam hanya bisa menarik satu orang, tapi siapa?


Gerobak itu semakin dekat dan keduanya tak menyadari hal itu.

__ADS_1


"Khadijah!" teriak Islam.


Islam menarik pergelangan tangan Khadijah yang membuat Khadijah melangkah mundur dengan cepat.


Bruak


Katrin terhempas ke tanah setelah di senggol oleh gerobak sayur. Suara keras itu berhasil membuat semua orang menoleh menatap Katrin.


Rok serta pakaiannya terlihat kotor karena tanah saat Katrin terjatuh. Katrin meringis merasa nyeri pada pinggangnya setelah di senggol oleh gerobak kayu itu.


Katrin mendongak menatap Islam yang terlihat menatap Khadijah dengan tatapan khawatirnya.


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Islam dengan wajah khawatir.


Khadijah menggeleng lalu mengusap pergelangan tangannya yang telah dipegang oleh Islam.


"Saya minta maaf, saya nggak sengaja."


Katrin seketika terdiam. Mengapa Islam lebih memilih menolong Khadijah dibandingkan dirinya. Apalagi sekarang Katrin masih duduk di atas tanah dan merasa kesakitan.


Katrin bisa melihat wajah khawatir pada Islam saat ia menatap Khadijah. Tatapan itu tak pernah ia lihat pada mata seorang Islam saat menatapnya.


Yang membuat Katrin merasa aneh adalah saat Islam berbicara dengan kalimat yang lebih sopan seperti saya dan kamu.


Sementara jika berbicara kepadanya Islam menggunakan kata lo dan gue. Apa arti dari ini semua?


Islam menoleh menatap Katrin yang terlihat menatapnya. Ia masih ada di atas tanah membuat Islam dengan cepat berlari membantu Katrin untuk berdiri. Khadijah ikut berlari berniat untuk menolong Katrin tapi dengan cepat Katrin menghempas tangan Khadijah.


Khadijah menatap bingung. Niatnya baik untuk menolong tapi Katrin menatapnya dengan tajam.


Katrin meringis merasa sakit pada pinggangnya yang terasa benar-benar nyeri. Semua para pembeli dan pegangan menatap serius ke arah mereka seakan kejadian ini sebuah tontonan gratis.


"Katrin kenapa?"


"Ditabrak sama gerobak, Umma," jawab Islam saat Umma tiba.


"Astagfirullah, yah sudah bawa dia pulang!"


Islam mengangguk lalu segera memegang bahu Katrin dan membantunya untuk jalan.


"Biar ana bantu," tawar Khadijah yang berniat untuk menyentuh Katrin.


"Nggak usah nyentuh gue!"


Khadijah seketika terdiam dengan tangannya yang dengan cepat menggenggam sebuah angin. Ia menatap sedih pada Islam dan Katrin yang kini melangkah pergi.

__ADS_1


__ADS_2