
Islam melangkah turun dari anakan tangga bersama dengan Sarifuddin setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah.
"Islam!" panggil Umma Nur membuat Islam tersenyum dan melajukan langkahnya menuruni anakan tangga.
"Ada apa Umma?"
"Antum ke ruangan Abah, yah! Kita semua mau siap-siap untuk melamar Khadijah."
Islam tersenyum sumringah.
"Yang benar?"
"Tentu saja. Umma tunggu di ruangan, yah!"
Umma Nur melangkah pergi meninggalkan Islam yang tak henti-hentinya tersenyum bahagia.
"Kenapa?" tanya Sarifuddin yang baru saja berdiri di samping Islam.
Islam menoleh menatap Sarifuddin yang terdiam menanti jawaban.
"Sarifuddin!"
Islam tersenyum lebar sambil merapikan peci putih yang miring itu di atas kepala Sarifuddin.
"Iye?" tanya Sarifuddin yang keherangan.
"Hari ini gue bahagiaaaaa banget, mau tau kenapa?"
"Kenapa?"
"Ehem, gue mau ngelamar Khadijah," bisik Islam membuat raut wajah Sarifuddin serius itu berubah menjadi sumringah.
"Benar kah ini?"
"Yah iya dong."
"Alhamdulillah. Ukhti Khadijah itu pasti gadis yang cantik dan dia juga gadis yang sholeha seperti Aisyah."
"Aisyah! Aisyah siapa?"
Sarifuddin tersenyum malu membuat Islam kebingungan.
"Kenapa sih lo?"
"Itu adeknya si Kristian."
"Oh ngerti gue. Jangan-jangan lo suka yah sama dia?"
Sarifuddin tersenyum malu lalu ia menunduk dan tak berselang lama ia mengangguk.
"Assek, gila ternyata lo suka sama Aisyah. Tinggi juga yah selera lo, sukanya sama yang campuran bule."
Islam kembali tertawa sementara Sarifuddin masih tersenyum malu.
"Udah yah, gue duluan."
Islam melangkah pergi setelah ia menepuk bahu Sarifuddin yang terlihat mengangguk.
"Semangat!" teriak Sarifuddin.
Islam melangkah ke arah pintu dan membukanya membuat Abah Habib, Umma Nur dan Akbar menoleh.
"Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab mereka dengan kompak.
"Gimana, Umma udah mau berangkat?" tanya Islam yang tak sabar.
Semuanya tertawa lalu menggeleng, yah sejak kemarin Islam selalu saja tidak sabar untuk melamar gadis bercadar itu, Khadijah.
"Sholat dulu lalu berdoa kepada Allah untuk diberikan kelancaran!" pinta Abah Habib yang sedang mengancing satu persatu baju kokonya.
"Sudah Abah. Islam sudah berdoa waktu sholat lailatul qadar dan subuh tadi."
Abah Habib tertawa.
"Kalau begitu sekarang duduk dulu dan berdoa lagi kepada Allah untuk diberikan kelancaran."
Islam yang masih tersenyum itu dengan cepat berlari dan duduk di sofa lalu ia mengangkat kedua belah tangannya untuk berdoa.
Tak berselang lama Islam mengusap wajahnya lalu ia kembali bangkit.
"Ayo! Islam udah selesai doa," ujarnya tak sabar.
Abah Habib, Umma Nur dan Akbar saling bertatapan lalu mereka saling tertawa. Islam sepertinya sudah tidak sabar untuk melamar Khadijah.
Tak berselang lama mereka sekeluarga melangkah pergi untuk menemui ustad Hasim yang tinggal di dalam lingkungan pondok pesantren.
Di pesantren ini telah disiapkan tempat penginapan untuk para pengajar di pesantren Al Habibi Akbar.
Selama perjalanan Islam tak henti-hentinya tersenyum membuat Umma Nur ikut tersenyum dan memeluk pinggang Islam.
"Apa antum bahagia?"
"Sangat bahagia Umma."
Abah Habib memelankan langkahnya ketika dari kejauhan ia melihat banyak sendal di depan kediaman ustad Hasim.
"Abah juga tidak tau. Mari kita temui!" ujar Abah Habib lalu mereka melanjutkan langkahnya.
Pintu tak ditutup membuat Abah Habib yang berniat untuk mengetuk pintu itu tertahan menatap bingung pada ustad Firdaus dan Rahman yang sedang duduk di sofa. Mereka duduk berhadapan dengan ustad Hasim yang terlihat tersenyum menatap kedatangan Abah Habib dan yang lain.
Apa yang mereka lakukan di sini?
"Assalamu'alaikum," ujar Abah Habib membuat ustad Firdaus dan Rahman menoleh.
"Waalaikumsalam, Abah. Silahkan masuk!" sambut ustad Hasim yang menunjuk ke arah sofa.
Islam mentautkan kedua alisnya menatap bingung pada Rahman dan Ayahnya itu. Apa yang mereka lakukan di sini?
Ada keperluan apa mereka?
Di satu sisi Rahman terlihat tersenyum sinis ke arah Islam yang terlihat masih bertanya di raut wajahnya.
Kini entah mengapa rasanya perasaan Islam tak nyaman dan tak tenang. Ada yang aneh di sini.
"Wah kebetulan sekali Abah ada di sini. Ana baru saja ingin memanggil Abah untuk ke sini."
"Memanggil Abah?"
Abah menoleh menatap Umma Nur dan Akbar yang sama bingungnya.
"Untuk apa?" tanya Abah Habib yang kembali menatap ustad Hasim.
"Abah, syukur Alhamdulillah sekarang kedatangan ustad Firdaus dan Rahman datang ke sini untuk melamar Khadijah untuk Rahman."
Kedua mata Islam membulat menatap kaget pada ustad Hasim yang terlihat masih tersenyum. Bagai disambar petir Islam mendengarnya.
__ADS_1
"Oh yah?"
Abah Habib sedikit tersenyum menatap ustad Firdaus berusaha untuk bersikap baik-baik saja.
"Iya, Abah. Rahman ternyata menaruh hati pada putri ustad Hasim ini," ujar ustad Firdaus sambil menepuk bahu Rahman yang terlihat tersenyum.
"Bagaimana kira-kira Abah? Apa Rahman cocok dengan Khadijah?"
Abah tersenyum kaku lalu menoleh menatap Islam yang terlihat tertunduk.
"Yah keputusan itu semua ada pada antum kami hanya berdoa yang terbaik untuk mereka berdua."
Ustad Hasim mengangguk sambil tersenyum bahagia.
"Sebenarnya ana sudah memutuskan untuk menerima lamaran Rahman dan ana juga sudah memutuskan untuk mengadakan pernikahan di hari lebaran nanti."
Umma Nur dengan cepat menoleh menatap Islam yang terlihat tertunduk. Entah apa yang dia pikirkan tapi Umma Nur yakin bagaimana perasaan Islam sekarang. Hancur yah pasti hancur.
Umma Nur menyentuh punggung Islam dan mengusapnya membuat Islam menoleh lalu Islam tersenyum berusaha untuk memberitahu Umma Nur jika ia baik-baik saja.
Mereka juga tak menyangka jika Rahman lebih dulu datang untuk melamar Khadijah. Andai saja mereka menuruti kemauan Islam untuk melamar Khadijah di hari itu maka lamaran Islam lah yang lebih dulu diterima.
"Oh iya ngomong-ngomong kedatangan Abah dan sekeluarga tujuannya apa?"
"Emmmm..." Abah menoleh menatap Islam yang ikut menatap Abah Habib.
Islam mengangguk berusaha untuk memberitahu Abah Habib tujuan mereka datang ke sini untuk melamar Khadijah.
"....Kami sebenarnya hanya lewat dan ka...kami melihat pintu ini terbuka jadi kami mampir saja," jawabnya.
Islam menghela nafas. Oh Tuhan, mengapa Abah Habib tak memberitahu saja tujuan mereka.
"Ustad Hasim!"
"Iya, ada apa Islam?"
"Apa Khadijah setuju?" tanya Islam dengan hati-hati
Senyum ustad Hasim hilang dari bibirnya.
"Khadijah telah menyerahkan semuanya pada ana dan semalam Khadijah juga sudah memberitahu ana kalau ada yang akan datang melamar."
"Khadijah juga mengatakan untuk menerimanya dan ternyata Rahmanlah yang datang ke rumah untuk melamar."
Rahman mengerutkan alisnya karena tak mengerti. Dari mana Khadijah tahu jika dia akan datang melamar.
Rahman yang masih kebingungan itu menoleh menatap Islam. Apa mungkin kedatangan Islam dan keluarganya untuk melamar Khadijah.
Islam tertunduk dengan wajah sedihnya.
"Em Islam."
"Iya ustad?"
"Antum mau kan membantu ana untuk menyiapkan acaranya nanti?"
Dada Islam sesak saat mendengarnya namun Islam berusaha untuk tersenyum lalu dengan terpaksa ia mengangguk.
"Alhamdulillah, jadi sudah resmi kalau lamarannya diterima kan?" tanya ustad Firdaus.
"Ya tentu saja lamaran Rahman ana terima lagipula Rahman adalah anak yang sholeh dan sangat paham agama, bukan begitu ustad Akbar?"
Akbar menoleh lalu tersenyum dan ia mengangguk. Kini di pikirannya hanya memikirkan tentang perasaan Islam.
__ADS_1
"Lalu apa boleh Rahman melihat wajah Khadijah?" tanya ustad Firdaus lagi.