
Islam menghempaskan embernya setelah ia tiba di samping Sarifuddin yang terlihat menopang pinggang. Air yang berada di dalam ember itu terlihat terguncang membuat air yang berada di dalam ember sedikit tertumpah dan mengurangi banyaknya air.
"Air lo mana, Anjirt?" kaget Ali yang menatap ember Kristian yang terlihat kosong.
Semuanya menoleh menatap ke arah ember Kristian yang benar-benar kosong, seingat mereka tadi ember Kristian penuh terisi air.
"Berat jadi airnya abdi buang," jawab Kristian membuat semuanya menghela nafas panjang.
"Tolol!!!" umpat Ali.
Kristian menggaruk kepalanya seperti orang bodoh lalu terdiam ketika semuanya meninggalkan dirinya sendiri.
Apa ia salah?
...***...
Islam bangkit dari duduknya, sudah sejak tadi ia duduk di atas papan kayu sambil menunggu Kristian yang sedang menimba air di sumur untuk mengisi ember kosongnya. Sumur itu merupakan sumur salah satu warga yang tinggal di desa ini. Tepat di dekat sumur itu terdapat rumah tua yang terbuat dari kayu dengan halaman rumahnya yang terlihat sangat bersih, ada kendi berisi air di ujung tangga kayu itu.
"Terimakasih, Bu," ujar Kristian yang kini melangkah pergi meninggalkan wanita paruhbaya yang sedang mencuci pakaian dengan hanya menggunakan sarung yang menutupi dadanya terus ke bawah.
"Yuk!" ajak Kristian yang sudah berdiri di samping Islam dan yang lainnnya.
Tanpa menunggu, Kristian terus melangkah tanpa menunggu Ali yang kini masih duduk di samping Abirama yang sedang menikmati pemandangan halaman desa ini.
"Anjirt, malah gue yang ditinggalin," umpat Ali yang kemudian bangkit dari papan dan ikut berlari mengejar Kristian, Islam dan Sarifuddin.
Kelimanya kini melangkah secara bersamaan melewati jalan yang tak rata dengan lubang dan bebatuan-batuan kecil menuju pondok pesantren. Pantas saja ketika perjalanan mereka di atas mobil seperti diguncang, toh jalanan seburuk ini. Selama perjalanan ada beberapa warga desa yang menyapa mereka atau hanya melemparkan sebuah senyuman hangat.
"Singgah!!!" teriak seorang wanita yang sedang memarut kelapa sambil dudukdi tangga rumahnya.
"Iye, terimakasih!!!" teriak Sarifuddin yang melontarkan senyuman.
"Dari tadi orang teriak mulu, kenapa kita ndak singgah aja sih?" tanya Kristian.
"Emang kita singgah buat apa?" tanya Sarifuddin.
"Yah mana tau kan dia mau ngasih kita minum," tebak Kristian.
"Kan puasa," ujarnya mengingatkan.
Islam menepikan jalannya ketika mereka berpapasan dengan segerombolan kerbau berlumpur yang berjumlah puluhan. Kerbau itu bertubuh gemuk dan besar persis seperti gerombolan kerbau yang pertama kali Islam lihat saat ia pertama kali tiba di desa ini.
"Maaf yah," ujar pria pengembala kerbau yang terlihat tersenyum.
__ADS_1
Islam ikut mengangguk, ia tak mengerti mengapa warga di desa ini begitu sangat baik dan ramah. Melihat pria pengembala kerbau itu membuat Islam mengingat jika pria pengembala ini adalah pria pengembala yang sama seperti yang Islam lihat dulu. Islam tersenyum, ia ingat pada satu hal yang membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal di atas mobil.
Apalagi jika bukan dua ekor anjing.
Islam yang terdiam di siring jalan menanti lewatnya puluhan kerbau itu kini tersenyum gembira menatap dua ekor anjing yang terlihat berlari kecil di belakang pria pengembala kerbau itu.
"Ali!!!" teriak Islam membuat Ali yang sedang jongkok di sebelah Abirama itu menoleh.
"Apa?" tanya Ali yang belum sadar pada dua ekor anjing berwarna hitam itu.
"Saudara lo tuh!" Tunjuk-nya ke arah dua ekor anjing yang masih mengikuti pria pengembala kerbau.
Ali yang mendengar hal itu langsung menoleh ke arah tunjuk Islam membuatnya tersenyum lebar menatap dua ekor anjing itu.
"Heh saudara!!!" teriak Ali sambil mengangkat tangan kirinya sementara tangan kanannya masih membawa ember berisi air.
Mereka tertawa terpingkal-pingkal bahkan Islam sampai menunduk dan memukul lututnya, tak ada yang lebih lucu daripada pertemuan Ali dan dua ekor anjing ini.
Anjing itu menghentikan larinya lalu menoleh menatap Islam dan lainnya yang masih tertawa cekikan seperti orang bodoh.
Guk!!!
Guk!!!
Guk!!!
"Waduh, kenapa tuh?" panik Kristian yang kini menatap sahabatnya secara bergantian.
"Kayaknya dia kenal sama lo deh, Li," tebak Islam membuat kedua mata Ali melebar, ia terkejut bukan main
Kedua anjing itu masih menggonggong sambil melangkah mendekati mereka membuat mereka melankah mundur dengan pelan-pelan serta waspada.
"Kayaknya dia marah deh," ujar Abirama yang ikut melangkah mundur.
"Jangan ada yang lari! Kalau tidak-" usul Sarifuddin, namun...
"Lari!!!" teriak Ali yang dengan cepat berlari meninggalkan Islam, Kristian, Abirama dan Sarifuddin yang terbelalak kaget.
Gug!!!
Gug!!!
Gug!!!
__ADS_1
Anjing itu menggonggong sambil berlari mengejar mereka yang berteriak histeris sambil terus berlari, takut digigit oleh dua ekor anjing yang masih mengejarnya tanpa ampun.
"Tunggu!!!" teriak Abirama yang sarungnya sudah terlepas.
"Sudah ku bilang tadi jangan lari karena kalau lari kita semua dikejar anjing!!!" teriak Sarifuddin memberitahu sambil terus berlari.
"Ah bacot lo!!!" teriak Ali yang memimpin lari paling depan dengan embernya yang terguncang-guncang membuat ember berisi air itu tertumpah membuat jalanan dan pakaian Ali basah, bukan hanya Ali tapi Islam, Kristian dan Abirama juga mengalami hal itu.
"Eh anjing!!!" teriak Ali yang kaget setelah menatap Sarifuddin yang berlari melintasinya dan kini sudah cukup jauh meninggalkan mereka berempat.
"Kencang juga tuh larinya!!!" teriak Islam yang masih berlari.
Tak berselang lama Abirama ikut melintas melewati Islam, Kristian dan Ali dengan lari yang cukup kencang, namun kali ini ada yang berbeda. Abirama hanya menggunakan celana pendek sebatas lutut.
"Ram!!! Sarung lo dimana?" teriak Islam.
"Digigit anjing!!!" jawab Abirama.
Islam yang masih berlari itu kini menoleh dan benar saja di mulut anjing itu terlihat jelas sarung Abirama.
Anjing itu telah berhasil mengigit sarung Abirama. Ini bukan sebuah candaan! Anjing itu benar-benar berbahaya!
"Aaaaa!!!" teriak Islam ketakutan sambil melajukan larinya.
"Cepat! Cepat!!!" teriak Sarifuddin yang kini membuka pagar membiarkan Islam, Kristian, Abirama dan Ali masuk ke dalam area pondok pesantren.
Setelah semuanya masuk dengan cepat Sarifuddin menutup pagar membiarkan dua ekor anjing itu menggonggong dan mondar-mandir di depan pagar.
Islam menghempaskan tubuhnya ke tanah dangan mulut yang menganga karena sesak serta jantungnya yang berdetak sangat cepat. Baju yang ia kenakan basah kuyup juga wajahnya yang bercucuran keringat.
"Yuk masuk!" ajak Sarifuddin yang juga ngos-ngosan sambil menopang pinggang.
Abirama bangkit lalu menatap sarungnya yang masih digigit oleh salah satu ekor anjing itu.
"Sarung ku!"
"Nanti beli lagi," ujar Kristian yang kini melangkah pergi sambil membawa embernya yang sudah kosong.
Ali bangkit dari duduknya setelah Islam dan Abirama juga ikut melangkah meninggalkannya sendiri. Ali menoleh menatap dua ekor anjing yang masih berada di luar gerbang.
"Dasar anjing lo!!!" teriak Ali membuat kedua Anjing itu menggonggong dengan suara semakin besar membuat Ali tersentak kaget.
Abah Habib tersenyum, ia berdiri di depan jendela sambil menatap mereka yang kini sudah berada di area pondok pesantren.
__ADS_1
Sepertinya hukuman hari ini lumayan menguras tenaga.