
Islam terdiam duduk di anakan tangga menanti Sarifuddin yang sempat pergi membuat Islam duduk menunggu seperti anak kecil yang menuggu ibunya di pasar.
"Loh? kenapa tidak ikut sama saya tadi?" tanya Sarifuddin yang sedang memasang peci putihnya di hadapan Islam yang langsung bangkit.
Islam menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Sarifuddin yang terlihat basah bahkan dengan lengan baju kokonya.
"Lo dari mana sih?" tanya Islam.
"Ambil wudhu," jawabnya.
Islam terdiam sejenak. Seingat Islam ia pernah belajar berwudhu saat masih kecil dan hal itu diajari oleh Akbar dan semenjak Akbar jarang di rumah maka Mawar lah yang selalu mengajari Islam. Tetapi semenjak Islam berumur 12 tahun Mawar tak lagi mengajari Islam karena menganggap Islam sudah bisa melakukannya sendiri tanpa diminta.
"Kita endak berwudhu kah?"
"Enggak usah deh," tolak Islam lalu berpaling.
"Loh? Pergi mi berwudhu!"
"Lain kali aja deh."
"Kalau endak berwudhu sholatnya tidak sah!!!" teriaknya.
Langkah kaki Islam yang berniat untuk menginjak anakan tangga yang kesekian kalinya langsung terhenti setelah mendengar hal itu.
Islam menoleh menatap Sarifuddin dengan mata terbelalak dan mulut yang menganga.
"Apa lo bilang?" tanya Islam.
"Apa?"
"Yang tadi lo bilang!"
"Yang mana?"
Islam mendecapkan bibirnya dengan kesal.
"Yang tadi kalau nggak berwudhu nggak apa?"
"Kalau endak berwudhu sholatnya tidak sah!!!" ulangnya.
"Wah brengsek lo," umpat Islam lalu menunjuk Sarifuddin dengan kesal.
Islam melangkah menuruni anakan tangga mendekati Sarifuddin dengan wajah seriusnya.
Sarifuddin menelan salivanya seakan takut menatap Islam yang mendekatinya. Sarifuddin bisa merasakan Islam yang mendekatinya seperti seorang pembunuh yang siap menikamnya.
"Lo bilang apa tadi?" tanya Islam dengan wajah kesalnya.
"Itu kalau endak berwudhu sholatnya tidak sah," jawabnya.
Islam menghela nafas panjang lalu tersenyum dengan kedua matanya yang ingin menangis.
"Jadi selama ini gue sholat subuh, dzuhur, azhar, maghrib, tarawih, witir bahkan gue ikut bareng lo sholat 24 rakaat tapi dengan santainya lo bilang sholat gue nggak sah?"
Sarifuddin mengangguk, semoga saja Islam tidak mematahkan lehernya setelah mengangguk seperti ini.
Wajah Islam mempias.
Islam menjambak rambutnya dengan kesal. Islam berjalan mondar-mandir tak jelas di hadapan Sarifuddin yang kepalanya bergerak ke arah mana Islam melangkah.
"Lo kenapa nggak ngasih tau gue, tolol?"
"Yah kita tidak bertanya sama saya," jawabnya dengan wajah polos.
Oh lihatlah wajah polos itu! Bagaimana bisa dia terlihat seperti tidak memiliki masalah.
"Kenapa?"
Islam yang meringis kesal itu langsung mengubah ekspresi wajah datarnya dan menatap Sarifuddin.
"Lo tanya kenapa?"
Sarifuddin mengangguk.
"Selama ini gue nggak wudhu," jawab Islam.
__ADS_1
"Kenapa tidak berwudhu?"
"Masih nanya lagi lo. Yah gue nggak tau kalau sholat itu nggak sah kalau nggak wudhu," jawabnya.
"Lah masa anak ustad seperti ini," ujar Sarifuddin.
Islam membulatkan matanya karena terkejut. Apakah pria berpeci miring ini sedang menghinanya?
"Maksud lo apaan?"
Sarifuddin terdiam. Apa ia salah bicara?
"Eh lo denger yah! Abi gue emang ustad tapi bukan ustad bagi gue, dia itu cuman ustad untuk semua orang di luar sana," jelasnya.
Islam menghela nafas lalu ia kembali duduk dan menyembunyikan wajahnya di atas kedua tangan yang memeluk lututnya.
Sarifuddin yang melihat hal itu langsung ikut duduk di samping Islam dan mengusap punggungnya.
"Udahlah jangan sedih! Ustad Akbar mungkin-"
"Ah apaan sih lo?" kesal Islam yang langsung menghempas tangan Sarifuddin.
"Biar kita itu tidak pikir tentang Ustad Akbar," jawabnya lalu kembali menggerakkan tangannya berniat untuk kembali mengusap punggung Islam.
"Heh!" Tahan Islam cepat sebelum telapak tangan Sarifuddin berhasil menyentuh punggungnya.
"Lo kenapa sih? Gue nggak lagi mikirin tentang Abi gue tapi gue mikirin tentang sholat gue yang nggak sah itu, sia-sia dong gue selama ini," jelas Islam.
Sarifuddin terdiam, ia juga merasa bersalah karena tak memberitahu Islam.
"Yah udah yuk!" ajak Islam yang kemudian bangkit dari duduknya lalu melangkah membuat Sarifuddin mendongak.
"Mau pergi dimana? Masjid ada di situ!" Tunjuk-nya ke arah belakang.
"Ajarin gue wudhu," jawab Islam.
Sarifuddin mengernyit heran lalu menggaruk dahinya.
"Katanya anak ustad terus cucu kiyai, Uminya Ustazah terus Umma Nur juga tapi kok tidak tau wudhu," ujarnya kebingungan.
"Iye tunggu!!!" teriak Sarifuddin yang kemudian bangkit dan berlari.
...***...
"Kerang airnya diputar dulu!"
Islam memutar kerang air membuat air itu mengalir deras.
"Undur sedikit!"
"Apa?" tanya Islam tak mengerti.
"Maksudnya itu air jangan terlalu deras!" Tinjunya membuat Islam mengangguk dan memperkecil laju air.
"Nah sekarang langsung ke muka?" tanya Islam sambil mengarahkan telapak tangannya ke wajahnya, Yap seingatnya dulu seperti itu.
"Eh, belum!"
"Yah terus apaan?"
"Yang pertama baca niat."
"Niat apa?"
"Niat makan," jawabnya membuat Islam menghela nafas.
"Lo jangan main-main sama gue lo!" Tunjuk-nya seperti mengancam.
"Ya kita itu yang main-main. Niat wudhu lah," jawabnya.
"Yah udah deh terserah. Niatnya apa? Gue udah lupa."
"Loh, kenapa bisa lupa?"
"Yah lupa lah. Gue terakhir wudhu itu yah waktu masih kecil. Ini gara-gara gue temenan sama orang yang nggak sholat nih makanya kayak gini."
__ADS_1
"Makanya kita itu harus hati-hati pilih teman."
Islam mendecapkan bibirnya, pria berpeci ini kembali menceramahinya.
"Nah niatnya itu,
^^^نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالٰى^^^
"Lo yang pelan-pelan dong! Nggak ngerti gue."
"Ih masa cucu kiyai tidak-"
"Lo ngungkit itu lagi, gue tonjok lo!" ancamnya sambil mengangkat tinjunya membuat Sarifuddin terdiam.
"Niat yang pakai bahasa Indonesia lah!"
"Oh iya, niatnya itu saya niat wudhu untuk mengangkat hadats kecil fardhu karena Allah Ta’aala," ujarnya sambil mengangkat kedua telapak tangannya.
Islam mengangguk lalu mengujarkan kalimat yang sama dengan pelan-pelan.
"Terus muka? Wajah gitu?" tanya Islam.
"Bukan. Membasuh telapak tangan sebanyak tiga kali, seperti ini," ujar Sarifuddin yang memberi contoh membuat Islam mengangguk.
"Terus wajah kan?"
"Belum, berkumur dulu tiga kali!"
Islam mengangguk sambil memasukkan air ke dalam mulutnya.
"Buang! Jangan diminum!"
Islam melirik tajam, sebodoh-bodohnya dia juga tidak akan menelan air yang belum dimasak itu.
"Sudah itu wajah?" tanya Islam.
"Heh ini eh, wajah terus," kesal Sarifuddin.
"Yang terus apa?"
"Membasuh lubang hidung sebanyak tiga kali sudah itu nah baru membasuh wajah mulai dari ujung kepala mengenai rambut hingga ke bawah dagu."
"Kayak gini?"
Sarifuddin mengangguk saat Islam melakukannya dengan benar.
"Membasuh tangan hingga mengenai siku! Tau siku kan?"
"Iya, lo pikir gue orang tolol?" kesal Islam lalu membasuh tangannya sampai ke siku.
"Mengusap kepala!"
"Mengusap kedua telinga!"
Islam mengangguk sambil mengikuti bagaimana cara yang dilakukan oleh Sarifuddin.
"Nah sudah itu kaki!"
"Udah?" tanya Islam ketika Sarifuddin memutar kerang air.
"Sudah itu berdoa setelah wudhu."
"Doa lagi?" tanya Islam.
"Kan tadi udah," protes Islam.
"Itu tadi doa sebelum wudhu kalau yang ini sesudah," jelasnya lalu mengangkat kedua belah tangannya dan berujar,
"Asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalahu. Wa asyhadu anna Muhammadan'abduhu wa rasuuluhu. Allahumma-j 'alnii minattawwaabiina waj 'alnii minal mutaththohiirina waj 'alnii min 'ibaadikashshaalihiin.”
"Panjang banget. Jangan panjang-panjang lah!"
"Yah memang seperti itu," jawabnya lalu ia terdiam beberapa saat hingga Sarifuddin melangkah pergi setelah mendengar suara azan membuat Islam menatap bingung.
"Din! Ini gimana gue doanya?!!" teriak Islam.
__ADS_1