
Hari-hari puasa ramadhan Islam lalu seperti biasanya dimana ia selalu ikut ke pasar bersama Umma dan Khadijah, tak ketinggalan juga Rahman yang juga selalu ikut.
Hari-hari itu pula Islam dan Rahman selalu beradu mulut bagaikan kucing dan tikus.
Hari-hari yang ia lalui juga dipergunakan Islam untuk ikut membantu memasak di dapur dan selalu memberikan gombalan kepada Khadijah yang sepertinya tak terpengaruh dan termakan rayuan ataupun gombalan dari Islam.
Islam tak mengerti mengapa hati Khadijah begitu sangat sulit untuk didapatkan. Apakah hati Khadijah terbuat dari batu sehingga sangat keras dan tak bisa luluh kan.
Khadijah tak sama seperti gadis-gadis lain. Jika biasanya yang Islam lihat adalah seorang gadis akan jatuh cinta kepadanya hanya sekedar melihat wajahnya tapi Khadijah berbeda.
Wajah tampan Islam seakan tak mempan untuk membuat Khadijah jatuh cinta kepadanya.
Islam menoleh ke kiri dan berusaha untuk mencari Khadijah di dalam ruangan dapur, tak ada dia di sana.
Kini batin Islam mulai menerka-nerka dimana Khadijah sekarang.
Islam berpaling berniat untuk keluar dari dapur tapi langkahnya terhenti mendapati Umma Nur yang kini berdiri di hadapannya sambil menatap bingung.
Jangan sampai Umma Nur mengira jika ia sedang mencari makanan di dapur.
"Mau kemana?" tanya Umma Nur.
"Emm nggak, Umma cuman jalan-jalan aja. Cari angin," jawabnya lalu tersenyum.
"Ada-ada saja kamu ini. Cari angin itu di bukit bukan di dapur."
Umma tertawa membuat Islam menggaruk belakang telinganya yang tak gatal. Seketika ia sadar jika alasannya itu lumayan bodoh. Benar juga, mana ada cari angin di dapur.
Seperti kucing saja.
Islam melangkah keluar dari dapur setelah ia berpamitan dengan Umma Nur.
...***...
Islam melangkah keluar dari pintu ruangan Abah Habib setelah Islam menghabiskan waktunya untuk menelpon Umi-nya walau waktu yang diberikan tidaklah banyak tapi setidaknya Islam tau jika Umi baik-baik saja di sana.
Bagaimana dengan kabar Kristian, Abirama dan Ali? Jangan mencari mereka! Menelpon saja mereka tidak pernah, bagaimana bisa Islam tau kabar mereka.
Enak sekali mereka bisa bebas tanpa cengkraman peraturan pondok pesantren.
"Islam!"
Langkah Islam terhenti ketika ia mendengar namanya dipanggil oleh seseorang membuat Islam menoleh mendapati Rahman yang terlihat bersandar di tiang sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.
Sepertinya ia sudah menunggu sejak tadi.
"Ngapain lo panggil gue?" tanya Islam.
Rahman melangkah mendekati Islam yang terlihat tajam menatapnya. Tatapannya seperti menatap musuh saja.
"Ana mau tanya sama antum," ujarnya.
"Tanya apaan sih?"
Rahman menarik nafasnya panjang.
"Beberapa hari ini ana perhatikan sepertinya ana menyimpan perasaan kepada Khadijah."
__ADS_1
"Maksud lo apaan sih? Kalau ngomong langsung ke inti! Gue puasa, capek kalau harus kebanyakan mikir," jelasnya dengan wajah malas.
Rahman tertawa.
"Antum suka kan sama Khadijah?"
Islam tersenyum lalu tertawa kecil.
"Iya, emang gue suka. Kenapa?"
"Sebaiknya antum tidak usah mendekati Khadijah lagi karena ana lah yang lebih dulu mengenal Khadijah."
Sudut bibir Islam terangkat setelah mendengar penjelasan Rahman.
"Gini aja deh, sekarang yang terpenting adalah bukan siapa orang pertama yang Khadijah kenal tapi siapa orang pertama yang Khadijah cintai."
Rahman terdiam.
"Nanti kita liat siapa yang akan dipilih oleh Khadijah, gue atau lo?"
Islam mengangkat sebelah alisnya lalu tersenyum dan ia melangkah meninggalkan Rahman yang terlihat bergetar karena marah.
"Sombong juga pria ini," pikir Rahman.
...***...
Islam melangkah menaiki bukit, tempat dimana ia pernah menangis di sana. Langkah Islam terhenti lalu ia berlari dan bersembunyi di balik pohon besar setelah melihat Khadijah yang terlihat berdiri di atas bangku sambil menatap ke arah pegunungan.
"Umiiiiiii!!! Khadijah rinduuuu!!!" jerit Khadijah.
Islam tersenyum menatap Khadijah, Khadijah seperti anak kecil.
Khadijah menghela nafas panjang lalu ia duduk di bangku lalu...
"Aaaa!!! Astagfirullah!!!" teriaknya ketika ia berhasil menatap Islam yang menopang dagu dan duduk di bangku yang ada bagian sana.
"Apa yang akhi Islam lakukan di sini?"
Islam tertawa. Islam bisa melihat rasa ketakutan dan kesal dari sorot mata Khadijah.
"Apa yang lucu?" tanya Khadijah yang kini menatap ke arah penggunungan.
"Kamu."
"Tidak, ana tidak lucu."
Islam tersenyum. Sejujurnya ia ingin tertawa lagi tapi ia tak mau Khadijah kesal dan pergi meninggalkannya.
"Kenapa kamu tidak pernah mau menatap saya?" tanya Islam dengan nada suaranya yang kali ini benar-benar serius.
Kini suasana menjadi ikut serius membuat Khadijah meremas jari-jari tangannya.
"Kenapa?" tanya Islam.
"Karena akhi Islam bukanlah mahram bagi Khadijah."
"Kalau begitu jadikan saya mahram bagimu," ujar Islam.
__ADS_1
Dek
Seketika jantung Khadijah berdetak dengan cepat karena terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Islam.
"Jika saja akhi Islam tau yang sebenarnya maka mungkin akhi Islam akan menjauhi Khadijah," ujar Khadijah lalu ia bangkit dan melangkah.
"Apa kamu lebih memilih Rahman dibandingkan saya?" tanya Islam yang berhasil membuat langkah Khadijah terhenti.
Islam bangkit dari duduknya dan menoleh menatap Khadijah yang masih membelakanginya.
"Khadijah tidak memilih siapa-siapa."
"Lalu kenapa kamu membuatku jatuh cinta?"
"Itu bukan cinta, itu hanya sebuah rasa penasaran terhadap akhi Islam terhadap Khadijah."
Khadijah kembali melangkah.
"Apa menurutmu Rahman lebih tanpa daripada saya?" tanya Islam.
Lagi dan lagi langkah Khadijah kembali terhenti.
"Akhi Rahman adalah pria yang biasa-biasa saja tapi setidaknya dia tidak memakai anting di telinga dan di lidah."
Mendengar hal itu membuat Islam dengan cepat merabah anting yang ada di telinganya. Apa Khadijah menyinggungnya?
"Saya bisa melepasnya."
Khadijah menoleh menghadap ke arah Islam walau tatapannya menunduk.
"Ana mencari pria yang paham agama, pria yang bisa menjadi imam untuk Khadijah dan imam untuk pondok pesantren."
Seketika wajah Islam berubah menjadi murung, kriteria itu seakan menggambarkan sosok Rahman.
"Apa kamu sedang menyebutkan keahlian Rahman?"
Khadijah menggeleng pelan.
"Ana tidak bilang seperti itu."
Islam tersenyum lalu mengangguk.
"Kamu mau saya jadi Imam masjid?" tanya Islam.
"Jika akhi Islam bisa."
"Saya bisa."
Khadijah berpaling lalu melangkah.
"Kamu tunggu saja! Tidak lama lagi saya yang akan menjadi imam masjid!!!" teriak Islam.
Khadijah tetap melangkah, ia bisa mendengar suara teriakan Islam.
"Jika kamu mendengar namamu disebut oleh imam yang memimpin sholat isya maka percayalah itu adalah Islam!!!" teriak Islam.
Khadijah tersenyum di balik cadarnya lalu ia berlari menjauhi Islam setelah mendengar teriakan itu.
__ADS_1
Islam tersenyum menatap Khadijah yang telah menjauhinya.
Islam menoleh menatap ke arah pegunungan dan tersenyum setelah memejamkan kedua mata sambil merentangkan kedua tangannya.