
Islam bangkit dari kasurnya dengan rasa malas setelah menghabiskan waktunya untuk tidur setelah ia melepaskan antingnya.
Islam menguap lalu berjalan menuju balkon membuat kedua mata yang masih mengantuk itu menyipit berusaha untuk melihat lebih jelas apa yang ada di bawah sana.
Di sana dengan jelas Rahman terlihat sedang berbicara panjang lebar di hadapan Khadijah yang hanya bisa menunduk dan kepalanya yang terlihat beberapa kali bergerak, sepertinya ia juga berbicara.
Islam mendecapkan bibirnya. Bagaimana bisa ia yang baru bangun itu harus melihat pemandangan yang tidak mengenakkan seperti ini.
Islam tak boleh tinggal diam! Disaat ia bersantai dengan tidur nyenyak ternyata Rahman malah berjuang untuk mendekati Khadijah, ini tidak boleh dibiarkan.
"Ustad Rahman semakin hari semakin mendekati Khadijah," bisik Sarifuddin seperti hantu yang berjalan di belakang Islam yang masih menatap Rahman dan Khadijah dengan tatapan tak suka.
"Ustad Rahman itu pintar mengaji, pintar bahasa Arab, hapal Al-Qur'an 30 juz, imam masjid di pesantren dan-"
"Lo ngomong lagi gue tonjok lo yah!" ancam Islam yang tak menoleh.
"Ini kalimat motivasi."
"Motivasi apaan kayak gitu? Yang ada lo itu buat gue jadi down tau nggak."
"Down?" tanyanya tak mengerti.
"Apa itu down?" sambungnya.
"Ah pusing gue ngomong sama lo," kesal Islam lalu melangkah pergi meninggalkan Sarifuddin yang kini masih terdiam heran.
...*****...
"Inn sya Allah nanti ana akan bangun tempat anak-anak belajar mengaji di luar pondok pesantren jadi anak-anak yang tidak menempuh pendidikan di sekolah agama juga bisa belajar mengaji dengan gratis."
Khadijah mengangguk, ia masih tertunduk.
"Nanti Inn sya Allah, ukhti Khadijah yang akan mengajari anak-anak perempuan," sambungnya.
"Khadijah mau kan?" tanya Rahman.
"Khadih-"
"Widih kayaknya ada sibuk ngobrol nih," potong Islam yang membuat ujaran Khadijah terhenti.
Rahman dan Khadijah langsung menoleh menatap Islam yang kini tersenyum sok imut dan berdiri di tengah-tengah antara ia Khadijah dan Rahman.
Rahman menghela nafas malas, Islam kembali datang dan merusak momen antara ia dan Khadijah.
"Lagi ngomongin apaan sih? Hem?"
"Lagian nih yah nggak baik kalau ngomong berduaan gini," sambungnya sambil menoleh menatap Rahman dengan sorot mata tajamnya dan menoleh ke arah Khadijah membuat Islam mengedipkan sebelah matanya membuat Khadijah tersenyum di balik cadarnya.
"Iya kan?"
"Siapa yang bicara berdua? Ana dan ukhti Khadijah tidak bicara berdua tapi ada banyak santri di sana dan lewat di sekitar sini," jelas Rahman yang tak terima.
"Ah sama aja, kan lo juga ngomongnya sama Khadijah bukan sama yang lain."
"Kalau lo mau, sekalian aja tuh lo kumpulin semua santri terus lo ngobrol, itu namanya baru bukan ngobrolnya bukan berdua," jelasnya lagi.
"Loh maksud antum ini bagaimana? Ana kan cuman mau bicara dengan Ukhti Khadijah saja bukan sama para santri," ujar Rahman yang tak mau kalah.
"Nah itu berarti lo yang berusaha ngedeketin Khadijah."
"Saya hanya ingin bicara saja, hanya itu."
"Ah sotoy lu. Heh Lagian kalau perempuan sama laki-laki berduaan itu yang ketiga setan," ujar Islam yang mengucapkan kata setan mengarahkan mulutnya ke arah Rahman yang dengan cepat memundurkan wajahnya.
__ADS_1
Maksud dan tujuan Islam adalah untuk memberitahu Rahman jika dia seperti setan.
Yah Islam tau hal itu dari Sarifuddin yang sudah membertaunya beberapa hari yang lalu. Ada juga manfaatnya Islam banyak bertanya.
"Iya setan, antum setannya!" ujar Rahman sambil menunjuk Islam.
Kedua mata Islam membulat, berani juga pria ini.
"Wah macam-macam lo sama gue." Islam tertawa seperti penjahat lalu mendorong dada Rahman yang langsung melangkah mundur.
"Astagfirullah, heh antum!!!" teriak Rahman yang terkejut karena dorongan itu.
"Sudah-sudah!" tahan Khadijah.
Islam dan Rahman dengan kompak saling menoleh menatap Khadijah.
"Akhi Islam dan akhi Rahman tidak boleh bertengkar! Ini kan bulan ramadhan. Seharusnya di bulan puasa ini kita harus memperbanyak kebaikan, bukan keburukan," jelasnya dengan nada lemah lembut.
"Ah betul tuh. Kita harus berbuat baik dan sabar, iya kan Khadijah?" ujar Islam lalu tersenyum menatap Khadijah walau Khadijah tak pernah menatap mereka.
"Iya," jawab Khadijah.
Islam tersenyum lebar, wah sejujurnya kalimat ini selalu ia dengar saat Sarifuddin berusaha untuk menceramahinya.
"Ah jangan percaya ukhti! Dia hanya sok baik," ujar Rahman membuat senyum Islam lenyap dan melirik sinis.
"Eh itu namanya cari muka!"
"Iya itu antum yang berusaha cari muka," ujar Rahman.
"Heh, enak aja lo. Nih muka gue nih udah ada, ganteng lagi." Tunjuk Islam ke arah wajahnya.
"Ganteng dari mana?"
"Loh ukhi Khadijah!" ujar Rahman yang menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk mencari sosok Khadijah.
"Yah dah pergi," ujar Islam yang berhasil melihat Khadijah yang sudah jauh.
"Ukhti!" panggil Rahman lalu melangkah membuat Islam dengan cepat menarik surban yang digunakan Rahman.
"Eits! Mau kemana lo?" tanya Islam.
Langkah Rahman terhenti. Lidahnya keluar dari mulutnya ketika ia merasakan jika surban itu mencekik lehernya.
"Ah antum mau bunuh ana yah?" tanya Rahman yang setelah melepas surban itu dari lehernya.
"Emang iya kenapa?"
Kedua mata Rahman membulat, sadis juga cucu Abah Habib ini.
"Wah istigfar ente! Dosa!"
"Ah pokoknya lo nggak boleh ngejar Khadijah!"
"Memangnya kenapa?"
"Banyak nanya banget sih lo? Kalau gue ngomong nggak boleh yah nggak boleh!" Tunjuk-nya dengan nada mengancam.
"Loh memangnya antum ini siapa?"
"Ah bacot lo," ujar Islam lalu melangkah pergi meninggalkan Rahman yang terdiam kebingungan.
"Heh antum! Bacot itu apa?"
__ADS_1
Islam menghentikan langkahnya lalu menoleh.
"Bacot, banyak cocot!!!" teriak Islam.
Rahman mengernyit heran.
"Apa itu cocot?"
...***...
Islam tersenyum ketika ia memasuki ruangan dapur menatap ibu-ibu berhijab yang sedang tersenyum saat Islam masuk.
"Sini bantu Ibu!" ajak salah satu Ibu berhijab kuning yang sedang mengupas wortel.
"Sudah sama Ibu aja!" ajak yang satu lagi.
"Widih kayaknya tenaga Islam lagi dibutuhin nih atau rindu yah sama Islam?" goda Islam yang kemudian duduk di atas meja dapur sambil mengedipkan mata pada Nenek Una yang langsung tersipu malu dan memukul lengan Islam membuat Islam tertawa.
Umma Nur yang melihat hal itu langsung tertawa saat melihat kedekatan Islam dengan ibu-ibu pemasak pondok pesantren.
Yap semenjak Islam di sini, Islam selalu membuat semuanya tertawa dan membuat suasana yang biasanya hening menjadi lebih berwana.
"Yee malu," goda Islam yang mencubit pelan lengan keriput Nenek Una.
Nenek itu tersenyum malu lalu tertawa membuat gusi tanpa giginya itu terlihat.
Islam melirik Khadijah yang terlihat sibuk memotong kangkung yang tak jauh dari Khadijah. Khadijah sesekali mencuri pandang menatap Islam membuat kedua mata mereka bertemu pandang.
"Mau menikah sama Islam?" tanya Islam yang menopang dagunya ke arah Nenek Una sementara matanya melirik Khadijah.
Khadijah mengalihkan tatapannya membuat Islam tersenyum.
"Saya nggak pakai anting lagi loh," ujar Islam.
Umma Nur melangkah mendekati Islam dan menatapnya dengan serius.
"Coba lihat!"
Umma Nur menyentuh dagu Islam membuat wajah Islam berada di depan wajah Umma Nur.
"Oh iya antingnya sudah tidak ada."
"Iya Umma, Islam lepas."
Khadijah yang mendengar hal itu langsung melirik menatap telinga Islam yang tak beranting lagi.
"Kenapa?"
"Soalnya calon istri saya nggak suka saya pakai anting," jawab Islam lalu melirik Khadijah yang dengan cepat menatap ke arah lain.
"Wah, calon istri?" tanya Umma Nur.
Islam mengangguk.
"Siapa?"
Islam kembali melirik Khadijah yang berdiri di samping Nenek Una.
"Dia ada adalah..." Islam berjalan mendekati Khadijah membuat semua orang terdiam.
Khadijah menarik nafas panjang dengan rasa gugup. Semoga saja Islam tidak menyebut namanya.
"Nenek Una, hahaha," ujar Islam lalu menyentuh dagu keriput Nenek Una itu yang kemudian tertawa.
__ADS_1
Khadijah bernafas lega sementara yang lain sibuk tertawa.