Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
22. Hukuman


__ADS_3

"Air? Untuk apa pak Haji?"


"Ambilkan saja!" Pintanya membuat Syuaib mengangguk cepat lalu melangkah pergi.


Abah Habib melirik Akbir yang mengangguk disaat Abah Habib memberikan kode agar Akbir menyuruh semua para santri untuk pergi dari masjid.


"Anak-anak sekarang kalian semua boleh bubar dan ingat tugas kalian apa sebelum masuk kelas," ujar Akbir membuat para santri menyahut dan melangkah pergi dari masjid.


Kini di dalam masjid ber-AC ini tersisa Abah Habib, Akbir, Fidaus dan Rahman. Tak ada lagi selain mereka.


"Apa dia Islam?" bisik Rahman.


"Iya," jawab Firdaus yang juga berbisik.


"Apa ini benar? Salah satu dari mereka anak dari Akhw alam Akbar dan cucu dari pak haji kiyai?" bisik Rahman tak percaya.


"Hust! Hentikan!" tegur Firdaus sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


Abah Habib menghembuskan nafas panjang, setelah ia melirik secara diam-diam ke arah samping dimana Firdaus dan Rahman saling berbisik. Abah Habib tau apa yang Rahman pikirkan saat pertama kali melihat Islam dan ketiga sahabatnya itu.


"Ini Pak Haji Kiyai," ujar Syuaib yang kini meletakkan seember air bersih ke lantai tepat di samping Abah Habib.


Abah Habib meraih gayung berisi air itu membuat Akbir terbelalak begitupula dengan Firdaus dan Rahman sementara Syuaib terlihat tersenyum.


"Abah! Abah ingin ap-"


Syurrr


Belum sempat Akbir menyelesaikan ujarannya air dari gayung itu mengguyur habis tubuh badan Islam, Kristian, Abirama dan Ali yang seketika terperanjat dari lantai dengan tubuh basah.


"Banjir!!!" teriak Ali yang dengan cepat berdiri tegak.


Islam bangkit sambil mengusap wajahnya yang basah itu hingga ia berhasil menatap Abah Habib yang sedang memegang gayung.


"Apa yang-"


Islam menoleh menatap Kristian, Abirama dan Ali yang juga terlihat basah. Islam menoleh, ia kembali menatap Abah Habib yang terlihat terdiam.


"Lo nyiram gue?" tanya Islam dengan suara beratnya.


"Tidak, ini hanya hukuman untuk santri yang berani tidak ikut sholat subuh dan memilih untuk tidur di dalam masjid."


Islam tersenyum sinis membuat sudut bibirnya terangkat. Apakah ada hukuman yang seperti ini.


"Katanya lo itu kiyai, orang yang paling dikagumi di pesantren tapi bisa-bisanya lo malah nyiram gue."


"Lo kalau cuman mau memperlakukan gue kayak gini mending lo nggak usah ngajak gue buat masuk ke pesantren karena sampai kapan pun gue nggak akan berubah!" Tunjuk Islam.

__ADS_1


"Tolong jaga bicara anda!" ujar Rahman sambil mendorong jari telunjuk Islam membuat Islam melirik, ia tak pernah melihat pria ini.


"Heh lo siapa lo!!!" teriak Ali yang dengan cepat mendorong dada Rahman membuat Rahman terhempas ke lantai.


Kedua mata Firdaus terbelalak menatap putra yang berada di lantai. Firdaus dengan cepat berlutut dan membantu Rahman bangkit.


"Kamu benar-benar-"


"Apa nggak suka?!!" teriak Ali yang suaranya menggelar di dalam masjid.


"Kamu-"


"Hentikan!" pintah Abah Habib membuat Firdaus yang ingin ikut berteriak itu mengurungkan niatnya.


"Maafkan cucu Abah," ujar Abah Habib yang menatap Firdaus dan Rahman secara bergantian.


Firdaus menghembuskan nafas panjang lalu ia mengangguk walau sejujurnya ia tak terima atas perilaku kasar Ali dan juga Islam. Abah Habib melangkah pergi disusul Syuaib yang tersenyum sambil membawa lari ember berisi air itu.


"Ayo Rahman!" panggil Firdaus lalu melangkah pergi meninggalkan Rahman yang kini menatap empat pria berpenampilan preman yang masih menatapnya.


"Apa lo?!!" teriak Ali membuat Rahman tersentak kaget membuatnya segera berlari meninggalkan mereka semua.


"Dasar lembek lo!!!" teriak Islam.


Islam mengusap jaket hitamnya yang masih basah hingga Islam menoleh dan menyadari jika Akbir, paman dari Islam masih ada di hadapannya. Akbar terlihat menatap Islam dengan penuh keseriusan.


Akbir terdiam, tak ada jawaban.


"Lo juga marah? Lo juga mau marahin gue karena udah tidur di masjid, nggak ikut sholat subuh atau karena sahabat gue udah ngedorong temen lo tadi?"


Akbir perlahan menunduk sambil tersenyum lalu ia kembali mengangkat dagunya menatap wajah Islam yang kebingungan.


"Saya bangga sama kamu," ujar Akbir membuat Islam terheran.


Islam tersenyum sinis.


"Lo banggain apa dari gue? Bokap gue aja nggak bangga sama gue terus kenapa lo bisa bangga?" tanya Islam.


"Saya melihat sesuatu yang spesial dari diri kamu," ujar Akbir.


Mendengar hal itu membuat Islam tertawa cekikikan memancing ketiga sahabatnya itu untuk ikut tertawa.


"Nggak usah sok baik sama gue," ujar Islam dengan wajah dan nada suaranya yang menjadi serius.


"Sampai kapanpun gue nggak akan betah tinggal di sini," ujar Islam lalu melangkah pergi bersama dengan Kristian, Abirama dan Ali.


"Islam!" panggil Akbir membuat langkah Islam berhenti.

__ADS_1


"Akbar tidak melihat kebaikan dari dirimu tapi dia terus melihat keburukan kamu sehingga yang baik ia lupakan," ujar Akbir yang agak meninggikan nada suaranya agar Islam mendengar ujarannya.


Tak berselang lama Islam kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Akbir yang masih tersenyum di belakang sana.


"Sampai jumpa di kelas!!!" teriak Akbir.


...***...


Sarifuddin meletakkan empat baju koko berwarna putih berserta sarung hitam dan peci putih di atas kasur miliknya sementara Islam, Kristian, Abirama dan Ali kini duduk di pinggir ranjang milik Abirama sembari menatap Sarifuddin.


"Nah ini baju untuk kita semua," ujar Sarifuddin.


"Buat apa, emang kita mau kamana?" tanya Kristian.


"Kata pak haji kiyai kita semua ini disuruh masuk kelas terus ikut belajar sama saya dan sama-sama santri yang lain," jelasnya.


"Hah? Masuk kelas?" tanya Abirama, "Ikut belajar maksudnya?"


"Iye," jawab Sarifuddin sambil tersenyum ciri khasnya yaitu senyum lebar dengan gigi putih serta pecinya yang terlihat miring ke kanan.


"Jadi baju ini dari si tua itu?" tanya Islam.


"Siapa yang tua?" tanya Sarifuddin tak mengerti. "Saya tua?" tanyanya lagi sambil menunjuk hidungnya.


Ali mendecapkan bibirnya dengan kesal.


"Eh anjirt, maksud si Islam yang tua itu pak haji kiyai lu! Ngerti nggak lo?" jelasnya.


"Oh, hehehe begitu maksudnya..." Sarifuddin tertawa cengengesan sambil menutup bibirnya.


"Iye, ini dari pak haji kiyai, beliau yang suruh tadi," sambung Sarifuddin.


Islam bangkit dari duduknya membuat keempat sahabatnya itu mendongak.


"Heh!!! Lo kasi tau si tua itu kalau gue sama sahabat gue nggak mau masuk kelas!" ujar Islam sambil menunjuk.


"Loh jangan mi seperti itu! Ayo lah kerja sama sama saya kodong"


"Kodong?" tanya Abirama tak mengerti.


"Lo ngatain gue?!!" bentak Ali dengan kedua mata melototnya.


"Astagfirullah, tidak! Kodong itu dalam bahasa Bugis kasian," jelasnya dengan wajah panik.


"Ooooooh!!!" ujar semuanya dengan kompak.


"Jadi kita semua ini mau masuk kelas dan ikut belajar to?" tanya Sarifuddin sementara Islam, Kristian, Abirama dan Ali kini terdiam sambil saling bertatapan.

__ADS_1


Bersambung ........


__ADS_2