
Islam meletakkan sapu lidi yang telah ia gunakan untuk menyapu itu di bangku panjang di siring lapangan.
Pagi ini ada kerja bakti untuk membersihkan area sekitar pondok pesantren. Islam tak mengerti mengapa pengurus pondok pesantren tetap mewajibkan para santri membersihkan padahal ini adalah bulan puasa.
Islam menoleh saat ia yang sedang memungut sampah itu mendengar beberapa santri yang saling berbisik dan membicarakan tentang Sarifuddin yang kelopak matanya agak bengkak.
Jika saja ini bukan area pesantren mungkin Sarifuddin akan diduga menangis karena putus cinta tapi ini area pesantren jadi mungkin saja dia menangis karena Allah.
"Islam!" panggil Syuaib membuat Islam menoleh menatap Syuaib yang melangkah mendekatinya.
"Kenapa? Ada telpon dari Umi?" tanya Islam, yah biasanya itu yang disampaikan oleh Syuaib kepadanya.
"Bukan."
"Lah terus?"
"Ada yang mau ketemu," jawabnya.
Sarifuddin melangkah mendekati Islam dengan tatapannya yang menatap Syuaib dengan serius.
"Siapa?" tanya Sarifuddin yang ikut penasaran.
"Sahabat gue?" tanya Islam.
"Bukan," jawabnya.
Islam dan Sarifuddin saling bertatapan dengan rasa bingungnya.
"Siapa sih?" tanya Islam.
Syuaib menoleh menatap para santri yang sedang menatapnya. Apakah ia memberahu hal ini kepada Islam sementara ada banyak orang di sini?
"Ke ruangan Pak haji kiyai saja! Nanti juga tau," ujarnya.
"Nanti aja lah, gue belum selesai nyapu."
"Tapi Pak haji kiyai maunya sekarang," ujarnya.
Islam mendecapkan bibirnya lalu melirik Sarifuddin yang mengangguk.
"Ya udah deh," putusnya lalu melangkah pergi disusul Syuaib yang berlari di belakangnya.
Islam mengernyit heran saat ia menatap banyak sendal di depan ruangan Abah Habib, sepertinya ada banyak orang di dalam sana.
"Ini Pak Haji kiyai si Islam," ujar Syuaib yang lebih dulu masuk ke dalam ruangan.
"Assalamu'alaikum," ujar Islam yang melangkah masuk ke dalam ruangan.
Semuanya membalas salam dan tersenyum menatap kehadiran Islam.
Islam duduk di sofa saat ia dipersilakan duduk oleh Umma Nur dan mengelus pipinya dengan lemah lembut.
Islam bisa melihat di dalam ruangan ini ada Abah Habib, Akbar, Akbir, Syuaib, ustazah Fitri dan Nenek Una. Tunggu! Nenek Una?
Islam mengernyit heran menatap Nenek Una, wanita tua yang selalu ia bantu membawa belanjaanya pulang ke rumah.
Apa yang ia lakukan di sini?
Apa ia ingin marah karena hari ini ia tak ke pasar untuk membantunya membawa belanjaan? Ah masa seberlebihan itu sampai harus ke sini?
"Islam!" panggil Umma Nur membuat Islam menoleh.
"Kenal Nenek Una kan?" tanya Umma Nur membuat Islam menoleh menatap Nenek Una yang terlihat tersenyum.
__ADS_1
"Iya, Umma," jawab Islam lalu tersenyum kaku.
Ada apa sebenarnya ini?
"Islam, berapa umur antum sekarang, Nak?" tanya Abah Habib.
Oh Tuhan, kenapa harus menanyakan tentang umur? Mau merayakan ulang tahun?
"22 tahun, Abah," jawab Islam sambil meremas jari-jari tangannya yang berkeringat dingin itu.
Entah merasa jika dirinya seakan sedang diintrogasi oleh mereka semua ini. Rasanya takut jika berada di dalam keadaan seperti ini.
"Wah, sudah bisa," jawab Akbir lalu tersenyum.
Islam melirik ke kiri dan kanan menatap semua orang yang terlihat tertawa. Harus apa Islam sekarang? Ikut tertawa? Bahkan tersenyumpun ragu rasanya.
"Sebelum lebih jauh mungkin ana persilahkan untuk Nenek Una yang bicara dulu maksud dan tujuan. Yah kita kan sudah tau tapi Islam belum tau, mungkin bisa langsung dijelaskan sama Islam," jelas Akbar.
Seketika Islam menelan salivanya. Ada apa ini?
Nenek Una tersenyum malu-malu lalu mengangguk seakan setuju untuk bicara.
"Begini, Nak Islam, Nenek merasa sangat suka sekali dengan Islam karena Islam yang anaknya baik dan peramah."
Nenek Una tertawa sementara wajah Islam mulai terlihat mempias. Sejak tadi batinnya menebak tiada henti.
"Sebelumnya Nenek mau tanya, Islam sudah punya pacar?"
Mampus kamu Islam, mampus!
"Pa-pa-pacar?" tanya Islam.
Nenek Una tersenyum lalu mengangguk membuat Islam ikut tersenyum kaku lalu menatap orang-orang yang ada disekitarnya yang terlihat sedang menatap serius ke arah Islam.
Mau jawab apa?
Hah?
Mau jawab apa sekarang?
Tak mungkin Islam menjawab 'Iya, pacar saya ada banyak.' Bodoh!
"Tidak ada," jawab Islam membuat semuanya tersenyum lepas.
"Begini, Nak em kalau memang tidak ada Nenek berniat untuk menjodohkan Islam dengan cucu Nenek."
Senyum Islam seketika hilang dari bibirnya setelah mendengar hal itu.
Dijodohkan?
Islam bahkan tak pernah membayangkan hal itu selama ia hidup di dunia ini.
"A-apa?" tanya Islam yang tak percaya.
"Iya, Nak. Nenek Una ingin kamu dijodohkan dengan cucu dari Nenek Una," jelas Akbar.
What?!!
Yang benar saja?
"Tapi kenapa harus sa-saya?" tanya Islam sambil menyentuh dadanya, kali ini wajahnya benar-benar serius.
"Yah seperti yang Nenek bilang kalau Nenek sangat suka dengan Islam karena Islam ini baik..."
__ADS_1
"Tolol!" batin Islam.
Memang ini kebiasaan Islam yang selalu baik kepada wanita tua.
Islam hanya ingin dapat buah mangga yang ada di depan rumah Nenek Una setelah membantunya membawa belanjaan, hanya itu bukan dijodohkan.
Jika saja ia tau akan dijodohkan karena kebaikannya lalu apa? Tak mungkin Islam mencekik leher Nenek Una agar dia tau kalau Islam adalah anak jahat.
"Islam!" panggil Umma Nur sambil menepuk bahu Islam yang sejak tadi melamun.
"Iya Umma?" tanya Islam.
"Itu Nenek Una tanya, kamu mau tidak?"
"Mau apa?" tanya Islam.
Semuanya tertawa.
"Kamu mau kan dijodohkan sama cucu saya?" tanya Nenek Una.
Apa yang harus ia jawab sekarang? Islam tidak mau dijodohkan karena ia hanya ingin bersama dengan Khadijah.
Jika saja yang dijodohkan kepadanya adalah Khadijah mungkin Islam akan berteriak untuk menyentujui perjodohan ini, tapi ini apa?
Islam bahkan tak mengenal dan tak pernah melihat cucu Nenek Una itu.
"Mau tidak?" tanya Nenek Una.
"Tapi-"
"Nah itu cucuku," ujar Nenek Una sambil menunjuk ke arah pintu.
Islam dengan cepat menoleh menatap seorang gadis berhijab pink yang memberi salam dan duduk di samping Nenek Una.
Islam mengernyitkan dahinya, ia ingin melihat wajah gadis itu yang terlihat sedang tertunduk.
"Nah ini cucuku namanya Katrin," ujar Nenek Una sambil merangkul bahu gadis berhijab itu.
Islam terdiam sejenak, ia tak asing lagi dengan nama itu. Rasanya ia pernah mendengar nama itu tapi ia lupa dimana.
"Katrin itu Islam." Tunjuk-nya.
Gadis itu tersenyum tipis lalu mengangkat dagunya menatap ke arah Islam.
Kedua mata Gadis itu terbelalak kaget menatap Islam yang juga ikut terbelalak.
"Cantik sekali," puji Umma Nur.
Kedua bibir Islam ikut terbuka, ia menunjuk gadis itu dan berusaha untuk mengingatnya dengan keras. Islam pernah melihat gadis ini.
Gadis berhijab itu ikut menunjuk Islam seakan tak menyangka jika ia akan bertemu dengan Islam di tempat ini.
"Lo-" ujar mereka dengan kompak dan masih saling menunjuk.
Semua orang yang awalnya tersenyum langsung kebingungan, apa mereka saling kenal?
Islam menganga saat ia berhasil mengingat gadis berhijab ini. Dia adalah gadis yang selalu menggeliat di lengan tangannya sambil mengemis cinta dari Islam.
Dia Katrin!
"Lo kan yang-" ujaran Islam terhenti saat Katrin itu dengan cepat menariknya dan membawanya keluar dari ruangan Abah Habib.
Semua orang menoleh dan terdiam dengan wajah kebingungan. Apa yang terjadi dengan mereka?
__ADS_1