Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
29. Puasa Pertama


__ADS_3

Islam menguap lebar sambil merentangkan kedua tangannya ke atas menikmati pemandangan dari atas balkon. Di bawah sana terlihat beberapa santri yang sedang berkeliaran sambil memegang sapu, sepertinya mereka sedang membersihkan area pondok pesantren. Islam tak mengerti mengapa mereka semua seakan tak mengantuk. Setelah sholat subuh mereka semua tidak tidur lagi dan langsung duduk di depan Al-qur'annya sementara itu....


Islam menoleh menatap Kristian, Abirama dan Ali yang masih tidur di atas tempat tidurnya. Islam menghela nafas panjang lalu melangkah masuk ke dalam ruangan kamar lalu duduk di pinggir kasur. Islam untuk sejenak terdiam, apa yang Mawar sedang lakukan sekarang? Apakah ia baik-baik saja?


"Ngerokok yuk!" ajak Ali yang ternyata sudah terbangun dari tidurnya.


"Emang boleh?" tanya Abirama yang masih setengah sadar.


"Noh tanya sama ahlinya!" pinta Abirama setelah melihat Sarifuddin membuka pintu kamar.


"Ada apa?"


Sarifuddin melangkah mendekati lemarinya lalu melepas baju kokonya.


"Katanya kalau kita ngerokok puasa batal atau nggak?" tanya Abirama.


"Batal," jawabnya singkat.


"Loh tapi kan rokoknya nggak dimakan, masa batal?" bantahnya tak terima.


"Tapi rokoknya masuk dalam mulut kan?"


Ali terdiam, pikirannya kini mengingat pada sebatang rokok.


"Iya," jawabnya singkat dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Asapnya kita hirup atau tidak?"


Ali terdiam lagi lalu menjawab, "Iya."


"Nah itu jawabannya."


Ali mengerutkan alisnya lalu menatap ke arah Islam yang kini menggeleng tidak mengerti.


"Tapi kan nggak dimakan," bantahnya lagi tak terima.


Sarifuddin menghela nafas panjang, ia terdiam menatap Ali yang kini masih tak terima dengan pendapatnya.


"Kalau mau lebih jelasnya lagi, bisa langsung tanya ke pak haji kiyai!" sarannya.


"Yah itu mah namanya cari masalah," ujar Ali lalu membaringkan tubuhnya ke kasur.


Islam yang sejak tadi terdiam itu kini bangkit dari kasurnya lalu ia melangkah mendekati Kristian yang masih tertidur.


"Kristian!" panggilnya.


"Emm," sahutnya.


"Tas lo mana?" tanya Islam.


"Itu di bawah!" Tunjuk-nya dengan mata yang masih tertutup.


Islam menunduk menatap tas hitam yang ada dilantai tak jauh dari lemari. Islam tak mengerti mengapa Kristian tak meletakkan bajunya ke dalam lemari dan membiarkan bajunya itu masih berada di dalam tas. Islam membuka tas ransel milik Kristian dan meraih sebungkus rokok lalu ia bangkit dan melangkah.

__ADS_1


"Mau kemana lo?" tanya Ali yang dengan cepat bangkit dari kasurnya.


"Ngerokok," jawabnya dengan santai lalu melangkah keluar.


"Tunggu!!! Gue ikut!!!" teriak Ali lalu ikut berlari.


Tak mau ketinggalan Abirama dan Kristian yang masih setengah sadar itu ikut berlari keluar kamar meninggalkan Sarifuddin yang terbelalak kaget.


"Astaghfirullah!!! Puasanya nanti batal!!!" teriak Sarifuddin yang berdiri di pintu sambil menatap Islam, Kristian, Abirama dan Ali yang tak kunjung menghentikan langkahnya.


"Jangan!!! Allah nanti marah!!!" teriaknya lagi.


Sarifuddin mendecapkan bibirnya dengan raut wajah gelisah.


"Saya harus kasih tau pak haji kiyai," ujarnya lalu berlari pergi.


...****...


Islam mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusannya setelah membagi-bagikannya kepada Kristian, Abirama dan Ali. Setelah menghabiskan waktu untuk berkeliling pondok pesantren mencari tempat yang bagus dan jauh dari keramaian maka mereka memutuskan untuk merokok di belakang masjid.


"Koreknya mana?" tanya Ali.


...***...


Sarifuddin berlari dengan tergesa-gesa melintasi lapangan dengan sarung yang hampir melorot bahkan Sarifuddin harus memegang bagian atas sarungnya itu agar tak terlepas. Para santri yang sedang sibuk membersihkan itu kini menatap Sarifuddin dengan wajah kebingungan.


"Apa yang terjadi dengannya?" bisik santri yang sedang memegang sapu.


"Mungkin dia mau berak," tebak santri yang satu lagi.


...***...


"Ini lo nyalain!" pinta Islam yang menjulurkan korek api ke arah Ali.


Ali tersenyum gembira sambil menjilat bibirnya, sudah seharian ini ia tak merokok.


"Puasa kita batal tidak?" tanya Abirama yang terlihat khawatir.


"Lo ngerokok aja, anjing! Lo kan bukan Islam jadi walaupun lo puasa, puasa lo itu nggak bakalan diterima," jelas Ali yang siap menyalakan korek apinya.


"Diterima sama siapa?" tanya Abirama.


"Tuhan," jawab Ali.


"Yang ini Tuhan siapa dulu? Tuhan kamu atau Tuhan saya?" tanya Abirama.


Ali mendecapkan bibirnya dengan kesal. Entah mengapa rasanya sahabat Ali yang satu ini ingin sekali ia pukul kepalanya dengan balok kayu.


"Tuhan si Sarifuddin!" jawabnya.


...***...


Sarifuddin mengetuk permukaan pintu dengan pelan dan rasa gugup walau sejujurnya ia ingin sekali mendobrak pintu itu agar dapat menemui Abah Habib secepat mungkin sebelum Islam dan tiga sahabatnya itu benar-benar membatalkan puasanya.

__ADS_1


"Assalamualaikum! Pak kiyai!" panggilnya dengan nada lemah lembut.


"Cari siapa?" tanya seseorang sambil menyentuh pundak Sarifuddin yang dengan cepat menoleh.


"Eh pak ustad Akbar, Assalamualaikum pak ustad," sapahnya lalu meraih tangan Akbar dan mengecupnya.


"Waalaikumsalam, ada apa?" tanya Akbar sambil menepuk bahu Sarifuddin yang masih sesak nafas itu.


"Itu...em pak kiyainya ada?"


"Ada di dalam."


"Saya mau ketemu ya ustad, apa boleh?"


"Boleh tapi untuk apa?" tanya Akbar yang terlihat tersenyum.


Sarifuddin meremas ujung baju kokonya itu dengan perasaan gugup, apa ia beritahu saja hal ini pada Akbar?


"Ada apa?" tanya Akbar.


"Itu...em... Islam!" ujar Sarifuddin membuat senyum Akbar berangsur pudar dari bibirnya.


Sarifuddin berlari dengan tergesa sambil memegang ujung sarungnya yang hampir melorot sementara Akbar mengikut di belakang.


"Liat Islam?" tanya Sarifuddin pada santri yang sedang menyapu di pinggir bangunan.


Santri itu menghentikan aktifitasnya sambil menatap Sarifuddin dengan wajah bingung.


"Islam?" tanyanya membuat Sarifuddin mengangguk.


"Oh iya saya liat."


"Dimana?" tanya Sarifuddin bahagia.


"Saya Islam," jawabnya sambil menyentuh dadanya membuat senyum Sarifuddin lenyap dari bibirnya.


"Sarifuddin!" panggil Akbar membuat Sarifuddin menoleh.


"Islam ada di belakang masjid," ujar Akbar lalu berlari meninggalkan Sarifuddin yang kini terbelalak kaget.


...****...


Islam menyalakan korek apinya dan mulai membakar ujung rokoknya yang kini telah menyala. Islam mendekatkan ujung rokoknya itu ke ujung bibirnya bersiap untuk menghisap sebatang rokok yang telah ia selipkan di jarinya.


"Islam!!!" teriak Akbar yang dengan cepat memukul tangan Islam hingga sebatang rokok yang masih menyala itu terjatuh ke tanah.


Kedua mata Islam membulat lalu ia menoleh menatap Akbar yang terlihat begitu marah kepadanya dengan kedua sorot mata yang tajam.


Di tempat yang sama Ali yang masih memegang rokoknya itu dengan cepat menyembunyikan sebatang rokok yang ujungnya masih menyala itu ke dalam saku celananya. Tak peduli itu panas atau tidak.


"Ini buat kamu," ujar Abirama yang dengan cepat meletakkan sebatang rokok ke telapak tangan Kristian yang terbelalak kaget.


Akbar menatap Islam, Kristian, Abirama dan Ali dengan tatapan tajamnya membuat keempatnya kini terdiam seperti patung.

__ADS_1


"Kemari antum!!!" teriak Akbar yang kemudian menarik kerah baju Islam dengan kasar.


__ADS_2