Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
78. Ini Hati, Khadijah


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu...


Khadijah meletakkan secangkir kopi ke atas meja lalu ia melangkah mundur dan tersenyum menatap ustad Hasim yang menikmati secangkir kopi itu.


"Abi."


Ustad Hasim menoleh.


Khadijah tertunduk malu. Ia meremas ujung cadarnya. Sejak tadi ia berusaha untuk mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan sesuatu.


"Ada apa?"


"Besok ada yang datang melamar."


"Melamar?"


Khadijah mengangguk.


"Siapa?"


"Nanti juga Abi tau dan ana harap Abi bisa menerima lamaran dari pria itu."


Khadijah melangkah pergi meninggalkan ustad Hasim yang terlihat terdiam tak menyangka.


...***...


Khadijah tersenyum sambil menyusun beberapa lembar pakaian ke dalam lemari kayu. Tak sabar rasanya menunggu kedatangan Islam. Sejak tadi ia menoleh menatap jendela untuk memastikan apa Islam sudah datang atau belum.


"Khadijah!"


Khadijah menoleh lalu ia bangkit dengan wajah bahagianya menatap ustad Hasim.


"Ada yang datang melamarmu."


"Dia sudah datang?" tanya Khadijah yang gemetar dengan wajah sumringah.


"Iya, Nak. Kenapa antum tidak memberitahu Abi kalau pria yang akan datang melamar itu adalah Rahman."


Kedua mata Khadijah membulat. Ia tak mengerti mengapa nama Rahman yang disebut.


"Akhi Rahman?"


"Iya, dia datang bersama dengan ustad Firdaus. Antum tenang saja lamaran Nak Rahman pasti Abi terima."


Ustad Hasim melangkah pergi membuat Khadijah dengan cepat berlari ke arah pintu. Ia bisa melihat Rahman dan ustad Firdaus itu sedang duduk di sofa.


Oh Tuhan, ini kesalahpahaman.


...***...


Islam menangis sesenggukan sambil memeluk lututnya di bawah pohon besar yang ada di atas bukit. Yah kini Islam ada di atas bukit untuk melepaskan tangisannya.


Islam tak mungkin menangis di dalam kamar dan membiarkan Sarifuddin melihatnya.


Hembusan tiupan angin penggunungan dan iringan suara alam penyejuk seperti kicauan burung menemeni kesedihan Islam.


Islam mengusap pipinya seperti anak kecil yang bersembunyi di bawah pohon sambil memeluk kedua lututnya.


Islam memukul dadanya yang terasa sakit itu. Oh Tuhan, ini benar-benar sakit. Rasanya ada belati tajam yang mencabik-cabik dadanya.


"Gue mohon jangan sakit! Gue mohon jangan sakit!"


Islam memukul dadanya itu untuk meredakan rasa kesedihannya. Islam menghela nafas panjang dari mulutnya sambil memejamkan kedua matanya yang terasa perih itu.


Kedua matanya telah memerah karena telah terkuras dengan air mata yang sejak tadi membasahi pipinya.

__ADS_1


Islam mengusap kepalanya. Rasanya kepalanya sangat sakit dan berdenyut tanpa henti.


Ini semua sakit tapi tak bisa menandingi rasa sakit di hatinya.


Islam menggerakkan telapak tangannya lalu mengusap dadanya berusaha untuk mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Tak berselang lama ia mendengar suara langkah yang terdengar mendekatinya membuat Islam dengan cepat bangkit dan berusaha untuk bersembunyi.


Entah siapa yang datang disaat seperti ini.


Ia tak ingin ada yang melihatnya menangis seperti ini.


Di balik persembunyian itu Islam akhirnya melihat Khadijah yang melangkah mendekati bukti dan ia duduk di atas bangku. Tempat yang sama dimana Islam selalu melihatnya.


Khadijah terlihat tertunduk. Islam tak tahu apa yang Khadijah lakukan di sini. Islam bersandar di balik pohon dengan perasaan hampa.


Apa ia perlu untuk menghampiri Khadijah? Tapi untuk apa? Tak ada gunanya juga. Itu hanya bisa membuatnya menangis dan menangis di depan seorang gadis bukanlah kebiasaan seorang Islam.


Islam menghela nafas lalu memutuskan untuk melangkah pergi.


"Akhi Islam!"


Suara itu terdengar membuat Islam menghentikan langkahnya. Islam kenal dengan suara itu.


Itu Khadijah.


Islam menoleh menatap Khadijah yang terlihat berdiri di depannya walau berjarak agan jauh darinya.


Islam mendongak, ia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak tumpah. Islam mengigit bibir berusaha untuk tidak menangis dalam situasi ini.


Di satu sisi Khadijah terlihat tertunduk seakan tak berani untuk menatap Islam.


Islam membuka kedua bibirnya berniat untuk bicara tapi itu tidak mudah. Suaranya seakan hilang begitu saja tau tahu kemana.


Khadijah mendongak menatap Islam yang terlihat tersenyum walau wajahnya memerah karena menangis, pipinya pun telah basah. Islam gagal untuk menahan air matanya, yah dia menangis.


"Selamat Khadijah, selamat."


"Kamu telah berhasil melakukan dua hal."


Islam mengangkat dua jari tangannya ke arah Khadijah yang hanya bisa tertunduk.


"Yang pertama kamu telah berhasil membuat saya jatuh cinta hanya karena melihat kedua matamu."


"Yang kedua ka...kamu telah berhasil membuat saya sakit hati."


Islam menyentuh dadanya yang terasa sesak ini, berdenyut perih di dalam sana.


"Ini hati, Khadijah!"


"Kamu telah berhasil melukai hati pria yang baru saja belajar puasa, Khadijah."


"Mengapa seperih ini kamu melukai hati saya? Kenapa?"


"Mengapa kamu menerima lamaran Rahman? Islam yang mencintaimu bukan Rahman!!!" teriak Islam sambil memukul dadanya dengan keras.


Satu tangisan berhasil lolos dari mulut Khadijah. Sesakit ini kah yang ia berikan kepada Islam?


"Masih kurang kah pengorbanan saya untuk kamu, Khadijah? Hah? Apa masih kurang?"


Islam melangkah selangkah lebih dekat.


"Saya belajar mengaji untuk kamu, setiap saat saya belajar hanya karena ingin menjadi imam."


"Saya sudah menjadi imam Khadijah, apalagi yang kamu cari?"

__ADS_1


"Ka...Ka...katakan apa yang belum ada pada diri seorang Islam?"


"Katakan!"


Islam mengusap pipinya yang basah itu lalu berusaha untuk mengatur nafasnya. Islam mengangguk sambil tersenyum.


"Mengenai soal agama saya tau. Saya tau kalau Rahman lebih baik daripada saya, tetapi tidak dengan cintanya."


"Saya mencintaimu!"


"Mengapa begitu perih luka yang kamu berikan kepada saya?"


"Apa kamu punya obat?"


"Punya?"


"Saya tidak bisa menahan rasa sakit ini, Khadijah. Saya tidak bisa."


"Kamu yang mengajari saya cara mencintai tapi kamu juga yang mengajari saya menangis dan sakit hati."


"Sejahat ini kah kamu, Khadijah? Sejahat ini?"


"Bahkan saya tidak pernah menyangka jika seorang gadis bercadar sepertimu berhasil membuat saya menangis."


Islam tersenyum sinis, ia menoleh ke arah lain berusaha untuk tidak menatap Khadijah yang sejak tadi menatapnya.


"Terimakasih, Khadijah."


"Sekali lagi terimakasih."


"Saya akan mencoba untuk menghilangkan rasa ini untuk kamu. Saya akan mencoba untuk melupakan kamu, Khadijah."


"Saya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kamu ka...ka....karena kebahagianmu adalah kebahagiaan saya."


"Pergi dan menikahlah dengan Rahman, mungkin rasa cintanya tak sebesar cinta saya untuk kamu tapi dia punya ilmu agama yang lebih besar daripada saya."


"Terimakasih karena telah mengajari saya arti dari perjuangan."


"Hari ini dan detik ini saya akan berusaha untuk bersikap seolah-olah kita tidak pernah bertemu, seolah-olah tak ada cinta di sini untuk kamu, Khadijah."


"Dan seolah-olah saya tidak pernah mengenalmu."


"Lupakan tentang saya!"


"Dan lupakan keberadaan tentang Islam."


"Tapi saya minta maaf jika nanti saya gagal melupakan kamu dan menghilangkan rasa ini."


"Saya permisi, Assalamu'alaikum."


Khadijah menggeleng pelan, sejujurnya ia tak mau jika Islam mengatakan hal itu.


Islam berpaling lalu ia melangkah pergi meninggalkan Khadijah yang dengan cepat berlari berniat untuk mencegah Islam pergi tapi kedua kaki Khadijah tersandung membuat tubuhnya terhempas ke rerumputan hijau.


Khadijah menangis sesenggukan. Ia menjambak rerumputan dengan keras, ini bukan kemauannya. Ini bukan akhir cerita yang ia inginkan dalam hidupnya.


Kedua mata Khadijah menatap ke arah punggung Islam yang berangsur menjauh seiring waktu berjalan.


Apa Islam benar-benar akan meninggalkannya?


Khadijah memejamkan kedua matanya berharap Islam menoleh untuknya. Tapi tidak, itu tidak terjadi. Saat Khadijah kembali membuka kedua mata, Islam sudah lenyap dari pandangannya.


Khadijah menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk mencari sosok Islam. Tak ada Islam! Benar-benar sudah lenyap dari pandangannya.


"Akhi Islam!!!" jerit Khadijah.

__ADS_1


__ADS_2