Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
60. Setuju


__ADS_3

Islam membuka kedua matanya setelah menghabiskan waktunya untuk tidur.


Baru kali ini Islam tidur di kasur milik Sarifuddin.


Islam bangkit dan duduk di atas kasur. Ia menoleh ke sekeliling berusaha untuk mencari sosok Sarifuddin, tetapi tak ada. Entah dimana dia sekarang.


Islam menatap buku dengan tulisan Sarifuddin di atas sana. Islam meraihnya, ia menatap dan membuka setiap lembaran kertas di sana.


Ada beberapa surah-surah pendek disini, tak banyak dan sepertinya ia bisa menghapalnya.


Senyum Islam terbias, pria itu baik.


20 Menit kemudian...


Langkah kaki Islam kini melangkah melewati pintu-pintu kamar para santri.


Islam sedikit merasa tak nyaman karena mereka semua, para santri terlihat menatap Islam sambil berbisik.


Langkah Islam yang awalnya santai itu kini mulai memelan. Entah mengapa jika mereka semua seakan membicarakannya.


Apa dia punya masalah lagi dengan mereka. Islam terdiam sejenak, sepertinya tidak ada.


Kejadian dimana para santri yang saling melihatnya juga terjadi saat Islam berniat sholat Dzuhur di dalam masjid, disaat sebelum sholat dan sudah sholat.


Mereka semua saling menatapnya membuat Islam semakin merasa tak nyaman.


Dengan buru-buru Islam keluar dari masjid. Jujur saja Islam tak suka ditatap seperti itu dari mereka.


"Islam!" panggil Abah Habib yang mengikuti Islam, berniat untuk menghampiri Islam.


Islam bisa mendengarnya tapi dengan cepat Islam malajukan langkanya. Jujur saja, Islam tak mau jika Abah Habib membahas tentang perjodohan ini.


Islam yang sedang mengantri untuk mandi di belakang para santri yang sedang berbaris langsung mengernyit heran setelah beberapa santri saling berbisik dan beberapa kali Islam melihat mereka yang mencuri-curi pandang menatapnya.


Ada apa dengan mereka?.


"Kita punya masalah lagi, kah?" tanya Sarifuddin yang berdiri di belakang Islam, ia juga sedang mengantri untuk mandi.


"Nggak," bantah Islam cepat.


"Tapi kenapa dia semua itu melihat kita seperti ini?" bisik Sarifuddin.


"Yah mana gue tau," ujar Islam agak kesal.


...***...


Islam mengusap rambutnya dengan handuk sambil melangkah di tengah-tengah lapangan setelah ia mandi.


Kini ia memakai kaos hitam dengan celana jeans hitam, Yap pakaiannya sudah kering. Tangan kananya memegang gayung berisi peralatan mandi sementara tangan kirinya memegang pakaian yang telah ia cuci di dalam tempat mandi.


Islam memilih untuk kembali ke kamar lebih dulu sementara Sarifuddin masih ada di dalam tempat mandi.


Wajah Islam yang begitu serius itu seketika menjadi bahagia dengan senyum yang membias di bibirnya melihat sosok Khadijah yang sedang melangkah ke arahnya.


Islam tak tau apa pertemuan ini adalah kebetulan atau telah direncanakan oleh Tuhan.


Islam menghentikan langkahnya tepat di hadapan Khadijah yang terus melangkah.

__ADS_1


"Assa-"


Islam yang berniat untuk mengucapkan salam itu tertahan saat Khadijah yang tak menghentikan langkahnya, ia terus saja melangkah tanpa menatap Islam sedikitpun.


Kini Islam terpatung di tengah lapangan dengan tangannya yang masih memegang kepalanya dengan handuk.


Apa yang terjadi?


Dengan perasaan heran Islam berbalik badan menatap Khadijah yang masih melangkah menjauhinya.


"Gue punya salah, yah?" tanya Islam pada dirinya sendiri.


Islam kembali melangkah dengan perasaan bingungnya. Entah mengapa Khadijah seakan menjauhinya membuat Islam berusaha mencari kesalahannya.


...***...


Islam mengintip di celah pintu dapur yang sedikit terbuka berusaha untuk mencari sosok Khadijah.


"Islam!" tegur Umma Nur yang langsung membuka pintu.


Islam langsung melangkah mundur dan tersenyum kaku setelah ia ketahuan sudah mengintip di pintu dapur.


Hah, entah apa yang ada di pikiran Umma Nur setelah melihatnya di sini.


"Kenapa tidak langsung masuk?" tanya Umma Nur.


Islam terdiam lalu menggaruk bagian belakang telinganya yang tak gatal.


"Ayo masuk!"


Islam tersenyum lalu mengangguk. Islam melangkah masuk ke dalam ruangan disambut senyum hangat oleh para Ibu-ibu yang sedang sibuk memasak untuk buka puasa hari ini.


Kali ini Islam harus bisa berbicara dengan Khadijah. Jika ia tadi gagal maka sekarang tidak boleh.


"Assalamu'alaikum," ujar Islam sembari duduk di hadapan Khadijah yang terlihat sibuk.


"Waalaikumsalam," balas Khadijah lalu ia bangkit meninggalkan Islam yang langsung mendongak menatap kepergian Khadijah.


Islam mengernyit heran tak mengerti dengan sikap Khadijah yang seakan menjauhinya.


Terlebih lagi disaat Khadijah lebih memilih membantu Nenek Sia mengupas bawang daripada memotong kangkung padahal tugas ini adalah tugas yang selalu Khadijah kerjakan walaupun ada Islam yang selalu menganggu.


Islam hanya bisa terdiam dengan kangkung dan pisau di tangannya. Ada masalah apa hari ini?


Islam menghembuskan nafas dari ujung bibirnya berusaha untuk berpikir positif. Sedih bukanlah kebiasaannya.


Islam bangkit lalu melangkah menghampiri Nenek Sia yang berdiri di dekat Khadijah.


"Assalamu'alaikum, calon istriku," goda Islam membuat Nenek Sia menoleh dan tersenyum.


"Waalaukumsalam, calon suami Kat...Kat siapa tadi nama yang dijodohkan sama Islam, Nur?" tanya Nenek Sia yang menoleh menatap Umma Nur yang terlihat tersenyum.


Di satu sisi Islam terlihat kebingungan karena tak mengerti dengan semua ini.


"Katrin," jawab Umma Nur.


"Yah namanya Katrin. Ah, kamu tidak usah menggoda Nenek kalau sudah resmi dijodohkan," ujar Nenek Sia membuat Islam semakin kebingungan.

__ADS_1


Siapa yang sudah resmi dijodohkan? Bahkan Islam belum menjawab apa-apa atas perjodohan ini.


Islam melirik menatap Khadijah yang terlihat sibuk mengupas bawang seolah-olah ia tak peduli dengan ujaran Umma Nur dan Nenek Sia.


"Tunggu dulu, Umma!" tahan Islam yang ingin meminta kejelasan.


"Maksud Umma apa?"


"Apa?" tanya Umma Nur dengan wajah mengejeknya.


"Tentang perjodohan ini," jawabnya.


"Iya, kenapa?"


"Umma setuju?"


"Setuju," jawabnya dengan wajah senang.


Islam terbelalak kaget dengan bibirnya yang terbuka.


"Loh, kok setuju, sih? Kan Islam belum ngasih tau apa-apa tentang keputusan Islam," jelasnya dengan wajah tegang.


"Islam, tapi Umma dengar sendiri dari Katrin kalau kalian berdua itu pacaran di kota dan bahkan sudah lama."


Khadijah menghentikan gerakan tangannya yang sejak tadi mengupas bawang setelah mendengar hal itu.


Khadijah melangkah pergi tanpa berpamitan dengan siapapun membuat Islam menoleh menatap Khadijah yang melangkah pergi meninggalkan dapur.


Apakah dia marah?


"Cieee," goda semuanya yang ada di dalam ruangan dapur membuat Islam menatap Umma Nur yang terlihat sedang tertawa.


"Siapa yang setuju dengan perjodohan ini?" tanya Islam.


"Semua keluarga sudah setuju kamu dijodohkan dengan Katrin."


"Tapi kan Islam belum bilang apa-apa."


"Memangnya kenapa? Katrin itu gadis yang baik dan sholeha, cocok untuk jadi istri kamu. Kamu tau nggak? Katrin juga setuju," jelasnya dengan raut wajah senang.


"Kalian juga saling cinta, kan?"


Tak menjawab Islam langsung berlari keluar dari ruangan dapur membuat semua orang menoleh menatap kepergian Islam.


"Apa dia malu?" tanya Nenek Sia membuat semuanya tertawa.


Islam berlari melewati lapangan berusaha untuk mengejar kepergian Khadijah yang terlihat keluar gerbang.


"Islam!" panggil Sarifuddin yang langsung meraih pergelangan tangan Islam membuat langkah Islam terhenti.


"Kita mau kemana?" tanya Sarifuddin.


"Gue lagi sibuk," ujarnya lalu menghempas pergelangan tangan Sarufddin dan kembali berlari.


"Semua orang di pondok pesantren sudah tau kalau kita sama ukhti Katrin sudah dijodohkan."


Islam menghentikan langkahnya. Berarti semua orang sudah tau tentang ini dan ini yang membuat Khadijah menjauhinya.

__ADS_1


Islam kembali berlari meninggalkan Sarifuddin yang terlihat kebingungan.


__ADS_2