Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
70. Bubur.


__ADS_3

Khadijah mengangkat mangkuk berisi bubur yang telah ia buat untuk Islam sesuai kemauan Umma Nur.


"Umma, ini buburnya sudah jadi," ujar Khadijah yang berpapasan dengan umma Nur.


"Bawa saja, Nak ke dalam!" ujarnya lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Tapi-" ujaran Khadijah terhenti saat Umma Nur telah melangkah pergi.


Khadijah menghela nafas panjang lalu ia menoleh dan kembali tersenyum menatap Abah Habib.


"Abah, ini bubur untuk Islam."


"Oh iya, bawakan saja ke dalam!" pintanya lalu ia ikut melangkah pergi.


Khadijah terdiam dengan wajah khawatirnya. Bagaimana ini? Khadijah malu untuk melakukannya.


Khadijah menarik nafas panjang lalu melangkah menuju ruangan kamar Abah Habib dimana ada Islam di sana dan...


Langkah Khadijah terhenti ketika ia berhasil menemukan Akbar dan Islam yang kini saling berpelukan. Rasanya tak baik jika menggangu momen antara seorang ayah dan anak.


Khadijah memutuskan untuk berpaling namun Islam melihatnya lalu melepas pelukan dengan pelan dari Akbar.


"Khadijah," ujar Islam.


"Khadijah?" Tatap Akbar yang dengan cepat menoleh.


Khadijah dengan cepat menoleh lalu tersenyum di balik cadarnya sambil tertunduk.


"Assalamu'alaikum, ya ustad Akbar dan akhi Islam," ujar Khadijah.


"Waalaikumsalam," jawab keduanya.


"Maaf menganggu. Khadijah membawa bubur hangat untuk akhi Islam," ujarnya.


"Oh iya letakkan di sini!" pinta Akbar sambil menunjuk meja.


Khadijah mengangguk lalu melangkah dan meletakkan mangkuk itu ke atas meja.


Islam tersenyum simpul sambil mengigit bibirnya berusaha untuk menahan kebahagiaanya.


Bubur itu untuknya dan dibawa oleh gadis yang ia cintai.


"Apa kamu yang membuatnya?" tanya Islam.


"Iya," jawab Khadijah sambil mengangguk.


"Apa ada cinta di dalamnya?" goda Islam.


"Hust!" tegur Akbar lalu sambil memukul lengan Islam yang langsung tertawa.


"Hanya bertanya," ujar Islam sambil tersenyum jahil.


Akbar menggeleng seakan tak menyangka jika Islam masih bisa berujar seperti itu walaupun ia sedang sakit.


"Antum ini sedang sakit tapi masih sempat-sempatnya bicara seperti itu"


Islam mendecapkan bibirnya, tak bisa ia menggoda Khadijah jika ada Abinya ada di sini.


"Emmm Khadijah apa ada kasih sayang juga di bubur itu? Eaaaa!!!" goda Akbar membuat Islam tertawa cekikan.


Khadijah tertunduk lalu menutup mulutnya yang terbalut kain cadar. Lihatlah ayah dan anak ini yang sedang menggodanya.

__ADS_1


"Islam kasih tau Umi nih!" ancam Islam sambil tertawa membuat tawa Akbar terhenti.


"Jangan gitu dong!" ujar Akbar dengan wajahnya yang kini menjadi serius.


"Emmm kalau begitu Khadijah pamit pergi dulu," ujar Khadijah lalu ia berpaling dan melangkah.


"Khadijah!" panggil Akbar membuat langkah Khadijah terhenti lalu ia menoleh.


"Iya ustad?"


"Kenapa buru-buru sekali? Bukannya tadi antum ingin menemui Islam saat ia pingsan?"


"Oh yah?" tanya Islam dengan tatapan tak percayanya.


"Iya, tadi Khadijah mau masuk ke dalam kamar untuk menemani antum tapi karena Abi khawatir maka Abi melarang dulu dia masuk yah mencegah fitnah saja," jelasnya.


Islam tersenyum tipis sambil mengangguk. Islam menatap Khadijah yang terlihat sedang tertunduk.


Khadijah terlihat meremas jari-jari tangannya yah sepertinya ia sangat malu sekarang.


"Khadijah!"


"Iya ustad?"


"Boleh bantu ana?"


"In sya Allah," jawab Khadijah.


"Em tolong bantu untuk menyuapi Islam!"


Kedua mata Khadijah dan Islam terbelalak kaget setelah mendengar apa yang Akbar ujarkan.


Apa ini serius?


"Kenapa Abi-"


"Ah sudah tidak apa-apa, kamu kan," bisik Akbar lalu mengedipkan sebelah matanya membuat Islam paham lalu tersenyum.


Akbar kemudian bangkit kursi lalu ia tersenyum menatap Khadijah yang terlihat gugup.


"Ayo Khadijah!"


"Tapi mengapa bukan ustad yang-"


"Oh iya ustad ingin mencari sesuatu," potong Akbar membuat ujaran Khadijah terhenti yang kemudian melangkah mendekati lemari dan berpura-pura menyibukkan diri seakan sedang mencari sesuatu.


"Ah dimana yah ana menyimpannya?"


Akbar yang sedang membuka tutup pintu lemari itu kemudian menoleh menatap Khadijah yang masih diam berdiri.


"Ayo cepat! Kasihan Islam sudah kelaparan, iya kan Islam?"


Islam menoleh menatap Akbar yang kembali mengedipkan sebelah matanya membuat Islam mengerti.


"Oh iya, Islam lapar," ujar Islam sambil memegang perutnya.


Tak berselang lama Khadijah melangkah mendekati Islam dan duduk di kursi yang telah digunakan oleh Akbar yang kini diam-diam melirik menatap Islam dan Khadijah sambil tersenyum malu-malu.


Islam tersenyum sok manis saat Khadijah terlihat memangku mangkok itu sambil mengaduk bubur putih yang masih hangat.


"Apa kamu khawatir?" bisik Islam sambil menatap Khadijah yang terlihat masih sibuk mengaduk bubur itu.

__ADS_1


Tak ada jawaban.


"Jika kamu khawatir itu berarti kamu sudah suka dengan saya."


Khadijah tak menjawab.


"Benarkan?"


"Rasa khawatir itu sering muncul ketika salah satu keluarga sedang sakit," jawab Khadijah.


"Tapi kita tidak punya hubungan keluarga, tapi kalau mau mari kita membuat sebuah keluarga," goda Islam membuat Akbar tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


Khadijah dan Islam menoleh menatap Akbar yang dengan cepat menghentikan tawanya lalu kembali berpura-pura mencari sesuatu.


"Ada apa? Lanjutkan saja!" pinta Akbar yang sedang sibuk menutup buka lemari itu.


Khadijah menghela nafas lalu menoleh menatap Islam yang terlihat tersenyum. Apakah pria ini benar-benar sakit atau hanya berusaha untuk berpura-pura? Jika saja wajah Islam itu tak pucat maka Khadijah akan percaya jika dia hanya berpura-pura.


Khadijah menunduk sambil tangannya yang


menjulurkan sendok berisi bubur itu ke arah Islam yang terlihat tersenyum.


"Apa akhi Islam hanya mau terus tersenyum?" tanya Khadijah membuat senyum Islam hilang dari bibirnya.


"Apa kamu akan terus tertunduk seperti itu?" tanya Islam.


Khadijah tak menjawab.


"Cobalah untuk menatap mata saya tapi setelahnya mungkin kamu akan jatuh cinta."


"Apalagi tidak lama kamu akan mencintai saya karena saya sudah merayu hati Allah semalam," ujarnya lagi.


"Jika akhi Islam tidak mau makan maka biarkan Khadijah pergi," ujar Khadijah membuat Islam dengan cepat menggerakkan tangannya berniat untuk mendekatkan sendok itu ke arah mulutnya tapi dengan cepat pula Khadijah menariknya.


"Ada apa?" tanya Islam.


"Akhi Islam hampir menyentuh jari Khadijah," ujar Khadijah dengan perasaan gugup.


Raut wajah Islam seketika berubah melihat tingkah laku Khadijah yang begitu tak nyaman bahkan Islam bisa melihat dahi Khadijah yang terlihat berkeringat.


"Saya minta maaf," ujar Islam.


Khadijah mengangguk lalu kembali menjulurkan sesendok bubur itu dengan tangan yang bergetar bahkan Khadijah harus memegang sendok itu dengan kedua tangannya seakan sendok itu seakan sulit untuk diangkat.


Islam tersenyum lalu segera mengucapkan basmalah dan memasukkan ujung sendok itu ke mulutnya.


Khadijah tersenyum sambil mengaduk bubur itu. Sejujurnya ini pertama kalinya Khadijah menyuapi seorang pria yang kini terlihat masih tersenyum menatapnya.


"Kamu adalah perempuan kedua yang telah menyuapi saya."


Senyum Khadijah lenyap dari bibirnya, jika dia yang pertama apa mungkin Katrin yang telah lebih dulu menyuapi Islam?


"Siapa yang pertama?" tanya Khadijah dengan penuh hati-hati.


"Umi," jawabnya membuat Khadijah kembali tersenyum.


"Apa kamu tidak mau makan juga?" tanya Islam membuat Khadijah tertawa.


"Ada apa?"


"Khadijah puasa," jawab Khadijah.

__ADS_1


Islam ikut tertawa lalu menggaruk belakang telinganya yang tak gatal itu. Bukan hanya dia yang tertawa tapi Abi-nya juga.


__ADS_2