Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
36. Sendiri


__ADS_3

Islam duduk di atas kasurnya sambil memeluk lututnya, ia menoleh menatap ranjang bertingkat yang ditempati oleh Ali dan Abirama, tak ada lagi mereka di sana. Kini suasana benar-benar menjadi sunyi tanpa kehadiran mereka di dalam ruangan kamar ini.


"Jangan sedih lah, Lam," ujar Sarifuddin yang sejak tadi membujuknya tanpa henti.


"Lo pikun apa gimana sih? Gue kan udah bilang sama lo, gue nggak sedih! Ngerti lo?" tegasnya.


Sarifuddin menunduk sejenak sambil membersihkan kukunya yang tak kotor itu. Beberapa saat kemudian ia kembali menatap Islam yang menatapnya dengan tajam.


"Apa lo?!!" bentaknya membuat Islam tersentak kaget.


Sarifuddin dengan cepat menggeleng lalu kembali tertunduk.


"Emmm, Islam-"


"Apa?!!" bentak Islam.


"Ini sudah jam setengah enam, tidak lama buka puasa kita tidak mau makan kah?" tanya Sarifuddin.


Islam menghela nafas berat. Islam bangkit dari kasur lalu ia melangkah pergi meninggalkan Sarifuddin yang kini berteriak.


...***...


Islam menganduk nasinya dengan perasaan hampa, tak ada semangat pada dirinya untuk buka puasa hari ini.


"Ayo makan!" pinta Sarifuddin sambil tersenyum bahagia.


Islam tak mengerti mengapa pria berpeci ini tidak pernah merasa sedih bahkan ia terlihat selalu tersenyum walaupun Kristian, Abirama dan Ali sudah tidak ada di pondok pesantren.


"Islam!" bisik Sarifuddin.


Tak ada respon dari Islam.


"Islam! Itu ada ukhti Khadijah," bisiknya membuat Islam mengangkat dagunya dengan wajah terkejut menatap Sarifuddin.


"Dimana?" tanya Islam.


"Itu di belakang," bisiknya.


Islam tanpa banyak pikir langsung menoleh menatap ke belakang dan benar saja ia melihat gadis bercadar itu yang terlihat menuangkan sayur kangkung ke wadah. Islam tersenyum simpul menatap gadis itu walau hanya dari kejauhan. Yang membuat Islam teralihkan perhatiannya adalah Umma Nur yang terlihat berbicara dengan gadis bercadar itu dan tak berselang lama gadis itu terlihat mengangguk dan ia melangkah pergi.


"Umma kenal sama gadis itu?" batin Islam yang membuatnya kini tersenyum penuh arti.


Islam membasuh tangannya di bawah kerang air yang mengalir sementara Sarifuddin terlihat menunggu di depan toilet. Islam menghentikan langkahnya ketika ia telah berada di hadapan Sarifuddin yang terlihat tersenyum.


"Lo kenapa sih ngikutin gue terus?" tanya Islam dengan nada kesal.

__ADS_1


"Pak haji kiyai yang suruh," jawab Sarifuddin.


"Patuh banget sih sama omongan si tua itu, dikasih apa lo sama dia?"


"ilmu," ujar Sarifuddin.


Islam tersenyum sinis. Ilmu apa yang pria tua itu berikan kepada Sarifuddin sehingga ia menurut?


Islam melangkah pergi tanpa memperdulikan Sarifuddin yang berteriak menyuruh Islam untuk berhenti.


"Islam tunggu!"


"Islam! Tunggu saya kasian eh!" pintahnya yang masih berlari.


Islam memejamkan kedua matanya dengan perasaan kesal, pria ini sejak tadi tak berhenti berteriak. Islam menghentikan langkahnya sambil menjambak rambutnya dengan kesal.


"Lo kenapa sih? Hah? Lo mau apa?"


Sarifuddin tertunduk sambil memaingkan ujung baju kokonya.


"Pak haji kiyai nyuru-"


"Ahh!!! Udah! Gue nggak peduli sama lo ataupun sama pak haji kiyai lo itu!!! Gue nggak peduli!!!" teriak Islam.


"Lo ingat yah dan pegang kata-kata gue! Lo nggak usah campuran hidup gue ataupun ikut-ikutan sama si pak haji kiyai itu buat ngatur hidup gue!!!"


Islam mendengus kesal lalu ia berpaling membuat langkahnya terhenti mendapati Abah Habib yang kini berdiri dan sedang menatapnya.


"Sholat dulu!" ajaknya.


"Nggak usah ngatur gue!" ujar Islam lalu ia melangkah melewati Abah Habib yang kini hanya terdiam.


Langkah Islam tertahan saat ia mendapati Akbar yang sedang menatapnya dengan serius membuat Islam mengalihkan pandangannya. Islam kembali melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Akbar yang terus menatapnya.


"Mau kemana?" tanya Akbar membuat langkah Islam terhenti.


"Cepat masuk ke masjid!" pintahnya.


Islam terdiam, tak ada respon darinya membuatnya memutuskan untuk kembali melangkah.


"Islam!!!" teriak Akbar membuat semua orang dan para santri yang berniat untuk masuk ke masjid itu terhenti dan menatap Islam dan Akbar dengan wajah yang begitu serius.


Islam mendecapkan bibirnya dengan kesal dengan rahangnya yang mengeras Islam menoleh menatap Akbar dengan wajah marahnya.


"Apa peduli lo sama gue?!!" bentak Islam membuat para santri terkejut, tak ada yang pernah berani membentak anak pak haji kiyai itu.

__ADS_1


"Lo nggak usah sok ngatur hidup gue! Lo nggak usah sok peduli sama gue karena gue nggak butuh rasa peduli lo itu!!!"


"Lo itu egois tau nggak! Lo dengar gue kan? Lo itu e-go-is!!! Lo itu cuman peduli sama perasaan lo sendiri tanpa peduli perasaan orang lain!!!" teriak Islam dengan suara seraknya sambil menunjuk Akbar yang kini benar-benar hanya bisa terdiam.


"Selama ini lo kemana aja disaat gue butuh lo di dalam kehidupan gue? Hah? Lo dimana?"


"Lo ada nggak disaat gue butuh lo ajarin gue bacaan Al-qur'an!!! Gue juga nggak ngerti kenapa lo nyalahin Umi atas semua sikap buruk gue!!!"


Islam menghembuskan nafas sejenak, berteriak membuatnya kehabisan nafas. Kedua mata Islam memerah, ia ingin menangis tapi sekuat itu ia tahan.


"Gue sekarang nggak butuh bantuan lo buat ngerubah gue jadi anak yang bisa lo andelin di dunia ini!!!"


"Lo juga nggak usah ngebandingin gue sama si anak yang jadi imam itu, Abi-nya itu ada disaat anaknya butuh, bukan pergi terus janji mau datang tapi nggak pernah sampai!!!" teriaknya lagi.


Islam membuang nafasnya kasar, dadanya kembang kempis tak karuan. Islam menatap kesekitarnya dimana semua orang sedang menatapnya, baik itu para santri maupun ustad.


Islam berpaling dan disaat itu air matanya menetes membasahi pipinya. Islam mengusapnya cepat lalu dengan cepat ia melangkah pergi meninggalkan kerumunan yang masih menatapnya.


"Tidak usah!" tahan Akbar pada Abah Habib yang ingin melangkah mengikuti Islam.


"Tapi-"


"Tidak usah! Sebaik apapun Abah Habib membujuknya ia tidak akan berubah. Mari kita sholat karena tidak lama lagi waktu akan memasuki sholat isya!" ujar Akbar yang kemudian melangkah menaiki anakan tangga.


Abah Habib menghela nafas panjang menatap kepergian Islam yang kini tak terlihat setelah Islam melewati kegelapan.


...***...


Islam duduk di atas kasurnya sambil memeluk lututnya, dagunya pun ia letakkan pada bagian lututnya. Islam mengusap pipinya yang basah itu karena air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Jika saja ia boleh memilih, ia tak ingin menjadi putra dan cucu dari seorang pria yang mengerti tentang agama. Bagi Islam ini adalah sebuah kepedihan.


Suara motor terdengar membuat Islam melangkah mendekati jendela. Dari atas sini Islam bisa melihat Syuaib yang terlihat sedang memarkir motornya dan masuk ke masjid tanpa mengambil kunci motornya.


Islam terdiam sejenak seakan memikirkan sesuatu lalu ia menoleh menatap koper hitam yang ada didekat lemarinya. Islam kembali menatap ke arah motor yang terparkir di depan masjid itu hingga Islam tersenyum simpul dan mengangguk.


20 Menit kemudian....


Sarifuddin melangkah masuk kedalam kamar dan menyalakan lampu, Sarifuddin tak mengerti mengapa Islam membiarkan lampu kamar mati.


"Islam sudah tidur?" tanya Sarifuddin sambil duduk di pinggir kasur menatap tubuh Islam yang tertutup dengan sarung.


"Islam!" panggil Sarifuddin.


"Sudah jangan marah! Allah benci sama orang yang pemarah."


Tak ada jawaban membuat Sarifuddin khawatir. Mengapa Islam tak menjawab? Apa ia bunuh diri atau apa? Sarifuddin segera mengangkat sarung itu dari tubuh Islam membuat Sarifuddin terbelalak kaget.

__ADS_1


"Astagfirullah!!!" teriaknya.


__ADS_2