Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
66. Rayu Hati Allah


__ADS_3

Sarifuddin membuka pintu setelah melaksanakan sholat taraweh. Sarifuddin terdiam, ia diam membisu berdiri menatap Islam yang terlihat duduk di atas kasur sambil memeluk kedua lututnya.


Yah, setelah kepergian Islam dari masjid Islam tak kembali lagi dan sholat taraweh dilanjutkan oleh Rahman.


Islam menoleh menatap Sarifuddin yang kini mengerakkan tangannya untuk menutup pintu kamar dengan rapat.


"Kenapa kita tidak kembali ke lagi ke masjid?" tanya Sarifuddin yang melangkah mendekati Islam yang terlihat diam.


Sarifuddin berlutut di dekat Islam dan menatap raut wajah sedih Islam sambil mendongak. Islam mendecapkan bibirnya, entah mengapa ia merasa jika dirinya seperti perempuan yang sedang dibujuk oleh sang kekasih.


"Ada apa?"


"Nggak, gue cuman sedih aja."


"Sedih kenapa?"


Islam menunduk menatap Sarifuddin yang terlihat sangat peduli dengannya.


"Udah ah sana lo! Geli gue," canda Islam sambil tertawa dan mendorong pelan bahu Sarifuddin agar menjauh darinya.


Sarifuddin bangkit lalu melepas baju kokonya dan menukarnya dengan kaus putih.


"Tapi tadi sudah bagus loh," ujar Sarifuddin.


"Oh yah?"


Sarifuddin menoleh lalu mengangguk sambil tersenyum.


"Benar, cara pengucapannya juga bagus."


"Ah yang benar lu?"


"Benar, mana pernah saya bohong," jawabnya lalu duduk di tepi ranjang menghadap ke arah Islam yang raut wajahnya sudah tak sedih lagi.


"Saya yakin pasti Khadijah sudah terbang ke langit tinggi pas kita itu sebut namanya."


Islam tersenyum malu lalu ia merebahkan tubuhnya. Membayangkan hal ini membuatnya seakan berbaring di atas bunga-bunga mawar merah yang telah ditabur di atas kasurnya.


Indahnya dunia ini.


Suasana kamar yang telah gelap itu kini menjadi sunyi dan sepi. Lampu ruangan telah dimatikan dari pusat.


"Din!"


"Iye," sahut Sarifuddin yang langsung membuka kedua matanya yang nyaris tidur itu.


"Kira-kira Khadijah itu dengar suara gue nggak, yah?"


"Yah pastilah, mana mungkin dia tidak dengar," ujarnya yakin.


Islam tersenyum simpul. Entah mengapa setiap apa yang diujarkan oleh Sarifuddin selalu berhasil membuatnya merasa tenang. Selain Sarifuddin yang punya banyak ilmu ternyata Sarifuddin adalah pendengar dan penasehat yang baik.


"Din, lo nggak minat juga cari pendamping hidup?"

__ADS_1


"Untuk apa?"


Islam mengernyit bingung, apa maksud pria berpeci ini?


"Lo nggak mau nikah?" tanya Islam.


"Saya tidak memikirkan hal itu, jika saya punya jodoh maka Allah akan mempertemukan saya dengannya dari berbagai macam cara."


"Tapi saya tidak terlalu mengambil pusing karena kita semua tidak akan tau akan dipertemukan dengan jodoh atau kematian."


"Jodoh dan kematian sama-sama datangnya."


"Jika mau mendapatkan jodoh maka lamar saja seorang gadis tapi kalau tidak mau maka tunggu saja dipertemukan di suatu tempat atau malah dijodohkan tapi itu semua atas izin Allah."


"Kalau Allah tidak mau maka tidak akan terjadi. Contohnya kita boleh memilih seorang gadis untuk menjadi istri melalui jalur pacaran, tapi karena Allah tidak setuju maka Allah akan memberi masalah dan membuat kita berpisah."


"Ada yang memutuskan untuk saling dijodohkan tapi karena Allah tidak setuju maka Allah bisa saja menyentuh hati salah satu dari mereka untuk tidak mau berjodoh."


"Bahkan jika undangan pernikahan sudah disebar maka bisa saja pernikahan dibatalkan dan itu semua karena Allah."


"Seperti juga kematian, mau rencana mati sekarang atau nanti itu bisa saja tapi Allah yang memutuskan."


"Banyak orang yang sakit parah bahkan sampai kritis tapi karena Allah belum mau mengambilnya maka Allah tidak akan mematikan orang itu."


"Hanya Allah yang tau tentang kapan kita mati bahkan orang yang sedang sehat pun bisa mati tanpa ada sakit, itu semua karena kemauan Allah."


Islam kini terdiam di tempatnya berbaring. Menyesal rasanya menanyakan hal ini kepada Sarifuddin. Membahas tentang kematian membuat Islam tak bisa tidur.


"Dulu saya takut mati tapi sekarang tidak."


"Kenapa bisa kayak gitu?"


"Karena saya bisa ketemu sama Bapak saya," jawabnya.


Islam kembali terdiam. Bodoh kamu Islam bertanya seperti itu! Sarifuddin yang membahas tentang Bapak membawa sosok Akbar pada pikiran Islam.


Bagaimana jika Akbar meninggal lebih dulu, itu berarti ia tak akan melihat sosok Abi-nya lagi.


...***...


Islam berlari menaiki bukit dan tersenyum penuh gembira mendapati sosok Khadijah yang sedang duduk di bangku tepat disetiap waktu yang sama seperti biasanya.


Sejujurnya sejak tadi Islam mencari sosok Khadijah di dapur tapi tak ketemu dan itu yang membawa Islam memutuskan untuk ke bukit.


"Assalamu'alaikum," ujar Islam membuat Khadijah tersentak kaget.


Khadijah menoleh menatap Islam yang sudah duduk di bangku, tempat yang selalu diduduki oleh Islam.


"Waalaukumsalam," jawab Khadijah lalu menunduk.


Islam tersenyum lalu ikut tertunduk. Islam tak mau jika Khadijah melihat wajahnya yang terus tersenyum seperti orang gila.


Bertemu dengan Khadijah adalah pelepasan rindu antara Islam dan Mawar, Uminya. Bagi Islam sosok Khadijah sangat menggambarkan sosok Mawar yang baik dan lemah lembut.

__ADS_1


"Apa hari ini kamu bahagia?" tanya Islam.


Khadijah terdiam. Jujur saja Khadijah ingin mengatakan 'Ya' tapi ia malu rasanya.


"Tapi sepertinya rasa bahagia di sore hari ini tidak akan bisa menggantikan rasa bahagia di malam tadi."


"Kenapa begitu?" tanya Khadijah.


"Karena saya menyebut namamu," jawab Islam lalu mengigit bibir bawahnya berusaha untuk tidak berteriak dan tertawa saking bahagianya.


Khadijah terdengar tertawa kecil membuat Islam ikut tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Suara tawa itu membuat Islam salah tingkah.


Ayo lah Islam! Ini bukan Islam yang seperti biasanya yang malah jadi salah tingkah hanya karena suara tawa gadis yang bahkan menatap bibirnya saja tidak pernah.


"Apa kamu suka?" tanya Islam membuat suara tawa itu terhenti.


"Iya," jawabnya ragu.


"Iya?"


Khadijah mengangguk.


"Akhi Islam adalah orang pertama yang melakukan hal ini, menyebut nama Khadijah."


"Itu berarti kamu juga sudah suka dengan saya?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Khadijah bangkit dari bangku sementara Islam langsung mendongak. Sial! Apa ia salah bicara?


"Maaf, Akhi Islam. Tak baik jika berduaan seperti ini," ujarnya lalu melangkahkan kakinya pergi memberi jarak antara ia dan Islam.


Islam menoleh menatap Khadijah membuat Islam segera bangkit dari bangku.


"Mengapa sangat susah sekali merayu hatimu, Khadijah?" tanya Islam.


Langkah Khadijah terhenti.


"Mengapa sesusah itu?" tanya Islam lagi.


Khadijah menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan lalu ia menoleh menatap Islam yang terlihat diam menantinya untuk bicara.


"Rayu hati Allah sebelum engkau merayu hati hamba-Nya karena jika engkau berhasil merayu hati Allah maka akan dengan mudah hati ini dirayu oleh yang merayu."


"Sesungguhnya hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati."


Khadijah kembali berpaling lalu melanjutkan langkahnya.


"Bagaimana caranya saya merayu hati Allah?"


Langkah Khadijah terhenti.


"Malam ini malam ganjil dan mungkin saja malam ini malam lailatul qadar. Rayulah Allah disaat itu maka biarkan Allah yang merayu hati Khadijah."


Khadijah melanjutkan langkahnya meninggalkan Islam yang hanya bisa terdiam.

__ADS_1


__ADS_2