Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
54. Al-Qur'an.


__ADS_3

"Alhamdulillah," ujar Sarifuddin setelah mendengar Islam melafalkan hapalan bacaan sholatnya.


"Udah bener belum?" tanya Islam.


Islam sudah berjongkok dengan ekspresi kegirangan. Niatnya ingin melompat tapi ia menunggu jawaban dari Sarifuddin.


"Sudah," jawabnya.


"Alhamdulillah, Ya Allah!!!" teriak Islam yang dengan senangnya melompat-lompat seperti monyet.


Sarifuddin tertawa dengan kepalanya yang bergerak mengikuti lompatan Islam, ke atas dan ke bawah.


Sarifuddin ikut bahagia dan sejujurnya ia tak menyangka jika Islam akan sebahagia ini. Saat ia pandai menghapal bacaan sholat ia tak pernah sebahagia Islam yang meluahkan rasa bahagianya seperti ini.


"Beneran kan, Din?"


"Iye beneran mana pernah saya bohong."


Islam tertawa. "Iya, Din. Gue percaya sama lo."


Kini Islam terdiam lalu melangkah ke depan jendela kamar. Ia menopang pinggang lalu tersenyum.


Sarifuddin menggelengkan kepalanya saat Islam kembali mengulang bacaan sholat dari awal sampai akhir dan kembali berteriak.


"Hahahaha, nggak sia-sia gue bergadang!!!" teriaknya.


"Kan sudah ku bilang kalau dijalani dengan usaha pasti akan mudah," ujar Sarifuddin.


Islam menoleh lalu melangkah mendekati Sarifuddin dan berlutut di depannya.


"Din! Sekarang gue udah bisa jadi imam?" tanya Islam.


"Belum," jawabnya.


Senyum Islam lenyap dari bibirnya, jika bukan Sarifuddin yang membuatnya bisa menghapal bacaan sholat mungkin ia sudah mencekik pria berpeci miring ini.


"Lo yang bener aja dong? Masa gue nggak bisa jadi imam sholat?"


"Lah, saya bilangnya belum bukan nggak. Kalau mau jadi imam masjid maka harus bisa mengaji," jelasnya.


Islam mengernyit heran.


"Tapi kan jadi imam nggak bawa Al-Qur'an."


"Memang tidak bawa Al-Qur'an tapi yang dibacakan Al-Qur'an."


Islam terdiam. Kedua matanya bergerak ke kiri dan kanan, benar juga yang dikatakan oleh Sarifuddin.


"Jadi sekarang harus apa?"


"Belajar baca Al-Qur'an."


"Yah, masa gue harus belajar lagi. Waktu kecil gue udah belajar masa sekarang belajar lagi," protesnya.


"Jadi sekarang masih bisa baca Al-Qur'an?"


Islam terdiam.


"Nggak," jawabnya sambil menggeleng.


"Nah itu makanya belajar lagi." Tunjuk-nya.


Islam menghela nafas panjang lalu merebahkan tubuhnya ke kasur milik Sarifuddin dan kedua matanya menatap langit-langit ruangan kamar.


"Pikirin apa sih?" tanya Sarifuddin.


Islam menoleh.


"Gue bisa nggak yah?"


"Ya pasti bisa kalau mau berusaha."


"Kalau tetap nggak bisa gimana?"


Sarifuddin melepas pecinya dan mengusap keringat di dahinya itu. Bicara dengan Islam butuh kesabaran yang tinggi.


"Lam, tidak ada usaha yang menghinati hasil."

__ADS_1


"Kalau hari ini kita bersantai dan tidak mau belajar maka nanti kita akan berlari sambil menangis karena kita dulu tidak mau belajar," jelasnya.


Islam kembali melirik. Benar juga kata Sarifuddin.


Islam bangkit sambil menghela nafas panjang. Ia terdiam sejenak lalu kembali menatap Sarifuddin.


"Yah udah deh gue mau belajar," putusnya membuat Sarifuddin tersenyum lebar.


"Nah begitu dong."


"Tapi belajarnya sama lo kan?"


"Bukan," jawabnya sambil menggeleng.


Senyum Islam menghilang dari bibirnya.


"Lah terus gue belajar sama siapa?" tanya Islam.


...***...


"Itu!" Tunjuk Sarifuddin ke arah pondok kayu mirip pos kamling membuat kedua mata Islam membulat.


Islam bisa melihat dari kejauhan Rahman yang sedang mengajari anak-anak perempuan dan laki-laki belajar mengaji. Rahman terlihat menunjuk papan tulis sambil menyebutkan huruf hijaiyah yang telah ia tulis dengan spidol.


"Loh yang benar aja dong!"


"Kenapa?"


"Yah masa gue belajar sama si Rahman? Yang benar aja dong lo!"


"Yah memangnya kenapa? Ustad Rahman kan bagus bacaan Qur'annya."


"Yah tapi lo pikir aja dong! Masa gue nyuruh saingan gue buat ajarin gue baca Al-Qur'an."


Islam mendecapkan bibirnya lalu melangkah pergi meninggalkan Sarifuddin yang melongo menatap bingung pada Islam.


Apa salahnya coba?


"Islam!" panggil Sarifuddin yang dengan cepat meraih pergelangan tangan Islam membuat langkah Islam terhenti.


"Apa lagi sih?" kesalnya.


"Lo gila yah? Ya masa gue belajar sama si Rahman? Heh! si Rahman itu saingan gue. Gengsi dong!" ocehnya lalu kembali melangkah membuat Sarifuddin mengikut seperti anak kucing.


"Tapi kan ini demi kebaikan, Islam."


"Nggak ada kebaikan kalau masalah harga diri," tegasnya.


Langkah Sarifuddin terhenti membuat Islam yang masih melangkah itu memelankan langkahnya.


Islam menghentikan langkahnya lalu ia menoleh.


"Lo kenapa berhenti?" tanya Islam.


"Itu!" Tunjuk Sarifuddin ke arah belakang Islam membuatnya mengernyitkan dahinya kebingungan.


"Apa sih?" tanya Islam tak mengerti.


"Anjing," bisik Sarifuddin lalu berlari membuat kedua mata Islam melotot.


"Lo ngatain gue?!!" teriak Islam.


"Di belakang!!!" teriak Sarifuddin yang masih berlsri.


Bagai disambar petir Islam mendengarnya membuat paru-parunya untuk saat ini berhenti menerima udara dari luar.


Apa kejadian yang dulu itu akan kembali terulang lagi?


Dikejar anjing?


"Aaaaaa!!!" teriak Islam diiringi suara gonggongan anjing yang masih mengejarnya di belakang sana.


Para warga desa yang melihat Islam dan Sarifuddin berlari nampak terdiam seakan menyaksikan sebuah perlombaan lomba lari anak-anak.


Yang lebih parah lagi adalah salah satu dari warga desa adalah pria yang sedang memotong kayu dengan kapak itu menoleh saat Islam, Sarifuddin dan dua ekor anjing itu melintas di depannya, setelah itu ia kembali melanjutkan kegiatannya.


Di sini sudah biasa dikejar anjing jadi yah pemandangan ini sudah sering terjadi.

__ADS_1


Islam berusaha mengatur nafasnya yang sesak itu setelah berlari, dadanya terasa terkunci dengan rapat ditambah lagi jantungnya yang memompa darahnya begitu cepat.


Sarifuddin menutup pagar dan melangkah mundur menjauhi dua ekor anjing yang menggonggong di depan pagar.


"Gila lo. Kurang ajar, bisa-bisanya lo lari ninggalin gue," ocehnya dengan kesal, jika Sarifuddin bukan teman satu kamarnya mungkin ia sudah melemparnya ke luar pagar dan membiarkannya digigit oleh dua ekor anjing itu.


"Yah mana saya tau kalau anjing itu datang lagi."


Islam menelan salivanya. Anjing itu sudah pergi.


"Lo juga sih, gue kan udah bilang nggak usah ke luar pesantren tapi lo bilangnya apa 'Tidak apa-apa, ini tidak lama' nih apa buktinya hampir aja dijilatin sama tuh anjing."


"Bukan dijilat, digigit," ujar Sarifuddin membetulkan.


"Sama aja goblok."


Islam melangkah sambil mengusap keningnya yang basah itu.


"Mana puasa lagi, kering deh tenggorokan gue," keluhnya.


Sarifuddin menggaruk lehernya yang berkeringat itu lalu mengikuti langkah Islam yang berjalan ke arah ruangan kamar.


"Marah yah?" tanya Sarifuddin.


Islam menoleh menatap Sarifuddin yang langsung tersenyum memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi.


Islam kembali berbalik badan dan melanjutkan langkahnya. Lihatlah pria berpeci miring ini yang sepertinya tak merasa punya masalah sedikitpun bahkan sampai dirinya hampir digigit anjing pun ia masih bisa tersenyum lebar.


Islam menghentikan langkahnya ketika ia telah siap membuka pintu masuk sambil memegang ganggang pintu.


"Din, kenapa bukan lo aja sih yang ajarin gue baca Al-Qur'an?"


"Saya?" Tunjuk-nya ke arah hidung miliknya.


Islam mengangguk.


"Tapi kenapa harus saya?"


"Yah karena cuman lo sahabat gue yang pintar baca Al-Qur'an. Kalau bukan lo, siapa lagi coba yang bisa bantuin gue?"


Sarifuddin terdiam.


"Bantuin gue yah? Ayolah lo kan sahabat gue," rayunya sambil tersenyum manis.


Sarifuddin membuang nafasnya pendek.


"Masalahnya kalau saya yang ajar nanti kita protes."


"Lah protes gimana?"


"Cara mengajar orang bugis itu keras."


"Keras?"


"Kita tidak pernah dengar cerita Jawa dan Bugis kah?"


Islam menggeleng. "Nggak pernah dengar gue, yang gue dengar cuman Romeo dan Juliet."


"Siapa itu?"


"Ada tetangga gue," jawabnya lalu tertawa setelah melihat wajah Sarifuddin yang begitu sangat polos.


"Jadi begini, dulu ada kisah segerombolan anak-anak yang mau belajar mengaji terus datanglah orang Jawa yang jadi pengajar."


"Terus?"


"Cuman satu hari dia menyerah karena anak-anak ini tidak mau diatur dan setelah itu dimintalah orang Bugis untuk jadi pengajar. Mau tau hasilnya apa?"


"Apa?"


"Cuman satu hari anak-anak itu langsung pintar mengaji."


Islam tersenyum.


"Bagus dong. Lo kan bugis nah jadi ayo ajarin gue!"


Sarifuddin terdiam sejenak lalu ia mengangguk.

__ADS_1


"Nah gitu dong dari tadi, jadi kapan belajarnya?"


"Nanti malam," jawabnya sambil tersenyum simpul, senyum yang penuh arti.


__ADS_2