
"Islam!!!"
Suara teriakan terdengar dari luar pintu membuat Islam menoleh dan dengan cepat mengusap pipinya yang basah itu.
Islam membuka pintu mendapati Syuaib yang berdiri di hadapannya.
"Ada apa?"
"Ada yang ingin bertemu."
"Siapa?"
Islam melangkah dengan tergesah-gesah melewati jejeran pintu-pintu kelas sambil mengikuti Syuaib yang terlihat berlari ke arah ruangan Abah Habib.
Apa sebenarnya yang terjadi?
Islam melangkah masuk membuat semua orang yang ada di dalam ruangan Abah Habib menoleh menatap Islam.
Dari sini Islam bisa melihat Nenek Una yang sedang menangis.
"Islam!"
Nenek Una bangkit dan segera berlutut sambil menangis di depan Islam yang terlihat kebingungan.
"Ada apa?" tanya Islam yang sama sekali tak mengerti.
Islam ikut berlutut lalu menatap penuh perhatian pada kedua mata yang pandangannya telah kabur itu sambil memegang kedua bahunya yang kurus.
"Katakan! Ada apa?"
"Islam, to...to...tolong temui Katrin! Dia sedang sakit parah."
"Sakit?"
"Iya, Nak. Tolong temui dia."
Islam menoleh menatap Abah Habib, Umma Nur, Akbar dan Akbir yang terlihat terdiam.
"Tapi kenapa harus saya?"
"Katrin sejak kemarin memanggil nama kamu, Islam. Dia mau ketemu sama kamu," jelasnya sambil menangis sesenggukan.
Islam terdiam sejenak. Apa ini serius atau hanya tipuan Katrin saja yang hanya ingin membuat Islam merasa kasihan. Tapi melihat wajah Nenek Una yang khawatir membuat Islam tak yakin jika hal ini adalah sebuah sandiwara.
Tak mungkin Nenek Una akan menangis seperti ini.
20 Menit kemudian...
Islam menghentikan langkahnya di depan pintu sebuah kamar. Kini ia telah berada di dalam rumah Nenek Una.
"Ini kamar Katrin," ujarnya memberitahu lalu ia membuka pintu kamar.
Islam menoleh menatap Umma Nur yang terlihat tersenyum lalu mengangguk.
"Umma tunggu di sini saja."
Islam mengangguk lalu ia melangkah masuk ke dalam kamar. Di kedua pasang mata Islam, ia bisa melihat wajah pucat Katrin yang sedang terbaring di atas kasur dengan kain Kompres di atas dahinya.
"Katrin!" bisik Nenek Una pada telinga Katrin.
"I...i...islam!!! Islam!!!"
Suara rintihan Katrin terdengar membuat Nenek Una mengusap rambut Katrin yang basah.
__ADS_1
"Di sini sudah ada Islam, Nak," bisiknya lagi.
Nenek Una menoleh menatap Islam yang dengan cepat melangkah maju dan berlutut di lantai.
Islam meraih dan menggenggam jari-jari tangan Katrin yang begitu panas dan hal ini membuat Islam yakin jika Katrin sedang tidak bersandiwara, Katrin benar-benar sakit.
"Islam!!!" rintihnya.
"Iya, Rin. Ini gue Islam."
"Islam!"
Tangan kiri Katrin terangkat dan terlihat merabah kesegala arah berusaha untuk mencari Islam. Islam dengan cepat meraih dan menggenggam jari-jari tangan kiri Katrin.
"Islam?"
"Iya ini gue."
Kedua mata Katrin terbuka dan ia dengan cepat bangkit dari kasurnya dan memeluk tubuh Islam yang terdiam kaku. Kedua tangan Islam tertahan, tangannya tak menyentuh punggung Katrin yang kini sedang menangis di dalam pelukannya.
Islam bisa merasakan hawa panas tubuh gadis yang Islam akui jika dia sangat mencintainya tapi sayangnya Islam tak mencintai gadis pengemis cinta dari Islam.
"Dari semalam Katrin tak berhenti menangis dan memanggil nama kamu, Nak Islam."
"Katrin sangat sakit hati atas batalnya perjodohan itu hingga tubuhnya pun ikut terbaring sakit seperti ini."
"Dari semalam sampai sekarang Katrin belum makan dan tidak mau minum obat padahal demamnya sangat tinggi."
"Islam, tolong bujuk Katrin agar dia mau makan dan minum obat," sambungnya lagi lalu ia melangkah keluar dari kamar.
Islam melepaskan pelukannya lalu menatap wajah pucat Katrin. Kelopak matanya terlihat membengkak dan bagian bawah matanya berwarna agak gelap. Sepertinya Katrin benar-benar telah menangis dan tak tidur sepanjang hari.
"Kenapa?"
Katrin menangis sesenggukan.
"Ini semua karena lo."
Katrin menunjuk dada Islam dengan jari telunjuknya beberapa kali.
"Ini semua karena lo. Lo udah nyakitin gue, Islam."
"Kenapa lo setega itu sama gue, Islam?"
Islam terdiam. Ia tertunduk seakan tak berani untuk menatap kedua mata Katrin.
"Gue kurang apa Islam? Gue kurang apa?"
"Islam, Lo liat gue!"
Katrin menangkup kedua pipi Islam membuat Islam mau tak mau harus menatap wajah Katrin yang menatapnya dengan tulus.
"Gue kurang apa?"
Islam terdiam.
"Gue kurang apa?"
Islam berusaha untuk mengalihkan pandangannya tetapi Katrin tetap menangkup kedua pipi Islam.
"Ada banyak gadis di luar sana tapi gue yakin nggak ada gadis yang memiliki cinta sebesar yang gue punya."
"Gue cinta sama lo."
__ADS_1
"Yah gue akui kalau gue yang ngejar-ngejar lo tapi tolong percaya sama gue kalau gue ngelakuin itu hanya sama lo."
Islam hanya terdiam. Kedua mata Islam menatap nanar pada mata sayup yang telah lelah mengeluarkan air mata itu.
Islam tahu bagaimana rasa sakit yang dirasakan oleh Katrin karena hal itu juga yang kini dirasakan olehnya sekarang.
Sakit yang ia berikan kepada Katrin tentu saja sama sakitnya seperti sakit yang berikan oleh Khadijah kepadanya.
"Udahlah sekarang lo makan terus minum obat!" ujar Islam yang menyinkirkan jari-jari tangan Katrin dari pipinya.
"Gue nggak mau."
"Kenapa?"
"Makan nggak akan buat lo jadi suka sama gue."
Islam terdiam. Helaan nafas berhasil lolos dari mulutnya.
"Islam please! Tolong kasih gue kesempatan. Kenal gue lebih dekat dan gue yakin lo bakalan suka sama gue," bisiknya sambil kembali menangkup kedua pipi Islam.
"Gue mohon."
Islam terdiam. Islam yakin jika cinta yang ada pada Katrin begitu tulus kepadanya.
Apa yang ia lakukan sekarang? Apa ia hanya bisa diam dan melihat Khadijah dan Rahman menikah sementara kini di hadapannya ada seorang gadis yang sangat mencintainya.
"Katrin, gue tau rasanya sakit hati itu bagaimana."
"Itu sakit dan gue ngerti."
"Sekarang gue putusin buat mencoba membuka hati buat lo."
Kedua mata Katrin berbinar. Ia sama sekali tak menyangka jika Islam akan mengatakan hal ini.
"I...i....ini se...se...serius?"
Islam mengangguk pelan membuat Katrin melepaskan tangisannya sambil tersenyum. Katrin kembali memeluk tubuh Islam yang terlihat terdiam dengan wajah datar.
"Terimakasih Islam, terimakasih."
"Gue janji gue nggak akan kecewain lo," sambungnya.
Islam melepaskan pelukan Katrin dan menyentuh bahunya.
"Sekarang kita sahabatan dulu dan selama itu gue akan mencoba untuk membuka hati gue."
Katrin mengangguk sambil tersenyum membuat Islam juga tersenyum. Ia melirik menatap mangkuk bubur yang masih banyak.
"Nah sekarang lo makan aja biar gue yang suap."
"Suap? Lo mau nyupin gue?" Tatap Katrin tidak menyangka apalagi saat Islam memegang sendok dan menyodorkan sendok itu ke arahnya.
"Cepetan nguap! Atau gue yang makan nih."
Katrin tertawa.
"Enak aja, lo kan puasa."
"Yah udah cepetan nguap!"
Islam menjulurkan sendok itu ke arah mulut Katrin yang terbuka tetapi dengan jahilnya Islam mengerakkan sendok itu ke arah lain.
Wajah Katrin menjadi cemberut membuat Islam tertawa.
__ADS_1
"Iya, iya sorry sorry. Masa gitu aja ngambek?"
Katrin tertawa membuat Islam juga ikut tertawa. Di luar pintu kamar Nenek Una dan Umma Nur juga terlihat tertawa. Ia ikut terharu dan terbawa suasana setelah melihat hal ini.