
Islam menatap langit-langit bagian bawah kamar yang pernah ditempati oleh Kristian. Islam menatap jari-jari tangannya yang memerah bekas pukulan penggaris Sarifuddin.
Islam menoleh menatap Sarifuddin yang terlihat terdiam dengan baring terlentang menatap langit-langit kamar sambil memeluk Al-Qur'an.
Islam tak mengerti mengapa Sarifuddin sangat sayang pada Al-Qur'an yang kertasnya itu telah menguning, sepertinya ini sudah lama.
"Din!"
"Iye," sahutnya di tengah kegelapan.
"Gue dengar-dengar katanya lo udah hapal 30 juz Al-Qur'an yah?"
"Iye."
"Berarti hebat dong lo."
Sarifuddin terdiam, ia terlihat hanya tersenyum.
"Din! Lo diajarin ngaji sama siapa?" tanya Islam.
"Sama Bapakku," jawabnya.
Islam menghela nafas berat. Rasanya ia merasa iri setelah mengetahui jika Sarifuddin diajari mengaji oleh Ayahnya.
"Bapak lo ustad juga?"
"Bukan," jawabnya.
Islam memiringkan tubuhnya sambil menopang kepalanya menatap Sarifuddin.
"Oh iya ngomong-ngomong selama gue di sini lo belum pernah deh ceritain tentang keluarga lo."
"Yah yang gue tau itu cuman asal lo yang dari Sulawesi dan lo yang punya banyak saudara tapi lo nggak pernah ceritain kisah tentang diri lo."
Sarifuddin masih terdiam.
Islam mendecapkan bibirnya, tak ada jawaban dari Sarifuddin membuat Islam kembali merebahkan tubuhnya.
"Oh iya, Din. Gue itu juga selalu heran sama lo, kenapa sih lo itu selalu aja tersenyum yah walaupun banyak masalah tapi sebenarnya jujur sih lo itu kayak orang gila."
"Maaf yah kalau lo tersinggung tapi bener deh dari milyaran orang cuman lo yang udah dikejar anjing tapi masih bisa senyum."
Sarifuddin terdiam, ia tak pernah menatap Islam sedikitpun.
Islam kembali menatap ke atas dengan suasana sunyi. Misterius sekali Sarifuddin ini.
Islam memiringkan tubuhnya lagi sambil menopang kepalanya persis seperti ibu yang menyusui bayinya.
"Din! Gue mau tanya juga, lo kok bisa tahan sih tinggal di sini?"
"Kenapa lo nggak kabur aja kayak gue dulu yang kabur dari pondok pesantren?"
"Lo tau nggak, tinggal di pondok pesantren itu kayak penjara. Ini untung gue punya banyak keluarga di pesantren jadi masih aman nah lo gimana? Lo kan nggak punya keluarga di sini."
"Din! Lo ngambek yah?"
__ADS_1
Islam mengangkat sedikit kepalanya agar bisa melihat kedua mata Sarifuddin, memastikannya apakah ia sudah tidur atau belum.
"Brengsek lo, taik," umpatnya setelah mengetahui jika Sarifuddin belum tertidur tapi dia tidak membalas semua pertanyaan atau berbicara sedikitpun.
Islam menghempaskan tubuhnya ke kasur membuat ranjang itu bergoyang. Kedua mata Islam terbelalak, hampir saja ranjang ini patah.
Kini suasana menjadi sunyi diiringi suara jengkrik yang menjadi musik pengiring waktu tidur di jam yang telah menunjukkan pukul 1 itu.
Suasana sunyi dan sepi. Malam telah larut tapi itu tak membuat Islam mengantuk hingga akhirnya suara Sarifuddin terdengar membuat Islam dengan cepat menoleh.
"Nama saya Muhammad Sarifuddin Bin Toa."
"Bapak saya dulu itu adalah pria pemabuk dan suka main judi."
Islam terbelalak kaget dengan tatapan tak menyangkanya ia terus menatap Sarifuddin.
"Saya anak ketujuh dari tujuh bersaudara dari ibu yang berbeda. Istri bapakku punya lima istri dan kami tinggal satu rumah."
"Bisa kita bayangkan betapa berisiknya rumah yang tidak terlalu luas ditempati oleh lima istri dan tujuh anak."
"Awalnya saya benci dengan Bapak saya karena dia punya banyak istri tapi saya tau saudara saya jauh lebih besar rasa bencinya kepada Ibu saya karena Ibu saya yang statusnya Istri terakhir."
"Bapak saya kerjanya cuman petani itupun sawah punya orang yang ketika panen hasilnya dibagi dua."
"Lima saudara saya merantau ke berbagai negara dan berbagai profinsi. Ada yang ke Malaysia, Kalimantan dan masih banyak lagi, saya pun tidak tau dia dimana sekarang karena tak ada telpon."
"Saat umur saya lima tahun saya ingat betul bapak saya belajar mengaji di masjid lalu setelah dia pulang ke rumah maka saya diajari mengaji. Apa yang Bapak saya pelajari di masjid maka itu yang akan dia ajarkan ke saya."
"Dia mengajari saya sholat dan mengaji."
Islam hanya bisa terdiam. Mendengar semua ujaran Sarifuddin membuat Islam merasa jika Bapak Sarifuddin memiliki harapan yang besar.
"Terus lo nggak rindu?" tanya Islam.
"Bapak saya memutuskan untuk memasukkan saya ke pesantren ini bermodalkan uang pinjaman."
"Saya tidak tau kenapa Bapak saya lebih memilih memasukkan saya ke pesantren ini yang jauh dari kota kelahiran saya padahal ada banyak pondok pesantren di sana."
"Nama saya sudah didaftarkan secara online oleh Bapak saya melalui ponsel yang tinggal di dekat rumah saya itupun tidak gratis."
"Dia minta uang dua puluh ribu padahal uang itu untuk membeli beras tapi Bapak saya tidak memikirkan beras, dia hanya memikirkan saya bisa masuk pesantren."
"Akhirnya saya berangkat pergi diantar oleh Bapak saya ke pondok pesantren ini yang jauh dari Sulawesi."
"Setelah sampai Bapak saya pamit pergi dan menitipkan saya pada Pak Haji kiyai yang ternyata adalah pemilik sawah yang Bapak saya kerjakan di Sulawesi."
"Bapak saya menitipkan Al-Qur'an ini pada saya, ini yang saya sering gunakan saat belajar mengaji," ujarnya sambil mengelus permukaan Al-Qur'an.
Islam tersenyum tipis. Pantas saja Sarifuddin sangat sayang pada Al-Qur'an itu.
"Bapak saya pergi dan tak lama saya mendapat kabar kalau Bapak saya kecelakaan dan dia meninggal karena terlindas truk."
"Apa?" kaget Islam dengan wajah terkejutnya.
Sarifuddin tersenyum diiringi air mata yang mengalir di sudut matanya dan mengalir menuju telinganya.
__ADS_1
"Bapak saya hancur."
Sarifuddin meledakkan tangisannya. Ia berusaha untuk menahannya tapi tak bisa. Sarifuddin menutup matanya berharap air mata itu berhenti mengalir tapi itu tidak bisa.
Sarifuddin sesegukan membuat jari-jari tangannya dengan cepat mengusap dadanya agar bisa bersabar. Tangisannya terhenti membuatnya kembali membuka mata dan mencoba untuk tersenyum.
"Bapak sa-saya tidak utuh lagi."
"Aspal itu penuh dengan darah, saya dengar dari Ustad Syuaib."
"Bapak saya dikuburkan di belakang pesantren dan ini alasan saya tetap menetap di pondok pesantren."
"Siapa yang bilang kalau saya tidak punya keluarga di pesantren? Bapak saya ada di sini."
Islam hanya bisa terdiam. Dengan sembunyi-sembunyi ia mengusap air matanya yang tak tau kapan dia jatuh.
"Setelah dia meninggal saya baru tau ternyata ada alasan saya dibawa ke pondok pesantren yang jauh dari Sulawesi, itu semua agar para tetangga tidak menertawakan Bapak saya. Orang-orang berpikir anak dari seorang pemabuk tak pantas masuk pesantren."
"Saya juga baru tau kalau lima istri Bapaku itu semuanya adalah wanita jalanan yang luntang-lantung di jalan dan ada beberapa dari mereka yang gangguan jiwa."
"Bapak saya orang baik. Dia menjadikan orang gangguan jiwa dan wanita jalanan menjadi istrinya agar mereka tidak hidup di jalanan."
"Saya juga baru sadar kalau ternyata Ibu saya adalah salah satu istri dari Bapakku yang mengalami gangguan jiwa."
Sarifuddin meledakkan tangisannya lalu tak lama ia menghentikannya dan kembali tersenyum.
"Islam, seharusnya bersyukur punya keluarga yang lengkap dan mereka ada di sekeliling."
"Mereka semua paham agama dan baik."
"Pak Haji kiyai, beliau sengaja meletakkan saya di kamar ini sendiri agar santri yang lain tidak terganggu saat saya menangis di tengah malam."
Sarifuddin menggerakkan kepalanya menatap Islam yang terlihat sesegukan. Sarifuddin tersenyum walau bibirnya terlihat bergetar.
"Saya tersenyum karena Allah."
"Senyum adalah sedekah."
"Saya tidak punya uang, jadi saya hanya bisa bersedekah menggunakan senyum saya."
"Ini adalah kisah saya, kisah Sarifuddin."
Sarifuddin membalikan badannya membelakangi Islam yang mampu melihat bahu Sarifuddin yang bergetar. Islam tau Sarifuddin sedang menangis.
Islam ikut berbalik badan membelakangi Sarifuddin.
Islam tak percaya jika di balik senyum Sarifuddin memiliki banyak kesedihan tapi Sarifuddin tak pernah menceritakan hal itu kepadanya.
Sekuat ini kah agama Islam sehingga mampu mempertahankan senyum pria itu?
...----------------...
Masih bisakah kamu bersedih hari ini hanya karena masalah sepele?
Ingat! Semua orang punya masalah tapi tidak semua orang bisa tersenyum walau ia punya masalah.
__ADS_1
Tersenyumlah hari ini karena kita tidak tau apakah kita masih bisa melihat esok hari.