
"Sahur!!!
"Sahur!!!"
Suara teriakan Syuaib yang membangunkan para santri dari pintu ke pintu sambil memukul botol menggunakan besi terdengar.
Sarifuddin mengusap matanya lalu membukanya perlahan membuatnya terbelalak kaget menatap Islam yang terlihat sedang duduk di atas kasur sambil memegang senter. Tak ada perubahan posisi terakhir yang Sarifuddin lihat sebelum ia tidur.
"Boh, kita enak sudah tidur kah?" kagetnya yang langsung duduk.
Islam menoleh membuat bagian hitam di bawah matanya terlihat.
"Din!"
Islam tersenyum lalu ia turun dari kasurnya dan menghampiri Sarifuddin yang mengernyit heran.
"Din, gue udah hapal bacaan sholat sampai sujud," ujarnya memberitahu.
"Heh!!! Sahur!!!"
Suara teriakan dari luar terdengar diiringi ketukan pintu, itu Syuaib. Islam dan Sarifuddin menoleh menatap ke arah pintu.
...***...
"Nih lo liat! Gue udah hapal sampai sini," ujar Islam sambil menunjuk huruf hijaiyah setelah meletakkan buku bacaan sholat itu di atas meja.
Sarifuddin mengangguk sambil tersenyum. Ada perkembangan juga cucu Abah Habib ini.
"Nih lo denger yah!" suruhnya.
Islam kemudian melantungkan bacaan sholatnya dengan pelan-pelan dari awal hingga sujud.
"Gimana?" tanya Islam.
"Widih, bener," kagumnya yang tak henti-hentinya tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih.
"Tuh kan bener."
Islam meraih buku bacaan sholat itu dan membukanya menatap bacaan yang selanjutnya.
"Kalau udah sujud berarti duduk diantara dua sujud," ujarnya membaca lembaran buku itu.
"Nah bener kan yang saya bilang kalau mau belajar pasti bisa."
Islam terdiam tak memperdulikan ujaran Sarifuddin yang kini terdiam.
"Sahur dulu lah! Semangat boleh, sahur juga harus," ujarnya.
Islam menoleh lalu ia tersenyum.
"Nanti ajarin gue yang ini yah!" ujarnya sambil menunjuk bacaan tahiyat akhir.
"Siap," ujar Sarifuddin semangat.
Islam cengar-cengir tak jelas lalu menyuapi mulutnya dengan nasi semetara penglihatannya tak lepas dari lembaran buku bacaan sholat itu.
Sarifuddin yang melihat hal itu hanya geleng-geleng kepala. Semangat sekali Islam saat ini. Tak pernah Sarifuddin lihat semangat yang benar-benar gigih pada Islam.
Islam yang Sarifuddin kenal sebagai pria yang sering bercanda, kadang marah-marah ternyata bisa serius seperti ini hanya karena seorang wanita bercadar.
Jika Islam tak mampu mendapatkan hati Khadijah maka hancurlah hatinya tapi Sarifuddin yakin jika sebuah usaha tidak akan mengkhianati hasil, Sarifuddin yakin akan hal itu.
...***...
"Umma!!!" teriak Islam saat mendapati Umma Nur yang melangkah bersama Khadijah sambil memegang keranjang menuju gerbang pondok pesantren.
__ADS_1
Umma Nur menoleh dan tersenyum melihat Islam yang berlari ke arahnya.
"Mau ke pasar?"
"Iya, mau ikut?"
"Mau, Umma," jawab Islam semangat.
Islam melirik menatap Khadijah yang hanya terdiam dan tak menyapanya.
"Assalamu'alaikum, Khadijah," ujar Islam sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam," jawabnya lalu ia berpaling dan lebih dulu melangkah.
Islam tersenyum saat mendengar jawaban salam dari Khadijah. Senyum itu tak lepas dari bibirnya selama ia dalam perjalanan ditambah lagi disaat ia bertemu dengan warga desa.
"Eh Bu Tati, tambah cantik aja!" goda Islam saat melewati rumah kayu yang penghuninya sedang menyiram tanaman.
Wanita tua itu tertawa sambil menutup mulutnya yang setiap paginya selalu dibuat tersenyum oleh sapaan Islam.
Bukan hanya wanita tua itu tapi Islam selalu menyapa penghuni rumah yang ia lihat sedang ada di depan rumahnya tak peduli itu anak-anak, remaja perempuan, laki-laki bahkan sampai wanita dan pria tua.
Tak sulit bagi Islam untuk akrab dengan siapa saja. Sifatnya yang ramah itu menjadikannya memiliki banyak kenalan di desa ini walaupun kehadirannya belum genap dua minggu.
"Islam!" panggil wanita tua yang pernah Islam bantu saat di pasar.
Wanita itu bernama Nenek Sia, yah Islam tau namanya setelah Nenek itu memperkenalkan namanya kepada Islam.
Islam melambaikan tangannya saat mendapati Nenek Sia yang terlihat sedang berdiri di gerbang pasar, yah setiap pagi Nenek Sia selalu menunggu Islam datang di gerbang pasar.
"Selamat pagi calon istriku," ujarnya bercanda sambil menyentuh gemas pada lengan Nenek Sia yang langsung tertawa.
"Sudah lama?" tanya Islam.
"Sudah dari tadi," jawabnya.
"Tidak apa-apa yang penting Islam datang," ujarnya sambil mengelus pipi Islam yang benar-benar mulus.
"Aduh, tampannya cucumu ini, Ustazah Nur," pujinya.
"Lihat dulu siapa Neneknya," ujar Umma Nur dengan bangga membuat semuanya tertawa.
"Yah udah yuk!" ajak Islam lalu melangkah setelah meraih kantung kresek hitam belanjaan Nenek Sia dan melangkah.
Nenek Sia tersenyum saat Islam pergi membawa belanjaannya .
"Cucumu sangat baik," ujarnya sambil menatap Umma Nur yang terlihat sedang menatap Islam.
"Emm apa dia sudah punya pacar?" tanya Nenek Sia.
Umma Nur tertawa.
"Kalau itu saya tidak tau soalnya Islam itu semua wanita selalu dianggapnya calon istri," ujarnya lalu tertawa lagi.
"Iya, bahkan saya pun dianggap calon istri," ujar Nenek Sia membenarkan.
"Memangnya ada apa?" tanya Umma Nur.
Nenek Sia yang mendengar pertanyaan itu langsung meremas jari-jari tangannya yang merasa gugup.
"Begini, coba ditanya dulu sama Islam! Apakah dia punya pacar atau tidak kalau tidak ada mungkin Islam bisa dijodohkan sama cucu saya," ujarnya.
Kedua mata Khadijah membulat sempurna setelah mendengar hal itu. Apa yang baru saja ia dengar ini benar? Atau ia salah dengar?
Senyum Umma Nur menghilang dengan pelan-pelan dari bibirnya.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Umma Nur tak percaya.
"Benar," jawabnya.
"Cucumu itu yang kuliah di kota yah?" tanya Umma Nur.
"Iya," jawabnya.
Khadijah berpikir sesaat membuatnya berhasil mengingat cucu Nenek Sia yang terakhir kali ia lihat saat mereka masih kecil. Gadis itu cantik dan berkulit putih yah mungkin saja gadis itu sekarang sudah besar dan bertambah cantik.
"Khadijah!" panggil Umma Nur membuat khadijah menoleh menatap Umma Nur yang sudah jauh darinya.
"Ayo!" ajaknya.
"Iya Umma," jawabnya.
Khadijah menoleh menatap Nenek Sia yang sudah melangkah agak jauh darinya.
Karena ia memikirkan tentang cucu Nenek Sia, ia jadi tak mendengar percakapan terakhir mereka hingga mereka berpamitan pergi.
20 menit kemudian...
Khadijah meraih kantong kresek hitam berisi bawang merah dan bawang putih yang dijulurkan oleh pria berkumis.
"Terimakasih," ujar Khadijah lalu ia berpaling membuatnya terkejut menatap Islam yang sedang berdiri di belakangnya.
"Astaghfirullah!" kagetnya sambil ia menyentuh dadanya yang jantungnya benar-benar hampir copot.
"Assalamu'alaikum," ujarnya sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam," jawabnya walau ia masih merasa terkejut.
"Emm, Umma mana?" tanya Islam, yah ini adalah kalimat alasan agar Khadijah tak merasa jika dia sejak tadi mencari Khadijah padahal Islam sudah bertemu dengan Umma Nur di sana.
"Mungkin ada di penjual ikan," jawabnya.
Islam tersenyum. Benar sekali Islam bertemu dengan Umma Nur diperjual ikan tadi.
Islam mengernyit heran, ada yang ganjal pada pinggangnya. Islam merabah pinggangnya itu mencari buku bacaan sholatnya yang telah ia selipkan.
"Ada apa?"
Islam menoleh menatap Khadijah yang terlihat kebingungan.
"Buku saya hilang," jawabnya.
"Saya pergi dulu yah!" ujarnya lalu melangkah pergi.
"Isla-" Khadijah yang berniat untuk memanggil Islam terhenti saat ia menatap sebuah buku yang tergeletak di atas tanah.
Khadijah meraihnya, menatap buku itu dengan serius.
"Buku bacaan sholat," ujar Khadijah setelah membaca sampul buku itu.
Khadijah menoleh menatap Islam yang sudah tak terlihat lagi dimana Khadijah terakhir kali melihatnya.
Khadijah kembali menatap buku yang ada di tangannya itu. Apakah buku ini yang dicari Islam?
......................
Wah kira-kira siapa yah cucu Nenek Sia yang akan dijodohkan dengan Islam?
Bagaimana yah kira-kira sama Khadijah kalau Islam benar-benar dijodohkan dengan teman kecilnya itu?
Lalu kira-kira Islam mau tidak, yah?
__ADS_1
Yuk komen yuk! Mau dengar nih pendapat dari antum semua☺️