
Islam melangkah masuk ke dalam rumah setelah seharian menghabiskan waktunya di kampus untuk mengurus beberapa nilainya yang bermasalah. Rasanya menyesal setelah menghabiskan waktunya selama ini hanya bersantai dan sekarang ujung-ujungya ia pusing sendiri.
Islam menghentikan langkahnya saat melihat Mawar dan Akbar yang duduk di sofa saling merangkul di depan TV.
"Assalamualaikum," ujar Islam membuat kedua orang tua Islam itu menoleh sambil menjawab salam.
"Sudah pulang, Lam?"
"Sudah."
"Pulangnya kenapa lama sekali sampai pulang larut malam seperti ini?"
"Banyak urusan di kampus."
"Banyak urusan yah Banyak urusan tapi kasihan loh sama istri kamu," jelas Mawar membuat Islam kebingungan.
"Istri?"
"Loh, lupa ingatan kamu, Nak? Beberapa hari yang lalu kamu baru saja sudah menikah."
Mawar tertawa saat menjelaskannya. Bagaimana bisa Islam lupa jika ia telah menikah dan telah memiliki istri, yakni Khadijah.
Islam menepuk jidatnya. Dasar pelupa!
Islam berlari menaiki anakan tangga menuju kamarnya tak ada cahaya yang terlihat pada celah bawah pintu, sepertinya Khadijah sudah tidur.
Pintu terbuka saat Islam berniat untuk mengetuk pintu kamar membuat Islam menggeleng. Bagaimana bisa istrinya itu tak menutup pintu saat tidur?
"Assalamualaikum," ujar Islam saat ia melangkah masuk menatap kamar yang gelap gulita.
Islam melangkah menyusuri dinding sembari tangannya yang merabah mencari sakral untuk menyalakan lampu.
Lampu kini menyala membuat Islam terkejut saat menatap kasur yang terlihat kosong, tak ada istrinya di sana. Islam menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk mencari sosok istrinya yang tak kunjung terlihat.
"Khadijah!" panggil Islam dengan wajah khawatirnya.
Tak ada jawaban membuat jantung Islam berdetak sangat cepat.
"Khadijah!"
"Iya, sayang."
Islam terkejut saat mendengar sahutan di belakangnya membuat Islam dengan cepat menoleh menatap kaget pada sosok istrinya yang berdiri di pintu kamar mandi.
Bibir Islam terbuka saat menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Khadijah. Tubuh putih mulusnya itu hanya menggunakan kain tipis berwarna putih sebatas paha dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai.
Apa itu Khadijah?
Islam menelan ludah, ini bukan Khadijah yang seperti ia lihat. Seorang gadis yang sehari-harinya hanya menggunakan cadar dan kini Khadijah berdiri di hadapannya dengan baju seksi.
Tanpa sadar tas yang ada di bahu Islam terjatuh ke lantai membuat Islam gelagapan untuk meraihnya.
Islam menunduk dengan jari tangannya yang berniat untuk merah tas hitamnya tapi jari tangan itu tertahan saat ia menoleh menatap betis putih dan mulus.
Islam mendongak menatap Khadijah yang sudah ada di hadapannya. Islam bangkit dan berdiri tegak di hadapan istrinya yang kini sedang tersenyum nakal.
Jantung Islam berdetak sangat cepat ditambah lagi saat ia mencium aroma wangi dari tubuh Istrinya.
Khadijah mendekat lebih dekat hingga perut mereka bertemu. Kedua pasang mata mereka bertemu membuat Islam mengerjapkan kedua matanya beberapa kali berusaha untuk menatap baik-baik wajah gadis yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Apa ini Khadijah atau bukan? Mana istrinya yang polos? Dan mengapa kali ini Islam yang merasa takut?
Tangan Khadijah melingkar ke leher Islam membuat Islam melirik menatap tangan Khadijah sesaat.
"Ada apa ini?" tanya Islam.
Khadijah tersenyum lalu mengedikkan kedua bahunya, hanya itu jawabannya.
"Ka-ka-kamu sakit?" tanya Islam.
"Tidak rindu?"
"Hah?"
Khadijah tersenyum gugup. Oh Tuhan, apa yang baru saja ia katakan kepada suaminya itu. Ayolah! Kamu harus terlihat menggoda, Khadijah!
Setelah mengoceh pada pikirannya sendiri akhirnya Khadijah memainkan unjung rambutnya. Yah, apa ini akan terlihat seksi di hadapan suaminya? Hah, sepertinya ia terlihat bodoh melakukan hal ini.
Islam tersenyum lalu menarik erat pinggang Istrinya yang kedua matanya langsung membulat.
"Mau mencoba menggoda?"
Khadijah meneguk paksa salivanya dan berusaha untuk tetap tenang dan tidak panik di hadapan Islam. Tapi terlambat wajah polos istrinya yang gugup bisa terlihat jelas.
Islam tersenyum, spertinya ada yang mencoba bermain-main dengannya.
"Siapa yang menggoda?" tanya Khadijah yang masih berusaha untuk tenang.
"Kamu," bisik Islam membuat Khadijah merinding.
"Tidak."
"Oh yah?"
Khadijah mengangguk.
"Dari mana mendapatkan baju seperti ini?"
"Emmm, tidak perlu tau."
"Oh yah?"
Khadijah kembali mengangguk.
"Lalu sekarang kenapa kamu memakai pakaian seperti ini jika kamu tidak berniat untuk menggoda?"
"Menggoda?"
"Yah tentu saja. Kamu sedang menggoda, sayang."
Islam menyelipkan beberapa helai rambut Khadijah ke telinganya yang menghalangi pandangan Islam.
"Khadijah tidak menggoda."
"Lalu?"
"Hanya ingin melayani suami. Lagipula malam ini malam jumat. Apakah akhi tidak ingin bermain-main dengan Khadijah?"
Islam tertawa kecil setelah mendengar omongan Istrinya. Ah, sepertinya ada yang mencoba nakal di sini.
__ADS_1
"Jangan memancing saya. Kamu pasti tau kalau suamimu ini tidak akan melakukan hal itu jika kamu sedang menstruasi," jelas Islam yang kemudian melangkah meninggalkan Khadijah.
"Jadi tidak ingin?" tawar Khadijah pada suaminya yang kini sedang melepas bajunya dan menukarnya dengan baju tipis.
"Tidak," jawabnya.
Khadijah mendecapkan bibirnya dengan wajah cemberut.
"Tapi menstruasinya sudah berhenti."
Gerakan tangan Islam yang melepas tali pinggangnya itu terhenti. Ia menoleh menatap istrinya yang sedang tersenyum.
"Sudah berhenti?"
Khadijah mengangguk dengan wajah malunya. Islam tertawa kecil lalu berlari mendekati Istrinya dan memeluknya dengan erat.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Akhi tidak bertanya."
"Emmm, jadi apa sekarang boleh?"
"Tidak."
"Tidak?" tanya Islam dengan wajah bingungnya.
Khadijah mengangguk.
"Tapi sudah berhentikan?"
Khadijah mengangguk membuat Islam tertawa.
"Kalau begitu tidak ada alasan dan malam ini kamu tidak akan tidur," bisik Islam yang dengan cepat menggendong tubuh istrinya yang terkejut bukan main.
Oh Tuhan, mau dibawa kemana ia oleh Islam yang kini masih melangkah.
Khadijah tersenyum saat menatap wajah tampan suaminya. Khadijah bisa mencium bau parfum pada tubuh suaminya yang harum.
Islam meletakkan tubuh istrinya itu ke atas kasur dan ditatapnya dari atas sampai ujung kakinya yang begitu indah.
Khadijah bisa merasakan dinginnya kasur yang menyengat kulitnya. Kedua mata Khadijah terbuka dan mendapati suaminya yang sedang melepas bajunya di sana.
Ya Tuhan, sepertinya suaminya ini tidak main-main.
Islam tersenyum saat ia berhasil memergoki Istrinya yang sedang menatapnya. Ia merangkak menaiki tubuh istrinya dan menatapnya dengan penuh kasih sayang.
Islam membelai lembut pipi istrinya yang terlihat sangat cemas. Islam mengecup pipi istrinya kanan dan kiri, naik ke kening yang berkeringat cemas itu lalu turun ke hidung dan berakhir pada bibir istrinya.
Islam membuka bibirnya dan mencicipi bibir istrinya yang begitu lembut. Islam menjauhkan wajahnya membuat kecupan itu terlepas. Khadijah membuka kedua matanya menatap wajah Islam yang kembali mendekatinya.
Islam kembali mengecupnya hingga turun ke dada Khadija hingga semua itu terjadi dengan sendirinya seiring waktu berjalan. Semuanya dilakukan oleh Islam dengan gerakan lembut, yah Islam tahu ini sakit dan ia tak ingin membuat istrinya merasa kesakitan.
Yang Islam inginkan adalah ia menikmati setiap apa yang ia lakukan dan istrinyapun merasakan hal yang sama tanpa ada suatu kata keterpaksaan.
Cinta,yah cintalah yang membawanya merasakan hal ini semua dan hubungan sah yang menjadi jalannya. Tak ada lagi penghalang yang menahan hasrat dan kemauan sepasang pengantin baru ini yang kini sedang merasakan kebahagiaan dalam pernikahan.
Cieeee, malam pertama nih yeeeeh😂😂😂
...****************...
__ADS_1