
"Apa?" tanya Sarifuddin setelah mendengar apa yang baru saja diberitahu oleh Islam.
"Iya, Din. Khadijah bilang gitu sama gue."
Sarifuddin yang sedang membaca Al-quran itu langsung menutupnya dan meletakkannya di atas meja.
"Din, malam lailatul qadar itu apaan, sih?" tanya Islam yang masih berlutut di depan Sarifuddin.
Sarifuddin menarik nafas panjang, yah seperti ini jika Sarifuddin ingin berbicara dan menjelaskan panjang lebar. Jika Sarifuddin sudah mulai menarik nafas panjang maka disaat itulah otaknya bekerja mencari jawaban.
"Malam lailatul qadar atau lailat Al-Qadar adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan, yang dalam Al-Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan."
"Barang siapa yang pada malam malam lailatul qadar mengerjakan ibadah dan berdoa dengan penuh keimanan yang dipersembahkan semata-mata untuk Allah, akan diampuni dari segala dosanya yang terdahulu dan yang akan datang semuanya itu dijelaskan pada hadis riwayat Ahmad dan Thabrani," jelasnya.
"Kalau dikerjakan bukan karena Allah tapi karena Khadijah?"
"Heh! Jangan bicara seperti itu! Bagaimana bisa sosok Allah yang maha besar digantikan hanya karena sosok perempuan."
"Gue mau sholat lailatul qadar tapi untuk merayu hati Allah agar Allah merayu hati Khadijah, itu yang Khadijah bilang."
"Itu berarti ukhti Khadijah ingin Islam merayu hati Allah dan hanya memohon kepada Allah. Urusan terayu atau tidak tidaknya itu urusan Allah."
"Ibadah karena Allah dan serahkan pada Allah bukan karena ada maunya saja."
Islam seketika terdiam. Wajah Sarifuddin terlihat agak kesal kepadanya. Oh Tuhan, seram sekali wajah Sarifuddin saat membahas tentang Tuhan.
"Ini kebiasaan umat, ibadah hanya karena ingin minta setelah dapat maka ibadah dilupakan."
"Kalau meminta bilangnya 'Hanya kepada-Mu kami meminta' tapi mereka tidak pernah bilang 'Hanya kepada-Mu kami menyembah' Seperti itu," jelasnya.
Islam hanya bisa menelan salivanya. Sensitif sekali Sarifuddin ini.
"Sekarang gue harus gimana?" tanya Islam.
"Nanti malam sholat karena Allah bukan niat karena mau mendapatkan hati ukhti Khadijah!"
"Puji Allah karena ikhlas bukan karena ada maunya."
"Setelah itu maka rayulah Allah agar Ia mau merayu hati Khadijah tapi jangan memaksanya dan bahkan menuntutnya."
"Sesungguhnya hanya Allah yang tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya."
Islam diam mematung. Ya Allah, berdosakah ia setelah berniat beribadah hanya karena sosok Khadijah?
Islam mendongak menatap Sarifuddin yang telah begitu banyak menjelaskannya tentang apa yang tidak ia mengerti.
Sekarang Islam sadar dan percaya bahwa memiliki satu sahabat yang paham agama lebih berguna daripada memiliki ribuan sahabat yang baik tapi tidak paham agama.
"Makasih yah, Din," ujar Islam sambil mengelus bahu Sarifuddin yang terlihat tersenyum tipis sambil mengangguk.
...***...
__ADS_1
Suasana malam ini begitu sangat sejuk diiringi hembusan angin malam yang begitu menyejukkan. Islam menoleh ke kiri dan kanan menatap langit gelap yang hiasi bintang-bintang.
"Kayaknya mau hujan deh," ujar Islam yang melangkah ke kasurnya setelah menutup pintu.
Sarifuddin yang sedang membaca Al-Qur'an itu menoleh menatap Islam yang telah berbaring di atas tempat tidurnya.
"Gue tidur duluan, yah," ujar Islam yang kemudian membalikkan badannya membelakangi Sarifuddin.
"Sudah mau tidur?" tanya Sarifuddin.
"Em," sahutnya.
Sarifuddin mengangguk walau sejujurnya ia merasa kebingungan. Baru kali ini Islam tidur lebih cepat.
Di tengah keheningan itu membuat Sarifuddin menutup Al-Qur'an miliknya dan ikut membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu memejamkan kedua matanya setelah ia berdoa.
Tak berselang lama lampu yang ada di dalam ruangan telah mati membuat ruangan kamar menjadi gelap.
Islam membuka kedua matanya lalu ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Ya Allah, kalau Engkau mengizinkan saya untuk sholat malam ini, maka bangungkan saya di sepertiga malam," bisik Islam lalu ia memejamkan kedua matanya.
Malam yang sunyi ini kini dibuat bising oleh suara guyuran hujan yang turung membasahi bumi. Pepohonan bergoyang-goyang ketika ditiup oleh angin yang tidak terlalu kencang.
Katak berlompatan di bawah guyuran hujan, mereka melompat untuk pergi berteduh di bawah pohong yang tak diberi ampun oleh guyuran hujan.
Islam membuka kedua matanya dengan tiba-tiba lalu ia menoleh menatap jam dinding yang terlihat gelap. Apa waktu sholat subuh telah lewat?
Islam terkejut bukan main menatap jarum jam yang menunjukkan pukul satu malam. Baru kali ini Islam terbangun dari tidurnya.
Tak berselang lama Islam tersenyum setelah terlintas di pikirannya mengenai ujarannya sebelum ia tidur.
Allah mengabulkan keinginannya dan sekarang Islam telah bangun.
Islam membuka pintu kamar membuat udara sejuk dan guyuran hujan yang ditiup oleh angin terasa menyambut Islam. Islam menutup pintu lalu melangkahkan kakinya yang beralas sendal berwarna hitam itu melewati pintu-pintu kamar para santri yang lantainya basah setelah diguyur hujan.
Islam berlari ke arah tempat wudhu dan segera mengambil air wudhu lalu setelahnya ia berdiri di tepi menatap derasnya hujan yang tak kunjung berhenti.
Pakaian Islam sekarang sudah agak basah setelah menerobos derasnya hujan. Untung saja Islam membawa pakaian ganti yang ia simpan di dalam kantong keresek hitam.
Islam berdiri sendiri di bagian luar tempat wudhu sembari menatap masjid yang lampunya begitu terang.
Islam memutuskan untuk kembali menerobos derasnya hujan. Ia menaiki anakan tangga yang basah itu sambil melindungi kepalanya dengan kantung kresek berisi pakaian ganti.
Sesampainya Islam mengusap rambutnya yang basah itu dengan kedua tangannya dan mengusap leher hingga turung ke pakaiannya.
Islam melangkah masuk ke dalam masjid dengan perasaaan takutnya, tak ada orang di sini kecuali Islam.
Islam menjilat bibirnya agar tidak kedinginan, tubuh Islam terasa mengigil setelah hujan-hujanan untuk sampai ke masjid.
Islam mengganti pakaiannya dengan baju koko serta sarung dan memasang peci putih ke kepalanya.
__ADS_1
Ia menoleh menatap ke arah sajadah yang selalu ditempati oleh imam masjid dan ia memutuskan untuk berdiri di atas sajadah itu.
Seketika tubuh Islam memanas karena rasa takut, entah takut dengan siapa tapi ini berhasil membuat jantung Islam berdebar dengan cepat.
Islam memejamkan kedua matanya lalu menarik nafas sesaknya lalu menghembuskannya dengan perlahan walau terputus-putus.
أُصَلِّى سُنَّةً لَيْلَةُ الْقَدَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
"Allahu Akbar!"
Islam memulai sholatnya dengan rasa takut membuat tubuhnya bergetar hebat. Ia sejujurnya tak bisa berdiri tegak, lututnya terasa ngilu tapi ia mencoba untuk berdiri tegak.
Islam melafalkan bacaan sholatnya dan melaksanakan sholat dengan khusyu, Entah mengapa rasanya ada yang sedang menatapnya dan bukan hanya dia yang ada di di dalam ruangan masjid ini.
Islam sujud ke atas sajadah untuk sujud terakhirnya, merapatkan dahinya yang mulus itu. Islam membuka kedua matanya membuat kedua matanya memanas ketika ia berhasil mengingat semua sifat buruknya.
Sikap tak baiknya kepada Akbar seakan terbayang di pikirannya. Para gadis-gadis yang selalu ia permainkan hati dan perasaannya bermunculan seakan sedang marah kepadanya.
Terbayang pula saat ia bertengkar di jalanan melawan geng motor lain, menggangu pengguna jalan dan bahkan pernah sampai ia melukai pengendara motor yang tak punya salah sedikitpun.
Islam yang tak melaksanakan sholat, tak berbuat baik dan bahkan Islam baru saja belajar puasa di umurnya yang sudah semakin dewasa. Terbuang waktu hidupnya dengan perbuatan sia-sia.
Oh Tuhan, masih bisakah dosa ini diampuni?
Islam bangkit dengan air mata yang telah tumpah membasahi pipinya. Ia menoleh ke kanan dan kiri untuk menutup sholatnya lalu mengusap wajahnya yang telah basah itu.
Islam meledakkan tangisannya lalu menangis sesegukan. Masih pantaskah kedua tangan ini meminta kepada-Nya?
Masih pantaskah lisan yang selalu berujar dengan kata-kata kotor ini memuji nama Allah dan meminta sesuatu?
Bahkan sekarang Islam merasa malu dengan dirinya sendiri.
Islam mengangkat kedua tangannya lalu mendongak.
Islam menurungkan kedua belah tangannya itu seakan tak sanggup untuk berdoa. Ia mengusap pipinya lalu kembali mengangkat kedua belah tangannya.
"Ya Allah, Ya rob ku. Hanya kepadaMu hamba menyembah dan hanya kepadaMu hamba meminta."
"Sejujurnya hamba malu untuk meminta. Hamba takut Engkau tidak ingin mendengar doaku ini."
"Ya Allah, a-a-mpuni segala dosa-dosa hamba yang telah hamba perbuat baik yang disengaja maupun tidak."
"Hamba tidak pantas masuk ke dalam surgaMu tapi hamba juga tidak sanggup jika dimasukkan ke dalam nerakaMu, Ya Allah."
"Ya Allah, hamba mohon untuk memasukkan hamba ke dalam surgaMu dan matikan lah hamba secara syahid."
"Ya Allah, hamba mencinta salah satu hambaMu dan hamba mengingkannya, namanya Khadijah."
"Hamba datang untuk merayu Engkau, Ya Allah."
"Buatlah dia juga mencintai hamba sebagaimana hamba mencintainya."
__ADS_1
Islam mengusap wajahnya lalu kembali bersujud sambil menangis.