
Suara jengkrik terdengar mengiringi suasana malam yang penuh kedamaian dan juga kesunyian.
Khadijah terdiam di pinggir kasur sembari meremas jari-jari tangannya. Jantungnya berdetak sangat cepat hingga ia sulit untuk bernafas.
Sebelum ia menukar pakaiannya dan mandi perasaanya tak seperti ini karena tak ada Islam di sini tapi sekarang... Khadijah menoleh menatap pintu kamar mandinya yang langsung terbuka memperlihatkan Islam yang telanjang dada.
"Aaaaaa!!!" jerit Khadijah yang langsung menutup kedua matanya dan berdiri membelakangi Islam yang juga ikut terkejut.
"Ada apa?"
Khadijah menggeleng kencang. Kedua matanya tertutup rapat tapi bayangan tubuh mulus dan putih Islam terbayang di pikirannya. Khadijah tak menyangka jika tubuh Islam juga berotot dan terlebih lagi perutnya yang kota-kotak itu membuat Khadijah gugup.
"Kamu kenapa?" tanya Islam.
"Pa-pa-pakai baju, akhi!"
Mendengar hal itu membuat Islam menunduk menatap tubuhnya. Islam tersenyum jahil. Baru melihat tubuhnya saja sudah berteriak apalagi melihat...ah sudahlah kamu juga paham, hahahaha.
Islam melangkah mendekati Khadijah dan memeluknya dari belakang membuat kedua mata Khadijah membulat.
Lemas rasanya. Khadijah ingin mati karena jantungnya yang berdetak sangat cepat saat dipeluk oleh Islam.
Jari tangan Islam melingkar di perut Khadijah yang tak bergerak membuat dahi Islam berkerut, apa istrinya sedang menahan nafas?
Islam tertawa kecil lalu memutar tubuh mungil istrinya yang masih memejamkan kedua matanya dengan rapat.
"Buka mata!" bisik Islam membuat Khadijah merinding.
"Buka mata, sayang!"
Kedua mata Khadijah dengan cepat terbuka, bukan karena senang dipanggil sayang tapi karena terkejut. Untuk pertama kalinya ada yang memanggilnya seperti itu.
Kedua iris mata Khadijah menatap serius pada kedua mata Islam yang terus menatapnya. Khadijah tak tahan dengan tatapan itu membuatnya perlahan tertunduk tapi dengan cepat kembali menutup mata saat ia melihat dada bidang Islam di depan matanya.
Khadijah bisa mencium bau sabung mandi miliknya yang sepertinya telah dipakai oleh Islam saat mandi tadi.
Oh Tuhan, harum sekali.
"Kenapa tidak pernah mau menatap mataku, sayang?"
Khadijah terdiam.
"Dulu dosa tapi sekarang tidak. Kita sudah sah," sambung Islam.
"Khadijah ma-ma-malu," jawab Khadijah gugup.
Islam menarik nafas panjang lalu kembali tersenyum.
"Kenapa harus memakai cadar saat malam seperti ini? Tidak ada orang lain di sini selain saya."
__ADS_1
Wajah Khadijah mendongak menatap wajah tampan Islam yang masih tersenyum tulus ke arahnya.
Islam mengangkat jari tangannya ke arah cadar Khadijah yang langsung menutup rapat kedua matanya. Cadar itu terlepas membuat wajah Khadijah terlihat jelas dan alhasil membuat Islam tersenyum.
Bibir mungil berwarna pink segar, hidung yang mancung, dagu yang terlihat terbelah serta mata indah dengan bulu mata lentik. Bagaimana bisa ada gadis secantik dia yang masih mau menutupnya dengan cadar.
Islam menyentuh bekas luka bakar memerah yang ada di pipi kanan Khadijah. Luka bakar yang tidak terlalu besar dan inilah yang membuat Rahman menolak untuk menikah.
Khadijah menangis membuat Islam dengan cepat mengusap pipinya yang basah.
Islam manangkup kedua pipi Khadijah dan mendongaknya agar Islam bisa melihat wajah istrinya dengan jelas.
"Hust! Kenapa sayang? Hm?"
"Kenapa akhi Islam mau menikah dengan Khadijah?"
Islam tersenyum.
"Karena Islam mencintai Khadijah."
"Bukan karena kasihan?"
"Kalau saya kasihan mungkin saya sudah menikah dengan Katrin karena kasihan."
Khadijah tersenyum lalu tak berselang lama ia kembali menangis.
"Tapi wajah ini telah dilihat oleh akhi Rahman."
Pipi Khadijah bersentuhan langsung dengan dada Islam yang kini berdiri hanya menggunakan handuk putih yang berada di pinggangnya.
Islam melepas perlahan jilbab Khadijah yang terlihat terdiam membuat rambut lurus hitam berkilau itu terlihat. Islam meletakkannya di atas kasur dan menarik turun resleting baju gamis Khadijah yang hanya bisa memejamkan kedua matanya.
Hawa dingin yang menyengat belakangnya membuat Khadijah tahu jika Islam telah berhasil membuka resletingnya yang sampai ke atas pinggang itu.
Islam tersenyum menatap istrinya yang masih memejamkan kedua matanya. Terlihat sangat lucu sekali. Islam menunduk dan mengecup kening Khadijah cukup lama membuat Khadijah merinding.
Bibir itu pindah ke pipi kiri dan kanan Khadijah, beralih ke hidung hingga Khadijah mengenggam jari-jarinya kuat saat hembusan nafas Islam berhembus mengenai bibirnya.
Islam mengecup dagu Khadijah dan berlanjut ke bibirnya yang mungil. Islam mendiamkannya cukup lama di sana. Islam membuka bibirnya berniat untuk mencicipi bibir mungil istrinya itu sembari kedua tangannya yang menarik turun baju gamisnya.
"Akhi!"
Khadijah menjauh. Ia melangkah mundur dan kembali merapikan baju gamisnya yang telah nyaris memperlihatkan dadanya setelah di lepas dengan pelan oleh Islam.
"Ada apa?"
"Kha-khadijah-Khadijah tidak bisa."
"Kenapa?"
__ADS_1
Khadijah menelan salivanya lalu ia salah tingkah membuat Islam diam keherangan.
"Ada apa?"
Islam melangkah maju berniat untuk mendekati Khadijah dan dengan cepat Khadijah mengerakkan tangannya agar Islam tak mendekat.
"Ada apa?"
"A-a-ana sakit."
"Sakit?"
Khadijah mengangguk cepat.
Islam melangkah mendekati Khadijah dan meletakan tangannya ke atas dahi Khadijah yang refleks menutup kedua matanya.
"Tidak panas dan berarti kita boleh-"
"Bukan itu!" ujarnya cepat.
"Lalu?"
Islam tersenyum menatap tingkah lucu istrinya yang terlihat mengoyang-goyangkan kakinya seperti anak kecil yang telah berbuat kesalahan.
Khadijah mendongak menatap Islam yang melangkah menatapnya dengan tatapan penuh menggoda membuat Khadijah meneguk salivanya.
Islam melangkah mendekati Khadijah membuat Khadijah melangkah mundur menjauhi Islam. Langkah Khadijah terhenti saat punggung Khadijah menabrak dinding kamar.
Khadijah menahan nafas saat Islam merapatkan tubuhnya ke tubuh Khadijah yang terpatung.
"Sekarang bagaimana?" bisik Islam.
Islam tersenyum lalu menunduk mendekati wajah Khadijah yang masih menutup kedua matanya.
Khadijah menggerakkan kedua tangannya berusaha untuk menahan Islam hingga jari-jari Khadijah berada di kedua bahu Islam yang terasa mulus.
Islam tersenyum nakal. Ia meraih pergelangan tangan Khadijah dan meletakkannya di dinding. Kedua mata Khadijah membulat karena terkejut. Ia berusaha untuk menggerakkan tangannya tapi tidak bisa.
Oh Tuhan, apa Islam akan menyiksanya malam ini?
Islam mendekatkan wajahnya ke wajah Khadijah hingga Khadijah bisa merasakan hembusan nafas Islam yang hangat pada wajahnya.
Cup
Satu kecupan berhasil mendarat di pipi Khadijah yang terasa panas. Islam menyudahi kecupannya dan menjauhkan wajahnya dan lantas membuat kedua mata Khadijah terbuka.
Khadijah bisa melihat wajah tampan Islam yang ada di depan matanya. Oh Tuhan, tampan sekali pria ini.
Islam kembali tersenyum dan kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Khadijah lalu Islam berbisik tepat di telinga istrinya dengan nada lembut.
__ADS_1
"Mau main sekarang?"