Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
90. Sah!!!


__ADS_3

"Tunggu!!!" teriak seseorang membuat semua orang menoleh.


Kedua mata Islam membulat menatap siapa yang baru saja bicara di sana. Mereka Kristian, Abirama, Ali dan tunggu! Ada seorang gadis yang sedang memegang kamera yang kini sedang mengoceh di depan kameranya, yah sudah jelas jika gadis itu adalah Kia, istri Ali.


"Eh anjirt, bisa-bisanya lo nikah tapi nggak ngasih tau kita!!!" teriak Ali.


Islam tertawa lalu ia bangkit dan menyambut para sahabatnya dengan pelukan hangat dan rindu setelah sekian lama tak bertemu.


"Bagaimana kabar kamu, atuh?" tanya Kristian setelah melepas pelukannya.


"Baik Alhamdulillah."


"Widih, udah berubah nih cara ngomongnya," sahut Ali.


"Iya, udah kayak pak ustad aja," tambah Abirama.


"Anak pesantren nih bos!!!" teriak mereka bertiga dengan kompak.


"Hay guys, jadi ini nih sahabat yayang Ali. Aduh ganteng banget kayak oppa Korea, ya ampun..."


Islam menoleh menatap Kia yang sejak tadi mengoceh di depan kameranya.


"Istri lo, Li?"


"Iya," jawab Ali dengan wajah malasnya.


"Lo tau endak? Selama perjalanan nyerocos melulu nih anak, endak mau berhenti dia," ujar Kristian.


"Assalamualaikum."


Semua orang menoleh menatap gadis berparas bule yang meletakkan tas ke lantai. Gadis yang telah memberi salam itu bangkit dan tersenyum menatap semua orang.


"Ukhti Aisyah!" ujar Sarifuddin yang langsung berbinar.


Sarifuddin yang sejak tadi duduk itu langsung bangkit dari lantai dan melangkah mendekati Islam.


"Ini Aisyah," ujar Islam setelah Aisyah telah berdiri di hadapannya.


"Iya, ini adik abdi," ujar Kristian sambil mengelus pundak Aisyah terlihat tersenyum begitu manis.


Aisyah yang sejak tadi fokus menatap Islam kini ia menoleh menatap Sarifuddin yang tanpa henti menatapnya.


"Ini akhi Sarifuddin, ya?"


Semua orang menoleh menatap Sarifuddin yang terlihat tersenyum malu.


"Anjirt, ih muka lo kenapa kayak gitu?" ejek Ali membuat semua orang tertawa.


"Bagaimana? Apa boleh kita mulai akad nikahnya?" tanya Bapak penghulu itu.


...***...


"Saya terima nikah dan kawinnya Khadijah binti Hasim dengan mahar emas 25 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai," ujar Islam dengan lantang dan jelas yang hanya dengan satu tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi?"


"Sah!!!!" teriak semuanya secara bersamaan bahkan suara yang paling besar adalah Ali dan Kia, istri Ali yang terlihat kegirangan di depan kameranya sambil sesekali mengarahkan kameranya ke arah Islam dan para tamu yang ada.


"Sah!!!" teriak Ali yang mendongak ke langit-langit rumah.


"Kenapa dia itu?" tanya salah satu tamu sambil menunjuk Ali.


"Mau berubah jadi prenjes dia!" sahut Kristian yang dengan cepat menarik Ali agar kembali duduk.


Islam mengangkat kedua tangannya yang gemetar memanjatkan doa yang dipimpin oleh Bapak penghulu.


Air mata Islam menetes dan dengan cepat ia mengusap pipinya yang basah itu. Ini adalah air mata kebahagiaan yang pernah ia rasakan dalam kehidupannya selama ini.


Gadis yang sangat ia cintai kini telah resmi menjadi miliknya. Khadijah telah resmi menjadi istrinya untuk selama-lamanya.

__ADS_1


Islam yang terpaksa masuk pesantren dan belajar agama serta belajar puasa ternyata membawanya pada cinta seorang gadis bercadar yang menyadarkan Islam apa arti dari cinta yang sesungguhnya.


Islam bersujud ke pangkuan Mawar yang terlihat menangis penuh haru serta Akbar yang mengelus punggung Islam.


...***...


Islam menarik nafasnya yang terasa sesak itu saat melihat Umma Nur yang menuntun Khadijah. Islam tersenyum, ia bisa melihat jika Khadijah tersenyum di sana. Ia tahu dari mata Khadijah.


"Cieeeee!!!" goda Kristian, Abirama dan Ali yang tak henti-hentinya tersenyum.


"Apaan sih lo?" kesal Islam yang membuatnya menjadi sangat malu.


"Itu guys, pengantin perempuannya udah datang, ihhhh gemes banget, deh," oceh Kia.


Khadijah menghentikan langkahnya tepat di hadapan Islam yang terlihat tersenyum lebar. Oh Tuhan, lihatlah pipi Islam terlihat memerah karena malu.


"Cium!!! Cium!!! Cium!!!" teriak Ali membuat semua orang terbelalak kaget lalu menoleh menatap Ali yang langsung terdiam dengan wajah kaku.


"Bar-bar banget, sih?"


"Kan udah sah!" bela Ali.


"Iya juga yah," ujar Kristian yang langsung tertawa.


"Baik mungkin sudah bisa dipasangkan cincinnya!"


Umma Nur berlari menjulurkan kotak cincin yang telah ia buka ke arah Islam yang dengan jari gemetarnya meraih cincin itu.


Islam mengatur nafasnya yang sesak itu. Detak jantungnya tak karuan lagi memompa darah. Ditambah lagi saat Khadijah menjulurkan tangannya hingga jari-jari lentik putih dan mulus itu terlihat.


Islam memegang pergelangan tangannya agar tak bergetar karena gugup memegang cincin putih yang siap untuk dipasangkan ke jari manis Khadijah.


Jari Khadijah pun sama gemetarnya. Tubuhnya panas dingin, rasanya sangat takut saat jari tangan Islam nyaris menyentuh jari tangannya yang belum pernah disentuh oleh siapapun.


Cincin itu terpasang ke jari manis Khadijah yang langsung memeluk tangan kanannya.


"Sekarang untuk Islam!" ujar Umma Nur yang tak sabaran.


Semuanya bersorak sambil bertepuk tangan dan lagi dan lagi Ali lah yang telah berteriak sementara istrinya, Kia...


"Yeeeee, udah pasang cincin guys, ih gemes guys. Nah, pokoknya kalian harus subscribe, Oky!"


"Sekarang Khadijah cium tangan suamimu, Nak!" pinta ustad Hasim membuat semua orang bersorak membuat Islam dan Khadijah menjadi salah tingkah.


"Ayo cepetan!" gemas Umma Nur yang geregetan-nya minta ampun.


Islam mengangkat jari tangannya dan menjulurkannya ke arah Khadijah yang terlihat gugup. Sesekali ia mengangkat jari tangannya dan kembali menurunkannya lalu meremas jari-jari tangannya yang berkeringat dingin.


"Ayo Khadijah!" bisik ustad Hasim.


"Sabar, Abi," jawab Khadijah yang begitu gugup.


Khadijah menarik nafas panjang. Ia melirik menatap kedua mata Islam yang terlihat malu-malu saat mereka bertemu pandang.


"Ayo Islam! Tangannya maju!" bisik Mawar yang sejak tadi diam kini ikut bicara.


Islam tersenyum malu. Tak bisa bicara jadinya saat situasi seperti ini. Ia ingin menjabat tangan Khadijah tapi sejak tadi jari tangan itu tak pernah lagi diangkat.


Ustad Hasim yang gemas itu langsung menarik pergelangan tangan Khadijah dan mentautkan jari tangannya pada Islam yang kedua matanya terbelalak kaget.


Islam terkejut saat jari tangan Khadijah menyentuh kulit jari-jari tangannya. Rasanya seperti ada aliran listrik yang menyetrumnya, ini agak lebay, yah tapi inilah kenyataanya.


Islam juga tak menyangka jika jari tangan gadis bercadar yang sedang salah tingkah itu begitu sangat halus. Oh Tuhan, untuk pertama kalinya ada yang sehalus ini dari sekian banyaknya jari tangan gadis yang pernah ia pegang.


Islam bersumpah tak akan menyentuh tangan gadis siapapun selain istrinya ini ditambah lagi saat Khadijah mengecup punggung tangannya.


"Cium bibirnya!!!" teriak Ali membuat semua orang menoleh dengan wajah syok.


"Apa-apaan, sih lo?" kesal Islam yang pipinya sudah merah.

__ADS_1


"Nggak ada salahnya kan udah sah, iya kan Din?"


"Betul!!!" teriak Sarifuddin dengan semangat sambil sesekali melirik Aisyah yang tersenyum malu.


"Iya Islam, Ali betul. Ayo cepat cium-"


"Bibirnya?" potong Islam.


"Keningnya!" ujar Umma Nur sambil mendorong pelan bahu Islam.


Islam tersenyum malu. Setelah melepaskan tautan tangannya, tangannya pun terasa kebas seakan tak ada aliran darah.


"Ah lama amat. Nggak tau cium apa? Sini gue kasi tau caranya!" oceh Ali yang kemudian melangkah maju berniat untuk mendekati Khadijah.


Semua orang tertawa apalagi disaat Ali ditarik oleh Kia, istrinya. Masalahnya Kia bukan menarik pergelangan tangan Ali melainkan telinganya membuat Ali meringis.


"Makanya kalau udah punya bini jangan kebayangkan tingkah. Punya mata gatel banget, atuh," ujar Kristian yang kembali tertawa.


"Bukan mata gatel ini."


"Mata apa, atuh?"


"Mata anjing."


"Eh foto-foto!!!" teriak Katrin yang langsung berlari membuat semua orang ikut berlari ke arah Islam dan Khadijah.


Pria yang sedang memegang kamera itu mengarahkannya ke arah keramaian yang telah siap untuk difoto dengan berbagai macam gaya.


"Satu!"


"Dua!"


"Ti-"


"Ga!!!" teriak semuanya dengan kompak dan...


Cekrek!!!


Satu foto berhasil tertangkap dengan raut mereka yang bahagia bahkan penuh kebahagiaan. Tak ada yang bisa menggambarkan rasa kebahagiaan yang mereka rasakan pada hari ini.


Barisan foto itu kini berhamburan setelah memasuki sesi makan membuat beberapa orang kini berganti di meja saji.


"Ini waktu yang saya tunggu! Hahaha."


Abirama tertawa seperti orang jahat lalu ia melangkah seperti penjahat yang siap mengangkut semua isi meja itu ke atas piring putihnya.


Abirama yang sedang memeluk piringnya itu terpelonjak kaget menatap piring Sarifuddin yang telah penuh dengan paha ayam.


"Wih, nggak kesurupan lo?"


"Maklum atuh, anak pesantren dia, jarang makan ayam," bisik Kristian.


Sementara mereka semua yang sibuk dengan makanan, Ali datang menghampiri Islam yang langsung menatap waspada. Bahaya jika berhubungan dengan Ali, pembahasannya selalu negatif.


"Ini."


"Apaan tuh?" tanya Islam yang menatap kantong hitam yang dijulurkan oleh Ali.


Ali tak menjawab. Ia langsung meletakkan kantong kresek hitam itu ke telapak tangan Islam.


"Ini apaan?"


Ali menoleh ke kiri dan kanan, takut ketahuan semua orang. Gerak geriknya seperti memberi narkoba saja. Ali melangkah mendekati Islam dan akhirnya berbisik tepat di telinga yang kedua matanya langsung membulat.


"Ini obat kuat, bisa tahan sampai tujuh ronde. Jangan lupa bikin linknya!"


"Gila lo!!!" teriak Islam.


****

__ADS_1


Ehem lanjut malam pertamanya nggak, nih?


Komen! Komen! Kalau mau lanjut


__ADS_2