
Islam membaringkan tubuhnya di teras yang berada di depan ruangan Abah Habib. Rasanya Islam kesal dengan pria tua itu, dia mengatakan untuk mengisi kolam itu dengan air dan mengambilnya di sungai tapi yang sebenarnya adalah ada sumur di belakang tempat mandi itu dan yang lebih parahnya tak perlu menimba untuk mengambil airnya, ada mesin dan kerang air yang bisa mengalirkan air ke kolam itu.
Ini perbuatan yang sia-sia! Pria tua itu sepertinya sedang bermain menguji kesabaran! Tenang saja Islam akan lebih dari itu.
"Kita semua dipanggil Abah Habib," ujar Sarifuddin yang baru saja keluar dari ruangan Abah Habib.
Islam bangkit dari lantai menatap tiga sahabatnya yang sudah lemas, Yap mereka tetap puasa tanpa pernah membatalkan puasanya walau sejujurnya niat itu sudah ada.
Islam, Kristian, Abirama, Ali dan Sarifuddin kini berdiri di depan Abah Habib yang terlihat duduk di sebuah kursi. Kini entah mengapa mereka serasa mengulang kenangan di masa SMA yang setiap hari harus diam berdiri berhadapan dengan guru BK.
"Bagaimana?" tanya Abah Habib di tengah keheningan.
Kini mereka saling melirik. Abirama mengangkat dagunya menatap Abah Habib.
"Sarung saya digigit anjing," adu Abirama dengan kedua matanya yang memerah, ia ingin menangis.
Abah Habib menghela nafas, tak berselang lama ia melihat Sarifuddin yang mengusap pipinya yang basah.
"Kenapa antum?"
"Sarung yang dipakai Abirama itu sarung ku," jawabnya.
"Saya minta maaf," ujar Abirama dengan raut wajahnya yang seperti orang menangis.
Abah Habib kembali menghela nafas panjang dan ia tersenyum.
"Bagaimana dengan yang lain?"
Kristian mengangkat tangan kanannya, "Saya haus pak haji kiyai," jawabnya jujur.
"Semuanya pasti seperti itu-"
"Tapi lo nggak naik dan turun bukit," potong Islam.
Abah Habib terdiam.
"Gue nggak ngerti, lo sengaja yah mau nyiksa gue sama yang lain dengan cara ambil air di sungai yang jauh dari pesantren padahal ada kerang air di atas kolam itu dan ada su-mur," jelasnya.
"Itu bukan menyiksa, itu hukuman."
Islam mendecapkan bibirnya tak terima, Hukuman seperti apa ini?
"Jika antum semua berbuat kesalahan lagi maka Abah akan memberi hukuman yang lebih berat daripada ini."
Islam mendengus kesal lalu ia berpaling dan melangkah pergi. Langkah Islam terhenti di bibir pintu, ia menoleh menatap Abah Habib yang kini menatapnya.
"Kalau lo cuman mau nyiksa gue di pesantren mending lo pulangin gue ke Umi, Umi nggak bakalan nyiksa gue kayak gini."
"Lebih baik Abah yang menyiksa antum daripada Allah yang menyiksa antum," ujar Abah Habib.
Islam mendecapkan bibirnya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
...***...
"Lapar!!!" rintih Kristian yang berbaring di atas kasurnya.
"Hauuuus!!!" rintihnya lagi.
Sarifuddin yang sedang membaca Al-Qur'an itu mendongak menatap Kristian yang sudah berteriak sejak tadi.
"Sabar!" ujar Sarifuddin lalu kembali melanjutkan bacaan Al-qur'annya.
"Din, ini kapan boleh minumnya sih? Gue lapar!Haus!" tanya Ali yang sibuk mengipas tubuhnya dengan sebuah buku.
__ADS_1
"Nanti kalau matahari udah tenggelam," ujar Sarifuddin.
Mendengar hal itu Ali turun dari ranjangnya lalu melangkah ke arah jendela. Ia mengangkat kain gorden yang menghalangi pandangannya dan menatap matahari yang masih membulat sempurna di atas sana.
"Woy kapan tenggelam lo?!!! Gue haus!!!" teriak Ali dengan suara merintihnya.
Islam yang sedari tadi menatap Ali kini mendongak menatap jarum jam dinding yang berdetak begitu sangat lama.
"Kayaknya jam itu rusak deh." Tunjuk Islam membuat yang lainnya ikut mendongak.
"Din, selain matahari yang tenggelam kapan lagi gue bisa makan dan minum?" tanya Ali yang kini sudah berbaring di atas kasurnya.
Sarifuddin kembali menghentikan bacaan Al-qur'annya.
"Nanti kalau suara Azan terdengar," jawabnya.
Suasana kini menjadi sunyi. Ketiganya sejak tadi berusaha untuk tidur tapi ini tak mudah, tenggorokan yang kering serta perut yang berbunyi serta perih itu menganggu tidur mereka.
اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ
Semuanya bangkit dari kasurnya dengan raut wajah terkejut setelah mendengar suara azan yang berkumandang di masjid.
"Buka!!!" teriak Ali.
"Alhamdulillah," ujar Kristian sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Entah mengapa Kristian mengatakan hal itu, ia begitu sangat bahagia.
Kedua mata Sarifuddin terbelalak menatap Islam, Kristian, Abirama dan Ali yang kini melangkah turun dari kasurnya berniat untuk keluar kamar.
"Tunggu!!!" teriak Sarifuddin membuat keempatnya menoleh.
"Kita mau kemana?"
"Mau minum," jawab Islam.
"Tidak boleh!" larang Sarifuddin.
Raut wajah Ali yang bahagia itu kini lenyap membuat wajahnya menjadi menyeramkan.
"Anjirt lo yah!" Tunjuk-nya.
"Kan udah Azan goblok!" Tuturnya.
"Itu Azan Azhar! Nanti azan maghrib baru boleh makan dan minum," jawab Sarifuddin yang ikut emosi.
Semuanya mendengus kesal lalu kembali ke tempat tidurnya masing-masing.
...****...
Islam duduk di atas karpet tempat meja makan dimana ia dan yang lainnya makan di sini. Di jam seperti ini mereka digiring ke tempat makan. Islam yang sedari tadi diam di tempat duduknya sambil menatap ke arah meja menanti gadis bercadar itu menuangkan sayur kangkung.
"Hust!" tegur Sarifuddin sambil memukul tangan Kristian yang berusaha untuk meraih gelas berisi air dingin itu.
"Belum waktunya!" ujar Sarifuddin mengingatkan.
"Cuman sentuh."
"Tidak boleh!" larangnya.
Islam tersenyum kegirangan menatap gadis bercadar hitam yang terlihat melangkah keluar sambil membawa sebuah wadah berisi sayur kangkung.
Dek
Islam menyentuh dadanya yang berdetak sangat cepat, gadis bercadar itu begitu sangat membuat Islam tertarik. Dia melangkah begitu sangat lembut. Islam menatap ujung jari tangannya yang imut seperti jari bayi yang mungil membawa wadah itu.
__ADS_1
Islam bangkit dari karpet membuat Sarifuddin, Kristian, Abirama dan Ali itu mendongak.
"Mau pergi mana?" tanya Sarifuddin.
Islam menoleh.
"Em gue mau ambil makanan."
"Emang udah boleh?" tanya Abirama.
"Eh belum! Cepat duduk!" pinta Sarifuddin.
"Tapi-" Islam menoleh menatap ke arah gadis itu yang terlihat masih berada di meja sana.
"Heh!" tegur Sarifuddin.
Islam menoleh menatap Sarifuddin.
"Ayo duduk!" pinta Sarifuddin.
Islam kembali menoleh menatap ke arah meja, Islam mengerutkan alisnya heran, tak ada gadis itu lagi di sana. kemana gadis itu? Islam kembali duduk sambil sesekali menatap ke arah meja berharap ia bisa melihat gadis bercadar itu lagi.
Suara azan berkumandang membuat semua orang yang berada di dalam ruangan memanjatkan kata syukur, puasa pertama telah selesai.
"Ayo min-" suruh Sarifuddin setelah membaca doa buka puasa. Ujarannya terhenti setelah mendapati Islam, Kristian, Abirama dan Ali yang terlihat sibuk meneguk air dingin yang telah dituangkan oleh Umma Nur.
Sarifuddin tersenyum lalu menggeleng, mereka semua pasti kehausan setelah puasa dan lari-larian.
Umma Nur melangkah mendekati meja Islam dan yang lainnnya sambil membawa sebuah wadah.
"Boleh minta piringnya?"
"Iya Bu," jawab Abirama yang kemudian mengangkat piring kosong.
Umma Nur meletakkan sesuatu ke atas piring lalu setelahnya ia melangkah pergi meninggalkan Islam, Kristian, Abirama dan Ali yang terlihat melongo.
Ali mengangkat sebiji kurma dengan wajah mempiasnya.
"Apaan nih?" tanya Ali.
"Kurma," jawab Sarifuddin.
"Gue laper, mana mungkin kenyang makan ini."
"Makan saja, setelah itu sholat maghrib lalu makan nasi," jelas Sarifuddin.
"Sholat lagi?" syok Kristian.
Sarifuddin mengangguk.
"Emang sholat berapa kali sih?"
"Lima, itu yang wajib belum termasuk yang sunah," jawab Sarifuddin.
"Susah yah jadi orang Islam, banyak aturannya," ujar Kristan.
"Itu bagi antum, bagi kami tidak," jawab Sarifuddin lalu bangkit membuat Islam dan yang lainnya mendongak.
"Mau kemana lo?" tanya Islam.
"Sholat," jawab Sarifuddin singkat.
"Anjirt, gue masih lapar!" ujar Ali yang langsung meraih piring bersi kurma itu lalu bangkit dan ikut berlari.
__ADS_1