
"Jangan rindu!" bisiknya lalu melangkah pergi.
Khadijah kini menggeleng, pria bernama Islam itu sangat cerewet.
Suara tawa terdengar di belakang sana membuat Khadijah menoleh menatap Umma Nur, Ustazah Fitri dan beberapa wanita yang sedang memasak itu terlihat tertawa terpingkal-pingkal karena Islam yang tak henti-hentinya bercanda.
Khadijah kembali ke posisi awalnya yaitu mengaduk tumis kangkung. Perlahan Khadijah tersenyum di balik cadarnya.
Sejujurnya ia tak pernah melihat mereka semua tertawa lepas seperti ini. Biasanya keadaan dapur terasa sunyi dan sepi, yang terdengar hanya suara kesibukan memasak. Tapi sekarang berbeda, ada tawa dan senyum di sini.
Khadijah kembali menoleh.
"Setuju kan kalau Umma cantik?" Tunjuk Islam ke arah para wanita yang sibuk memasak walau pandangan mereka fokus menatap Islam.
Semuanya kembali tertawa ketika Islam memperagakan tingkah laku Umma Nur ketika ia sedang merasa malu.
"Umma tidak seperti itu, hahaha." Umma Nur tertawa lalu memukul pelan bahu Islam.
Islam membawa kebahagian bagi mereka yang menyadarinya.
...***...
Islam melangkah keluar sambil membawa wadah berisi ikan masak yang telah dimasak oleh Ustazah Fitri, istri Akbir. Islam menuangkan ikan itu ke wadah yang berada di meja saji membuat para santri dan beberapa ustad yang ada di ruangan makan itu menatap aneh.
Apa itu Islam?
"Apa yang Islam lakukan di sana?" tanya Akbar yang menatap bingung pada Islam yang terlihat sangat sibuk.
Abah Habib yang menanti waktu buka puasa itu langsung menoleh menatap Islam yang berjalan ke sana kemari. Islam terlihat sibuk mengangkat galon air, membantu Umma Nur membawa gelas kaca dan menyusunnya di atas meja.
Islam terlihat sibuk keluar masuk ke dapur membawa makanan yang telah matang.
Abah Habib tersenyum.
"Sepertinya ada perubahan setelah ia mabuk."
Abah Habib tertawa lalu menggeleng pelan.
Islam menghentikan langkahnya ketika ia bertemu dengan Khadijah yang telah berada di pintu dapur sambil memegang wadah berisi sayur tumis kangkung.
"Mau membantu ini juga?" tawar Khadijah.
Khadijah tau, hampir semua pekerjaan dapur dibantu oleh Islam. Mungkin dia juga mau membawa sayur kangkung ini.
"Nggak, saya cuman mau liat kamu menuangkan sayur kangkung."
Khadijah menggeleng tak menyangka, ada-ada saja pria ini.
Khadijah melangkah lalu menuangkan sayur kangkung itu ke wadah yang berada di atas meja saji. Islam mengikuti dan menatap Khadijah tanpa henti.
Khadijah berbalik badan dan membuatnya terkejut setelah ia nyaris menabrak tubuh tinggi Islam.
Khadijah dengan cepat melangkah mundur agar ia tak menyentuh tubuh Islam. Khadijah mendongak menatap kesal pada Islam yang terlihat tersenyum.
"Bisa kah akhi Islam tidak selalu mengikuti Khadijah?" tanya Khadijah.
"Tidak bisa," jawabnya santai sambil tersenyum sok manis.
__ADS_1
Khadijah menggeleng lalu melangkah pergi meninggalkan Islam yang kini tersenyum.
"Eh lucu banget," gemas Islam lalu melangkah mengikuti kemana Khadijah pergi.
Islam juga tak mengerti mengapa ia selalu ingin menganggu gadis bercadar itu. Yang Islam rasakan saat bersama gadis itu adalah Islam merasa dekat dengan sosok Mawar, Umi-nya.
Ketika melihat gadis itu, Islam merasa nyaman walau ia tak bisa menyentuhnya.
Khadijah jauh berbeda dengan ratusan pacar Islam, baik dari segi penampilan dan sikapnya.
Islam juga tak mengerti mengapa seolah-olah ialah yang mengejar gadis bercadar itu padahal yang terjadi sebelumnya adalah Islam lah yang dikejar oleh gadis-gadis bukan dia yang mengejar seorang gadis.
Di ruangan yang sama Rahman terlihat kesal setelah sejak tadi menatap Islam dan Khadijah yang terlihat berpapasan di pintu menuju dapur.
Yap, Rahman cemburu. Sudah sangat lama Rahman menaruh hati pada Khadijah yang selalu ia dambakan dalam hidupnya.
Rahman menginginkan Khadijah dan tak ingin ada orang lain yang mengambilnya tapi pria bernama Islam itu sepertinya mulai mendekati pujaan hatinya.
Ini tak boleh dibiarkan.
...***...
"Yang benar?"
"Iya dong," jawab Islam bangga setelah menceritakan apa yang terjadi hari ini antara ia dan Khadijah.
"Wah terus bagaimana?"
Islam membaringkan tubuhnya ke kasur dan menatap langit-langit bagian bawah ranjang yang dulu ditempati oleh Kristian.
"Yah gitu deh. Khadijah itu kayaknya sok jual mahal banget yah?"
Islam melongo. Apa maksud pria berpeci miring ini?
Islam menghembuskan nafas panjang lalu tersenyum kembali menatap bagian bawah ranjang yang ada di atasnya. Bayangan wajah Khadijah yang tertutup dengan cadar itu seakan terlihat di atas sana.
"Emang kalau mabok bisa bikin orang gila kah?" tanya Sarifuddin.
Islam mengerakkan kepalanya menatap Sarifuddin bersamaan dengan lampu yang dimatikan.
Suasana kamar kini menjadi gelap dan hanya diterangi oleh pantulan cahaya lampu yang ada di balkon luar melewati masuk celah atas bagian jendela.
Di dalam kegelapan Islam bisa melihat wajah hitam Sarifuddin yang kedua matanya terlihat menyala seperti mata kerbau di malam hari.
"Gila lo nyeremin banget," ujar Islam lalu tertawa membuat Sarifuddin ikut tertawa sambil menutup mulutnya persis seperti anak kecil.
"Bagaimana?"
"Apa?"
"Itu kalau orang mabok bagaimana? Bisa bikin orang gila?"
"Enggak lebih tepatnya nggak tau emmm ya gitu deh gue juga nggak ngerti," jawabnya.
"Tidur!"
"Tidur!"
__ADS_1
"Jangan begadang! Ingat nanti sahur!!!" teriak Syuaib sambil memukul botol dengan besi
Suara Syuaib terdengar melintas di depan pintu ruangan kamar yang ditempati oleh Islam dan Sarifuddin.
Kini Sarifuddin terdiam beberapa menit membuat Islam menoleh menatap Sarifuddin yang terlihat memejamkan matanya. Islam bisa melihat wajah Sarifuddin dengan jelas karena pantulan cahaya dari luar itu tepat mengenai wajah Sarifuddin .
"Lo udah tidur?" tanya Islam.
"Belum," jawabnya.
Sarifuddin membuka mata menatap Islam yang terlihat sedang menatapnya.
"Islam, Islam kejar saja Ukhti Khadijah!"
"Gue nggak biasa ngejar cewek."
"Saya endak suruh kejar cewek, saya suruh kejar Ukhti Khadijah," jelasnya membuat Islam mendecapkan bibirnya dengan kesal.
"Yah itu deh terserah. Tekanan batin gue sekamar sama lo."
Islam berbalik badan membelakangi Sarifuddin yang terdiam menatap punggung Islam.
Dikeheningan malam itu membuat Islam terdiam. Islam tersenyum saat bayangan gadis bercadar itu, Khadijah melintas di pikirannya lagi dan lagi.
Hah, apa yang salah pada otak ini?
"Din!" panggil Islam.
Tak ada jawaban.
"Sarifuddin!" panggil Islam.
"Emm," sahut Sarifuddin.
"Gue mau ngomong sesuatu tapi ini rahasia."
"Lo janji yah jangan ngasih tau ke orang lain kalau gue ngomong ini sama lo!"
"Sebenarnya gue nggak tau lagi mau ngomong sama siapa, yang ada di kamar ini cuman lo yang lainnya udah pulang."
Suasana kembali hening.
"Sebenarnya gue suka sama perempuan yang pakai cadar itu. Gue suka sama Khadijah, menurut lo gimana?" tanya Islam.
Tak ada jawaban.
"Din!"
Hening.
"Sarifuddin!"
Islam berbalik badan lalu mendecapkan bibirnya kesal saat ia melihat Sarifuddin yang terlihat sudah tertindur.
Dasar bodoh!
Sejak tadi ia bicara isi hatinya dan tak ada yang mendengarnya.
__ADS_1
"Brengsek lo, Din!" umpat Islam.