
Islam membaringkan tubuhnya ke kasur lalu menghela nafas panjang sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Kita dari mana?" tanya Sarifuddin.
"Dari rumah Nenek Una."
"Apa kita ambil di sana?"
"Buka puasa bareng," jawabnya.
"Wah, makan apa?"
"Nasi lah terus makan apa lagi?"
"Yah mana tau toh disana ada ayam."
"Nggak, cuman ada telur sama sayur."
"Ah lauknya sama saja seperti di pondok."
Islam tersenyum lalu menggeleng. Ada-ada saja pria berpeci miring ini.
"Eh tapi bagaimana dengan lamarannya? Saya dengar-dengar katanya tidak jadi, yah?"
"Terus ada juga yang bilang kalau ustad Rahman yang telah melamar ukhti Khadijah."
Islam membulatkan kedua matanya menatap Sarifuddin yang sedang terdiam menanti jawaban darinya.
Entah dari mana Sarifuddin tahu jika Rahman lah yang telah melamar Khadijah.
"Lo tau dari mana?"
"Dari ustad Rahman."
"Si Rahman?"
Sarifuddin mengangguk.
"Rahman sendiri yang kasih tau ke saya, jadi benar ini kah?"
Islam menghela nafas. ia menggerakkan tubuhnya membelakangi Sarifuddin.
"Jadi benar?" tanya Sarifuddin.
"Diam lo!" ujarnya dengan nada dingin.
Sarifuddin meneguk salivanya. Dengan cepat ia ikut berbaring dan membelakangi Islam.
Kini suasana kamar menjadi sunyi tanpa ada percakapan lagi diantara ia dan Islam.
"Islam!"
Tak ada jawaban.
"Islam sudah tidur kah belum?"
Sarifuddin menoleh menatap Islam yang kini tak bergerak sedikitpun. Ia menatap punggung Islam.
"Islam! Katanya kalau dipanggil terus tidak bicara katanya bisa jadi bisu."
Islam mendecapkkan bibirnya dengan kesal lalu ia segera menoleh menatap Sarifuddin yang langsung tersenyum.
"Apaan sih?" tanya Islam dengan kesal.
"Bagaimana dengan ukhti Khadijah?"
Wajah Islam datar.
"Kalau ustad Rahman menikah dengan ukhti Khadijah berarti Islam gagal memiliki ukhti Khadijah."
"Jadi pengorbanan selama ini hanya sia-sia?"
Islam meringis sambil meremas kepalanya dan telinganya yang terasa panas karena ucapan Sarifuddin.
Menyakitkan sekali ucapan si pria berpeci miring ini.
"Bagaimana?"
"Aaaaaa!!!" teriak Islam yang kemudian bangkit dari kasurnya membuat Sarifuddin dengan cepat bangkit dan duduk di pinggir kasur.
Islam yang kesal itu meraih bantal dan bantal guling membuat Sarifuddin melongo, apalagi ditambah ketika Islam melangkah ke arah pintu.
"Mau kemana?" tanya Sarifuddin.
__ADS_1
"Mau ke neraka!!!" teriaknya lalu melangkah pergi.
Sarifuddin terdiam saat Islam menutup pintu kamar.
"Kalau begitu saya tidak ikut!!!"
Tak ada jawaban dari luar.
"Tapi kalau mau ke surga saya mau ikut!!! Islam!!!"
Tetap tak ada jawaban.
"Islam!!! Kalau mau ke neraka harus mati dulu!!!" teriaknya.
Islam membuka pintu dengan keras membuat Sarifuddin tersentak kaget.
"Terserah!!!" teriak Islam dengan kedua mata yang melotot.
Bruak
Islam kembali membanting pintu membuat Sarifuddin tersentak.
...***...
Islam melangkah dengan perasaan hampanya melewati beberapa pintu-pintu yang telah tertutup rapat.
"Loh, Islam?"
Islam menoleh menatap Syuaib yang terlihat melangkah ke arahnya sambil membawa botol dan besi.
"Kenapa belum tidur? Terus kenapa masih keluyuran sambil bawa bantal begini?"
"Gue nggak bisa tidur soalnya di dalam kamar itu panas," jawabnya berbohong.
"Terus mau kemana?"
"Nggak tau juga nih. Emang ustad mau kemana?"
"Nyuruh para santri tidur."
"Em kalau gitu biar Islam aja."
"Memangnya bisa?"
"Yah bisa lah."
Lima menit kemudian....
Suara gedoran pintu terdengar cukup keras saat Islam memukul satu persatu pintu setiap para santri yang terkejut bukan main. Bahkan ada beberapa dari mereka yang sudah tertidur nyenyak langsung terperanjak kaget.
"Tiduuuuuur!!!"
"Tiduuuur!!!" teriak Islam lagi sambil memukul pintu.
Islam mendorong pintu membuat para santri yang sedang bermain domino itu dengan kagetnya menoleh.
"Nah, ngapain lo?!!! Cepetan tidur!!!" teriaknya membuat para santri itu langsung lari berhamburan dan berbaring di atas ranjangnya masing-masing.
Islam memasang wajah sok sangarnya membuat para santri itu hanya bisa terdiam kaku sambil berpura-pura tidur.
Islam melangkah dan memunguti domino yang ada di lantai.
"Tidur lo semua!!!" teriaknya.
Islam menutup pintu dengan keras membuat para santri yang ada di dalam ruangan kamar tersentak kaget.
Islam kembali memukul pintu dan ia kembali berteriak. Sejujurnya teriakan ini untuk menyuarakan rasa amarah, kesal dan kecewanya atas apa yang terjadi hari ini.
Syuaib melongo di belakang sana sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan. Sepertinya ia telah salah setelah mempercayai Islam.
Bayangkan saja suara Islam yang ada di lantai satu bisa di dengar sampai lantai paling atas sekalipun.
Bayangan!
...***...
Islam meletakkan bantalnya di atas papan kayu yang dijadikan tempat untuk tidur sekaligus menjaga keamanan pondok pesantren.
"Loh, kenapa tidak kembali ke kamar?"
"Gue mau tidur di sini aja deh."
"Nih!" Islam melempar domino ke atas papan.
__ADS_1
"Nanti kita main."
Islam membaringkan kepalanya di atas bantal hingga dari sini ia bisa melihat kerlap-kerlip bintang yang membentang di atas sana.
Suasana damai dan sejuk. Islam tak pernah merasakan suasana sedamai ini selama hidupnya.
"Mau kopi?" tawar Syuaib.
"Nggak."
"Kenapa? Sukanya hanya minuman alkohol?"
Islam tersenyum sinis.
"Emang ada di sini?"
"Astagfirullah, mana ada dijual di tempat seperti ini."
Islam tersenyum. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.
"Mau kopi?" tawar Syuaib lagi.
Islam menoleh menatap Syuaib tajam.
"Mau mati?"
Seketika Syuaib langsung terdiam lalu ia meneguk habis kopinya dan ikut berbaring di samping Islam.
"Lihat apa?"
"Matahari."
"Matahari?"
"Yah bintang lah, udah tau gue liat bintang masih aja nanya."
Syuaib menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Entah mengapa setiap jawaban Islam membuatnya selalu KO.
Suasana kini kembali terdiam. Tak ada lagi diantara mereka yang bicara.
"Mengapa bintang diciptakan?"
Hening, tak ada jawaban. Islam menoleh menatap Syuaib yang terlihat terdiam.
"Heh, gue nanya sama lo!"
"Ana?"
"Yah iya lah. Cepetan jawab! Kenapa bintang diciptakan?"
Syuaib terdiam sejenak.
"Untuk menemani orang yang sedang sedih, karena bintang tau. Rasa sedih akan jauh lebih terasa jika malam tiba."
Hah, sial. Ini seperti keadaan hati Islam saja.
"Antum tau arti dari bintang, bulan dan matahari?"
"Nggak."
"Mereka itu seperti cinta."
"Maksud lo?" tanya Islam tak mengerti.
"Anggap kamu adalah sebuah bumi dan kamu sedang mengangumi sebuah langit terang yang disinari matahari."
"Hingga akhirnya kamu memutuskan untuk bersamanya hingga pada akhirnya malam datang dan bulan serta bintang seperti sebuah kekurangan pada diri seseorang yang bermunculan banyak sekali."
"Tapi bumi akan tetap bertahan karena bumi tau ada matahari yang memiliki sinar untuk menutupi semua kekurangan itu sehingga bumi tak melihat kekurangan itu lagi," jelasnya.
"Sama halnya seperti sebuah hujan."
"Dan setelah hujan belum tentu ada pelangi, tapi setidaknya ada kata redah."
"Biarkan tubuhmu basah di bawah guyuran hujan dan nikmati saat-saat hujan itu datang."
"Karena kita tidak tau. Apakah akan datang kembali hujan?"
"Mungkin saja akan datang tapi sudah pasti hujannya tak sama lagi."
"Mengerti?"
Islam terdiam. Ia mencerna baik kata-kata Syuaib yang benar membuatnya terdiam cukup lama.
__ADS_1