Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
26. Besok Puasa


__ADS_3

"Madeeeeee!!!" teriak Abirama disaat suasana hening membuat Islam dan Ali melepaskan tawanya.


Sholat telah selesai dilaksanakan diakhiri dengan salam. Semua orang menoleh menatap ke arah Islam yang kini terdiam dengan wajah datarnya seakan tak terjadi apa-apa sedangkan di satu sisi Ali terlihat masih tertawa cekikikan seperti orang gila.


"Hust!" tegur Kristian berusaha untuk menegur Ali agar segera berhenti untuk tertawa.


Islam hanya mampu menggeleng walau sesekali ia menutup bibirnya yang berusaha menahan tawa. Islam menoleh menatap Abah Habib yang terlihat menatapnya dengan serius lalu menghembuskan nafas panjang.


Islam membuang nafas lalu mengalihkan pandangannya seakan tak mau ditatap oleh Abah Habib dan ratusan para santri, Islam tau apa yang mereka semua pikirkan.


Beberapa menit kemudian Islam kini bersandar di dinding masjid sambil menatap Abah Habib yang terlihat berdiri di mimbar sambil mengucapkan beberapa kalimat yang entah apa, Islam tak peduli dengan hal itu.


"Ikat yang kuat dong!" bisik Abirama pada Kristian yang sejak tadi merapikan sarung yang dikenakan oleh Abirama.


Islam tersenyum, entah mengapa masalah Abirama tak pernah selesai dengan sarungnya itu.


"Din!" panggil Ali kepada Sarifuddin yang begitu serius menatap Abah Habib, Sarifuddin dengan cepat menoleh menatap Ali yang terlihat memegang perutnya.


"Ada apa?"


"Kapan makan nih? Leper nih gue," adunya dengan wajah memelas.


"Nanti jam delapan," bisiknya.


"Ini udah jam delapan," jawabnya dengan kesal namun tak mendapat respon dari Sarifuddin yang kini duduk membelakangi Ali, Islam, Kristian dan Abirama.


"Balik yuk!" ajak Ali.


"Hust!" tegur Kristian sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir menyuruh Ali untuk diam.


Ali mendecapkan bibirnya dengan malas lalu ikut menatap Abah Habib yang masih bicara di atas mimbar.


Tak berselang lama tiba-tiba semuanya bertepuk tangan sambil tersenyum bahagia membuat Islam mengekerutkan alisnya tak mengerti. Ada apa dengan mereka semua?


"Kenapa Din?" tanya Islam yang menatap heran kepada Sarifuddin yang sedang mengusap wajahnya sambil mengucapkan kata syukur.


"Kenapa sih?" tanya Islam ketika Sarifuddin menoleh menatapnya.


"Besok puasa ramadhan," jawabnya dengan raut wajah bahagia.


Islam menghela nafas panjang, bulan yang mewajibkan para manusia untuk tidak makan dan minum itu kembali lagi. Islam tak mengerti mengapa Sarifuddin begitu sangat bahagia, tak ada bedanya dengan para santri yang kini terlihat tersenyum bahagia.

__ADS_1


Para santri kini berhamburan keluar dari masjid dengan teratur sementara Islam kini terlihat sedang berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding menatap semua para santri yang keluar, Islam tak berminat untuk berdesak-desakan keluar dari pesantren memutuskannya untuk menunggu para santri keluar lebih dulu.


"Yuk makan!" ajak Ali yang kini melangkah membuat Islam segera melangkah beriringan dengan Sarifuddin, Kristian, Abirama dan Ali.


"Islam!" panggil seseorang membuat Islam menghentikan langkahnya lalu menoleh mendapati Abah Habib, Akbar, Akbir, Firdaus Rahman dan Syuaib yang melangkah menghampiri Islam.


Islam menghela nafas malas, entah mengapa mereka semua selalu menghampirinya secara bersamaan.


"Apa lagi sih? Mau ngomong tentang Kristian dan Abirama yang teriak pas sholat?" tanya Islam dengan nada malasnya.


"Abah mau bicara sama Islam," ujarnya sambil tersenyum.


"Ngomong apa? Udah cepetan ngomong!"


"Bicara yang sopan!" ujar Akbar dengan nada tegasnya membuat Islam tersenyum sinis.


Sarifuddin hanya mampu terdiam, ia sesekali menoleh menatap Akbar dan Islam dengan tatapan takut. Sepertinya mereka berdua memiliki masalah pribadi.


"Nggak ada waktu!" ujar Islam lalu kembali melangkah membuat Sarifuddin, Kristian dan Ali ikut melangkah pergi.


Abirama yang berjalan beberapa langkah itu kembali berlari menghampiri Abah Habib membuat Abah Habib tersenyum melihat Abirama yang tersenyum.


"Sudah Akbar bilangkan sama Abah kalau sampai kapan pun Islam tidak akan pernah berubah."


"Ana tidak setuju," sahut Akbir membuat Akbar terkejut, lagi dan lagi Akbir membela putranya itu.


"Mengapa antum terlalu percaya kepada Islam? Bukan kah antum melihat sendiri apa yang telah dilakukan oleh Islam dan teman-tema nya itu?"


"Tapi-"


"Apa? Jelas-jelas teman-teman dari Islam itu berteriak saat kita semua sedang sholat isya, dia berteriak dua kali dan tertawa cekikikan seperti orang bodoh-"


"Cukup!" ujar Abah Habib yang membuat ocehan Akbar terpotong.


"Tak perlu diperpanjang!" pintahnya.


Mendengar suara itu Firdaus dan Rahman kini melangkah pergi dengan perasaan tak nyaman, ini masalah keluarga mereka, tak baik baginya jika mereka ada di sana dan mendengar semuanya.


Kini di dalam masjid tersisa Abah Habib, Akbar, Akbir dan Syuaib. Suasana kini menjadi sunyi dan hening, tak ada lagi diantara mereka yang bicara.


"Abah, Ana izin menyampaikan sesuatu," ujar Akbar.

__ADS_1


"Katakan!"


"Ini saran ana saja, Abah. Mungkin sebaiknya Islam dan tiga teman premannya itu dipulangkan saja-"


"Ana tidak setuju Abah!" ujar Akbir cepat.


"Jangan dipotong!" pinta Abah Habib yang mengangkat tangan kanannya membuat Akbir kini tertunduk dengan raut wajahnya yang gelisah.


"Lanjutkan!" pintahnya.


"Ini menyangkut kenyamanan pondok pesantren, para santri akan merasa tak nyaman dengan kehadiran Islam dan tiga teman premannya di pondok. Islam sudah beberapa kali berbuat kesalahan, yang pertama Islam sudah beberapa kali berbicara tak sopan kepada Abah dihadapan banyak orang, yang kedua Islam tidur di masjid, yang ke tiga Islam membuat kekacauan di tempat mandi dan yang baru saja terjadi adalah teman-temannya itu berteriak saat sholat, apakah ini baik?" ocehnya membuat Abah Habib terdiam dengan wajah datarnya.


Akbar menghembuskan nafas panjang, "Maafkan ana, Abah sebaiknya Abah pikirkan baik-baik apa yang ana katakan. Assalamualaikum," ujarnya lalu ia pergi.


Akbir kini menoleh menatap Abah Habib yang terlihat menatap kepergian Akbar yang sudah cukup jauh.


"Bicara lah! Sebelum ujaran Akbar merasuki pikiran Abah," pinta Abah Habib membuat Akbir tersenyum.


Kamar


Islam membaringkan tubuhnya ke kasur lalu pandangannya menatap langit-langit permukaan bagian bawah ranjang yang ditempati oleh Kristian. Islam kini sangat bingung mengapa gadis bercadar itu tak muncul saat jam makan malam. Sarifuddin mengatakan jika gadis bercadar hitam itu akan muncul untuk menuangkan sayur kangkung tapi mengapa gadis itu juga terlihat sampai Islam harus keluar paling terakhir hanya untuk menanti gadis itu yang tak kunjung muncul.


"Din!" panggil Islam membuat Sarifuddin yang sedang membaca Al Qur'an itu langsung menoleh


"Kenapa?"


Islam terdiam sejenak, ia menoleh menatap tiga sahabatnya itu Kristian, Abirama dan Ali yang sudah tertidur, yah sepertinya mereka begitu lelah hari ini.


"Em, Kok perempuan yang pakai cadar itu nggak keliatan lagi?" tanya Islam dengan raut wajahnya yang penasaran.


"Kita tadi liat kangkung tidak di meja?" tanya Sarifuddin.


Islam terdiam sejenak lalu ia menggeleng, seingatnya tak ada kangkung di meja makan.


"Nah itu jawabannya. Kalau tidak ada kangkung berarti dia juga tidak ada."


Islam yang mendengar hal itu ingin kembali bicara namun tiba-tiba lampu mati yang menandakan waktunya untuk tidur. Islam menoleh menatap dalam kegelapan Sariffudin yang kini terlihat menutup Al Qur'annya lalu membaringkan tubuhnya membuat suasana menjadi sunyi.


"Lo udah tidur?" tanya Islam.


"Tidur cepat! Besok puasa!" ujarnya membuat Islam menghela nafas.

__ADS_1


__ADS_2