Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
25. Antri Dan Sholat


__ADS_3

"Ini jauh tidak mandinya?" tanya Kristian sambil melangkah dengan handuk di bahunya serta gayung biru berisi peralatan mandi.


Yah setelah pelajaran selesai mereka memutuskan untuk mandi sore hari. Kini mereka berjalan beriringan sambil membawa peralatan mandi.


"Sudah tidak jauh, itu sana!" Tunjuk Sarifuddin menggunakan ujung bibirnya.


Islam mengangkat pandangannya dengan kedua mata terbelalak menatap tiga barisan panjang yang membentang di depan tempat mandi.


Langkah Islam, Kristian, Abirama dan Ali terhenti dengan cepat.


"Buset, yang benar aja kayak gini!" kaget Ali yang begitu sangat terkejut dengan apa yang ia lihat sekarang.


"Saya kira makan aja yang antri tapi mandi juga," ujar Kristian dengan wajah lemasnya.


Islam mendecapkan bibirnya lalu kembali melangkah menyeimbangkan langkahnya dengan Sarifuddin yang terus berjalan dan kini ikut berbaris di belakang santri yang masih sibuk mengantri.


"Ini yang benar aja, masa harus ngantri," protes Islam sambil menggaruk kepalanya, semenjak ia tinggal di sini, Islam belum pernah mandi.


Ali menopang pinggangnya sambil berjinjit menatap ke arah pintu tempat mandi yang masih tertutup rapat.


"Ah lama amat, Eh ini udah dari tadi mandinya?" tanya Ali membuat santri yang ada di sampingnya menoleh.


"Baru aja masuk," jawabnya.


"Ah lama amat!" kesalnya lalu melangkah melewati antrian membuat para santri menoleh menjadikan Ali pusat perhatian semua orang.


"Nekat banget tuh si Ali," ujar Abirama yang kini berdiri di belakang Kristian.


Sesampainya Ali di depan pintu, Ali langsung memukul pintu sambil berteriak membuat keributan yang memancing perhatian para santri yang masih mengantri.


Bruk


Bruk


Bruk


"Woy keluar lo!!! Gue mau mandi!!!" teriak Ali.


Islam yang sejak tadi hanya melihat kini ikut melangkah menghampiri Ali dan ikut berteriak di depan pintu. Kristian dan Abirama tak mau ketinggalan mereka ikut keluar dari barisan.


"Cepat hey!!!" teriak Kristian.


"Saya mau kencing!!!" teriak Abirama.


Bruk


Bruk


Pintu kembali mereka pukul.


"Saya lagi mandi!!!" teriak santi yang ada di dalam.


"Anjing, lama amat sih lo?" kesal Ali yang kemudian menendang pintu membuat semua para santri saling berbisik dan menggeleng.

__ADS_1


"Cepat keluar!!!" teriak Islam.


"Kalau nggak keluar gue dobrak ni pintu!" ancam Ali.


"Mas! Jangan gitu mas! Mas harus ngantri sama kayak yang lain!" ujar salah satu santri yang berdiri paling depan.


"Heh! Lo nggak usah banyak bacot lo!!!" geretak Islam.


"Tapi kan-"


"Ah banyak bacot lo, cucu pak haji kiyai nih!" Tunjuk Ali sambil menepuk bahu Islam dengan bangga.


"Hai antum!!!" teriak seseorang membuat Islam dan yang lainnya menoleh.


Nampak lah dari kejauhan Abah Habib yang berdiri serta Syuaib yang terlihat menunjuk ke arah Islam, sudah pasti jika Syuaib yang telah mengadukan keributan ini kepada Abah habib.


Islam menghembuskan nafas panjang menatap tatapan penuh dalam dari sorot mata Abah Habib.


Abah Habib melangkah mendekati Islam lalu berdiri tegak di hadapan Islam yang kini terdiam sambil ikut menatap kedua mata Islam, jika biasanya tak ada yang berani menatap kedua mata Abah Habib maka berbeda dengan apa yang Islam lakukan kali ini.


Abah Habib menoleh menatap Ali yang masih memegang gangang pintu tempat mandi, Kristian dan Abirama yang kini menunduk seakan takut untuk menatap Abah Habib. Para santri ikut menatap ke arah Abah Habib yang kini kembali menatap Islam.


"Apa ini Islam?" tanya Abah Habib dengan suara beratnya.


"Gue mau mandi," jawab Islam.


"Kalau begitu silahkan mengantri!"


"Kalau begitu tidak perlu mandi."


Islam mengerjap kan kedua matanya beberapa kali seakan berusaha untuk mencerna baik-baik apa yang dikatakan oleh Abah Habib.


"Jika tidak ingin tinggal lama-lama di pesantren maka patuhi peraturan dan berbuat baik serta bertingkah sopan kalau tidak maka untuk selama-lamanya antum akan menetap di pesantren," jelas Abah Habib lalu melangkah pergi.


Islam terdiam persis seperti patung sembari terus menatap Abah Habib yang terus melangkah hingga Islam sadar jika di sana ada Akbar yang sedang menatapnya.


Masjid Al Habibi Akbar


Islam menyandarkan tubuhnya ke dinding masjid sambil menatap para santri yang sedang duduk menanti waktunya sholat. Setelah Azan dikumandangkan kini para santri berbaris dengan rapat bersiap untuk sholat isya. Sejujurnya Islam tak berminat untuk ikut tapi Abirama memaksa karena penasaran dengan yang namanya sholat.


"Islam!" panggil Abah Habib membuat Islam menoleh menatap semua orang yang sedang menatapnya.


Islam menoleh ke kiri dan kanan dimana semua orang benar-benar hanya berpusat kepada Islam.


"Ayo sholat di saf depan!" Tunjuk Abah Habib di tempat kosong persis di sampingnya.


Islam menoleh menatap Ali, Kristian dan Abirama yang kini ikut terdiam kaku, untuk waktu ini suasana masjid menjadi sunyi menanti jawaban dari Islam.


"Nggak! Gue sholat di belakang aja," ujar Islam lalu bangkit dari lantai dan ikut berdiri di saf paling belakang.


"Tapi Islam-"


"Abah!" potong Akbar sambil menyentuh bahu Abah Habib yang kini menoleh.

__ADS_1


Akbar menggelengkan kepalanya perlahan membuat Abah habib mengerti, ia tak mungkin memaksa Islam untuk berdiri dan sholat di saf depan bersamanya sementara Islam tak pernah tertarik untuk hal itu.


"Abah tak perlu memintanya atau mengharapkannya karena sampai kapan pun Islam tak akan pernah berubah."


"Engkau salah ya akhi Akbar," ujar Akbir.


"Maksud antum?" tanya Akbar.


"Ana yakin jika Islam bisa berubah, hari ini tidak tapi kita tidak tau apa yang akan terjadi besok," jelasnya.


Mendengar hal itu membuat Akbar tersenyum sinis lalu menggeleng seakan menertawai apa yang telah disampaikan oleh Akbir. Baginya ini tak mungkin.


Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar merdu membuat para santri dan para jamaah yang lain begitu sangat khusyu melaksanakan sholat.


Kristian dan Abirama menoleh ke kiri dan kanan menatap setiap gerakan sholat yang dilakukan dengan kompak. Islam hanya mengikut dengan wajah malasnya, tak ada semangat saat melakukannya.


"Cari makan yuk!" ajak Ali sambil berbisik ke arah Islam yang terlihat terdiam kaku dengan wajah datarnya.


"Diam lo!" tegur Islam dengan wajah malas.


"Shiratha alladzina an'amta alaihim ghairi maghdubi alaihim wa laa ad-dhaaalin."


"Aamiin!!!" ujar semuanya dengan kompak.


Kristian menoleh ke kiri dan kanan setelah semua orang mengucapkan kata Aamiin secara bersamaan.


"Aamiin siapa?" tanya Kristian yang menoleh menatap Abirama yang kini terdiam sambil meggeleng tak tau.


"Li, Aamiin apaan?" bisiknya.


Ali menoleh, setelah terdiam sambil rukuk lalu bangkit dan sujud di atas permukaan sajadah, Kristian dan Ali saling bertatapan beberapa saat kemudian Ali tersenyum jahil lalu berbisik.


"Mereka semua Itu nyebut nama ayah mereka, yang sebut nama paling kencceng nanti orang tuanya bisa masuk surga," jelasnya berbohong.


"Oh yah?"


Ali mengangguk semangat.


Kini semuanya kembali berdiri dimana Rahman yang menjadi imam sholat hingga tiba pada akhir kata bacaan Al Fatihah membuat Ali mengigit bibirnya berusaha untuk menahan tawanya, tak sabar ingin mendengar Kristian berteriak.


"Shiratha alladzina an'amta alaihim ghairi maghdubi alaihim wa laa ad-dhaaalin."


"Aamiin!!!" ujar semuanya dengan kompak.


"Aleeeeeeex!!!" teriak Kristian dengan suaranya yang menggema di dalam masjid.


Ali tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya yang telah mengeluarkan air liur karena tak bisa menahan tawa. Kedua bahu Islam bergetar menahan tawa walau sesekali suara tawa berhasil lolos dari bibirnya.


"Goblok!" bisik Ali ke arah Islam membuat Islam tertawa cekikikan sambil mengusap matanya yang mengeluarkan air mata.


Suasana hening!!!


"Madeeeeee!!!" teriak Abirama disaat suasana hening membuat Islam dan Ali melepaskan tawanya.

__ADS_1


__ADS_2