Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
61. Cemburu.


__ADS_3

Islam menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk mencari sosok Khadijah yang tak terlihat lagi. Islam tak tau kemana perginya Khadijah.


Islam berlari menelusuri jalanan, mungkin saja ia bisa menemukan Khadijah yang masih berjalan di bagian perumahan. Sesekali ia bertanya pada warga yang ada di sekitar jalanan, yah mungkin saja mereka tau.


"Tidak, Nak. Saya tidak liat," jawab pria yang sedang memotong rumput di siring jalan.


Islam tersenyum walau wajah kekhawatirannya tak bisa ia sembunyikan.


Langkah kaki Islam kini kembali melangkah berniat memasuki area perumahan yang selalu ia lewati tapi langkahnya terhenti dan memilih untuk mengurungkan niatnya untuk mencari Khadijah di sana.


Bukan masalah menyerah, hanya saja di perumahan itu ada dua ekor anjing yang selalu mengejarnya. Sudah cukup dikejar dua kali tak perlu ada yang ketika kalinya.


Islam menyandarkan tubuhnya ke tembok gerbang pondok pesantren. Apakah Khadijah sudah pulang atau belum?


Lamunan Islam tersadar ketika ia mengingat tempat sesuatu dan mungkin saja Khadijah ada di sana.


Islam berlari dengan cepat, ia tak memikirkan rasa lelahnya untuk saat ini.


Bukit itu, mungkin dia ada di sana.


Islam berlari menaiki bukit yang tinggi itu dengan batinnya yang terus berdoa agar ia bisa menemukan Khadijah di sana.


Lari Islam memelan dan bibirnya tersenyum setelah mendapati Khadijah yang sedang duduk di bangku yang ada di atas bukit.


Islam ikut duduk di bangku yang berjarak jauh dari Khadijah.


Khadijah yang mengetahui kehadiran Islam langsung memalingkan wajahnya yang bercadar itu seakan tak ingin jika ia dilihat oleh Islam.


Islam tertunduk dengan diamnya ia dan Khadijah. Harus bicara apa sekarang? Bahkan Islam tak tau harus melakukan apa.


"Kamu cemburu?" tanya Islam.


Sejujurnya Islam menyesal memberikan pertanyaan yang seperti ini. Mungkin saja Khadijah akan pergi lagi karena merasa malu.


Bodoh kamu Islam!


Islam melirik Khadijah yang terlihat terdiam seakan tak memperdulikannya. Islam tertunduk, rasanya ia telah salah untuk datang ke sini.


"Kamu cemburu?" tanya Islam lagi.


"Siapa yang cemburu?" tanya Khadijah yang bicara juga akhirnya.


"Kamu," jawab Islam.


Ia memejamkan matanya dengan kuat. Pede sekali kamu Islam, ini yang keduanya kalinya Islam menyesal dengan ujarannya.


"Cemburu bukanlah hak Khadijah. Atas dasar apa Khadijah harus cemburu?"


"Perjodohan ini," jawab Islam.


"Siapa Khadijah? Khadijah tidak punya hubungan apapun kepada akhi Islam, jadi untuk apa Khadijah cemburu?"


Islam terdiam. Memang benar yang dikatakan oleh Khadijah.


"Saya tau kamu tidak punya hubungan dengan saya tapi saya merasa kalau kamu cemburu."


Khadijah terdengar seperti tertawa walau tak jelas.


"Itu hanya perasaan akhi Islam saja."

__ADS_1


"Tapi kenapa kamu pergi dari dapur jika bukan karena cemburu?" tanya Islam.


Seketika Khadijah terdiam.


Hening, tak ada jawaban.


"Katakan saja jika cemburu!"


Khadijah menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Kamu cemburukan?" tanya Islam.


"Jika Khadijah mengatakan iya lalu apakah ada yang berubah hari ini?"


Islam mengernyit bingung. Harus bicara apa sekarang?


"Keluarga saya memberi keputusan setuju atas perjodohan ini, bukan keputusan saya."


Khadijah terdiam, tak bicara sedikitpun.


Islam menggeser duduknya agar berada di unjung bangku lalu merentangkan tangannya ke arah Khadijah.


"Jika rasa ini sama dengan rasa yang kamu rasakan maka mari! Ikut saya dan katakan kepada mereka semua kalau kita saling cinta," ujar Islam.


Khadijah melirik menatap samar-samar pada jari-jari tangan Islam. Yap, air mata di kedua penglihatan Khadijah sudah nyaris terjatuh.


Khadijah menunduk.


"Satu suara akan kalah dengan banyaknya suara. Walaupun akhi Islam menolak perjodohan ini, perjodohan tetap saja akan terjadi."


"Satu suara yang benar akan mengalahkan banyaknya suara yang salah," ujar Islam.


"Khadijah tidak mau jika Islam menolak perjodohan ini dan membuat Katrin sedih."


Islam mengerjabkan kedua matanya beberapa kali dan mengernyit bingung. Mengapa Khadijah lebih memilih menjaga perasaan orang lain.


"Lalu bagaimana dengan saya?"


Khadijah terdiam.


"Saya hanya ingin menikah dengan gadis yang saya cintai."


"Jika akhi Islam memilih menikah dengan Katrin maka akhi Islam akan mendapatkan gadis yang mencintai akhi Islam."


"Jika akhi Islam memilih menikah dengan Khadijah maka akhi Islam hanya mencintai bukan dicintai."


Khadijah bangkit dari bangku lalu melangkah pergi meninggalkan Islam yang kini terdiam dengan wajah datar penuh kepedihan.


Apa itu berarti Khadijah tidak mencintainya?


Islam mendekatkan jari-jari tangannya ke depan wajahnya dan menatapnya dengan kedua mata yang telah meneteskan air mata.


Islam meremas rambutnya dengan kesal lalu berteriak dengan keras.


Khadijah menutup mulutnya yang terlapisi kain cadar agar suaranya tak didengar oleh Islam. Yah, Khadijah bersembunyi di balik pohon besar.


Khadijah mengusap matanya yang telah menangis itu lalu mengusap dadanya yang terasa sesak. Sakit rasanya.


"Maafkan Khadijah."

__ADS_1


...***...


Islam melangkah menghampiri ruangan Abah Habib dengan langkah yang tergesa-gesa. Waktu sudah hampir memasuki waktu berbuka puasa membuat Islam melajukan langkahnya.


"Assalamu'alaikum," ujar Islam bersamaan ketika ia mendorong pintu.


Islam yang berniat bicara lagi tertahan saat mendapati Akbar yang sedang duduk di kursi Abah Habib.


"Waalaikumsalam," jawab Akbar yang menyambut Islam dengan senyuman.


"Dimana Abah?" tanya Islam.


"Sudah ada di ruangan makan. Sudah hampir buka puasa," jawabnya.


"Ada apa?" tanya Akbar yang merasa jika Islam menyimpan sesuatu dan ingin mengatakannya.


"Siapa yang setuju sama perjodohan ini?"


"Semuanya setuju, ada apa?"


Islam menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Entah mengapa Islam ingin memukul siapa saja yang ada di sekitarnya.


"Termasuk lo?"


"Iya, ada apa?"


"Kenapa lo setuju? Gue nggak pernah ngasih tau keputusan apa-apa tapi kenapa kalian semua langsung narik keputusan?"


"Abi hanya-"


"Batalkan perjodohan ini," ujar Islam dengan rahangnya yang menegang.


Akbar mengernyitkan dahinya.


"Tapi kenapa? Bukankah kalian saling mencintai? Katrin yang bilang seperti itu."


"Katrin yang mencintai bukan Islam."


Akbar tersenyum lalu melangkah mendekati Islam yang masih berdiri dengan wajah marahnya.


"Tidak apa-apa. Setelah menikah maka cinta akan muncul dengan sendirinya."


"Hal ini yang Abi rasakan bersama dengan Umi," sambungnya.


"Tapi masalahnya adalah cinta itu udah gue kasih ke orang lain," ujar Islam lalu berpaling dan melangkah pergi.


Akbar terdiam. Siapa yang Islam maksud? Siapa yang telah diberikan cinta oleh Islam?


"Siapa gadis itu?" tanya Akbar membuat Islam menghentikan langkahnya.


"Apa dia pacarmu di kota?" tanya Akbar lagi.


"Bukan, dia ada di pondok pesantren."


"Siapa?"


Islam menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Khadijah," jawab Islam lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan Abah Habib.

__ADS_1


Akbar terbelalak kaget setelah mendengar hal itu, jadi ternyata selama ini Islam mencintai Khadijah, anak dari Ustad Hasim.


__ADS_2