Islam Belajar Puasa

Islam Belajar Puasa
85. Katrin! Bukan Islam!


__ADS_3

Islam memasukkan beberapa kain yang sudah tidak terpakai ke dalam kardus sementara Khadijah sejak tadi menatap Islam diam-diam dan kembali tertunduk saat Islam menoleh.


"Nanti bawa ke mobil, yah!" pinta wanita itu lalu melangkah keluar.


"Okay, deh," jawab Islam bersemangat.


Khadijah melipat pakaian pengantin lalu memasukkannya ke dalam kantong. Kini hanya ada dia di dalam kamar bersama dengan Islam.


"Em, Maaf."


Khadijah menoleh menatap Islam yang kini terlihat memeluk kardus berisi kain hiasan.


"Em boleh tolong ambil kain yang itu dan simpan ke kardus ini!" Tunjuk Islam pada kain yang berada di lantai.


Khadijah tak menjawab. Ia bangkit lalu meraih kain dari lantai dan meletakkannya ke dalam kardus.


"Terimakasih."


Islam melangkah keluar membuat Khadijah berbalik badan dan sibuk pada kain pengantin yang ia masukkan ke dalam kantong.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan terdengar membuat Khadijah menoleh menatap Islam yang terlihat tersenyum ke arahnya.


"Ada apa?"


"Apa sudah tidak ada kain di lantai?" tanya Islam.


Khadijah menunduk menatap lantai.


"Sudah tidak ada."


Islam mengangguk lalu kembali melangkah membuat Khadijah kembali berpaling.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu terdengar membuat Khadijah kembali menoleh dan menghela nafas saat kembali menatap Islam.


"Apa lagi?"


"Em sepertinya sudah tidak ada, yah?"


Khadijah tertawa lalu mengangguk.


Islam kembali melangkah membuat Khadijah kembali berbalik badan.


Suara ketukan pintu kembali terdengar membuat Khadijah kembali menoleh menatap Islam yang sedang memegang pintu.


Khadijah melipat kedua tangannya ke depan dada lalu menggeleng menatap Islam yang terlihat tersenyum sambil mengelus permukaan pintu.


"Sepertinya pintu ini keras."


Khadijah tersenyum lalu menggeleng menatap Islam yang kembali mengetuk pintu tepat di hadapan Khadijah.


Tok


Tok


Tok


Islam kembali mengetuknya.


"Beli pintunya dimana?" tanya Islam basa-basi.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Akhi Islam, boleh berhenti untuk mengetuk pintu itu?"


Islam tersenyum. Ia mengedikkan bahunya lalu berujar, "Yah, okay."


Islam mengelus permukaan pintu itu lalu mengetuknya beberapa kali dan melangkah pergi diiringi tatapan serius Khadijah yang terus mengawasi Islam.


Khadijah berbalik badan hingga suara ketukan pintu kembali terdengar membuat Khadijah menoleh menatap Islam yang terlihat menahan tawanya.


"Apa sudah selesai?"


"Hahaha, hanya mencoba lagi."


"Akhi Islam! Pergilah!"


"Hahaha, iya."


Islam melangkah ke depan tetapi ia memundurkan langkahnya lalu kembali mengetuk pintu tepat di depan Khadijah yang menghela nafas panjang.


"Ini yang terakhir."


Islam melangkah pergi.Tubuhnya tak terlihat lagi tapi tangannya kembali mengetuk pintu. Khadijah tertawa saat menatap tangan Islam yang mengetuk pintu.


Islam memperlihatkan separuh tubuhnya di pintu masuk lalu tersenyum menatap Khadijah.


Tok


Tok


Tok


"Ini yang terakhir, aku janji."


Islam kembali tak terlihat saat ia melangkah, tubuhnya tak terlihat lagi di depan pintu kamarnya yang tak tertutup itu.


Tok


Tok


Tok


Ketukan pintu kembali terdengar membuat Khadijah mendecapkan bibirnya. Entah mengapa Islam tak lelah untuk terus mengetuk pintu.


"Akhi Islam-"


Suara Khadijah terhenti menatap kaget pada Katrin yang tangannya terlihat berada di pintu. Katrin yang telah mengetuk pintu bukan Islam.


Khadijah tak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya terasa kaku terlebih saat tatapan Katrin menatapnya sedih.


"Katrin! Bukan Islam!"


"Kat-rin!"


"Katrin!" ujar Katrin sambil mengangguk.


Katrin melangkah masuk mendekati Khadijah yang langsung tertunduk, ia tak berani untuk menatap kedua mata Katrin yang sekarang masih menatapnya.


"Gue kira lo nggak punya hubungan-"


"Afwan, ukhti Katrin. Tadi sebelum ukhti Katrin mengetuk pintu Islam sempat mengetuk pintu beberapa kali jadi ana-"


"Lo pikir ini Islam?"


Khadijah mengangguk pelan membuat Katrin tersenyum sinis. Katrin melipat kedua tangannya di depan dada.


"Jadi kayak gini ternyata selera Islam, cuman perempuan bercadar."


"Gue nggak ngerti kenapa Islam bisa suka sama lo. Lo udah guna-guna Islam atau lo apain si Islam, sih sampai dia mau sama lo?"


Khadijah terdiam.

__ADS_1


"Ternyata di sini gue sadar ternyata selera Islam lebih rendah daripada apa yang gue pikir."


"Lo bisa kan nggak dekat sama Islam!"


"Please, jauhin Islam!"


"Lo harus sadar kalau lo itu nggak ada apa-apanya dibanding sama gue."


"So, Islam milik gue!"


"Dan ingat! Katrin! Bukan Islam!"


"Kat-rin."


Katrin tersenyum sinis lalu berpaling. Rasanya sudah cukup untuk berbicara dengan Khadijah yang mungkin saja tidak lama lagi dia akan menangis.


"Mencintai gadis bercadar bukanlah hal yang biasa."


Katrin menghentikan langkahnya saat suara Khadijah terdengar dari belakang membuat Katrin dengan cepat menoleh.


"Mencintai gadis bercadar adalah rasa cinta yang paling tertinggi karena seorang pria bisa cinta tanpa perlu melihat wajahnya."


Khadijah mendekat diiringi tatapan tajam Katrin yang terlihat seperti mengintainya.


"Yah, ana akui selera Islam memang seperti ini , hanya gadis bercadar."


"Perlu anda tau cadar dan hijab adalah pakaian yang paling tinggi derajatnya di dalam agama Islam, jadi dari sini kita tau bahwa selera akhi Islam lebih tinggi."


"Mengapa akhi Islam lebih mencintai Khadijah?"


"Bukan karena guna-guna!"


"Tapi karena ini cinta yang sesungguhnya."


"Hanya dengan melihat mata akhi Islam bisa jatuh cinta dengan Khadijah sedangkan ukhti Katrin sudah memperlihatkan wajah tapi tidak bisa mendapatkan cinta akhi Islam."


"Ana sudah berusaha untuk menjauhi Akhi Islam tapi dia tetap saja mencintai Khadijah sedangkan Katrin, Katrin jelas-jelas mengejar Akhi Islam tapi sayangnya akhi Islam tidak suka."


"Katrin yang lari tapi tidak dapat apa-apa dan Khadijah yang hanya diam bisa mendapatkan cinta Akhi Islam."


"Tolong jangan bawa-bawa nama cadar dalam nama cinta."


Katrin tersenyum sinis.


"Lo pakai cadar kayak gini cuman mau manfaatin cadar biar Islam cinta sama lo, iya kan?"


"Cadar adalah bukti rasa cinta ana kepada Allah, bukan karena akhi Islam."


"Tetapi Allah membawa cinta Akhi Islam melalui cadar ini-"


"Nggak sok suci lo," potong Katrin membuat Khadijah mengangguk.


"Gue penasaran gimana sih sama muka lo."


Kedua mata Khadijah sedikit melebar karena terkejut ditambah lagi saat Katrin menggerakkan tangannya dan menyentuh ujung cadar Khadijah berniat untuk menariknya.


"Aaaaa!!!" jerit Katrin kesakitan saat Khadijah memegang pergelangan tangan Katrin dan memutarnya dengan keras ke belakang.


Katrin meringis merasakan sakit yang luar biasa pada tangannya. Katrin tak menyangka jika Khadijah bisa melawan seperti ini.


Katrin mengira jika Khadijah adalah gadis lemah dan bisa ditindas tapi ternyata tidak.


"Le...le...pasin gue!!!" jerit Katrin.


Khadijah tersenyum lalu mendorong Katrin hingga ia terjatuh ke lantai. Katrin mendongak menatap Khadijah yang terlihat menakutkan, ini bukan Khadijah yang sering ia lihat.


"Afwan," ujar Khadijah santai.


Katrin bangkit dari lantai sambil menyentuh tangan kanannya yang terasa sakit.


"Masih ada yang ingin ukhti Katrin sampaikan?"


Katrin menggeleng ketakutan lalu segera berlari keluar dari kamar meninggalkan Khadijah yang langsung membuang tubuhnya ke kasur.

__ADS_1


__ADS_2