
Islam melangkah menuruni anakan tangga bersama dengan Sarifuddin. Mereka telah melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid.
"Islam tunggu!!!" teriak Sarifuddin ketika Islam pergi meninggalkannya tanpa menunggu dirinya yang belum juga mendapatkan sendalnya.
"Cepetan ah! lama banget sih lo," kesal Islam.
"Tunggu!" pintanya sambil menunduk menatap setiap sendal yang ada di bawahnya.
Islam yang sedari tadi sibuk terdiam menanti Sarifuddin kini tersenyum menatap Umma Nur Khadijah yang terlihat berjalan bersama.
Islam berlari menghampiri Umma Nur dan Khadijah membuat Sarifuddin kembali berteriak.
"Umma!" panggil Islam membuat Umma Nur menoleh.
Bibirnya tersenyum ketika ia mengetahui kini ada Islam di hadapannya.
"Islam, kenapa Nak?" tanya Umma Nur.
"Em nggak cuman mau liat Umma Nur di waktu subuh ini." Islam langsung melirik Khadijah yang dengan cepat tertunduk.
Kedua mata mereka bertemu pandang pada saat itu.
"Tumben mau ketemu Umma," goda Umma Nur sambil mencubit gemas pipi Islam.
Islam hanya tersenyum walau sesekali ia melirik Khadijah yang kini memutuskan untuk terus tertunduk.
"Em, Umma rencana mau kemana hari ini?"
"Ke pasar, Umma mau beli sayur dan kebutuhan masak. Kenapa Islam mau ikut?"
"Mau," jawab Islam cepat.
"Ah Umma senang sekali, Alhamdulillah," syukurnya sambil mengusap rambut Islam dengan lembut.
Islam tersenyum sambil menggaruk belakang telinganya yang gatal. Mengapa Umma Nur memperlakukannya seperti anak kecil.
...****...
Islam menyandarkan tubuhnya ke gerbang pondok pesantren. Ia sejak tadi menunggu Umma Nur yang berjanji akan ke pasar bersamanya.
Islam merapikan kaus hitamnya dan memukul pelan celana jeans yang bagian lututnya terlihat berlubang memperlihatkan lutut Islam yang putih.
Islam tak mengerti mengapa noda di celana jeans ini tak bisa hilang walau sudah ia cuci. Mungkin ia tak biasa dalam hal mencuci.
"Jangan kabur!!!"
Suara teriakan terdengar membuat Islam mendongak menatap kaget pada segerombolan orang yang kini berlarian mendekatnya.
"Ah, dapat. Mau kabur kemana lagi antum?" tanya Syuaib sambil memeluk Islam yang terkejut bukan main.
Ada apa dengan mereka?
"Lo itu apa-apaan sih? Lepasin gue!" kesal Islam yang tubuhnya dipeluk erat oleh Syuaib.
"Eh, cepat tangkap dia! Nanti dia kabur lagi!" pinta Syuaib membuat santri-santri yang berpakaian serba putih itu langsung memeluk tubuh Islam.
"Heh!!! Lo ngapain sih? Lepasin nggak!"
"Tidak akan. Ana tau antum ini mau kabur lagi," ujar Syuaib bersih keras. Syuaib dan santri-santri yang lain masih memeluk tubuh Islam yang berusaha untuk lepas.
"Siapa yang mau kabur sih? Lepasin nggak!"
"Antum kira ana akan percaya? Hahaha, tidak akan," jawabnya.
"Lo tolol yah? Udah gue bilangin gue nggak mau kabur."
__ADS_1
"Syuaib!" teriak umma Nur yang melangkah mendekati kerumunan sambil membawa keranjang bersama dengan Khadijah membuat semuanya menoleh.
"Umma, ini Islam mau kabur," aduh Syuaib.
"Nggak Umma, nih eh sotoy lu. Gue mau ke pasar bareng umma," bantah Islam.
"Antum pikir ana akan percaya?"
"Syuaib! Benar Islam mau ikut ke pasar sama Umma," bela Umma Nur membuat Syuaib terbelalak dan mendongak menatap Islam yang menatapnya begitu tajam.
Syuaib langsung melepaskan pelukannya membuat para santri juga melepasnya. Kali ini mereka salah.
"Maaf Umma, kami pikir Islam mau kabur."
"Yeh makanya lo semua itu nggak usah negatif melulu sama gue," kesal Islam.
...***...
Udara segar dan dingin membuat Islam bisa merasakan hidungnya membeku ditambah lagi dengan embun pagi yang menutupi bagian pengunungan.
Islam sesekali mendongak menatap burung-burung yang berkicau di atas ranting pohon. Suara kicauan yang begitu indah.
Pemandangan indah yang begitu memanjakan mata selama perjalanan menuju pasar melewati jalan utama yang tak rata ini sering dilalui oleh para warga.
"Islam! Cepat, Nak!" panggil Umma Nur yang menghentikan langkahnya untuk menanti Islam yang berjalan agak lambat di belakang sana.
Islam berlari mendekati Umma Nur yang hari ini tak henti-hentinya tersenyum.
Kini ketiganya berjalan berdampingan menuju pasar yang belum pernah Islam datangi sebelumya.
"Ini masih jauh?" tanya Islam.
"Tidak lama lagi," jawab Umma Nur.
Islam tertawa bodoh, lagi dan lagi ia merasa seperti anak kecil.
"Nggak," jawabnya.
"Umma!" teriak seseorang di belakang sana membuat mereka langsung menoleh menatap Rahman yang terlihat berlari menghampiri.
Islam mengernyit heran, apa yang dilakukan pria bersurban ini?
"Rahman, ada apa?" tanya Umma Nur.
"Ana juga mau ikut ke pasar," jawabnya yang masih terlihat ngos-ngosan, sepertinya ia telah berlari untuk bisa sampai ke sini.
"Benarkah?" tanya Umma Nur tak percaya.
Umma Nur tak menyangka jika Rahman juga tiba-tiba mau ikut ke pasar padahal selama ini ia tak pernah menawarkan diri untuk ikut.
10 Menit kemudian...
Islam melirik kesal ke arah Rahman yang terlihat terdiam sejak tadi. Mengapa pria ini juga harus ikut?
Islam yang masih merasa kesal itu dengan sengaja menyenggol tubuh Rahman membuatnya terjatuh ke jalanan.
"Ada apa itu?" tanya Umma Nur yang kini terkejut menatap Rahman yang duduk di jalanan.
"Astagfirullah." Kaget Islam berpura-pura sambil menutup mulutnya.
"Lo jatuh yah? Sini gue bantu!" tawar Islam yang sejujurnya ingin tertawa sambil menjulurkan tangannya.
Rahman menghela nafas berat, ia berusaha untuk bersabar kali ini di depan Khadijah.
"Rahman pelan-pelan kalau jalan!" ujar Umma.
__ADS_1
"Iya Umma," jawab Rahman yang berusaha bangkit dan tak mempedulikan tangan Islam yang menawarkan bantuan.
Islam tersenyum walau sejujurnya ia ingin tertawa.
"Dosa antum," ujar Rahman.
Suara keramaian pasar terdengar membuat Islam menoleh menatap keramaian di depan sana.
Ada banyak mobil-mobil pedagan di sana. Tenda-tenda biru pedagan dari berbagai jenis jualan itu tersaji rapi di depan sana. Suara musik, penawaran penjual, ibu-ibu yang menawar seakan beradu kebisingan.
Islam menggaruk pipinya itu dengan gatal. Islam tak pernah datang ke pasar seperti ini.
"Islam tunggu di sini yah!" suruh Umma Nur lalu melangkah mendekati penjual bawang.
Islam tersenyum lalu mengangguk cepat. Ia terbelalak kaget saat Rahman melintas di depannya.
"Heh! Mau kemana lo?" tanya Islam yang dengan cepat menarik baju tsaub putih yang digunakan oleh Rahman membuat Rahman menoleh.
"Ada apa?"
"Lo mau kemana?"
"Ana mau ikut Umma."
"Heh lo nggak denger? Umma tadi bilang tunggu di sini."
"Umma menyuruh antum bukan ana," jawabnya membuat Islam mendecapkan bibirnya dengan kesal.
"Pokoknya lo nggak boleh ke sana! Lagian lo ngapain sih ikut ke pasar?"
"Yah ana cuman mau bantu Umma. Mungkin Umma akan membutuhkan bantu-"
"Ah banyak bacot lo. Heh lo nggak usah sok-sok baik lo yah mau bantuin Umma." Tunjuk Islam.
"Tapi kan ana cuman mau bantuin Umma," belanya
"Heh, itu Umma gue bukan Umma lo." Kesal Islam.
Rahman kini menghela nafas panjang lalu kembali melangkah membuat Islam dengan cepat menarik baju tsaub Rahman lagi.
"Ngeyel banget sih lo! Udah dibilangin juga nggak usah ke sana."
"Tapi kan-"
"Pulang nggak lo!" ancamnya sambil menunjuk dan mendorong dada Rahman dengan satu tangannya.
Rahman melangkah mundur setelah mendapat dorongan dari Islam membuat Rahman dengan kesal ikut mendorong dada Islam yang tak mundur sedikit pun.
Satu yang muncul di pikiran Rahman, pria bernama Islam ini kuat juga.
"Rahman!" tegur Umma Nur yang telah tak sengaja melihat Rahman yang mendorong dada Islam.
Islam yang melihat hal tersebut dengan sengaja melangkah mundur dan meringis sambil memegang dadanya.
"Umma, dia dorong saya, Umma." Tunjuk Islam yang berpura-pura tersakiti seperti anak kecil.
"Bohong Umma," bantah Rahman.
"Udahlah ngaku aja lo! Umma jangan percaya Umma!"
"Loh antum juga ngedorong ana tadi."
"Ah nggak! Ah bohong lo. Umma jangan percaya!"
Umma Nur menghela nafas panjang lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan. Mereka berdua mirip anak kecil.
__ADS_1